SINOVAC LEBIH BAIK ATAU BURUK DARI PFIZER -
BIONTECH?
Saya menulis tentang ini karena banyak ditanya oleh
teman-teman yang tinggal di Indonesia tentang Sinovac - vaksin Covid-19 buatan
China.
Banyak yang ragu, karena beredar kabar bahwa vaksin
buatan Pfizer - BioNTech yang dipergunakan di USA lebih baik.
Jujur saja, saya tak pernah mendalami Sinovac
secara pribadi. Yang saya dalami adalah vaksin buatan Pfizer - BioNTech
karena saya hidup dan bekerja sebagai tenaga kesehatan di USA. Tepatnya di
Proactive Community Testing (PCT - Covid-19), UHS - University of Texas at
Austin.
Saya sendiri sudah divaksin Covid-19, dua hari
sebelum saya menulis ini.
Tapi alhamduliLlah saya punya akses untuk bertanya
kepada orang-orang yang kompeten tentang berbagai macam vaksin.
Berikut pandangan mereka :
1. China adalah negara pertama yang mengenali
penyakit Covid-19. Dengan kepiawaian mereka, maka penyakit itu lenyap dari tanah
China dalam hitungan bulan. Ini menunjukan China serius untuk memberantas
Covid-19. Western countries malah masih kelabakan sampai
sekarang.
2. Sinovac adalah vaksin yang pertama di-developed
di dunia dibanding vaksin lain. Mereka sudah melalui 3 phase trials
sebagaimana memang sebuah vaksin / obat baru selayaknya diuji.
3. Dari 3 phase trials yang dilakukan oleh Sinovac
tak ada yang mendapat tantangan / challenge dari organisasi cendekia sedunia
yang berhubungan dengan vaksin baru. Biopharmaceutical adalah dunia yang
para ahlinya keras dan kaku. Kalau ada vaksin atau obat yang dianggap tak
layak beredar pasti mereka semua akan ribut.
4. Pada phase trials ke tiga di Brazil ada
volunteer yang meninggal. Walaupun akhirnya diketahui bahwa kematian
tersebut tak ada hubungannya dengan vaksin Sinovac, melainkan akibat kondisi
kesehatan pasien sendiri. Produsen Sinovac tidak gegabah dengan langsung
melempar ke pasaran, tapi malah makin berhati-hati men-develope vaksin
barunya. Makanya Sinovac sempat tertinggal walaupun mulanya adalah
produsen yang pertama. Menurut rekan-rekan saya hal ini seharusnya menjadi poin
positif bagi Sinovac.
5. Vaksin Sinovac merupakan inactivated vaccine
atau vaksin dengan kandungan virus yang telah dimatikan. Model inactivated
vaccine telah dikenal sejak berabad-abad lalu. Sementara vaksin buatan
Pfizer - BioNTech adalah mRNA vaccine. Sesuatu yang baru pertama kali
dipakai dalam pembuatan vaksin. Efektivitas mRNA vaccine masih harus
ditelaah lebih lanjut.
6. Karena memakai metoda inactivated vaccine yang
sudah dikenal maka biaya pembuatannya relatif rendah dan cocok dipergunakan
untuk negara-negara ketiga atau yang populasinya tinggi.
7. Penyimpanan inactivated vaccine cenderung lebih
mudah karena tak perlu kulkas khusus. Cukup masuk kulkas biasa dengan
temperatur 2 - 8 derajat Celsius. Sementara mRNA vaccine harus disimpan di
temperatur minus -20 sampai -70. Butuh kulkas khusus untuk itu. Ini
juga merendahkan biaya dan kesulitan penyimpanan di negara tropis.
8. Salah satu negara terkaya di dunia yang adalah
tetangga Indonesia, yaitu Singapura, justru bermain cantik dengan membeli dari 3
produsen yang berbeda yaitu Sinovac, Moderna dan Pfizer - BioNTech, agar
masyarakatnya punya pilihan.
The United Emirate Arab dan Bahrain membeli untuk
kepastian halal. Metoda inactivated vaccine sudah ada fatwanya. Mereka
agak ragu dengan mRNA vaccine yang masih baru. Masih harus ditelaah dari
sudut pandang agama mungkin.
8. Republik Rakyat China sangat yakin pada vaksin
buatan mereka sendiri dan sudah memakainya pada pasien lokal mereka sejak bulan
Juli 2020.
Saya sempat ngotot pada rekan-rekan dari penelitian
vaksin bahwa kabar yang beredar adalah RRC justru memakai Pfizer -
BioNTech. Jawaban mereka, saya mungkin confused bahwa yang dimaksud dengan
"China" pembeli Pfizer - BioNTech adalah Taiwan. Negara yang memang terus
menentang RRC dan menyatakan diri merekalah "China" yang
sesungguhnya.
KESIMPULANNYA:
Menurut rekan-rekan kerja saya yang dari bagian
peneliti vaksin tsb: Jangan takut dengan Sinovac ataupun Pfizer -
BioNTech.
Kedua-duanya adalah vaksin baru. Produsen dan
developer tidak akan gegabah melempar produknya ke pasaran karena ada sanksi
internasional perusahaannya ditutup atau diblokir dari dunia biopharmaceutical
yang sangat kecil ruang lingkupnya.
Begitu menurut rekan-rekan dari bagian penelitian
vaksin yang saya ajak ngobrol kemarin.
Jadi begitu ada kesempatan divaksin, jangan ragu,
langsung vaksin saja ya.
Semoga
bermanfaat.