Mega kok dilawan! Benar, ngapain!
Mgkin saat ini, apalagi scr formal, mega sangat kuat. Barangkali sama spt harto menjelang njengkelit. Bahkan 3 blm sebelum itu, sbg bukti bhw ia kuat -- dicalonkan & terpilih lagi.
Dan semua org seakan rame2 bilang: hosana!
Sama spt saat ini. Susah berharap ada org yg brani nglawan mega. Apalagi dari kalangan internal pdip. Di sini, para bebatuan kini sedang sibuk mangap2 sampe megap2: hosana in exelcis deo!
Maka, mega omong apa saja -- bisa. Dan sah!
Jika kemarin2 msih sebatas bilang jkowi petugas partai -- oklah. Lha tp klo kini presiden -- presiden lho (!), dgn seperangkat we2nang yg diatur di aneka uu (bukan aturan partai!) -- dibilang petugas partai, ya kenthir
****
Tp segalanya berjalan cepat.
Dimulai ketika kurs rp jeblog. Dan itu menyeret aneka hal. Bahkan begundalnya harto (harmoko -- mgkin kini mirip2 hasto) brani nyathek ndorone yg 3 bln sebelumnya dipuja2.
Lalu, teman2 harmoko juga berlomba2 nyatek pula. Habibie nyathek. Ginandjar, akbar tanjung dan menteri2 harto mbaung & mundur. Dll, dll.
Mgkin ntar mega juga gitu. Dimulai pilkada (desember ini) -- yg jika "asal bukan pdip" jalan -- hasilnya jeblog. Bisajadi ini nyeret hal-hal lain -- setidaknya keberanian -- unk nggugat mega & begundal2nya.
Apalagi, klo "asal bukan pdip" di pilkada nanti adalah konsekuensi/buah atas perlakuan mega/pdip ke jkowi.
****
Tp mgkin tak hrs nunggu sampai desember. Sebab, kini pun mega/pdip senyatanya tengah menggali kuburnya. Mengapa?
Spt diketahui, dagangan mega/pdip selama ini hanyalah "rengekan". Dan berkat itu mega/pdip mendulang pundi. Rengekan itu adalah kisah pilu atas perlakuan harto yg mreka jual.
Dan publik jatuh hati. Dan, benar, selepas harto njengkelit, mega/pdip menang (meski mega tak jadi presiden).
Tp kisah sukses rengekan cuma sampai di situ.
Ketika sby muncul, mega/pdip juga merengek2 krn sby ingkar maju sendiri gak ngajak mega (persis spt kemarin rengekan prabowo). Tp yg pasti, jualan rengekan mega/pdip gak laku.
Pdip/mega kalah. Sby menang. Bahkan sampai 2x.
****
Nah, begitulah kisah rengekan pdip/mega. Itu khas dagangan mreka. Dan benar2 sukses selepas harto njengkelit. Tp tak manjur lagi saat menghadapi sby.
Mgkin krn tau kemanjurannya terbatas (hanya manjur selepas harto jatuh, tp mejen dijaman sby) -- maka kini mega/pdip mencoba dagangan baru. Bukan rengekan, tp "hardikan".
Celakanya, sepanjang sejarahnya (di bawah mega), pdip tak mempunyai pengalaman unk menghardik. Hanya rengekan andalannya. Itupun mejen di jaman sby.
Lbih celaka lagi, yg kini dihardik adalah jokowi. Jokowi yg menurut mega/pdip hrs gini/gitu, nurut partai & entah gombal2an apalagi.
Tambah lbih celaka lagi, jkowi terlanjur jadi presiden. Presiden yg tak hanya didukung oleh sekian perudangan & aturan ketatanegaraan -- tp juga presiden yg terlanjur terpilih dgn perolehan suara 50%sekian.
Angka itu jelas jauh lbih besar ketimbang perolehan suara si penghardik/pdip (18%sekian).
Tp mgkin begitulah kisah penghardik "rangilo" -- yg sedang nggali kuburnya sendiri.