DANAU MANINJAU DITINGGALKAN WISATAWAN

86 views
Skip to first unread message

Nofend St. Mudo

unread,
Aug 7, 2014, 9:11:42 PM8/7/14
to RN - Palanta RantauNet
Jumat, 08 Agustus 2014 02:02

Jika wisatawan lokal, domistik dan manca negara akan ber­kunjung ke Sumatera Barat, dapat dipastikan mendatangi Danau Maninjau tidak masuk dalam daftar jadwal kunjungan wisata mereka. Yang masuk daftar kunjungan biasanya, seperti ke Jam Gadang, Ngarai Sianok, Los Lambuang untuk kuliner (Bukittinggi), Lembah Harau (Kabupaten Limapuluh Kota), Water Boom Mifan (Padang Panjang) dan Rumah Gadang Pagaruyung (Batusangkar/Tanah Datar)

Berikutnya Pantai Air Manis (Padang), Pantai Gondoriah  (Kota Pariaman), Pantai Carocok (Painan/Pessel), sejumlah objek wisata eks tambang dan alam di Kota Sawahlunto, Danau Singkarak (Kab. Tanah Datar/Kab. Solok), Danau Diatas dan Danau Dibawah (Alahan Panjang Kab. Solok), Puncak Lawang, Embun Pagi dan Kelok 44 (Kab. Agam).

Meskipun objek wisata Puncak Lawang, Embun Pagi dan Kelok 44 yang berdekatan dengan Danau Maninjau masuk ke dalam daftar kunjungan wisata, namun tidak demikian halnya dengan Danau Maninjau. Kalau pun wisatawan turun dari Puncak Lawang dan Embun Pagi ke Kelok 44, mereka tak akan pergi ke bibir danau, apalagi akan stay atau menginap di hotel atau home stay yang masih tersisa di seputaran Danau Maninjau.

Umumnya wisatawan, berbalik lagi ke Kota Bukittinggi atau  melanjutkan perjalanan ke Pantai Gondoriah Kota Pariaman. Kini sangat jarang wisatawan yang mau berlama-lama di seputaran Danau Maninjau. Faktor penyebabnya, karena Danau Maninjau dari jarak dekat tidak lagi menyuguhkan keindahan, kesejukan dan kenyamanan bagi wisatawan.

Yang terjadi justru wisatawan menutup hidung karena di seputaran danau merebak bau tak sedap yang berasal dari ribuan keramba yang nyaris memenuhi seluruh kawasan pinggir danau. Wisatawan juga berupaya menghidar agar jangan bersen­tuhan dengan air danau. Selain aromanya tak sedap, airnya juga berlendir. Aroma tak sedap dan air yang berlendir itu disebabkan oleh sisa makanan ikan dan kotoran ikan yang menumpuk di Dasar Danau.

Ketika musim angin kencang, jutaan ekor ikan keramba mati dan tentu saja aromanya tidak sedap dan menjadi pemandangan yang menjijikan. Ikan itu mati karena seluruh sedimen sisa makanan dan kotoran ikan terangkat dari dasar danau. Hal itu menye­babkan oksigen di air menurun, sehingga menyebabkan jutaan ikan mati.  Sejak 10 tahun belakangan jum­lah keramba apung di Danau Maninjau me­mang tidak sebanding lagi dengan daya dukung danau, sehingga merusak eko­sistem yang ada.

Padahal dulu, tahun 1980-1990-an Danau Maninjau merupakan salah satu tujuan wisata terfavorit di Sumatera Barat. Wisatawan suka mandi-mandi dan bersam­pan kolek ke tengah danau. Saat itu puluhan hotel dan home stay di sekitar danau benar-benar hidup. Di akhir Minggu dan hari-hari besar/libur, hotel-hotel dan home stay di Danau Maninjau semuanya penuh terisi. Ketika itu makin banyak masyarakat yang menyulap sebagian rumahnya menjadi home stay. Kehidupan perekonomian masyarakat seputar danau benar-benar hidup. Warga sekitar danau banyak yang menawarkan makanan kerang pensi dan ikan rinuak kepada wisatawan. Bersepada sekiling Danau Maninjau juga menjadi agenda wisata yang  sangat menyenangkan bagi wisatawan.

Tapi, kini semua itu hanya tinggal kenangan. Sekarang nyaris seluruh hotel di seputaran Danau Maninjau  tutup. Kalau pun ada yang bertahan, kondisinya megap-megap. Hidup segan, mati tak mau. Sedangkan home stay benar-benar sudah lenyap dari supataran danau. Ini semua terjadi karena Pemkab Agam dan pihak-pihak terkait lainnya, gagal mem­perta­hankan keindahan, kesejukan dan kenya­manan Danau Maninjau yang selama ini menjadi faktor penggoda wisatawan. **

http://harianhaluan.com/index.php/haluan-kita/33283-danau-maninjau-ditinggalkan-wisatawan

--

Wassalam

Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend | YM: rankmarola 

Nofend St. Mudo

unread,
Aug 7, 2014, 9:13:26 PM8/7/14
to RN - Palanta RantauNet
PARIWISATA MANINJAU SUDAH DITINGGALKAN
Jumat, 08 Agustus 2014 02:12

PERLU PENATAAN ULANG

PADANG, HALUAN — Penataan ulang Danau Maninjau sebagai kawasan tujuan pariwisata harus dilakukan absolut, tidak boleh setengah-setengah. Pemerintah Kabupaten Agam harus bisa secara tegas menata keramba apung yang berada di kawasan danau.

“Jika pemkab sudah bisa menata, maka pihak swasta akan datang untuk berinvestasi. Tapi jika pihak swasta yang mulai kembali menata Danau Maninjau, maka urusan dengan masyarakat barangkali akan sulit diselesaikan,” kata Ketua DPP Asita Asnawi Bahar, Kamis (7/8).

Kondisi wisata Danau Maninjau sekarang sudah sangat jauh tertinggal. Wisatawan dan masya­rakat sudah meninggalkan Danau Maninjau. Danau itu seakan-akan telah hilang dan terhapus dari peta tujuan wisatawan lokal, domistik dan mancanegara. Kini sudah tidak ada lagi penginapan, seperti home stay dan hotel karena pemilik juga sudah mulai mening­galkan danau ini.

Kini hanya segelintir orang yang masih mau yang berkun­jung ke danau yang terkenal dengan legenda bujang sambilan ini. Maninjau masih terbantu oleh pesona Puncak Lawang dan Nuansa Maninjau. “Itupun orang hanya datang dan pergi, tidak ada nilai ekonominya. Tidak ada kegiatan bernilai ekonomi yang dapat dilakukan di sana,” terang Asnawi.

Untuk menghidupkan kembali Danau Maninjau, jelas harus dilakukan pembaharuan. Danau harus diatur sehingga olahraga air dan wisatawan air bisa diterapkan. “Saat ini saja, Carocok sudah mulai mengejar Sawah­lunto. Danau Maninjau telah jauh tertinggal dibanding dua daerah ini. Jadi intinya, penataan Danau Maninjau harus absolut,” tegas Asnawi.

Pemkab Tak Tegas

Fasilitas yang minim,  serta semakin banyaknya keramba jaring apung memang menjadi salah satu sebab kurang bergai­rahnya minat wisatawan berkun­jung ke Danau Maninjau. Air Danau Maninjau sejak 15 tahun belakangan berbau tak sedap dan airnya seperti berlendir. Nyaris semua pinggir danau disesaki oleh keramba jala apung.

Keindahan alam Danau Ma­nin­jau kini hanya bisa dinikmati dari Kecamatan Matur atau dilihat dari dataran tinggi. Apabila Danau Maninjau dikunjungi dari jarak dekat tidak ada peman­dangan yang didapati kecuali aktivitas bongkar muat ikan keramba jaring apung. Meski demikian, peluang pemerintah un­­tuk menjadikan Danau Ma­ninjau sebagai kawasan wisata yang bernilai jual masih terbuka.

Salah seorang tokoh Keca­matan Tanjung Raya, Rajo Bintang me­ngatakan, sejak dulu pemerintah ti­dak miliki sikap yang tegas me­ngolah kekayaan serta potensi yang dimiliki Maninjau. Penye­lamatan Danau Maninjau dan arah pe­ngem­­bangan Danau Maninjau seha­rusnya sudah digariskan sejak pu­luhan tahun lalu. Meski belum ter­lam­bat, namun untuk memulai kem­bali pemetaan saat ini sangat sulit.

“Setiap pergantian peme­rintahan, tidak ada inovasi yang bisa mengubah tatanan yang ada. Tidak mungkin menjual sesuatu apabila setengah-setengah,” ungkapnya.

Menurutnya, kekayaan alam tanah air, khususnya Sumbar, bisa saja sejajar dengan tempat-tempat wisata berkelas interna­sional yang memiliki nilai jual tinggi, seperti Maladewa atau tempat-tempat lain. Tetapi semuanya tergantung komitmen, dan ada arah yang jelas dari pemerintah.

“ Keseriusan pemerintah bisa dilihat dari kemampuannnya membuat pilihan. Misalnya, jika benar fokus menjadikan Maninjau tempat wisata pastinya pemerin­tah, mengundang investor, serta tegas membatasi pertumbuhan keramba sejak dulu. Atau sebaliknya serius menjadikan kawasan Danau Maninjau menja­di daerah bisnis perikanan yang mendatangkan keuntungan kepada masyarakat dan daerah. Namun saat ini semuanya serba setengah-setengah,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Agam, Junaidi menyebut, pemerintah sudah berupaya menjaga kelesta­rian alam Danau Maninjau dengan perda yang mengatur jumlah keramba jaring apung. Peraturan daerah tersebut bertujuan untuk membatasi pertumbuhan keramba, sehingga tidak menutup sektor pariwisata.

Menurutnya, pemerintah sangat serius untuk menyela­matkan Danau Maninjau dengan cara menekan, serta mengurangi jumlah keramba secara bertahap. Selain itu, pemerintah akan terus berupaya menciptakan beragam kegiatan yang merangsang pertumbuhan ekonomi pada tingkat masyarakat dari sektor kepariwisataan.

Ia menambahkan, ada bebera­pa iven yang dilakukan rutin setiap tahun dalam upaya pengembangan potensi pariwisata Danau Manin­jau, antara lain adalah Fly For Fun In Lake Maninjau Agam International Paragliding¸ Fun Bike, Tour De Singkarak. Kele­mahan sektor pariwisata di Maninjau karena tidak ditunjang dengan pengina­pan yang repre­sentatif. (h/eni/yat)

http://harianhaluan.com/index.php/berita/haluan-padang/33293-pariwisata-maninjau-sudah-ditinggalkan-


Pada 8 Agustus 2014 08.11, Nofend St. Mudo <nof...@rantaunet.org> menulis:
Jumat, 08 Agustus 2014 02:02

Jika wisatawan lokal, domistik dan manca negara akan ber­kunjung ke Sumatera Barat, dapat dipastikan mendatangi Danau Maninjau tidak masuk dalam daftar jadwal kunjungan wisata mereka. Yang masuk daftar kunjungan biasanya, seperti ke Jam Gadang, Ngarai Sianok, Los Lambuang untuk kuliner (Bukittinggi), Lembah Harau (Kabupaten Limapuluh Kota), Water Boom Mifan (Padang Panjang) dan Rumah Gadang Pagaruyung (Batusangkar/Tanah Datar)


S St Sulaiman

unread,
Aug 7, 2014, 10:06:37 PM8/7/14
to RN - Palanta RantauNet
Bisa ndak, diterapkan teknologi rekayasa yg akan membuat aia danau tetap barasiah, tapi masyarakaik pemilik keramba tetap bisa juo mampunyai penghasilan dari keramba ?
Jiko paralu biaya, tangguang lah dek pemerintah, khususnyo pemerintah pusat..! Masak triliunan tiok tahun (atau bulan ?) utk merawat jalur Pantura, lancar2 se mancoroh..
Saumpamo..saumpamo se ko ha..Sumatera ko jadi Republik Sumatera, ambo yakin sa yakin yakinnyo, rakyat Sumatera akan labiah makmur kehidupannya..
Ehh..dulu lai ado aktifis r@ntaunet ko nan di Maninjau..kama sanak Zet (?) tu kini yoo..?
*

Wassalam,
Than Lehman L/52/Chaniago/Agam/portable BDG


Sent from my handheld
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+...@googlegroups.com.
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Ressa

unread,
Aug 9, 2014, 12:05:04 AM8/9/14
to rant...@googlegroups.com
Dear Angku2 sadonyo,

Mohon maaf sebelumnya jika tidak menulis dengan baso awak, perkenalkan saya Ressa kebetulan kampungnya di Maninjau. Kalau membaca tulisan itu buat saya tidak heran kenapa Danau Maninjau ditinggalkan wisatawan, saya sendiri jika pulang kampung juga tidak bisa menikmati lagi jernihnya air danau dan tidak bisa lagi melihat Si Barau berburu Bada. Air danau sekarang sudah bisa dikatakan tercemar berat akibat ulah orang2 yang tidak bertanggung jawab. Bahkan danau Maninjau sudah dikategorikan sebagai danau yang rusak ekosistemnya.

Mungkin sebaiknya dibongkar saja semua karamba di danau itu (ekstrim mode) atau dibatasi saja jumlahnya tapi agak susah karena itu menyangkut masalah perut juga. Jadi menurut pendapat saya bukan masalah promosi atau transportasi tapi lebih karena yang dijadikan objek tidak dirawat dengan baik. Air danau jadi keruh dan rusak juga berefek kepada PLTA Maninjau yang mengambil air sebagai bahan bakar untuk pembangkitan listrik, menurut cerita almarhum Om saya semenjak air keruh mau ga mau harus sering melakukan maintenance terhadap turbin yang kemudian berefek kepada produksi listrik.

Jadi mungkin pemda sedikit bertangan besi sedikitlah biar danau itu jernih dan layak sebagai objek wisata. satu lagi yg ditakutkan jika danau sudah rusak dan tidak produktif lagi takutnya nanti hutan selingkar danau dibabat dan diambil kayu atau dibuat perkebunan apalagi kebun sawit jangan sampai deh. Bisa-bisa dobel rusaknya dan tinggal kenangan.

mohon maaf jika ada kata2 yang tidak pantas dan susah dimengerti.

Terima kasih

Andrinof A Chaniago

unread,
Aug 9, 2014, 9:27:16 PM8/9/14
to rant...@googlegroups.com
Padahal, sejauh perjalanan ke beberapa tempat, dan searching di internet, Danau Maninjau adalah salah satu danau terindah di dunia.

Andrinof Achir Chaniago (L/52-)



--

Sjamsir Sjarif

unread,
Aug 9, 2014, 9:38:00 PM8/9/14
to rant...@googlegroups.com
Tampak Jauah daun dama
Dicaliak dakek daun dadok.
Tampak Jauah rancak bana
Dicaliak dakek sambok-sambok.

Makngah

Zulkarnain Kahar

unread,
Aug 9, 2014, 9:49:59 PM8/9/14
to rant...@googlegroups.com
.....
Dicaliak dakek sasak angok.
 Salam
Zulkarnain Kahar

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup.

Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+unsub...@googlegroups.com.

Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.



Nofend St. Mudo

unread,
Aug 11, 2014, 12:47:00 AM8/11/14
to RN - Palanta RantauNet
KJA DANAU MANINJAU, Ikan Mati Sudah Ratusan Ton
Senin, 11 Agustus 2014 02:28



MANINJAU, HALUAN — Ikan ikan Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Maninjau di Nagari Koto Malintang Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam yang mati men­dadak sudah mencapai ratusan ton. Matinya ikan di nagari tersebut dalam jumlah banyak pada tahun 2014 merupakan kali ketiga.

Ikan mati secara berangsur - angsur sejak Selasa (5/8), hingga saat ini belum ada jumlah pasti. Perkiraan sementara jumlah ikan KJA di Nagari Koto Malintang sekitar 200 ton.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam, Erman­to mengatakan, ikan keramba di Nagari Koto Malintang, yang mati pada Minggu (10/8) sore tersebar pada sekitar 537 petak milik pembudidaya keramba. Tepatnya terletak di Alai, Muko-muko, Nagari Koto Malintang.

Kerugian yang diderita pem­budidaya akibat peristiwa ini mencapai Rp4 miliar.

“ Matinya ikan dalam jumlah banyak sudah terjadi tiga kali di Nagari Koto Malintang, selama tahun 2014. DKP mencatat kematian ikan KJA cukup banyak pertama terjadi di Talao, dengan kerugian sekitar 175,85 ton, kemudian di Batu Anjiang sekitar 50 ton dan terakhir Alai  sekitar 200 ton,” kata Ermanto.

Ia menjelaskan, matinya ikan KJA  saat ini diperkirakan akibat cuaca yang tidak stabil. Beberapa hari terakhir udara cukup panas, kemudian tiba-tiba hujan. Akibat hal tersebut terjadi perbedaan yang mencolok suhu air pada dasar danau dan permukaan. “ Pembudidaya sejak Minggu sore tadi sudah berusaha melakukan panen dini dan memindahkan ikan ke tempat yang dinilai lebih aman,” ungkapnya.

Menurutnya, secara kese­luruhan kematian ikan keramba jaring apung di Danau Maninjau merupakan yang kali kelima pada 2014. Sebelumnya peristiwa semacam ini juga terjadi pa­da pada 29 Januari sebanyak 10 ton. Kemudian  pada 23 Januari sebanyak 11.530 ton, pada 19 Maret 2014 sebanyak 175,85 ton dan pada 4 Agustus sebanyak 50 ton.

Namun jika dilihat dalam retang waktu beberapa tahun terakhir, jumlah ikan di Danau Meninjau yang mati dalm jumlah besar relatif menurun. Pada 2008 ikan Maninjau yang mati sekitar, 15.000 ton. Ke­mudian pada tahun 2009 sebanyak 15.000 ton, tahun 2010 sebanyak 500 ton. Selan­jut­nya Pada 2011 sekitar 500 ton, pada tahun 2012 sebanyak 300 ton dan 2013 menurun menjadi delapan ton.

Salah seorang pemilik KJA di Kecamatan Tanjung Raya, Erizal  mengatakan, sebagian ikan KJA masih ada yang bisa diselamatkan. Selain itu juga dilakukan penen dini agar jumlah kerugian tidak bertambah. Ia mengaku pembudidaya KJA terkejut saat tiba-tiba ikan KJA mereka mati secara mendadak, saat cuaca panas.

“ Kita sudah berusaha memi­sahkan serta memindahkan ikan-ikan yang masih hidup ke tempat. Selain itu kami juga melakukan panen,” ungakpnya. (h/yat)

http://harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/33344-ikan-mati-sudah-ratusan-ton

Nofend St. Mudo

unread,
Aug 11, 2014, 1:15:35 AM8/11/14
to RN - Palanta RantauNet


Kab. Agam - 10/08/2014 11:56 WIB

Ikan Danau Maninjau Mati jadi 350 Ton


Lubukbasung, (Antara Sumbar) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Agam, menyatakan jumlah ikan keramba jaring apung milik petani di Danau Maninjau tepatnya di Alai dan Muko-muko Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, mati mendadak menjadi 350 ton hingga Minggu (10/8) sekitar pukul 18.00 WIB.

"Ini berdasarkan data yang diperoleh petugas penyuluhan perikanan dari pemilik keramba jaring apung di Alai dan Muko-muko. Pada umumnya ikan itu yakni ikan mas dan nila yang berada di 537 petak keramba jaring apung," kata Kepala DKP Kabupaten Agam Ermanto di Lubukbasung, Minggu (10/8).

Dengan kejadian ini, kata dia, petani mengalami kerugian sekitar Rp7,7 miliar karena harga ikan dipasaran sebesar Rp22.000 per kilogram.

Agar petani tidak mengalami kerugian cukup besar, petani diminta untuk menghidupkan pompa oksigen yang telah diberikan kepada petani, karena oksigen di perairan berkurang akibat cuaca panas yang terjadi beberapa hari lalu.

Lalu petani diminta untuk melakukan panen secara dini dan memindahkan ikan yang belum layak dijual ke kolam yang ada sekitar pingir danau.

"Ini bertujuan agar kerugian petani tidak terlalu besar," kata dia.

Kematian ikan secara massal ini kata dia, akibat cuaca cukup panas, sehingga terjadi perubahan suhu di perairan. Pada bagian permukaan air danau panas dan dasar perairan cukup dinggin, sehingga terjadi pembalikan arus.

Kematian ikan keramba jaring apung di Danau Maninjau ini merupakan yang kelima kalinya selama 2014, karena pada 29 Januari sebanyak 10 ton ikan mati, pada 23 Januari sebanyak 11.530 ton ikan mati, 19 Maret 2014 sebanyak 175,85 ton dan 4 Agustus sebanyak 50 ton.

Sementara pada 2008 sebanyak 15.000 ton, kemudian 2009 sebanyak 15.000 ton, 2010 sebanyak 500 ton.

Pada 2011 sebanyak 500 ton, kemudian tahun 2012 sebanyak 300 ton dan 2013 turun menjadi delapan ton.

Salah seorang pemilik keramba jaring apung, Nazwar di Lubukbasung, mengatakan, ikan jenis mas dan nila dengan bermacam ukuran ini mulai mati mendadak semenjak pukul 04.00 WIB.

"Ikan milik saya mati sekitar 1,5 ton dengan kerugian sekitar Rp22 juta," kata Nazwar.

Dia mengatakan, kematian ratusan ton ikan ini merupakan yang ketiga kalinya di Nagari Koto Malintang selama 2014, karena pada Maret juga terjadi kematian massal di Talao sekitar 175,85 ton, pada 4 Agustus di Batu Anjiang sekitar 50 ton dan saat ini di Alai sekitar 350 ton. (**/ari/WIJ)

ANTARA Sumbar


Kab. Agam - 10/08/2014 11:48 WIB

DKP: Kematian Ikan Maninjau 50 Ton Akibat Tubo Balerang


Lubukbasung, (Antara Sumbar) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam, menyatakan, kematian 50 ton ikan jenis mas di Batu Anjiang Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, pada 4 Agustus 2014, akibat tubo balerang.

"Hasil pemeriksan sample yang kita ambil seperti pakan ikan dan ikan mati, kedua sampel ini tidak mengandung zat kimia yang bisa mematikan ikan," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam Ermanto di Lubukbasung, Minggu (10/8).

Hasil pemeriksaan sample yang dikirimkan ke Laboratorium Perikanan Bungus Teluk Kabung Kota Padang ini keluar pada Sabtu (9/8).

Sebelum ikan mas ini mati, terjadi dua kali gempa kecil di daerah Danau Maninjau, mengakibatkan belerang keluar karena Danau Maninjau perupakan dana vulkanik.

Sehingga ikan mas milik petani mati sekitar 50 ton dengan kerugian sekitar Rp2 miliar.

Kematian ikan di Danau Maninjau disebabkan dua faktor yakni, tubo balerang dan pembalikan air ke permungkaan.

Kata Ermanto, kematian ikan keramba jaring apung di Danau Maninjau selama 2014 sebanyak lima kali yakni, pada 29 Januari sebanyak 10 ton ikan mati, pada 23 Januari sebanyak 11.530 ton ikan mati, 19 Maret 2014 sebanyak 175,85 ton, 4 Agustus sebanyak 50 ton dan 10 Agustus sebanyak 200 ton.

Sementara pada 2008 sebanyak 15.000 ton keramba jaring apung di Danau Maninjau mati, kemudian 2009 sebanyak 15.000 ton, 2010 sebanyak 500 ton.

Pada 2011 sebanyak 500 ton, kemudian tahun 2012 sebanyak 300 ton dan 2013 turun menjadi delapan ton.

Danau Maninjau yang merupakan danau vulkanik berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Danau Maninjau sekitar 99,5 km bujur sangkar dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter.

Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding.

Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.

Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubukbasung, ibukota Kabupaten Agam. (**/ari/WIJ)

ANTARA Sumbar

Kab. Agam - 10/08/2014 04:59 WIB

200 Ton Ikan Danau Maninjau Mati Akibat Suhu




Lubukbasung, (Antara Sumbar) - Sekitar 200 ton ikan keramba jaring apung milik petani di Danau Maninjau tepatnya di Alai dan Muko-muko Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat diduga akibat pembalikan air ke permukaan, Minggu (10/8) sekitar pukul 04.00 WIB.

Salah seorang pemilik keramba jaring apung, Nazwar di Lubukbasung, mengatakan, ikan jenis mas dan nila dengan bermacam ukuran ini mulai mati semenjak pukul 04.00 WIB hinga berita ini diturunkan.

"Ikan milik saya mati sekitar 1,5 ton dengan kerugian sekitar Rp22 juta. Namun ada ikan petani mati dengan jumlah yang lebih banyak," kata dia.

Nazwar mengatakan, kematian ikan yang mencapai ratusan ton ini merupakan yang ketiga kalinya di Nagari Koto Malintang selama 2014, karena pada Maret juga terjadi kematian ikan massal di Talao sekitar 175,85 ton, pada 4 Agustus di Batu Anjiang sekitar 50 ton dan saat ini di Alai sekitar 200 ton.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam Ermanto mengatakan, ke 200 ton ikan jenis mas dan nila ini tersebar di 537 petak keramba jaring apung milik warga Alai dan Muko-muko.

"Saat ini petani sudah mulai melakukan panen dini dan memindahkan ikan yang masih hidup ke kolam yang ada di sekitar daerah itu," katanya.

Akibat ratusan ton ikan mati mendadak ini, petani mengalami kerugian sekitar Rp4,4 miliar.

Ermanto menambahkan, kematian ikan secara massal akibat cuaca cukup panas, sehingga terjadi perubahan suhu di perairan. Pada bagian permukaan panas dan dasar perairan cukup dinggin, sehingga terjadi pembalikan arus.

"Air permukaan danau tenang dan apabila hal ini masih terjadi, maka mengancam ikan keramba jaring apung lainnya. Kita telah antisipasi dengan cara mengimbau petani untuk panen dini dan memindahkan ikan ke kolam lain," katanya.

Ia mengatakan, kematian ikan keramba jaring apung di Danau Maninjau ini merupakan yang kelima kalinya selama 2014, karena pada 29 Januari sebanyak 10 ton ikan mati, pada 23 Januari sebanyak 11.530 ton ikan mati, 19 Maret 2014 sebanyak 175,85 ton dan 4 Agustus sebanyak 50 ton.

Sementara pada 2008 sebanyak 15.000 ton keramba jaring apung di Danau Maninjau mati, kemudian 2009 sebanyak 15.000 ton, 2010 sebanyak 500 ton.

Pada 2011 sebanyak 500 ton, kemudian tahun 2012 sebanyak 300 ton dan 2013 turun menjadi delapan ton.

Di tempat terpisah, guru besar perikanan budidaya Universitas Bung Hatta Padang Prof Afrijal Syandi mengatakan, petani arus segera melakukan panen dini dan memindahkan ikan yang belum siap panen ke kolam.

Ini bertujuan agar petani tidak mengalami kerugian cukup besar karena kondisi suhu air ini bisa terjadi di daerah lain.

"Saat ini kondisi suhu dipermukaan Danau Maninjau terlalu panas, sementara di dasar sangat dingin," katanya.

Selain faktor cuaca, tumpukan pakan ikan di dasar perairan juga mengakibatkan kematian ikan, karena bisa mengurangi oksigen apabila angin kencang dan curah hujan tinggi.

Untuk itu, dia mengimbau kepada petani untuk membudidayakan ikan gurami dan patin. Kedua ikan ini tahan terhadap oksigen rendah.

"Pada tahun 2009, saya telah melakukan uji coba untuk membudidaya kedua ikan di Danau Maninjau. Saat itu, belasan ribu ton ikan mas, nila dan lainnya mati mendadak. Namun kedua ikan ini tidak mati," katanya.

Agar petani mau membudidaya ikan tersebut, Pemkab Agam diminta untuk menyosialisasikan ikan ini dan mencarikan lokasi pemasaran ikan tersebut, karena alasan sulit memasarkan inilah faktor petani tidak mau melakukan budidaya ikan itu. (**/ari/WIJ)

ANTARA Sumbar

Wassalam

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages