Mantan pejabat Prancis sebut ekspansi NATO jadi akar krisis Ukraina
1 view
Skip to first unread message
Chan CT
unread,
May 17, 2022, 8:52:21 PM5/17/22
Reply to author
Sign in to reply to author
Forward
Sign in to forward
Delete
You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to GELORA45_In
Mantan pejabat Prancis sebut
ekspansi NATO jadi akar krisis Ukraina
Rabu, 18 Mei 2022 06:33
WIB
Foto yang diabadikan pada 6
April 2022 ini menunjukkan sebuah patung dan sejumlah bendera di kantor pusat
NATO di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zheng Huansong)
Jenewa (ANTARA) - Upaya untuk
memperluas keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty
Organization/NATO) hingga mencakup Ukraina, yang dianggap sebagai ancaman
keamanan oleh Rusia, telah lama ditentang oleh Prancis dan Jerman.
Sementara itu,
Finlandia dan Swedia berencana bergabung dengan NATO.
Semua
perkembangan ini berkontribusi terhadap terlewatnya peluang untuk mengajukan
arsitektur keamanan Eropa yang inklusif kepada Rusia, dan menurut Pierre Conesa,
mantan pejabat senior Kementerian Pertahanan Prancis, itulah sumber dari "krisis
Ukraina" yang sedang terjadi.
Dalam wawancara dengan Xinhua baru-baru ini, dia
mengatakan konsekuensi dari semua ini dirasakan secara lebih kuat oleh Eropa
dibandingkan Amerika Serikat (AS). Para diplomat dan pengambil keputusan politik
juga harus memperhatikan kebutuhan untuk menjaga dialog dengan Rusia, yang masih
menjadi mitra penting, ujarnya.
Para
staf bekerja di kantor pusat NATO di Brussel, Belgia, pada 24 Maret 2022.
(Xinhua/Zheng Huansong)Sejumlah orang yang membawa foto kerabat mereka yang
berjuang dalam Perang Dunia II ambil bagian dalam pawai Resimen Abadi di Moskow,
Rusia, pada 9 Mei 2022. (Xinhua/Alexander Zemlianichenko
Jr)
Ekspansi
NATO
Jika Finlandia dan Swedia bergabung dengan
aliansi militer itu, yang disebut oleh kedua negara sebagai hal yang hendak
mereka lakukan, hal itu akan mengakhiri kebijakan militer tidak berpihak yang
sudah lama mereka terapkan.
Menurut Conesa, meski proses bergabungnya kedua
negara itu akan memakan waktu, Finlandia dan Swedia yang pada akhirnya akan
bergabung dengan NATO akan menimbulkan perubahan keseimbangan kekuatan yang
menguntungkan NATO.
Menurutnya, NATO akan memiliki kapasitas untuk
memindahkan senjata nuklir ke perbatasan Finlandia dengan Rusia sepanjang 1.300
kilometer, dan aliansi itu juga bisa saja memutuskan untuk mengerahkan kapal
selam ke rute maritim di dekat pelabuhan bebas es Murmansk di Rusia, semakin
membatasi akses negara itu ke pelabuhan laut air hangat yang sudah terbatas.
Lima putaran
ekspansi NATO sebelumnya telah menjadikan aliansi militer Barat itu lebih dari
1.000 km lebih dekat ke perbatasan Rusia dalam dua dekade lebih.
Menurut
Conesa, Moskow jelas menganggap ekspansi tersebut "ofensif," dan oleh karena itu
ketegangan yang ada saat ini bukanlah hal mengejutkan.
"Tentu saja,
salah satu prinsip utama NATO adalah memastikan keamanan nuklir para anggotanya,
yang berarti pihaknya dapat memasang rudal nuklir di sepanjang perbatasan Rusia,
yang sebelumnya tidak seperti itu," ujarnya. Sejumlah
orang yang membawa foto kerabat mereka yang berjuang dalam Perang Dunia II ambil
bagian dalam pawai Resimen Abadi di Moskow, Rusia, pada 9 Mei 2022.
(Xinhua/Alexander Zemlianichenko Jr)Para pemimpin menghadiri rapat Dewan Eropa
di Brussel, Belgia, pada 24 Maret 2022. (Xinhua/Uni
Eropa)
"Jadi, sensitivitas Rusia dirasakan secara jauh
lebih kuat oleh negara-negara Eropa dibandingkan Amerika, dan saat ini kita
melihat bahwa pemerintah AS menyukai perang," tutur Conesa.
AS "lebih
ofensif" dalam krisis Ukraina ketimbang negara-negara Eropa, sebutnya.
"Amerika ingin
kita segera mengintegrasikan Ukraina secara penuh ke dalam NATO, dan Prancis dan
Jerman menjadi pihak yang mencegah gagasan itu. Mereka mengatakan tidak,
waspadalah, itu sangat sensitif bagi Rusia, dan itu tidak boleh dilakukan dengan
begitu cepat. Kini faktanya kita menyaksikan bagaimana prediksi itu menjadi
kenyataan," papar Conesa.
Menurut Conesa, karena tidak adanya alternatif
untuk menerapkan prinsip keamanan yang tidak terpisahkan, ekspansi NATO "selalu
menjadi gangguan bagi Moskow." Para
pemimpin menghadiri rapat Dewan Eropa di Brussel, Belgia, pada 24 Maret 2022.
(Xinhua/Uni Eropa)Foto yang diabadikan pada 19 Februari 2020 ini menunjukkan
Pentagon yang terlihat dari sebuah pesawat yang terbang di atas Washington DC,
Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)
Keamanan kolektif
Conesa
meyakini bahwa konflik tersebut seharusnya dapat dihindari jika Rusia sukses
dilibatkan dalam sebuah sistem keamanan kolektif Eropa.
"Faktanya,
ekspansi NATO merupakan cara untuk memandang Eropa sebagai benua yang
keamanannya akan dijamin oleh aliansi militer itu. Namun demikian, kita tidak
mengajukan arsitektur keamanan Eropa yang memungkinkan Rusia memiliki tempat dan
berpendapat di dalamnya," katanya.
Conesa mengatakan modus vivendi diplomatik masih
dapat dicapai guna mewujudkan perdamaian di Ukraina. Namun, agar hal ini
terjadi, kekhawatiran keamanan Rusia harus dipertimbangkan.
"Kita perlu
bekerja sama dengan Rusia untuk merancang arsitektur keamanan umum, kita harus
terus berdiskusi dengan Rusia tentang semua proyek dan masalah ini. Kita harus
memberi tahu mereka bahwa Anda adalah mitra, kami memahami kekhawatiran keamanan
Anda." Foto
yang diabadikan pada 19 Februari 2020 ini menunjukkan Pentagon yang terlihat
dari sebuah pesawat yang terbang di atas Washington DC, Amerika Serikat.
(Xinhua/Liu Jie)Para pengunjuk rasa yang berpakaian seperti tahanan di Kamp
Tahanan Teluk Guantanamo melakukan aksi protes untuk menuntut penutupan Kamp
Tahanan Teluk Guantanamo di luar Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat,
pada 11 Januari 2018. (Xinhua/Yin Bogu)
Pengaruh beracun
Conesa
mengutuk pengaruh beracun dari apa yang disebutnya sebagai kompleks
militer-intelektual. Menurutnya, ini meliputi sejumlah besar tokoh publik yang
berupaya mempromosikan perang sebagai kebutuhan.
Dia menyebut
para penghasut perang ini sebagai sosok-sosok yang sangat jahat bagi diplomasi,
yang akan mengharuskan dialog dengan Rusia.
"Para diplomat
dan pengambil keputusan politik harus menangani masalah, mengklaim kembali
otoritas, dan berkomunikasi dengan Moskow, yang merupakan apa yang sedang
diupayakan Presiden (Prancis) (Emmanuel) Macron, guna menjaga hubungan dengan
Rusia agar ketika syarat-syarat negosiasi telah siap, kita bisa mengakhirinya
secara penuh," ujar Conesa.
Menurut Conesa, munculnya Russophobia atau
sentimen anti Rusia disebabkan oleh berbagai wacana yang "berbahaya" dan tidak
jujur ini. Baginya, laporan-laporan tentang krisis itu mengindikasikan bahwa
konflik tersebut "terbatas di lokasi-lokasi tertentu," tetapi skala konflik itu
kemungkinan dilebih-lebihkan. Para
pengunjuk rasa yang berpakaian seperti tahanan di Kamp Tahanan Teluk Guantanamo
melakukan aksi protes untuk menuntut penutupan Kamp Tahanan Teluk Guantanamo di
luar Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, pada 11 Januari 2018.
(Xinhua/Yin Bogu
Bagi Conesa, kompleks militer-intelektual
memiliki agenda, dan informasi semacam itu harus ditangani dengan hati-hati.
"Penjara
Guantamano AS masih menahan lebih dari 30 individu yang ditangkap selama invasi
Irak dan Afghanistan. Mereka ditahan tanpa menjalani persidangan. Apa Anda pikir
kita peduli pada mereka, apa Anda pikir kita akan bertanya apakah mereka
diperlakukan selayaknya manusia?" ungkapnya.