Dewan TIK & Microsoft

0 views
Skip to first unread message

Hansen

unread,
Nov 17, 2006, 7:06:24 AM11/17/06
to Bla...@googlegroups.com
Setelah salah satu pentolan Microsoft pusat datang menemui SBY, dia
langsung diajak masuk ke dewan tersebut. Saya baca-baca sekilas
siapa-siapa saja anggotanya kok tidak melihat penggiat free software
ada diantaranya. Yang ada paling pejabat-pejabat yang sepertinya
mendukung free software tapi saya meragukannya karena siapa bisa
pegang omongan politikus ;-)

Menurut ketua dewan TIK, akan dilakukan pelegalan software2 yang
dipakai pemerintah. Untuk Ristek dan PTN akan dikembangkan IGOS (ini
OS atau apa?) sedangkan diluar itu akan dibicarakan dengan pemilik Hak
Intelektual (dalam hal ini pasti MS).

Sepertinya kesempatan free software masuk ke pemerintah semakin kecil,
tetapi bisa dimengerti manakala kita bayangkan kalau pejabat
pemerintah yang menggunakan free software pasti tidak dapat persenan
dari pemakaian software, jadi mereka pasti anti ;-)

Atau saya ketinggalan info?
--
hansen
http://hansen.alfansa.org
http://teknologipraktis.org
====

Mico Siahaan

unread,
Nov 18, 2006, 4:15:28 AM11/18/06
to Bla...@googlegroups.com
Memangnya pejabat pemerintah mendapatkan persenan dari pembelian software? Bukan pejabat tuh namanya melainkan sales... hehehe.

Saya pikir adanya Open Source adalah memberikan pilihan dalam penggunaan maupun pengembangan software. Jadi kalau memang Micro$oft komitmen untuk memberikan support kepada putra-putri Indonesia, misalnya berupa pelatihan, dana maka saya pikir SIKAT saja boss! Yang penting puta-putri Indonesia kerja keras untuk menguasai teknologi itu dengan demikian dapat membuat aplikasi-aplikasi sendiri untuk pasar lokal.

Open Source/Free Software menjadi pilihan lain untuk menelurkan inovasi-inovasi lain. IMHO

regards,
--
Mico Siahaan
---
Mobile: +62-8121025010
Email: Mico.S...@gmail.com
Blog: www.tentangmico.info/blog

Visit our shop: http://www.immanuelbookstore.com

Firdaus Tjahyadi

unread,
Nov 18, 2006, 7:40:54 AM11/18/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/17/06, Hansen <hansen....@gmail.com> wrote:

Setelah salah satu pentolan Microsoft pusat datang menemui SBY, dia
langsung diajak masuk ke dewan tersebut. Saya baca-baca sekilas
siapa-siapa saja anggotanya kok tidak melihat penggiat free software
ada diantaranya. Yang ada paling pejabat-pejabat yang sepertinya
mendukung free software tapi saya meragukannya karena siapa bisa
pegang omongan politikus ;-)

Pak Kusmayanto dan pak Rus kan masuk ke Dewan TIK
tapi nggak tahu nantinya bisa nggak mempengaruhi TIK apa nggak

salam

Firdaus Tjahyadi

unread,
Nov 18, 2006, 7:45:36 AM11/18/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/18/06, Mico Siahaan <mico.s...@gmail.com> wrote:
Memangnya pejabat pemerintah mendapatkan persenan dari pembelian software? Bukan pejabat tuh namanya melainkan sales... hehehe.

bukan sales pak tapi calo
Emang negara kita negeri sejuta calo pak
lihat aja vendor2 indonesia yg jual software luar banyak yg nggak beres alias nggak jelas
 

Saya pikir adanya Open Source adalah memberikan pilihan dalam penggunaan maupun pengembangan software. Jadi kalau memang Micro$oft komitmen untuk memberikan support kepada putra-putri Indonesia, misalnya berupa pelatihan, dana maka saya pikir SIKAT saja boss! Yang penting puta-putri Indonesia kerja keras untuk menguasai teknologi itu dengan demikian dapat membuat aplikasi-aplikasi sendiri untuk pasar lokal.


Ya ampun pak mico, Miekocok mana bisa dipercaya
Janji memberikan 1000 Komputer bekas aja sampe sekarang blom dateng
nggak tahu kapan dateng, mungkin tahun gajah kalee

Janji2 Miekocok itu cuma maaf "Bullxxxxx"  
bangsa kita seharusnya mencontoh india dengan mahatma gandhi yang mandiri
dengan biaya pendidikan, buku2 luar negeri yg murah sehingga rakyatnya pintar


salam

Made Wiryana

unread,
Nov 18, 2006, 5:27:46 PM11/18/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/18/06, Mico Siahaan <mico.s...@gmail.com> wrote:
Saya pikir adanya Open Source adalah memberikan pilihan dalam penggunaan maupun pengembangan software. Jadi kalau memang Micro$oft komitmen untuk memberikan support kepada putra-putri Indonesia, misalnya berupa pelatihan, dana maka saya pikir SIKAT saja boss! Yang penting puta-putri Indonesia kerja keras untuk menguasai teknologi itu dengan demikian dapat membuat aplikasi-aplikasi sendiri untuk pasar lokal.

Dapatnya sekian M  keluarnya sekian M ? Lha 100 komputer di  1 badan pemerintah saja sudah keluar 1 M.

Tentu saja bagi yang kebagian sikatannya ndak perlu mikir bahwa sudah keluar sekian M dari APBN.

IMW

Hansen

unread,
Nov 20, 2006, 6:43:22 AM11/20/06
to Bla...@googlegroups.com
On 19/11/06, Made Wiryana <mwir...@gmail.com> wrote:
> On 11/18/06, Mico Siahaan <mico.s...@gmail.com> wrote:
> > Saya pikir adanya Open Source adalah memberikan pilihan dalam penggunaan
> maupun pengembangan software. Jadi kalau memang Micro$oft komitmen untuk
> memberikan support kepada putra-putri Indonesia, misalnya berupa pelatihan,
> dana maka saya pikir SIKAT saja boss! Yang penting puta-putri Indonesia
> kerja keras untuk menguasai teknologi itu dengan demikian dapat membuat
> aplikasi-aplikasi sendiri untuk pasar lokal.
Never ever trust the bussiness entity when they come a long to give
something and say this is free for you! Karena kalau begitu mereka
mengingkari prinsip bisnis itu sendiri ;-) Mereka akan anggap itu
sebagai investasi dan karena investasi maka harus menghasilkan
keuntungan sebesar-besarnya. Memang kadang2 ada juga investasi yang
gagal, tetapi jangan berharap pemberian dari suatu entitas bisnis itu
adalah ikhlas ;-)

> Dapatnya sekian M keluarnya sekian M ? Lha 100 komputer di 1 badan
> pemerintah saja sudah keluar 1 M.
>
> Tentu saja bagi yang kebagian sikatannya ndak perlu mikir bahwa sudah keluar
> sekian M dari APBN.

Sedihnya melihat birokrat negri ini :'-(

Semoga pak Rus bisa mendesakkan agenda free software walau hanya
sedikit nantinya yang diadopsi, selamat berjuang...!

Kalau pak Koes saya agak ragu ;-) Memang saya mendengar banyak hal
baik tentang beliau, tetapi kadang2 jabatan bisa mengubah pendirian
seseorang. Moga-moga keraguan saya tidak benar ;-D

fade2blac

unread,
Nov 20, 2006, 7:14:33 AM11/20/06
to Bla...@googlegroups.com
On Mon, Nov 20, 2006 at 06:43:22PM +0700, Hansen wrote:
> Never ever trust the bussiness entity when they come a long to give
> something and say this is free for you! Karena kalau begitu mereka
> mengingkari prinsip bisnis itu sendiri ;-) Mereka akan anggap itu
> sebagai investasi dan karena investasi maka harus menghasilkan
> keuntungan sebesar-besarnya. Memang kadang2 ada juga investasi yang
> gagal, tetapi jangan berharap pemberian dari suatu entitas bisnis itu
> adalah ikhlas ;-)
>

Ya seringkali free kan sebagai kail. Ingat penjual narkoba :-) Analogi
mas IMW 5 tahun yang lalu. Pengedar narkoba kasih gratis dulu. Kalau
sudah ketagihan, mau nyebut berapapun harganya, you name it, pasti ngikut :-)

>
> Semoga pak Rus bisa mendesakkan agenda free software walau hanya
> sedikit nantinya yang diadopsi, selamat berjuang...!
>
> Kalau pak Koes saya agak ragu ;-) Memang saya mendengar banyak hal
> baik tentang beliau, tetapi kadang2 jabatan bisa mengubah pendirian
> seseorang. Moga-moga keraguan saya tidak benar ;-D
>

Lebih baik Pak Rus mundur saja :-) Nanti kalau Dewan TIK dijadikan
legitimasi gimana? Karena ada wakil dari Linux/FS/OSS, ya tentu dianggap
sudah mewakili. Di level politik, saya pesimis bahwa idealisme atau akal sehat
bisa mempengaruhi policy. Faktanya adalah uang yang mempengaruhi policy, dan
fakta lain lagi bahwa komunitas Linux/FS/OSS tidak punya uang untuk itu.

Lebih pas, IMHO, beraktivitas di grass root, lebih berdampak hasil.


--
fade2blac

Made Wiryana

unread,
Nov 20, 2006, 9:45:26 AM11/20/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/20/06, fade2blac <sp...@postpi.com> wrote:

Ya seringkali free kan sebagai kail. Ingat penjual narkoba :-) Analogi
mas IMW 5 tahun yang lalu. Pengedar narkoba kasih gratis dulu. Kalau
sudah ketagihan, mau nyebut berapapun harganya, you name it, pasti ngikut :-)

Diterjemahkan secara bebas

- Biarkan membajak
- Edukasi bahwa HAKI itu penting
- Tegakkan HAKI
- Pasang bandrol harga. Hayo bayar loe !!! 

 

Lebih baik Pak Rus mundur saja :-) Nanti kalau Dewan TIK dijadikan
legitimasi gimana? Karena ada wakil dari Linux/FS/OSS, ya tentu dianggap
sudah mewakili. Di level politik, saya pesimis bahwa idealisme atau akal sehat
bisa mempengaruhi policy. Faktanya adalah uang yang mempengaruhi policy, dan
fakta lain lagi bahwa komunitas Linux/FS/OSS tidak punya uang untuk itu.

Sebetulnya ada rekan-rekan pemerintah lainnuya juga sudah mulai memihak ke FS/OSS ini. Sayangnya ya itu tadi kalah suara (lha penasehat Dewan TIK, rektor 5 PTN yg rata-rata belum perah memihak secara terang-terangan ke FS/OSS, atau keluar duit untuk pengembangan FS/OSS).

Lebih pas, IMHO, beraktivitas di grass root, lebih berdampak hasil.

Jadi inget posting di TELEMATIKA ada yg bertanya "apa yang sudah dibuat teman-teman Open Source, khan cuma pakai dan cuap cuap saja"

Pas diberi peta perkembangan distro langsung baru kaget.

Rupanya perlu dilakukan inventarisasi perkembangan FS/OSS di Indonesia lagi

IMW

Mico Siahaan

unread,
Nov 20, 2006, 10:41:14 AM11/20/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/20/06, Hansen <hansen....@gmail.com> wrote:
>
> On 19/11/06, Made Wiryana <mwir...@gmail.com> wrote:
> > On 11/18/06, Mico Siahaan <mico.s...@gmail.com> wrote:
> > > Saya pikir adanya Open Source adalah memberikan pilihan dalam penggunaan
> > maupun pengembangan software. Jadi kalau memang Micro$oft komitmen untuk
> > memberikan support kepada putra-putri Indonesia, misalnya berupa pelatihan,
> > dana maka saya pikir SIKAT saja boss! Yang penting puta-putri Indonesia
> > kerja keras untuk menguasai teknologi itu dengan demikian dapat membuat
> > aplikasi-aplikasi sendiri untuk pasar lokal.

> Never ever trust the bussiness entity when they come a long to give
> something and say this is free for you! Karena kalau begitu mereka
> mengingkari prinsip bisnis itu sendiri ;-) Mereka akan anggap itu
> sebagai investasi dan karena investasi maka harus menghasilkan
> keuntungan sebesar-besarnya. Memang kadang2 ada juga investasi yang
> gagal, tetapi jangan berharap pemberian dari suatu entitas bisnis itu
> adalah ikhlas ;-)

Tentu saya juga tidak naif dan anggap bahwa kita harus bergantung ama
Microsoft atau semua kapitalis software. Inti pesan saya adalah: yang
menjadi faktor mandeknya kemajuan teknologi informasi IMHO adalah etos
kerja dan tabiat bangsa kita sendiri yang minder dan ingin instan.
Kalau kita perhatikan India, kok mereka bisa mengembangkan industri
software mereka? Memangnya mereka sama sekali tidak menggunakan
software berbayar?

Bagi seorang pebisnis, tentu saja setiap keping duit yang dikeluarkan
harus mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya. Namun bisnis yang satu
dapat membukakan bisnis baru yang lain.

> > Dapatnya sekian M keluarnya sekian M ? Lha 100 komputer di 1 badan
> > pemerintah saja sudah keluar 1 M.
> >
> > Tentu saja bagi yang kebagian sikatannya ndak perlu mikir bahwa sudah keluar
> > sekian M dari APBN

> Sedihnya melihat birokrat negri ini :'-(

Yup. Saya sih sudah tidak bisa sedih lagi melihat birokrat
Indonesia... sudah kehabisan kata-kata. Andaikata diijinkan
menggunakan kata-kata kasar di milis, saya sudah habis memaki-maki
para birokrat... :)

> Semoga pak Rus bisa mendesakkan agenda free software walau hanya
> sedikit nantinya yang diadopsi, selamat berjuang...!
>
> Kalau pak Koes saya agak ragu ;-) Memang saya mendengar banyak hal
> baik tentang beliau, tetapi kadang2 jabatan bisa mengubah pendirian
> seseorang. Moga-moga keraguan saya tidak benar ;-D
>
> --
> hansen
> http://hansen.alfansa.org
> http://teknologipraktis.org
> ====

--

Made Wiryana

unread,
Nov 20, 2006, 1:55:38 PM11/20/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/20/06, Mico Siahaan <mico.s...@gmail.com> wrote:

Tentu saya juga tidak naif dan anggap bahwa kita harus bergantung ama
Microsoft atau semua kapitalis software. Inti pesan saya adalah: yang
menjadi faktor mandeknya kemajuan teknologi informasi IMHO adalah etos
kerja dan tabiat bangsa kita sendiri yang minder dan ingin instan.
Kalau kita perhatikan India, kok mereka bisa mengembangkan industri
software mereka? Memangnya mereka sama sekali tidak menggunakan
software berbayar?

India dari kecil dibesarkan dengan semangat  "Swadesi", ada cerita ketika salah stau kampus dapat sumbangan mini komputer (belum jamannya boom TI), mereka bukan mencari "bajakan" OS dan aplikasinya, tetapi mereka menulis dan membuat OS dan aplikasinya.

Jadi penggunaan Open Source atau komersial menurut saya bukan sekedar "solusi" tapi dorongan mana yang diberikan terutama di dalam membentuk mental developer.

Bukti nyata, sejak "berjamurnya" FS/OSS berapa banyak orang makin kenal dengan jeroan sistem. Pada tahun 95 kalau saya mengajar Sistem Operasi, istilah kernel itu hanya dihafalkan.
 
Bagi seorang pebisnis, tentu saja setiap keping duit yang dikeluarkan
harus mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya. Namun bisnis yang satu
dapat membukakan bisnis baru yang lain.

Paling enak bisnis yang ndak repot :-) ndak capek-capek dapat untung. Dan itu bernama komisi dari jualan lisensi
 
> > Tentu saja bagi yang kebagian sikatannya ndak perlu mikir bahwa sudah keluar
> > sekian M dari APBN
> Sedihnya melihat birokrat negri ini :'-(

Yup. Saya sih sudah tidak bisa sedih lagi melihat birokrat
Indonesia... sudah kehabisan kata-kata. Andaikata diijinkan
menggunakan kata-kata kasar di milis, saya sudah habis memaki-maki
para birokrat...  :)

Saya jadi ingat si Frans Thamura yang kebetulan ikut dan mengetahui cerita MoU ini jadi "lepas kontrol" dan maki-maki di milis TELEMATIKA.  Bukan karena dia ngawur, tetapi karena dia sumpeg tahu ceritanya dan ndak tahu lagi mau gimana.


IMW
 

Rusmanto

unread,
Nov 20, 2006, 10:16:31 PM11/20/06
to Bla...@googlegroups.com
fade2blac wrote:

> Lebih baik Pak Rus mundur saja :-) Nanti kalau Dewan TIK dijadikan
> legitimasi gimana? Karena ada wakil dari Linux/FS/OSS, ya tentu dianggap
> sudah mewakili. Di level politik, saya pesimis bahwa idealisme atau akal sehat
> bisa mempengaruhi policy. Faktanya adalah uang yang mempengaruhi policy, dan
> fakta lain lagi bahwa komunitas Linux/FS/OSS tidak punya uang untuk itu.

Hingga saat ini, saya belum mendapat SK atau apa namanya
yang menyatakan saya duduk di dewan TIK.
Yang ada hanya undangan untuk menghadiri sosialisasi
pembentukan Dewan TIK di Jakarta (sebelum tanggal 13) dan
menghadiri pencanangannya di Istana Bogor (13/11).
Itu pun atas nama KPLI, bukan atas nama pribadi.

Saya tidak hadir karena saya tidak merasa jadi wakil KPLI nasional,
di sisi lain saya juga khawatir komunitas Linux dijadikan legitimasi,
seperti kekhawatiran fade2blac.

Dan saya dengar, perjanjian itu sudah ditandatangani pemerintah.
Mestinya *tidak bisa mengatasnakaman dewan TIK* karena setahu saya
dewan ini belum berkerja (belum ada pertemuan setelah tanggal 13).

>
> Lebih pas, IMHO, beraktivitas di grass root, lebih berdampak hasil.

Saya setuju, ini yang lebih tepat saat ini.
Namun saya juga berharap suara grass root ini
didengar pemerintah. Untuk itu secara informal saya kontak
pak Kemal Stamboel dan teman-teman di depkominfo untuk
membicarakan Linux dan FOSS.

Jadi, saya belum bisa memberi tanggapan soal mundur karena
belum jelas bagi saya posisi komunitas Linux di dewan itu.

Rus

Mohammad DAMT

unread,
Nov 21, 2006, 3:23:51 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
Pada hari Selasa, tanggal 21/11/2006 pukul 10:16 +0700, Rusmanto
menulis:

> Saya setuju, ini yang lebih tepat saat ini.
> Namun saya juga berharap suara grass root ini
> didengar pemerintah. Untuk itu secara informal saya kontak
> pak Kemal Stamboel dan teman-teman di depkominfo untuk
> membicarakan Linux dan FOSS.

Tapi kata pak Stamboel kan kalau pakai OSS itu nggak pintar *-P
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/20/time/185344/idnews/710507/idkanal/399


Hansen

unread,
Nov 21, 2006, 3:40:14 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com

Itulah susahnya bicara dengan pejabat, mereka sering dapat info yang
tidak akurat ;-) Tidak tau dia kalau IBM juga menginvestasikan
milyaran dollar untuk pengembangan FOSS, belum lagi RedHat, Novell
dll. Saya jadi gak tau apa yang dia maksud pintar itu. Pintar itu
kalau bisa memanfaatkan hasil orang lain yang bikin kita tergantung
terus, atau disebut pintar kalau kita bisa terlepas dari
ketergantungan dengan pihak lain? Mungkin pintar itu kalau dapat
menghasilkan duit untuk kantong sendiri yang berasal dari amanat
rakyat :-D

Erwien Samantha Y

unread,
Nov 21, 2006, 3:42:07 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com

Karena yang berlaku di Indonesia itu TOP->Down , kalau ketua Hariannya
sudah antipati terhadap OSS dan terlebih mengesampingkan IGOS yang
notabene garapan dalam negeri yah apa yang bisa di harapkan dari TIK.

Lebih enak memakai memakai barang yang risetnya "mengeluarkan"
milyaran dollar , sayang katanya kalau nggak di "manfaatkan".

Erwien

Rusmanto

unread,
Nov 21, 2006, 3:58:21 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
Mohammad DAMT wrote:

> Tapi kata pak Stamboel kan kalau pakai OSS itu nggak pintar *-P

Saya baru ngobrol sedikit kemarin sore via telepon,
dugaan saya sesudah wawancara dengan detik itu.
Kelihatannya beliau masih perlu banyak diskusi
dengan para aktivis Linux dan FOSS :-)
Agar tidak salah paham tentang pengembangan FOSS
di Indonesia dan di dunia. Atau agar lebih PD,
sehingga bisa berargumentasi lebih kuat dengan
yang di atas (para menteri dan penasihat presiden).

Salah satu yang dikhawatirkan para pejabat yg pernah saya dengar,
belum banyak perusahaan di Indonesia yang support Linux/FOSS.
Menurut saya, ini mirip ayam dan telor.
Kalau pemerintah memilih Linux, akan banyak yang buka supportnya.
Kalau pemerintah mau danai, bisa dapatkan Linux/FOSS yg sesuai
kebutuhan Indonesia.

Itu beberapa hal yg ingin saya sampaikan. Bisa menambahkan/koreksi?

Rus

Rusmanto

unread,
Nov 21, 2006, 4:10:21 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
Hansen wrote:

> Itulah susahnya bicara dengan pejabat, mereka sering dapat info yang
> tidak akurat ;-) Tidak tau dia kalau IBM juga menginvestasikan
> milyaran dollar untuk pengembangan FOSS, belum lagi RedHat, Novell
> dll. Saya jadi gak tau apa yang dia maksud pintar itu.

Ya, data lama ini penting sebagai bahan saya
ngobrol lebih jauh dengannya.

Saya terus tunggu masukan teman-teman,
karena sewaktu-waktu saya harus siap berdiskusi.

Rus

Mico Siahaan

unread,
Nov 21, 2006, 4:35:51 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com

IMHO, yang terutama dan pertama dilakukan adalah pemberantasan
penggunaan aplikasi bajakan baik di level pemerintahan maupun
korporat. Saya pikir ini hambatan terbesar perkembangan TIK di
Indonesia. Jika ini masih gagal dilakukukan pemerintah, maka kemajuan
TIK Indonesia akan mandeg. Nggak maju-maju.

Kedua, pemerintah seharusnya juga punya harga diri, dan jangan
ngemis-ngemis minta 'pemutihan'. Jika ingin menggunakan software
proprietary yang legal, ya harus bayar. Kalau tidak kuat bayar, ya
gunakan Free Software. Di sini Free Software masuk sebagai alternatif
bagi software proprietary.

Ketiga, pembetukan pusat-pusat penelitian/pelatihan tenaga TIK
sekaligus standardisasi pengetahuan dan ketrampilan tenaga TIK.
Minimal agar dapat diserap pasar lokal dulu.

Mohammad DAMT

unread,
Nov 21, 2006, 4:40:00 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
Pada hari Selasa, tanggal 21/11/2006 pukul 16:35 +0700, Mico Siahaan
menulis:

> IMHO, yang terutama dan pertama dilakukan adalah pemberantasan

> Kedua, pemerintah seharusnya juga punya harga diri, dan jangan

> Ketiga, pembetukan pusat-pusat penelitian/pelatihan tenaga TIK


Keempat, sediakan duit buat mbangun OSS. Alihkan dana yang sedianya buat
beli lisensi jadi duit buat bayar para pengembang. Tapi duitnya jangan
dipakai buat jalan-jalan naik pesawat terbang kelas bisnis (lirik IMW).


Hansen

unread,
Nov 21, 2006, 4:55:54 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
IBM indonesia kalau tidak salah punya support center-nya. Ada juga
beberapa perusahaan lokal yang support juga. Dalam beberapa presentasi
marketing dari Oracle yang saya datangi, mereka lebih mem-push Oracle
platform yang jalan di GNU/Linux. SUN indonesia idem juga kayaknya,
malah dengar2 terlibat dengan IGOS. HP Indonesia kagak tau, kalau yang
diluar sih support juga. Kalau MS emang gak bakalan support ;-) Lagi2
kurang informasi tuh.. :-D

Untuk nge-list entitas bisnis yang sudah banyak investasi di FOSS
mungkin akan saya posting di thread lain aja pak...

Adjie

unread,
Nov 21, 2006, 6:00:57 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com


Keempat, sediakan duit buat mbangun OSS. Alihkan dana yang sedianya buat
beli lisensi jadi duit buat bayar para pengembang. Tapi duitnya jangan
dipakai buat jalan-jalan naik pesawat terbang kelas bisnis (lirik IMW).

Ah MDAMT kayak ngga tahu aja penjabat Indonesia kan kalau ngga naik Bisnis Class kurang pede. Jadi apapun pesawatnya asal bisnis class.

Pedekatan TOP DOWN, emang suseh, kalau penjabat nya masih tidak mementingkan kepentingan bangsa ke depan dengan menggunakan OSS, yang penting proyek dapat komisi urusan negaraa dan masa depan bangsa, emang dia pikirin. Namanya juga Penjabat, bedanya setipis kertas HVS dengan Penjahat.

yang membuat heran, perusahaan besar di europa aja sekarang sudah banyak porting  OS nya ke Linux dari SUN dan menggunakan program opensource such Java, C++, Erlang etc (ngelirik MDAMT yang di Nokia) .
 eh koq kita  malah memilih M$ wah hebat deh  penjabat Indonesia memang pintar memenuhi pundi2 menjadi makelar M$

Tabik

Adjie


Hansen

unread,
Nov 21, 2006, 6:02:05 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
On 21/11/06, Mohammad DAMT <md...@gnome.org> wrote:
>
Bagus sekali kalau pemerintah dapat menysihkan dana yang signifikan
untuk pengembangan FOSS lokal.

Menurut saya ada agenda penting lain yang harus diambil pemerintah,
yaitu implementasi standar-standar yang ada di IT. Misalkan untuk
pertukaran dokumen dengan pemerintah atau antar instasi menggunakan
ODF atau PDF. Protokol yang dipakai untuk komunikasi dengan pemerintah
juga harus stardar atau minimal terbuka, kalau bikin situs harus bisa
diakses dengan menggunakan semua browser. Sekarang ini kalau mau
online dengan pemerintah yang bisa kayaknya cuma kompi yang pakai
windows aja. Dapat software dari instasi cuma for windows, bisa akses
via internet situsnya cuma fungsional kalau pake IE ;-(

Mohammad DAMT

unread,
Nov 21, 2006, 6:15:24 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
Pada hari Selasa, tanggal 21/11/2006 pukul 18:02 +0700, Hansen menulis:
> Menurut saya ada agenda penting lain yang harus diambil pemerintah,
> yaitu implementasi standar-standar yang ada di IT. Misalkan untuk
> pertukaran dokumen dengan pemerintah atau antar instasi menggunakan
> ODF atau PDF. Protokol yang dipakai untuk komunikasi dengan pemerintah
> juga harus stardar atau minimal terbuka, kalau bikin situs harus bisa
> diakses dengan menggunakan semua browser. Sekarang ini kalau mau
> online dengan pemerintah yang bisa kayaknya cuma kompi yang pakai
> windows aja. Dapat software dari instasi cuma for windows, bisa akses
> via internet situsnya cuma fungsional kalau pake IE ;-(

Bahan masukan:
http://aksi.mdamt.net/log/ar/2005-06-27-126/
Pemerintah Norwegia tidak menerima berkas dalam format proprietari.


Made Wiryana

unread,
Nov 21, 2006, 7:24:53 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/21/06, Hansen <hansen....@gmail.com> wrote:
>
Bagus sekali kalau pemerintah dapat menysihkan dana yang signifikan
untuk pengembangan FOSS lokal.

Kalau tidak ada bohong namanya, dana buat bayar lisensi ada (sisihkan 10% saja sudah lebih dari cukup)

IMW


Made Wiryana

unread,
Nov 21, 2006, 7:25:41 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com

Yang pintar itu, duduk duduk, program jalan dapat komisi :-) ngapain capek-capek nge-coding

IMW

Made Wiryana

unread,
Nov 21, 2006, 7:28:13 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/21/06, Mico Siahaan <mico.s...@gmail.com> wrote:


Kedua, pemerintah seharusnya juga punya harga diri, dan jangan
ngemis-ngemis minta 'pemutihan'. Jika ingin menggunakan software
proprietary yang legal, ya harus bayar. Kalau tidak kuat bayar, ya
gunakan Free Software. Di sini Free Software masuk sebagai alternatif
bagi software proprietary.

Menurut saya kalau dihitung, saat ini tidak ada badan pemerintah yg mampu membayar lisensi (atau kalaupun mampu harganya akan besar sekali)

Hitung saja, Sistem operasi, Office (oke dapat discoutn dari MS), Corel, Photoshop, Anti virus, firewall, backup solution, dsb dsb..dsb

Mampu membayar lisensi itu karena yang lainnya masih abu-abu

IMW

Mohammad DAMT

unread,
Nov 21, 2006, 8:52:05 AM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
Pada hari Selasa, tanggal 21/11/2006 pukul 16:10 +0700, Rusmanto
menulis:

> Saya terus tunggu masukan teman-teman,
> karena sewaktu-waktu saya harus siap berdiskusi.

Ini mungkin bisa jadi masukan, kisah ttg proyek OSS yang gagal:
http://www.zdnet.com.au/news/software/soa/Criticism_mounts_over_Birmingham_s_Linux_project/0,130061733,339272293,00.htm

> Rus


Firdaus Tjahyadi

unread,
Nov 21, 2006, 8:35:30 PM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/21/06, Mohammad DAMT <md...@gnome.org> wrote:

tapi aneh
kok bisa2 ya bangun 1 Linux PC Desktop biaya = 2500 Poundsterling
1 Pound = Rp. 17.000
2500 Pound = Rp. 42.500.000
Apa memang untuk Upgrade PC, Migrasi Aplikasi. Training etc di inggris semahal itu
menurut saya sih mengada-ngada
Apa memang pejabat birmingham sama mentalnya sama pejabat negeri bbm/mimpi. tanya kenapa ?

salam

fade2blac

unread,
Nov 21, 2006, 8:45:43 PM11/21/06
to Bla...@googlegroups.com
On Wed, Nov 22, 2006 at 08:35:30AM +0700, Firdaus Tjahyadi wrote:
>
> tapi aneh
> kok bisa2 ya bangun 1 Linux PC Desktop biaya = 2500 Poundsterling
> 1 Pound = Rp. 17.000
> 2500 Pound = Rp. 42.500.000
> Apa memang untuk Upgrade PC, Migrasi Aplikasi. Training etc di inggris
> semahal itu
> menurut saya sih mengada-ngada
> Apa memang pejabat birmingham sama mentalnya sama pejabat negeri bbm/mimpi.
> tanya kenapa ?
>

Hehe tidak perlu menghakimi :-) apalagi menghakimi mental :-)
Mungkin bisa ditanyakan ke Harry Sufehmi (mi...@sufehmi.com). Beliau ada
lebih dari 3 tahun kalau nggak salah, kerja di Pemda Birmingham.

--
fade2blac

Mohammad DAMT

unread,
Nov 22, 2006, 5:39:14 AM11/22/06
to Bla...@googlegroups.com
Pada hari Selasa, tanggal 21/11/2006 pukul 16:10 +0700, Rusmanto
menulis:
> Saya terus tunggu masukan teman-teman,
> karena sewaktu-waktu saya harus siap berdiskusi.

Ada lagi dari Kabar Kabari:
http://www.vnunet.com/vnunet/news/2168971/open-source-databases-slice

> Rus


Made Wiryana

unread,
Nov 22, 2006, 8:30:09 AM11/22/06
to Bla...@googlegroups.com

Semua kabar itu kalah seru dengan berita MoU MS-Kominfo.  Sayang ndak bisa diceritain he he he takut dibilang menyebar kabar burung

IMW


Mohammad DAMT

unread,
Nov 22, 2006, 8:46:10 AM11/22/06
to Bla...@googlegroups.com
Pada hari Rabu, tanggal 22/11/2006 pukul 14:30 +0100, Made Wiryana
menulis:

> Semua kabar itu kalah seru dengan berita MoU MS-Kominfo. Sayang ndak
> bisa diceritain he he he takut dibilang menyebar kabar burung
>
Ya ngga papa nyebar kabar burung. Asal jangan diracun kayak Munir aja.

> IMW

>

Mohammad DAMT

unread,
Nov 22, 2006, 10:22:04 AM11/22/06
to Bla...@googlegroups.com
Pada hari Rabu, tanggal 22/11/2006 pukul 08:45 +0700, fade2blac menulis:
> Hehe tidak perlu menghakimi :-) apalagi menghakimi mental :-)
> Mungkin bisa ditanyakan ke Harry Sufehmi (mi...@sufehmi.com). Beliau ada
> lebih dari 3 tahun kalau nggak salah, kerja di Pemda Birmingham.
>


http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=117250

Ada ngga ya studi banding DPR/Pemda ttg OSS ke luar negeri?

Adjie

unread,
Nov 22, 2006, 2:18:01 PM11/22/06
to Bla...@googlegroups.com


http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=117250

Ada ngga ya studi banding DPR/Pemda ttg OSS ke luar negeri?

Kyknya  belum ada, biasanya nich kalau DPR studi banding ada yang menghandle atau "supporting"  lah,  mana bisa vendor OSS  support anggota dewan yang keramat ini. Susah om, ah ente kayak ngga tahu aja lah.

adjie


Rusmanto

unread,
Nov 22, 2006, 9:12:35 PM11/22/06
to Bla...@googlegroups.com
Adjie wrote:
>
>
>
> http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=117250

Pengalaman saya ini kelihatannya nyambung.
Ketika saya bersama pak Ase memenuhi undangan Pansus RUU ITE
Komisi I DPR, untuk memberi tanggapan thd RUU itu.
Setelah saya dan pak ase cerita banyak tentang Linux
dan FOSS, ada dua komentar para anggota DPR yg mengagetkan saya:
1. Mereka baru tahu bahwa ada lisensi yg harus bayar dan
ada lisensi free/open source.
2. Mereka minta kami mengusulkan negara mana yang bisa mereka kunjungi
untuk studi banding pemanfaatan open source di pemerintah?
Saya sarankan ke Peru atau Brasil. Mereka protes, kok Peru?
Apa tidak bisa Amerika Serikat atau negara-negara Eropa?

No. 1 saya paham bahwa banyak anggota DPR tak paham lisensi.
No. 2 saya tidak paham sepenuhnya, saat itu hanya paham bahwa
mereka ingin negara yang menyenangkan untuk dikunjungi. Sekarang
saya paham soal lainnya, setelah membaca posting ajie di atas :-)

Rus

Resza Ciptadi

unread,
Nov 22, 2006, 10:28:02 PM11/22/06
to Bla...@googlegroups.com

Hee...he, makannya cape deh ngomongin pemerintah, apalgi DPR. Energi
kita abis mendingan maen grass rootan ajah(udah bete banget neh baca
yang begini).

> >
>


--
Resza

KPLI - Jakarta

Mohammad DAMT

unread,
Nov 23, 2006, 3:05:44 AM11/23/06
to Bla...@googlegroups.com
Pada hari Kamis, tanggal 23/11/2006 pukul 09:12 +0700, Rusmanto menulis:
> Saya sarankan ke Peru atau Brasil. Mereka protes, kok Peru?
> Apa tidak bisa Amerika Serikat atau negara-negara Eropa?

Hahahaha,
<OOT>
Baru kemarin sore saya terima surat undangan dari KBRI untuk bertemu
delegasi DPR. Saya sih ngga mau datang tapi rencananya kalau berhasil
dapat jadwal mereka, saya mau buntutin dan foto2 belanja apa mereka di
sini *-P
</OOT>


Firdaus Tjahyadi

unread,
Nov 23, 2006, 3:14:47 AM11/23/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/23/06, Rusmanto <r...@infolinux.co.id> wrote:

Adjie wrote:
>
>
>
>     http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=117250
>     < http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=117250>
>
>     Ada ngga ya studi banding DPR/Pemda ttg OSS ke luar negeri?
>
>
> Kyknya  belum ada, biasanya nich kalau DPR studi banding ada yang
> menghandle atau "supporting"  lah,  mana bisa vendor OSS  support
> anggota dewan yang keramat ini. Susah om, ah ente kayak ngga tahu aja lah.

Pengalaman saya ini kelihatannya nyambung.
Ketika saya bersama pak Ase memenuhi undangan Pansus RUU ITE
Komisi I DPR, untuk memberi tanggapan thd RUU itu.
Setelah saya dan pak ase cerita banyak tentang Linux
dan FOSS, ada dua komentar para anggota DPR yg mengagetkan saya:
1. Mereka baru tahu bahwa ada lisensi yg harus bayar dan
    ada lisensi free/open source.
2. Mereka minta kami mengusulkan negara mana yang bisa mereka kunjungi
    untuk studi banding pemanfaatan open source di pemerintah?
    Saya sarankan ke Peru atau Brasil. Mereka protes, kok Peru?
    Apa tidak bisa Amerika Serikat atau negara-negara Eropa?

pak kan ada extremadura debian case

http://aksi.mdamt.net/log/ar/2005-07-09-133/

disuruh maen2 kesitu aja pak
biar sekalian aja ikut festival banteng berlari kalo mereka belanja2 dengan uang rakyat biar ditanduk ama banteng :p

salam

 

Made Wiryana

unread,
Nov 23, 2006, 3:19:12 AM11/23/06
to Bla...@googlegroups.com
On 11/23/06, Rusmanto <r...@infolinux.co.id> wrote:

2. Mereka minta kami mengusulkan negara mana yang bisa mereka kunjungi
    untuk studi banding pemanfaatan open source di pemerintah?
    Saya sarankan ke Peru atau Brasil. Mereka protes, kok Peru?
    Apa tidak bisa Amerika Serikat atau negara-negara Eropa?

Jerman khan banyak contoh mas Rus, di Muenchen, NRW, dsb.  Muenchen itu dekat tempat belanjaan discount :-)

IMW

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages