You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to GELORA45_In
Gus Yahya dan "The Next
NU"
Oleh Edy M
YakubMinggu, 30 Januari 2022 08:21
WIB
Ilustrasi dua tokoh
nasional, Soekarno (nasionalis) dan KH Hasyim Asy'ari (religius).
ANTARA/www.nu.or.id
Denpasar (ANTARA)
-"Innalillahi wa
innailaihi rojiun,NU telah mendapat musibah yang besar,
karena yang menjadi Ketum PBNU saat ini adalah sosok yang sangat jauh dari
nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil Alamin, bahkan sangat berbahaya untuk
keutuhan umat Islam. Ibarat, dari Iran ke Israel".
Itulah
ungkapan yang langsung dilontarkan salah seorang tokoh Persaudaraan Alumni 212
(PA 212) sesaat setelah terpilihnya KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya
menjadi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 22-24 Desember
2021. Pernyataan menjelang Hari Lahir ke-96 NU pada 31 Januari 2022 itu agaknya
tidak perlu terlontar bila "memahami" sosok Gus Yahya melalui
bukuBiografi KH Yahya Cholil Staquf - Derap Langkah
dan Gagasan yang merupakan karya: Septa Dinata (LKIS, 2022).
Dalam buku
itu, khususnya halaman 79-83, Gus Yahya menunjukkan bagaimana ia tidak melihat
soal Israel dari dimensi politik, karena mantan Jubir Presiden Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) itu tahu bahwa hubungan diplomatik Indonesia-Israel itu tidak ada,
karena Indonesia mengakui kemerdekaan Palestina. Ia tahu itu.
Namun, ia
melihat soal Israel itu dari akar masalah terkait sentimen Israel-Palestina
yakni agama, lalu mengikhtiarkan solusi. Kedua agama itu saling mengutarakan
kebencian. Bahkan orang Indonesia yang mungkin tidak kenal seorang Yahudi pun
ikut-ikutan membenci Yahudi karena alasan agama. Kalau membenci Yahudi itu dapat
pahala, kalau enggak membenci Yahudi berarti kafir. Sebaliknya, kalangan Yahudi
merasa ras mereka yang paling (tinggi). Di situlah konteksnya.
Dalam buku itu
lebih jauh ditunjukkan bahwa sosok Gus Yahya tidak hanya berkunjung ke Israel,
tapi juga malang melintang di pentas dunia sejak bersama Gus Dur ke Amerika,
Eropa, dan Vatikan. Bahkan, Gus Yahya juga tegas mengkritik pendekatan Amerika
Serikat. Ia mengkritik Amerika yang dinilai terlalu bertumpu pada pendekatan
militer.
"Pendekatan ini (militer) tak akan banyak
berdampak, bahkan bisa membuat situasi semakin kompleks, karena pendekatan ini
mengabaikan aspek ideologis yang tak kalah penting," kata Gus Yahya yang
beberapa kali juga mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam forum-forum
penting di Eropa.
Pada 10 Juni 2018, Gus Yahya diundang American Jewish Committee
(AJC)atau Komite Yahudi Amerika. Keputusannya memenuhi
undangan tersebut mendapat reaksi dari berbagai kalangan komunitas Muslim di
Indonesia, termasuk ulama-ulama NU.
Sebenarnya, Gus Yahya bukanlah orang pertama,
karena Gus Dur juga pernah diundang memberikan pidato dalam forum tersebut pada
2002 di Washington DC. Bahkan, Gus Dur juga pernah diundang datang langsung ke
Israel oleh Yitzhak Rabin untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian damai
Israel-Yordania pada tahun 1994 (Barton, 2007).
Sepulang dari
Israel, Gus Yahya sowan ke sejumlah kiai. Setelah dijelaskan dengan baik,
sejumlah kiai dapat mengerti dengan agendanya di Israel. Bahkan, sejumlah kiai
malah berbalik mendukung kegiatan tersebut dan meminta Gus Yahya untuk
mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.
Dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh NU di
pesantren-pesantren terkemuka itu, Gus Yahya memberikan sejumlah penjelasan.
Forum AJC itu sangat strategis dan berdampak luas, khususnya dalam politik
Amerika Serikat dan kebijakan-kebijakan Barat di dunia Islam, khususnya di Timur
Tengah. Setiap calon presiden di Amerika Serikat biasanya berpidato dalam forum
tersebut karena besarnya pengaruh komunitas tersebut secara politik.
Secarade facto,buku itu
mengurai pengaruh besar Israel di Timur Tengah. Di Indonesia sendiri banyak yang
mengira bahwa negara-negara Arab bermusuhan dengan Israel, padahal kenyataannya
tidak. Bagi Gus Yahya, persoalan yang ada dan gagasan-gagasan untuk perdamaian
Timur Tengah tak mungkin bisa disampaikan jika Indonesia atau komunitas Muslim
di Indonesia tidak berhubungan baik dengan para pihak yang berkonflik, termasuk
Israel. Itulah konteksnya.
Kepada para kiai, Gus Yahya menceritakan bahwa
selama bertandang di Israel, dirinya tidak hanya menghadiri pertemuan AJC.
Mendengar kedatangan Gus Yahya ke Israel, ia pun mendapat kontak dari berbagai
kalangan. Dari sebelumnya rencana kunjungan ke Israel selama tiga hari menjadi
satu pekan. Tak hanya itu, Gus Yahya memperluas jaringannya dengan berbagai
kalangan sehingga waktu satu minggu tersebut diisi dengan berbagai pertemuan
yang hampir tanpa jeda. Bahkan ada yang menyelenggarakan konser untuk menyambut
kedatangan Gus Yahya di Israel.
Walhasil, kehadiran Gus Yahya pada kegiatan AJC
menuai sukses. Paginya, sesi dialog bersama Gus Yahya dalam acara tersebut pada
minggu malam diunggah di internet dan langsung viral di mana-mana. Gus Yahya pun
sontak dikenal banyak orang di Israel. Ketika jalan-jalan, banyak orang yang
meminta berfoto bersamanya. Di tengah sedang merokok di depan hotel bersama
koleganya yang diajak pada saat itu, Gus Nadhif (Ahmad Nadhif) dan Gus Aun
(Aunullah A'la Habib), tiba-tiba ada orang Indonesia yang membawa anak kecil
ingin berfoto bersamanya dengan menggunakan jaket Banser.
Luasnya
sambutan dan apresiasi masyarakat Israel terhadap Gus Yahya akhirnya sampai ke
telinga Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Pada hari itu juga, Senin
siang, Gus Yahya dikontak oleh Kantor Perdana Menteri Israel dan menyampaikan
Netanyahu ingin bertemu dengan dirinya. Gus Yahya kemudian menerima undangan
tersebut dan pertemuan pun diagendakan pada hari Kamis.
Pada hari
Selasa, Gus Yahya mendapat kontak pula dari Kantor Presiden Israel yang meminta
kesediaan dirinya untuk bertemu dengan Presiden Israel, Reuven "Ruvi" Rivlin dan
juga menyampaikan bahwa Rivlin tidak mau didahului Netanyahu. Maka, pertemuan
dengan Rivlin pun kemudian diagendakan pada Rabu.
"The Next
NU" Kepada para kiai, Gus Yahya
menyampaikan bahwa semua yang ia lakukan pada tataran internasional tersebut
adalah untuk mendapatkan berbagai macam akses ke lingkaran strategis
internasional. Ia memandang bahwa Indonesia selama ini belum mendapatkan
leverage apa pun di panggung internasional.
Lompatan
pemikiran yang dilakukan Gus Yahya agaknya membuktikan NU yang akan segera
memasuki usia Satu Abad (1926-2026) itu kini telah memiliki generasi-generasi
pelintas sejarah yang bisa disebut"The Next NU"seperti lain
KH Abdurrahman Kautsar, KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha'), Prof KH Nadirsyah
Hosen, Gus KH Ahmad Muwaffiq, Gus Ulil Abshar Abdallah, KH Abdul Salam Shohib,
KH Reza Zahid, KH A Fahrur Rozi Malang, dan puluhan nama lain yang bermunculan
di era disrupsi.
Generasi "The Next NU" yang kini dikomandani Gus
Yahya itu agaknya akan menjadi generasi pelanjut lompatan oleh Gus Dur dan KH
Hasyim Muzadi yang arahnya membawa nilai-nilai NU ke tingkat global, sehingga NU
sebagai kaum sarungan akan justru "menyarungi" dunia internasional dan dunia
maya dengan nilai-nilai Islam berbasis NU, yang bukan sok benar atau bukan sok
alim, tapi menawarkan Islam yang rahmah, ramah, berakhlak, dan berkarakter di
tengah kemajemukan alam/mahluk.
"Sebagai komunitas Muslim terbesar di Indonesia,
bahkan di dunia, NU harus memiliki akses yang luas untuk bisa berkiprah dan
berpengaruh secara internasional. Organisasi ini harus memberikan warna
tersendiri terhadap berbagai dinamika yang berlangsung secara global, khususnya
dalam isu-isu kekerasan dan perdamaian berbasis agama," kata sosok yang
ketokohannya di mata internasional di-leverage lewat forum AJC itu.
Menurut Gus
Yahya, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia,
selama ini tidak memiliki posisi tawar(bargaining position)di
dunia internasional, khususnya terkait dengan isu-isu keagamaan. Dalam banyak
kasus Indonesia hanya menjadi "Pak Turut" saja. NU harus mulai bergerak
mengubahnya dengan memperkuat pengaruhnya di dunia internasional.
International
reinforcementini diharapkan dapat memicu dilakukannya
perbaikan-perbaikan secara domestik untuk bisa lebih jauh melangkah di dunia
internasional. Muslim di Indonesia harus berani untuk membuat tawaran-tawaran
baru bagi berbagai permasalahan internasional. Indonesia tak perlu takut
berkompetisi dengan gerakan-gerakan transnasional yang berasal dari negara lain,
khususnya dari Timur Tengah.
Menapaktilasi Gus Dur, promosiIslam
Wasathiyahyang dilakukan Gus Yahya di tengah menguatnya
radikalisme dan ekstremisme di sejumlah negara Islam di Timur Tengah, akan
menghadapi kendala atau kecaman seperti dialami Gus Dur dari segelintir orang di
dalam negeri yang memuja formalisme. "Saya mengajak atau memperkuat gerakan
perdamaian di tingkat akar rumput di masyarakat menjadi konsensus sosial. Semua
orang mau perdamaian," kata Gus Yahya.
Saat jadi pembicara dalam forum AJC di Israel
itu, Gus Yahya bicara soal jalan "rahmah". Dia mengajak dunia memilih jalan itu.
"Kalau ini jadi konsensus sosial, aspirasi fundamental dari seluruh masyarakat,
maka kita harapkan ini akan jadi penentu dari perilaku pemerintah dalam
pergaulan internasional," tutur Gus Yahya yang mengaku kunjungannya ke Israel
itu intinya adalah mengajak orang mengubah pola pikir,
termasuk'mindset'Yahudi juga.
Ya, Gus Yahya
dan"The Next
NU"berikhtiar mengambil tugas "profetik" (penganjur
kebaikan), yang beralih secara damai dariAl Qodimis Sholeh ke Al Jadidil Ashlah. "NU
bukan firqoh, bukan kelompok yang harus tabrakan dengan kelompok lain, tapi NU
adalah perahu untuk semua, sehingga semua setuju untuk ikut NU," katanya dalam
buku berjudul 'Perjuangan Besar NU (PBNU)' yang merupakan karya Gus Yahya
sendiri.
Gus Yahya mengajak semuanya bicara kejujuran,
Islam dan Amerika harus sama-sama bicara jujur, apa masalahnya, sehingga ada
jalan keluar bersama-sama dan tanpa konflik yang meruntuhkan peradaban, seperti
India yang menyimpan dendam pada Islam, tentu perlu dibicarakan dalam peradaban
yang jujur, adil, berakhlak mulia, dan dengan kesetaraan hak, untuk bersama-sama
menemukan solusi.
Agaknya, pendekatan dakwah Islam di tingkat dunia
nyata dan maya yang dikomandani Gus Yahya itu tidak jauh dari apa yang selama
ini disebut Islam Nusantara. Islam Nusantara yang selama ini dituduh rasis itu
sesungguhnya bukan Islam baru, karena Rukun Islam dan Rukun Iman-nya sama, namun
lebih pada pola dakwah dengan pendekatan budaya (budaya Nusantara) yang dalam
Bahasa Alquran adalahIslam
Rahmatan lil Alaminatau dalam versi Gus Dur adalah Islam
Ramah/Rahmah, yang kini diperkenalkan dengan istilah"Islam Wasathiyah"atau
Islam Moderat.
Gus Dur sendiri pernah menegaskan bahwa hal yang
terpenting adalah Indonesia tidak boleh pecah dengan alasan apapun, termasuk
karena alasan agama. Untuk mencapai itu, maka perjuangan memberlakukan ajaran
Islam itu harus mengambil substansi, bukan teknisnya, agar tidak menjadi masalah
terus.
"Jangan formalisasi hukum Islam, karena
formalisasi Islam hanya untuk orang Islam, jangan formalisasi Islam menjadi
hukum nasional, karena formalisasi itu rentan (di tengah kemajemukan), tapi
bukan berarti kita membiarkan sekulerisasi, tapi Islam jangan membuat orang lain
merasa terancam, Islam yang bisa diterima kelompok lain tanpa takut," kata Gus
Dur dalam berbagai kesempatan.
Ya, di dalam negeri, para Wali Songo sudah cukup
berhasil dalam menerapkan Islam Rahmatan lil Alamin itu. Bagi Gus Yahya, NU
sekarang harus keluar dari konstruksi parpol yang bersifat pengerahan massa,
namun menjadi seperti konstruksi negara yang bersifat fungsional.
"Selain
pendekatan damai dalam dakwah di tingkat global, maka NU di tingkat lokal harus
berfungsi sebagai pelayan masyarakat dalam arti sesungguhnya, seperti membuat
regulasi untuk akses layanan pro-rakyat dan mendorong sumber daya yang
memberikan program-program untuk masyarakat, NU bukan sekadar simbol atau batu
loncatan, tapi benar-benar fungsional untuk bangsa dan negara," katanya.
Selamat Hari
Lahir ke-96 NU pada 31 Januari 2022. Selama memasuki "gerbang" Abad Kedua NU
pada 31 Januari 2026 untuk kebaikan jamaah di Indonesia, jamaah di dunia, dan
jamaah di dunia maya.