Freemason Indonesia

1 view
Skip to first unread message

Bung Cahyo

unread,
Oct 2, 2009, 9:17:32 PM10/2/09
to Gotong Royong
Beberapa hari ini jargon 1 abad “Kebangkitan Nasional” berdengung
disekitar pendengaran kita. Menurut buku pelajaran dari SD hingga SMA,
pada tanggal 20 Mei 1908 telah terjadi suatu pergerakan menuju awal
gerakan nasional dalam mengatasi penjajahan di bumi Indonesia yang
dipromotori oleh mahasiswa-mahaiswa STOVIA yang biasa disebut dengan
“Budi Utomo”. Dr. Sutomo pun di daulat menjadi salah satu “pengisi”
awal dari pergerakan Budi Utomo. Dari SD sampai SMA bahkan mungkin
perguruan tinggi kita sudah di doktrin tentang kedahsyatan hari yang
disebut kebangkitan nasional ini yang selalu menjadi titik awal kaum
terpelajar di Indonesia.

Kita bahkan tidak mengetahui atau bahkan tak acuh tentang bagaimana
sejatinya pergerakan Budi Utomo ini. Budi Utomo merupakan pergerakan
yang menurut fakta sejarah sejatinya masih bersifat sangat kedaerahan,
belum mencakup tingkat nasional dan bahkan masih berada di dalam taraf
kelokalan.

Gerakan ini ternyata menyimpan sebuah tabir misteri yang berkaitan
dengan sebuah organisasi rahasia Yahudi Internasional di bawah
pendudukan Belanda yang disebut dengan organisasi Freemason (Tarekat
Mason Bebas) atau yang dikenal pada waktu penjajahan Belanda disebut
dengan “Vrijmetselarrij” . Fakta ini jarang sekali diungkap kedalam
ranah pendidikan nasional karena memang sangat dirahasiakan sekali
usaha dari organisasi terselubung ini.

Di dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda
dan Indonesia 1764-1962**” dijelaskan dengan gamblang bagaimana campur
tangan freemason terhadap Budi Utomo dalam kaitanya menyebarluaskan
faham keyahudian di dalam tubuh budi Utomo ini. Kita dapat lihat pada
kutipan berikut ini:

“…pengaruh Tarekat Mason Bebas atas emansipasi segmen penduduk Indo-
Eropa telah mendapat perhatian , tidaklah terlupakan bahwa mereka juga
mempunyai pengaruh dalam gerakan nasional Indonesia. Kaum Mason Bebas
sudah pada tahap dini mengadakan hubungan dengan salah satu organisasi
politik Indonesia yang pertama, yang bernama ”Budi Utomo” “. (Tarekat
Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962,
hal. xviii).

Pada awal masa gerakan nasional kaum Mason bebas sudah berusaha
menguasai perpolitikan Indonesia dengan cara sokongan keuangan bagi
mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berbakat. Kehebatan kaum Mason
Bebas di Indonesia ini pada kemudian hari tampak pada pendirian
sekolah-sekolah dan perpustakaan yang tersebar hamper diseluruh
Indonesia, kita dapat lihat lokasi-lokasi dan waktu berdirinya sekolah-
sekolah bentukan kaum Freemason ini,:

1875 di Semarang
1879 di Batavia
1885 di Yogyakarta, dua sekolah
1887 di Surakarta dan Magelang
1888 di Buitenzorg (Bogor)
1889 di Padang dan Probolinggo
1892 di Semarang, sekolah kedua
1897 di tegal
1898 di Bandung dan Manado
1899 di Aceh
1900 di Malang
1903 di Malang, sekolah kedua
1905 di Bandung, sekolah kedua
1907 di Blitar
1908 di Surabaya
1900 di Padang, Magelang (sekolah kedua) dan Medan, Makssar, Kediri
1926 di Malang, sekolah ketiga

Selain mendirikan sekolah-sekolah, para anggota Tarekat Mason Bebas di
Indonesia ini juga mendirikan berbagai perpustakaan di berbagai
daerah. Di semarang pada tahun 1875 di buka peprustakaan yang disebut
“De Verlichting” dan pada tahun 1917 ditempatkan di Perpustakaan Pusat
dan Ruang Baca Umum. Jenis perpustakaan itu dengan berjalannya waktu,
muncul hampir bersamaan dengan di semua tempat yang ada loge. Pada
tahun 1877 didirikan sebuah perpustakaan di Padang dan kemudian:

1878 di Yogya
1879 di Surabaya
1882 di Salatiga
1889 di Probolinggo
1890 di Buitenzorg (Bogor)
1891 di Bandung
1892 di Menado
1895 di Manado
1897 di Tegal
1899 di Medan
1902 di Ambon
1902 di Malang
1908 di Magelang
1907 di Blitar

Usaha-usaha dari kaum Mason Bebas ini juga berujung pada perekrutan
anggota-anggota pada Budi Utomo yang ditarik untuk menjadi anggota
Tarekat Mason Bebbas ini. Usaha penetrasi dari luar sangatlah sukar
mengingat kaum terpelajar pada saat itu masih dibilang relative
sedikit, untuk memuluskan usaha-usaha Mason ini, mereka melakukan
penetrasi kedalam tubuh Budi Utomo. Dalam usaha Freemason ini, rupanya
bantuan dana merupakan sumber utama untuk menyebarluaskan manifesto
politik Freemason pada Budi Utomo, seperti bantuan dari Loge Mataram
(cabang Freemason di Yogyakarta waktu itu):

” Tarekat Mason Bebas…”melalui perantaraan Paku Alam”, memberikan
bantuan kepada “Budi Utomo”. Loge Jogya “Mataram” ia sebut sebagai
suatu lembaga yang berbakti dan pantas dihormati”. (Tarekat Mason
Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, hal.
48).

Beberapa tokoh Indonesia yang menjadi member Budi Utomo juga sejatinya
merupakan aktifis dari Tarekat Mason Bebas ini, kita dapat lihat
seperti Pangeran Arionotodirojo (1858-1917). Masuk keanggotaan loge
Mataram pada tahun 1887 dan memegang berbagai jabatan kepengurusan. Ia
ketua Boedi Oetomo antara tahun 1911-1914. pada tahun 1913 ia
mendirikan Sarekat Islam Cabang Yogya yang banyak beranggotakan elit
Jawa. Notodirojo seorang yang disegani dan dianggap sebagaI pergerakan
rakyat Jawa, selanjutya kita temukan Raden Adipati Tirto Koesoemo
Bupati Karanganyar. Anggota Loge Mataram sejak tahun 1895. ketua
pertama Boedi Oetomo. Pada kongres ke dua Boedi oetomo, yang diadakan
di gedung Loge Mataram, ia mengusulkan pemakaian Bahasa Melayu,
mendahului Sumpah Pemuda.
Dan tokoh yang dipanggil menhadap Marsekal Terauchi ke kota Saigon
bersama Ir. Sukarno dalam kaitanya dengan kemerdekaan Indonesia, yaitu
Dr. Radjiman Wediodipoera (Wediodiningrat) 1879-1952. Antara tahun
1906 dan 1936 dokter pada keraton Solo. Sarjana dan penulis mengenai
falsafah budaya. Pejabat ketua Boedi Oetomo 1914-1915. pada tahun 1945
memainkan peranan penting sebagai ketua dari Badan Persiapan
Kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya gerakan kebangkitan nasional versi Budi Utomo ini lebih
dapat disebut sebagai usaha bercokolnya Yahudi di Indonesia melalui
selubung kaum Freemason atau Tarekat Mason Bebas, karena kita juga
dapat temui komunitas Yahudi di Indonesia.

Jika Yahudi pra kemerdekaan yang tergabung di dalam Freemason itu
hengkang setelah keputusan Presiden pertama Ir. Sukarno tentang
organisasi terlarang Freemason (dan organisasi terselubung lainnya
seperti Rotary Club dan Lions Club), ternyata di kemudian hari
Freemason dan Yahudi ini kembali eksis setelah sembunyi-sembunyi.

Modus operandi mereka mengaku sebagai keturunan Arab, umat awam pasti
akan terkecoh karena Yahudi dan Arab dalam segi fisik tak jauh
berbeda. Bukti eksisnya Yahudi ini dapat kita telusuri. Contoh paling
mudah tentang eksisnya Yahudi serta Sinagognya yang sampai detik ini
masih eksis berdiri karena dipertahankan sebagai Cagar Budaya, dapat
kita lihat pada daerah Surabaya, tepatnya Jalan Kayon no. 4 Surabaya,
utara Delta Plaza Surabaya saat ini, di daerah Gubeng.
Jalan Kayon no. 4 Surabaya, Jawa Timur, anda tinggal berjalan kaki
menghadap utara dari Monumen Kapal Selam Surabaya, maka akan terlihat
rumah Synagogue tersebut di sisi kanan jalan.

Untuk mengetahui sepak terjang Tarekat Mason Bebas atau yang dalam
bahasa Internasional disebut dengan Freemason, pembaca dapat melihat
artikel penulis sebelumnya yang berjudul “Jejak Langkah Freemason dan
Yahudi di Indonesia”

**Buku Tarekat Mason Bebas ini hanya dicetak 5000 eksemplar oleh
Pustaka Sinar Harapan, dan hanya diterbitkan 1 kali cetak yaitu pada
tahun 2004, menurut keterangan dari Masyhud SM (penerjemah dan penulis
buku best seller “Misteri Natal” dan “Dialog Santri-Pendeta” ) yang
penulis hubungi lewat telepon selulernya, buku tersebut hak penerbitan
dan pencetakannya telah dibeli oleh orang Yahudi, karena memang tujuan
buku ini bukan untuk konsumsi publik, melainkan dipersembahkan kepada
para anggota dan mantan anggota dari Tarekat Mason Bebas di Hindia-
Belanda dulu dan di Indonesia.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages