Jumat, 08 Agustus 2014 02:02
Jika wisatawan lokal, domistik dan manca negara akan berkunjung ke Sumatera Barat, dapat dipastikan mendatangi Danau Maninjau tidak masuk dalam daftar jadwal kunjungan wisata mereka. Yang masuk daftar kunjungan biasanya, seperti ke Jam Gadang, Ngarai Sianok, Los Lambuang untuk kuliner (Bukittinggi), Lembah Harau (Kabupaten Limapuluh Kota), Water Boom Mifan (Padang Panjang) dan Rumah Gadang Pagaruyung (Batusangkar/Tanah Datar)
Mohon maaf sebelumnya jika tidak menulis dengan baso awak, perkenalkan saya Ressa kebetulan kampungnya di Maninjau. Kalau membaca tulisan itu buat saya tidak heran kenapa Danau Maninjau ditinggalkan wisatawan, saya sendiri jika pulang kampung juga tidak bisa menikmati lagi jernihnya air danau dan tidak bisa lagi melihat Si Barau berburu Bada. Air danau sekarang sudah bisa dikatakan tercemar berat akibat ulah orang2 yang tidak bertanggung jawab. Bahkan danau Maninjau sudah dikategorikan sebagai danau yang rusak ekosistemnya.
Mungkin sebaiknya dibongkar saja semua karamba di danau itu (ekstrim mode) atau dibatasi saja jumlahnya tapi agak susah karena itu menyangkut masalah perut juga. Jadi menurut pendapat saya bukan masalah promosi atau transportasi tapi lebih karena yang dijadikan objek tidak dirawat dengan baik. Air danau jadi keruh dan rusak juga berefek kepada PLTA Maninjau yang mengambil air sebagai bahan bakar untuk pembangkitan listrik, menurut cerita almarhum Om saya semenjak air keruh mau ga mau harus sering melakukan maintenance terhadap turbin yang kemudian berefek kepada produksi listrik.
Jadi mungkin pemda sedikit bertangan besi sedikitlah biar danau itu jernih dan layak sebagai objek wisata. satu lagi yg ditakutkan jika danau sudah rusak dan tidak produktif lagi takutnya nanti hutan selingkar danau dibabat dan diambil kayu atau dibuat perkebunan apalagi kebun sawit jangan sampai deh. Bisa-bisa dobel rusaknya dan tinggal kenangan.
mohon maaf jika ada kata2 yang tidak pantas dan susah dimengerti.
Terima kasih
--
Makngah


Lubukbasung, (Antara Sumbar) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Agam, menyatakan jumlah ikan keramba jaring apung milik petani di Danau Maninjau tepatnya di Alai dan Muko-muko Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, mati mendadak menjadi 350 ton hingga Minggu (10/8) sekitar pukul 18.00 WIB.
"Ini berdasarkan data yang diperoleh petugas penyuluhan perikanan dari pemilik keramba jaring apung di Alai dan Muko-muko. Pada umumnya ikan itu yakni ikan mas dan nila yang berada di 537 petak keramba jaring apung," kata Kepala DKP Kabupaten Agam Ermanto di Lubukbasung, Minggu (10/8).
Dengan kejadian ini, kata dia, petani mengalami kerugian sekitar Rp7,7 miliar karena harga ikan dipasaran sebesar Rp22.000 per kilogram.
Agar petani tidak mengalami kerugian cukup besar, petani diminta untuk menghidupkan pompa oksigen yang telah diberikan kepada petani, karena oksigen di perairan berkurang akibat cuaca panas yang terjadi beberapa hari lalu.
Lalu petani diminta untuk melakukan panen secara dini dan memindahkan ikan yang belum layak dijual ke kolam yang ada sekitar pingir danau.
"Ini bertujuan agar kerugian petani tidak terlalu besar," kata dia.
Kematian ikan secara massal ini kata dia, akibat cuaca cukup panas, sehingga terjadi perubahan suhu di perairan. Pada bagian permukaan air danau panas dan dasar perairan cukup dinggin, sehingga terjadi pembalikan arus.
Kematian ikan keramba jaring apung di Danau Maninjau ini merupakan yang kelima kalinya selama 2014, karena pada 29 Januari sebanyak 10 ton ikan mati, pada 23 Januari sebanyak 11.530 ton ikan mati, 19 Maret 2014 sebanyak 175,85 ton dan 4 Agustus sebanyak 50 ton.
Sementara pada 2008 sebanyak 15.000 ton, kemudian 2009 sebanyak 15.000 ton, 2010 sebanyak 500 ton.
Pada 2011 sebanyak 500 ton, kemudian tahun 2012 sebanyak 300 ton dan 2013 turun menjadi delapan ton.
Salah seorang pemilik keramba jaring apung, Nazwar di Lubukbasung, mengatakan, ikan jenis mas dan nila dengan bermacam ukuran ini mulai mati mendadak semenjak pukul 04.00 WIB.
"Ikan milik saya mati sekitar 1,5 ton dengan kerugian sekitar Rp22 juta," kata Nazwar.
Dia mengatakan, kematian ratusan ton ikan ini merupakan yang ketiga kalinya di Nagari Koto Malintang selama 2014, karena pada Maret juga terjadi kematian massal di Talao sekitar 175,85 ton, pada 4 Agustus di Batu Anjiang sekitar 50 ton dan saat ini di Alai sekitar 350 ton. (**/ari/WIJ)
ANTARA SumbarLubukbasung, (Antara Sumbar) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam, menyatakan, kematian 50 ton ikan jenis mas di Batu Anjiang Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, pada 4 Agustus 2014, akibat tubo balerang.
"Hasil pemeriksan sample yang kita ambil seperti pakan ikan dan ikan mati, kedua sampel ini tidak mengandung zat kimia yang bisa mematikan ikan," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam Ermanto di Lubukbasung, Minggu (10/8).
Hasil pemeriksaan sample yang dikirimkan ke Laboratorium Perikanan Bungus Teluk Kabung Kota Padang ini keluar pada Sabtu (9/8).
Sebelum ikan mas ini mati, terjadi dua kali gempa kecil di daerah Danau Maninjau, mengakibatkan belerang keluar karena Danau Maninjau perupakan dana vulkanik.
Sehingga ikan mas milik petani mati sekitar 50 ton dengan kerugian sekitar Rp2 miliar.
Kematian ikan di Danau Maninjau disebabkan dua faktor yakni, tubo balerang dan pembalikan air ke permungkaan.
Kata Ermanto, kematian ikan keramba jaring apung di Danau Maninjau selama 2014 sebanyak lima kali yakni, pada 29 Januari sebanyak 10 ton ikan mati, pada 23 Januari sebanyak 11.530 ton ikan mati, 19 Maret 2014 sebanyak 175,85 ton, 4 Agustus sebanyak 50 ton dan 10 Agustus sebanyak 200 ton.
Sementara pada 2008 sebanyak 15.000 ton keramba jaring apung di Danau Maninjau mati, kemudian 2009 sebanyak 15.000 ton, 2010 sebanyak 500 ton.
Pada 2011 sebanyak 500 ton, kemudian tahun 2012 sebanyak 300 ton dan 2013 turun menjadi delapan ton.
Danau Maninjau yang merupakan danau vulkanik berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Danau Maninjau sekitar 99,5 km bujur sangkar dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter.
Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding.
Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.
Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubukbasung, ibukota Kabupaten Agam. (**/ari/WIJ)
ANTARA Sumbar
Lubukbasung, (Antara Sumbar) - Sekitar 200 ton ikan keramba jaring apung milik petani di Danau Maninjau tepatnya di Alai dan Muko-muko Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat diduga akibat pembalikan air ke permukaan, Minggu (10/8) sekitar pukul 04.00 WIB.
Salah seorang pemilik keramba jaring apung, Nazwar di Lubukbasung, mengatakan, ikan jenis mas dan nila dengan bermacam ukuran ini mulai mati semenjak pukul 04.00 WIB hinga berita ini diturunkan.
"Ikan milik saya mati sekitar 1,5 ton dengan kerugian sekitar Rp22 juta. Namun ada ikan petani mati dengan jumlah yang lebih banyak," kata dia.
Nazwar mengatakan, kematian ikan yang mencapai ratusan ton ini merupakan yang ketiga kalinya di Nagari Koto Malintang selama 2014, karena pada Maret juga terjadi kematian ikan massal di Talao sekitar 175,85 ton, pada 4 Agustus di Batu Anjiang sekitar 50 ton dan saat ini di Alai sekitar 200 ton.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam Ermanto mengatakan, ke 200 ton ikan jenis mas dan nila ini tersebar di 537 petak keramba jaring apung milik warga Alai dan Muko-muko.
"Saat ini petani sudah mulai melakukan panen dini dan memindahkan ikan yang masih hidup ke kolam yang ada di sekitar daerah itu," katanya.
Akibat ratusan ton ikan mati mendadak ini, petani mengalami kerugian sekitar Rp4,4 miliar.
Ermanto menambahkan, kematian ikan secara massal akibat cuaca cukup panas, sehingga terjadi perubahan suhu di perairan. Pada bagian permukaan panas dan dasar perairan cukup dinggin, sehingga terjadi pembalikan arus.
"Air permukaan danau tenang dan apabila hal ini masih terjadi, maka mengancam ikan keramba jaring apung lainnya. Kita telah antisipasi dengan cara mengimbau petani untuk panen dini dan memindahkan ikan ke kolam lain," katanya.
Ia mengatakan, kematian ikan keramba jaring apung di Danau Maninjau ini merupakan yang kelima kalinya selama 2014, karena pada 29 Januari sebanyak 10 ton ikan mati, pada 23 Januari sebanyak 11.530 ton ikan mati, 19 Maret 2014 sebanyak 175,85 ton dan 4 Agustus sebanyak 50 ton.
Sementara pada 2008 sebanyak 15.000 ton keramba jaring apung di Danau Maninjau mati, kemudian 2009 sebanyak 15.000 ton, 2010 sebanyak 500 ton.
Pada 2011 sebanyak 500 ton, kemudian tahun 2012 sebanyak 300 ton dan 2013 turun menjadi delapan ton.
Di tempat terpisah, guru besar perikanan budidaya Universitas Bung Hatta Padang Prof Afrijal Syandi mengatakan, petani arus segera melakukan panen dini dan memindahkan ikan yang belum siap panen ke kolam.
Ini bertujuan agar petani tidak mengalami kerugian cukup besar karena kondisi suhu air ini bisa terjadi di daerah lain.
"Saat ini kondisi suhu dipermukaan Danau Maninjau terlalu panas, sementara di dasar sangat dingin," katanya.
Selain faktor cuaca, tumpukan pakan ikan di dasar perairan juga mengakibatkan kematian ikan, karena bisa mengurangi oksigen apabila angin kencang dan curah hujan tinggi.
Untuk itu, dia mengimbau kepada petani untuk membudidayakan ikan gurami dan patin. Kedua ikan ini tahan terhadap oksigen rendah.
"Pada tahun 2009, saya telah melakukan uji coba untuk membudidaya kedua ikan di Danau Maninjau. Saat itu, belasan ribu ton ikan mas, nila dan lainnya mati mendadak. Namun kedua ikan ini tidak mati," katanya.
Agar petani mau membudidaya ikan tersebut, Pemkab Agam diminta untuk menyosialisasikan ikan ini dan mencarikan lokasi pemasaran ikan tersebut, karena alasan sulit memasarkan inilah faktor petani tidak mau melakukan budidaya ikan itu. (**/ari/WIJ)
ANTARA Sumbar