Sanak Kasadonyo nan Ambo Hormati
Merasa nyesak dan gregetan karena untuk kesekian kalinya ayat-ayat Al-Quran digunakan secara murahan, yakni Al-Maidah : 51, dalam perpolitikan guna monohok Ahok pada putaran 2 Pilkada DKI bulan depan, yang tampaknya cukup mangkus juga, saya bertanya pada sahabat saya Ustad Chodjim melalui milis WM, bagaimanakah cara membumikan yang paling tepat ayat tersebut dalam urusan bernegara dan berbangsa.
Alumnus IPB yang pernah bekerja di sebuah perusahaan Jepang yang kemudian pensiun dini guna mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk berdakwah; penulis beberapa buku, antara lain Sunan Kalijaga dan Tafsir Al-Fatihah yang laris manis itu, menjawab seperti yang saya kopaskan di bawah ini.
Bagi saya pribadi selain menjawab yang berkaitan dengan isu-isu politik kotemporer, juga sekali gus menjawab kepenasaran saya, apakah “pemimpin” merupakan satu-satunya arti ‘awliyaa' pada Al Maidah 51. Karena jika demikian halnya, banyak sekali diskrepansi antara ayat Al-Quran tersebut dengan fakta historis. Al-Quran pasti tidak mungkin salah karena bersumber dari Yang Maha Benar, lalu yang salah apanya?
Saya juga pernah membaca di internet, tanpa penjelasan, bahwa Muslim Inggris Sir Marmaduke Pickthall juga tidak menerjemahkan ‘awliyaa' dengan ‘pemimpin. Mudah-mudahan Sanak Suryadi punya waktu untuk membantu melihat sendiri karya Pickthall: “The Meaning of the Glorious Koran” itu di perpustakaan di Leiden
Wallahualam bissawab
Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69), asal Padangpanjang, tinggal di Depok
=====
Thu Aug 2, 2012 4:19 pm (PDT)
Posted by: "chodjim"
Mohon maaf Uda Darwin, belum bisa menjawab karena kemarin masih "fully booked", tetapi hari ini baru akan mengisi bakda Jumatan.
Begini, saya sudah menjawab sms-sms yang sama dari teman-teman tentang hal ini. Intinya, ayat 5:51 itu adalah menyatakan bahwa "orang-orang beriman dilarang menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya' karena Yahudi dan Nasrani itu saling menjadi awliya'"
Kata awliyaa' (jamak dari walii) artinya teman dekat, dan bukan pemimpin. Ini kalau kita mau memperhatikan semua kata walii (awliyaa') dalam Alquran yang jumlahnya (44 + 43) 77 kata. Jadi, yang dilarang oleh Allah adalah menjadikan mereka sebagai teman kepercayaan dalam membangun komunitas orang-orang beriman --pada waktu itu. Ayat ini diturunkan di Madinah, dan waktu itu orang Yahudi dan Nasrani bersekongkol satu sama lain dalam menghadapi bangunan umat yang baru ditegakkan itu.
Kalau diartikan pemimpin, maka jelas sekali bahwa dalam sejarah Katholik maupun sekte Kristiani yang ada di Jazirah Arabia pada waktu itu --hingga sekarang-- tak pernah menjadikan orang Yahudi sebagai pemimpinnya.
Jadi, ayat 5:51 bukanlah ayat yang bisa digunakan untuk menjustifikasi pelarangan terhadap memilih Jokowi-Ahok. Jelas, kalau ayat itu digunakan untuk itu, artinya orang yang menggunakannya telah melakukan fitnah dan menzalimi makna ayat. Kalau ayat itu digunakan untuk mendiskreditkan Jokowi-Ahok (atau yang lainnya), maka orang yang mendiskreditkan itu sama persis dengan kalangan khawarij yang membunuh Ali dengan alasan Ali bin Abi Thalib telah kafir dan halal darahnya.
Pilkada adalah pemilihan pemimpin pemerintahan, dan bukan memilih teman dekat untuk mengatur komunitas. Yang terpilih adalah orang yang harus mengikuti UUD dan UU dan bukan mengikuti kitab agama yang dianutnya.
Maka, menggunakan ayat 5:51 untuk mendiskreditkan calon yang beragama selain Islam adalah perbuatan fitnah. Dan, fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan!
Wassalam,
chodjim
----- Original Message -----
From: Darwin Bahar
To: Milis Wanita-Muslimah
Sent: Thursday, August 02, 2012 7:36 AM
Jadi baa kesimpulannyo kok ayat tadi wak jadikan referensi Da Akmal?
Lai buliah wak jadikan non-Islam (noni) sebagai konco palangkin? Dalam kondisi harus dan bisa mamiliah apokah noni buliah dipiliah?
Salam hangat
Afda Rizki
*******
--
Ustad Ridha;
Kalau Ustad merasa tidak merasa melakukan ad hominem, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.
Hanya bagi diri saya sendiri, antara ‘doing good things’ dengan ‘doing things goods’, sesuatu hal tidak bisa dipisah-pisah. Islam itu kebajikan, mengaktualisasikan Islam harus dengan cara yang bajik. Islam tidak hanya tujuan, tetapi juga cara.
Bagi saya mengorek-ngorek kekeliruan orang lain yang pendapatnya tidak saya sukai, bukan kebajikan. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Kekurangan seseorang tidak menyebabkan apa yang disampaikannya lalu salah semua.
Jusfiq Hadjar, musuh orang Minang nomor satu, dan lawan saya bakaruak arang selama bertahun-tahun di Proletar dan Apakabar, pernah saya sampaikan kebaikannya di sini, seperti keberpihakannya secara konsisten terhadap orang-orang yang teraniaya, termasuk umat Islam dalam peristiwa Tanjung Priok, masyarakat Aceh sewaktu DOM diberlakukan, rakyat Irak dalam Perang Teluk dan yang dizalimi Israel
Dengan bersikap seperti itu, tentu saja saya telah merasa sempurna. Walaupun badan sudah bau tanah, saya merasa sangat-sangat jauh dari sempurna
Ya, apalah awak ini
Wassalam, HDB-SBK (L, 69)
====
Re: [R@ntau-Net] Ustad Chodjim mengenai Al
Maidah 51
Fri Aug 3, 2012 4:47 pm (PDT) . Posted by:
"Ahmad Ridha"