Oleh Djoko Poernomo
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0609/29/Sosok/2980033.htm
==========================
Cita-cita menjadi dokter gigi tertanam di benak Regina Titi
Christinawati Tandelilin sejak duduk di bangku sekolah dasar. Tetapi,
berurusan dengan hewan kelinci, ia tidak pernah membayangkan sama
sekali.
Nyatanya, hewan ini yang kemudian malah mengantarkan Regina (47)
meraih gelar doktor dengan predikat cum laude dalam karier selaku
pendidik di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG
UGM), Yogyakarta.
Disertasi berjudul Ekspresi dan Aktivitas Gelatinase, Tissue
Inhibitors of Metalloproteinase (TIMP-1 dan TIMP 2) pada Luka
Pencabutan Gigi Setelah Augmentasi Demineralized Bone Matrix (Kajian
In Vivo pada Kelinci) dia pertahankan di depan tim penguji Sekolah
Pascasarjana UGM, 18 September 2006.
Promotornya adalah Prof Abdul Salam M Sofro yang sekarang menjabat
Rektor Universitas Yarsi, Jakarta, dengan tiga kopromotor, yaitu Prof
Al Supartinah S, Prof Marsetyawan, dan Widya Asmara PhD. Adapun salah
satu pengujinya Prof Djohansjah Marzoeki.
Sebenarnya, obyek penelitian tak harus kelinci, bisa juga tikus atau
marmot. Pilihan jatuh pada kelinci dengan pertimbangan gigi serinya
dapat dicabut dan bukan merupakan hewan pengerat serta mudah
diternakkan. "Kelinci juga menunjukkan hasil baik ketika
ditransplantasi dengan allograft pada femur-nya," tutur Ketua Bagian
Biologi Mulut FKG UGM yang gemar main tenis dan mengidolakan tim
sepak bola AC Milan, Italia, itu.
Ia menambahkan, hewan percobaan yang lebih tepat sebenarnya
primata. "Tetapi, populasi (primata) tak mendukung dan
pemeliharaannya lebih rumit, apalagi obyek penelitian bakal dimatikan
dengan cara ditidurkan lebih dulu," tuturnya.
Kelompok kontrol
Dalam penelitian, Regina akhirnya menggunakan 36 kelinci jantan
dengan berat 900-1.100 gram berumur 2,5-3 bulan yang dibagi secara
acak dalam dua kelompok kontrol dan perlakuan.
Kelompok perlakuan dicabut gigi seri bawahnya dan segera diaugmentasi
(ditambahkan) dengan serbuk demineralized bone matrix (DBM) yang
bersifat osteokonduktif dan osteoinduktif, dan terbukti menunjukkan
sifat modulasi pada penyembuhan tulang.
Kemudian flap dijahit benang non-absorbable. Perlakuan yang sama
diberikan pada kelompok kontrol tanpa diaugmentasi DBM.
Hasil penelitian tersebut menyimpulkan, pada luka yang segera
diaugmentasi DBM pascapencabutan gigi, penyembuhan jaringan lunak dan
tulang lebih cepat dibandingkan dengan yang tanpa augmentasi sehingga
DBM dapat menjadi terapi pencegahan, kuratif maupun rehabilitatif.
Menurut Regina, kelainan pada tulang yang paling sering terjadi dalam
bidang kedokteran gigi adalah kerusakan akibat pencabutan
gigi. "Kerusakan tulang seharusnya dirawat atau dicegah, dan ini
dapat diatasi dengan menggunakan cangkok (graft) tulang sebagai
penutup, yaitu dengan augmentasi yang akan menginduksi tumbuhnya
tulang baru pada tempat augmentasi," katanya.
Graft tulang sebaiknya berbentuk serbuk. Lalu, agar tidak menimbulkan
reaksi imunitas, bahan yang digunakan adalah demineralized graft yang
diproses dengan deep-freeze, yang proses pengeringannya menggunakan
pembekuan.
Pernah sakit gigi
Seperti disebutkan di atas, cita-cita menjadi dokter gigi tertanam
sejak kecil menyusul pengalaman "kurang menyenangkan" yang ia terima
dari seorang dokter gigi. Saat duduk di bangku kelas II SD Pamardi
Putri, Solo (1967), Regina mengalami sakit setelah dokter gigi
mencabut giginya.
Oleh karena itulah, setamat SMP, Regina mempunyai keinginan yang
bulat. Ia berkata kepada ibunya, Ny Margaretha Samilah, kelak ingin
menjadi dokter gigi serta berupaya tidak membuat sakit si pasien.
Keinginan ini mendapat dukungan ayahnya, Rob Soedirdjo, seorang
kepala sekolah. Pasangan Ny Samilah-Soedirdjo dikaruniai delapan
anak, Regina merupakan anak ketiga.
"Begitu lulus SMA Negeri I Solo, saya mendaftar masuk ke FKG UGM
tahun 1978 dan diterima bersama 97 calon mahasiswa lain," tutur
Regina.
Regina menyelesaikan pendidikan dokter gigi di UGM tepat waktu dan
dilantik tahun 1983. Mulai Februari 1984 dia diterima sebagai
pengajar di almamaternya. Tahun 1987-1988 ia mengikuti program
pelatihan gigi di Pensylvania, Amerika Serikat. Selanjutnya, tahun
1998, ia menyandang gelar master of science di bidang mikrobiologi
dari University of the Philippines.
Gelar mahasiswa berprestasi pernah diraih Regina sehingga Regina
mendapat hak menerima partial grant. Terakhir, istri Prof Dr Eduardus
Tandelilin MBA CWM (49)—ahli keuangan sekaligus pengajar di Fakultas
Ekonomi UGM, dan ibu dua anak ini—meraih gelar doktor.
Regina mengaku, dia memutuskan masuk ke program doktor setelah
suaminya ditetapkan sebagai guru besar dan anak pertamanya, Andreas
AK Tandelilin, diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM.
Saat Regina sibuk menulis disertasi, Andreas dan adiknya, Stanislaus
MC Tandelilin (siswa kelas II SMAN 3 Yogyakarta), bisa memahami
kesibukan ibunya.
"Suami mengizinkan masuk program doktor dengan pertimbangan utama
asal atas kemauan dan motivasi sendiri, dan yang terpenting tidak
boleh mengeluh," tutur Regina yang sehari-hari berbahasa Inggris,
baik dengan suami maupun kedua anaknya.
--- End forwarded message ---