
Mengenai dokumen-dokumen terkait Tiongkok yang diumumkan dalam KTT NATO, dalam jumpa pers hari Kamis kemarin (30/6), juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menunjukkan, Tiongkok memperingatkan NATO bahwa menggembar-gemborkan apa yang disebut sebagai ‘ancaman Tiongkok’ tersebut pasti akan sia-sia belaka.
Dilaporkan, pada hari rabu lalu (29/6), KTT Madrid NATO mengeluarkan dokumen ‘konsep strategis’ baru, dokumen tersebut untuk pertama kalinya menyebutkan Tiongkok, menekankan bahwa Tiongkok telah mengakibatkan tantangan terhadap nilai, kepentingan dan keamanan NATO, serta mengecam Tiongkok di bidang pembangunan pertahanan, kebijakan ekonomi dan perkembangan teknologi.
Zhao Lijian menyatakan bahwa apa yang disebut sebagai dokumen ’konsep strategis’ baru NATO tersebut mengabaikan fakta, membalikkan kebenaran dan kesalahan, bersikeras berpegang pada posisi salah tantangan sistematik terhadap Tiongkok, memfitnah kebijakan diplomatik Tiongkok, membuat komentar yang tidak bertanggung jawab terhadap perkembangan militer dan kebijakan pertahanan normal Tiongkok, mendorong konfrontasi, serta penuh dengan mentalitas Perang Dingin dan bias ideologis. Tiongkok sangat memperhatikan hal ini dan dengan tegas menentangnya.
Zhao Lijian menyatakan, NATO mengumumkan dirinya sebagai organisasi pertahanan regional, namun sebenarnya NATO terus menerobos wilayah dan daerah, melancarkan aksi perang di mana-mana, dan membunuh warga sipil yang tidak bersalah. Tangan NATO berlumuran darah rakyat dunia. Sekarang NATO kembali memperluas tanduknya ke Asia-Pasifik, berupaya mengekspor mentalitas Perang Dingin dan nekat menimbulkan konfrontasi kelompok.
Zhao Lijian menekankan, tindakan apapun yang ingin merugikan perdamaian dan kestabilan regional serta merusak solidaritas dan kerja sama regional akan ditentang oleh rakyat Tiongkok dan rakyat negara-negara Asia-Pasifik, dan pasti akan gagal.


Dalam jumpa pers hari Kamis kemarin (30/6), jubir Kemenlu Tiongkok Zhao Lijian menunjukkan, AS adalah negara yang mengadakan aktivitas biomiliter terbanyak, juga merupakan satu-satunya negara yang menentang pembentukan mekanisme pemeriksaan Konvensi Pelarangan Senjata Biologi. Komunitas internasional sudah lama memperhatikan aktivitas biomiliter yang dilakukan oleh AS di berbagai penjuru dunia.
Dikabarkan, mantan perwira militer AS Scott Bennett menyatakan, berdasarkan fakta yang dikumpulkan oleh Rusia, PBB harus membuka pengadilan internasional terhadap peneliti yang mengoperasikan laboratorium dan memproduksi senjata biologi di Ukraina. Mengenai hal tersebut, Zhao Lijian menyatakan, kini semakin banyak orang termasuk tokoh-tokoh dari AS sendiri yang mulai meragukan aktivitas biomiliter AS di seluruh dunia.
“’Pemeriksaan untuk menjamin ketaatan terhadap perjanjian’ adalah kesepahaman yang dicapai oleh komunitas internasional, sektor keamanan biologi tidak seharusnya dikecualikan. Sebagai salah satu negara penandatangan Konvensi Pelarangan Senjata Biologi, AS seharusnya menjadi teladan yang baik.
Kami sekali lagi mendesak AS untuk bersikap bertanggung jawab dan segera memberikan penjelasan yang dapat meyakinkan publik terhadap aktivitas biomiliternya di berbagai penjuru dunia termasuk Ukraina, jangan menghindar atau menutupinya. Cara terbaik AS untuk membersihkan dirinya sendiri ialah membuka pintu dan menerima pemeriksaan dari komunitas internasional”, tutur Zhao Lijian.
Zhao Lijian menunjukkan, pada akhir tahun ini akan digelar Konferensi Peninjauan ke-9 ‘Konvensi Pelarangan Senjata Biologi’. AS harus memegang peluang ini untuk mengubah kebijakannya dan membatalkan sikapnya yang bersikeras menentang pembentukan mekanisme pemeriksaan, dengan sungguh-sungguh berkontribusi demi tata kelola global keamanan hayati.
