Sidoarjo, Kompas - Akibat tanggul penahan lumpur jebol, Jalan Tol
Porong-Gempol terendam lumpur panas sepanjang 300 meter dengan
ketinggian 1,5 meter. Akibat terendam lumpur, jalan tol diperkirakan
sangat rawan digunakan untuk angkutan mudik Lebaran mendatang.
Sampai Selasa (26/9) sore, lumpur kental dengan asap dan bau menyengat
masih menggenangi jalan tol dan tidak mungkin dilewati kendaraan.
Lumpur tersebut berasal dari tanggul yang jebol selebar 10 meter dan
ketinggiannya sekitar enam meter, pada Senin sekitar pukul 21.00.
Selain merendam jalan tol di Kilometer 37,600 sampai 37,900, lumpur
panas juga menggenangi Desa Siring dan sebagian Desa Kedungbendo. Di
kedua desa itu genangan lumpur yang sebelumnya 0,5 meter menjadi 1,5
meter.
Lumpur juga semakin mendekati rel kereta api SurabayaMalang, dengan
jarak dari rel sekitar empat meter. Aktivitas penyiapan lokasi relief
well 2 atau sumur pemadam semburan di Desa Renokenongo terhenti total
akibat akses jalan masuknya terendam lumpur.
Juru bicara Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo
Rudy Novrianto membenarkan pihaknya belum membersihkan tol dari
genangan lumpur. "Kami akan melihat kondisinya sebelum menentukan
langkah yang harus diambil," katanya. Namun, Rudy menegaskan, Tim
Nasional mengupayakan jalan tol bisa dilalui kendaraan sebelum Lebaran.
Tidak bisa ditinggikan
Kepala Cabang Tol Surabaya-Gempol Bachriansyah menyatakan, bagian jalan
tol yang lain ditinggikan sekitar lima meter dengan menggunakan pasir
dan batu. Meski demikian, jalan tol yang terendam lumpur tidak mungkin
ditinggikan karena terdapat jembatan layang antardesa yang melintang di
atas Kilometer 37,800 sehingga jika jalan tol ditinggikan, truk
kontainer dan bus akan terantuk jembatan itu.
"Hal yang bisa dilakukan adalah membersihkan lumpur dari badan jalan,"
kata Bachriansyah. Selain itu, harus dibangun tanggul yang sangat kuat
di kedua sisi badan jalan tol sehingga aman dari terjangan lumpur.
Pembukaan jalan tol awalnya dijadwalkan pada 17 September untuk semua
jenis kendaraan. Namun, karena volume lumpur di kolam utama semakin
naik, sejumlah pengerjaan penyelesaian, seperti pengaspalan dan
pembuatan drainase, dihentikan.
Dengan terendamnya jalan tol, jadwal pembukaan jalan tol makin tidak
pasti. Debit semburan lumpur yang naik menjadi ratarata 60.000 meter
kubik per hari makin berpotensi mengakibatkan jebolnya tanggul di titik
mana pun, termasuk di sisi jalan tol.
Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya Komisaris Besar Anang
Iskandar mengatakan, sekitar 1.089 polisi disiapkan di sekitar lokasi
tanggul dan jalan raya. Mereka bertugas memberikan pengamanan,
memberikan penerangan yustisi dan bantuan kesehatan, serta membantu
masyarakat korban lumpur panas. Polisi diberi kewenangan menembak di
tempat pelaku yang bertindak anarki.
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Jawa Timur Dr Arief
Rahmansyah mengatakan, hingga saat ini tidak ada yang bisa
memperkirakan sampai kapan lumpur panas akan menyembur. Fakta saat ini
volume semburan lumpur semakin besar dan areal genangan semakin luas.
Selain itu, permukaan tanah di sekitar lokasi semburan lumpur turun.
Karena itu, untuk menghindari dampak semburan lumpur, penduduk yang
bermukim di sekitar lokasi semburan sebaiknya direlokasi.
Presiden setuju
Dalam konteks menyelamatkan manusia dan lingkungan, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono akan memutuskan pilihan penanganan lumpur panas PT
Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jatim, Rabu (27/9), dalam sidang kabinet
yang khusus membahas penanganan lumpur panas.
Menjawab pertanyaan pers seusai dipanggil Presiden Yudhoyono di Kantor
Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Selasa, Menteri Pekerjaan Umum
Djoko Kirmanto mengatakan, ada dua pilihan saat ini, yaitu dibuang ke
laut, atau cara lain jika menutup lubang semburan itu tidak bisa
dilakukan.
Namun, sebelum diputuskan, Presiden Yudhoyono akan mendengarkan
terlebih dulu laporan Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di
Sidoarjo.
"Kemungkinannya bagaimana, apakah lubang semburan lumpur panas itu bisa
ditutup atau tidak. Jika memang tidak bisa ditutup, bagaimana
penanganannya lebih lanjut. Kita mau menyelamatkan manusia atau ikan?"
ujar Djoko.
Djoko dipanggil Presiden terkait jebolnya kembali tanggul penahan
luapan lumpur panas Lapindo Brantas, Senin, yang mengancam
infrastruktur jalan tol, rel kereta api, dan permukiman penduduk yang
selama ini memang sudah terendam lumpur.
"Jika tidak ada alternatif lain, Presiden setuju saja dibuang ke laut.
Pilihan itu akan diputuskan besok (hari ini, Rabu) jika sudah ada
penjelasan dari Tim Nasional terlebih dulu," katanya. (LAS/INA/ODY/HAR)
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!