Santi, Tiada Lagi di Antara Kita

7 views
Skip to first unread message

Agus Hamonangan

unread,
Jul 13, 2008, 10:26:39 PM7/13/08
to FPK Googlegroups
--
Salam,

Agus Hamonangan

http://groups.google.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

"Teman-teman, Santi telah meninggal dunia," demikian bunyi pesan
singkat di telepon genggam.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/14/01341178/santi.tiada.lagi.di.antara.kita

Tiur Santi Oktavia (29), yang menulis di Kompas, dengan inisial TAV,
akhirnya harus menyerah setelah tujuh bulan terbaring di rumah sakit,
berjuang melawan kanker yang kali ini menggerogoti hatinya. Rencananya
Santi dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Jakarta, hari Senin ini pukul
16.00.

Bukan sekali ini Santi berjuang melawan kanker. Tahun 2004, Santi
berjuang melawan kanker usus. Rangkaian kemoterapi yang menyakitkan
dengan tabah dijalani. "Tenang, masih banyak keajaiban," katanya.

Lulusan ITB Jurusan Planologi ini bergabung dengan Kompas sejak 2003.
Begitu diangkat, ia ditempatkan di Malang, lalu dipindahkan ke
Jakarta, di Desk Ekonomi, meliput perbankan, ekonomi makro, dan bursa.

"Santi itu selalu gembira, tidak terbayang ia sudah sakit sejak empat
tahun lalu. Santi cepat belajarnya. Tulisannya tak pernah membuat
kesal sumbernya," ujar Direktur Bursa Efek Indonesia Eddy Sugito, yang
langsung ke Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading, begitu mendengar berita
duka tentang Santi.

Santi meliput ke sana kemari dengan sepeda motornya. Suatu kali
motornya diserempet motor lain. Ia terpental dan kakinya terluka.
"Santi tergopoh-gopoh datang ke acara klien saya dengan kaki luka, dan
minta maaf karena terlambat datang, padahal semua orang maklum jika ia
tidak datang karena kecelakaan itu," ujar Rahmi, konsultan humas yang
menangani emiten bursa.

Santi dipersunting Daniel Siregar, fotografer Kontan, awal Desember
2007. Hanya dua pekan ia menikmati masa bahagia sebagai suami istri.
Setelah pulang berbulan madu, Santi mengeluh masuk angin dan sakit
perut. "Ada jaringan kanker di hati," kata Santi. Keluarganya
membawanya berobat ke Guangzhou, China.

"Dokter membuat saluran pembuangan racun dari hati," tutur Santi
sepulang dari Guangzhou. Hingga akhir hayatnya, ke mana-mana ia harus
membawa kantong pembuangan racun.

Santi adalah pribadi yang perfeksionis. Baginya, setiap karya
jurnalistik adalah hasil pergulatan panjang, dengan skeptisisme di
setiap kalimat yang ditulis.

Selamat jalan, Santi...." (MAS/JOE)

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages