JAKARTA--Peneliti dan dosen Ilmu Politik
dan International Studies, Universitas Paramadina A Khoirul Umam menjelaskan
potensi Ganjar Pranowo dijagokan partai lain selain PDIP di Pemilihan Presiden
2024 juga sangat terbuka.
A Khoirul Umam yang juga Direktur
Eksekutif Romeo Strategic Research & Consulting (RSRC) di Jakarta, Senin,
mengatakan potensi tersebut karena unsur ketokohan lebih memberikan pengaruh di
ajang pilpres.
"Potensi Ganjar dijagokan partai lain
selain PDIP juga sangat terbuka. Karena basis elektabilitas kepemimpinan
nasional di Indonesia lebih dipengaruhi oleh faktor ketokohan, bukan basis mesin
kepartaian. Itulah yang membuat SBY menang di Pilpres 2004, dan Jokowi menang di
Pilpres 2014," katanya.
Artinya, lanjut dia seorang tokoh
berpotensi memenangi pilpres jika mampu membangun distingsi atau alasan pembeda
dirinya dibanding patron politik lain meskipun diusung oleh basis koalisi
minoritas atau partai politik non-mainstream.
"Membangun distingsi sehingga masyarakat
mudah mencerna pesan bahwa dirinya layak, pantas dan kredibel untuk diusung di
konstalasi politik nasional," kata Umam.
Namun, kata Umam dalam hal ini Ganjar
harus mampu menciptakan momentum politik, agar dirinya dianggap layak untuk
didukung oleh partai politik lain di luar PDIP.
Jangan sampai tingginya popularitas dan
elektabilitas Ganjar dibanding bakal capres lainnya, hanya semata-mata ditopang
oleh faktor biasnya dukungan publik yang menjadi basis pemilih loyal
PDIP.
Atau, lanjut dia hanya karena faktor
popularitas Ganjar sebagai gubernur di provinsi Jawa Tengah yang notabene
provinsi berpenduduk terbesar ketiga di Indonesia.
Umam juga menilai tidak diundangnya Ganjar
Pranowo dalam acara besar PDIP di Jawa Tengah, menegaskan adanya kompetisi dan
faksionalisme kuat di tubuh PDIP.
Elektabilitas tinggi Ganjar tidak menjamin
dirinya akan mendapatkan restu dari PDIP. Sikap politik Puan Maharani dan
Bambang Wuryanto mengindikasikan bahwa restu politik PDIP di 2024 tidak akan
diberikan kepada mereka yang berasal dari luar trah
Soekarno.
"Tentu sikap Puan tidak lepas dari hasil
perhitungan politik hasil pengamatan dan observasi panjang yang ia lakukan pada
pola kepemimpinan dan pendekatan politik Ganjar," katanya.
Umam mengatakan jika Ganjar masih ingin
tetap mendapatkan restu PDIP, maka ia harus melakukan tiga hal. Pertama, Ganjar
harus bisa membangun kepercayaan kepada para faksi-faksi elit PDIP. "Bahwa
dirinya akan tetap berada dalam kontrol politik elit PDIP, sebagai petugas
partai, bukan sekadar pemain solo yang berlabel PDIP," kata
dia.
Kedua, Ganjar harus benar-benar mampu
memastikan namanya bersih dari kasus lama yang sering dikaitkan dengan dirinya,
utamanya kasus korupsi e-KTP.
"Ketiga, ia harus mampu menciptakan
momentum politik, seperti yang dilakukan Jokowi pada awal 2013 lalu. Ganjar
harus mampu menjelaskan kepada masyarakat akar rumput di level nasional tentang
justifikasi mengapa dirinya layak, perlu dan relevan untuk dipilih menggantikan
Jokowi di 2024 mendatang," ujar Umam.