Amerika Serikat: Membuat Konflik, Menjual Senjata

1 view
Skip to first unread message

Sunny ambon

unread,
Jun 13, 2022, 4:12:47 PM6/13/22
to

https://www.sinarharapan.co/opini/pr-3853536833/amerika-serikat-membuat-konflik-menjual-senjata

 

Amerika Serikat: Membuat Konflik, Menjual Senjata

Joko M

- Senin, 6 Juni 2022 | 09:15 WIB

Oleh: Sjarifuddin Hamid

SINAR HARAPAN - Berbagai negara menanggapi dengan hati-hati narasi kritik, tuduhan dan kecaman yang dilontarkan para pejabat Amerika Serikat kepada China. Ketika berbicara di depan civitas academica Universitas George Washington, akhir Mei lalu Menlu Anthony J. Blinken menegaskan China merupakan satu-satunya negara yang berminat membentuk kembali tatanan dunia, seraya meningkatkan kekuatan militer, teknologi, diplomatik dan ekonomi.

Visi Beijing akan mendorong kita menjauh dari nilai-nilai universal  yang begitu banyak menopang kemajuan dunia dalam 75 tahun terakhir, katanya.

Blinken tidak merinci nilai-nilai universal itu, namun difahami nilai itu mencakup kebebasan, kesetaraan, demokrasi, individualisme, persatu dan keanekaragaman. Gradasi sekalian nilai-nilai itu ditentukan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Apabila penerapan nilai-nilai tersebut dipandang tak sesuai, maka pemerintahan yang bersangkutan akan dikudeta atau  diserang seperti yang dilakukan terhadap Libya.

Dapat pula dikritik atau dikecam secara berulang sebagaimana yang dikenakan terhadap China dengan mengangkat isyu Xinjiang, Hong Kong dan pemerintahan Xi Jinping yang otoriter.

Presiden Joe Biden di dalam berbagai kesempatan juga mengutarakan hal yang sama. Bahkan di Jepang beberapa waktu lalu menegaskan, Amerika Serikat akan membela dengan kekuatan militer apabila China menginvasi Taiwan.

Kerjasama Multilateral

Dalam menghadapi ‘ambisi ‘ China itu, AS mengadakan kerjasama multilateral. Membentuk aliansi militer Australia, Inggris dan Amerika Serikat (AUKUS), membuat kerjasama ekonomi dengan India, Australia , Jepang dan Amerika Serikat (QUAD). Selain kerjasama intelijen atau pertukaran informasi dengan Kanada, Selandia Baru, Australia, Inggris dan Amerika Serikat (FEVEY) yang dibuat belasan tahun lalu. 

FEVEY mulanya bertujuan memonitor Uni Soviet dan Blok Timur. Setelah keduanya runtuh, FEVEY masih aktif dan mentargetkan negara-negara lain termasuk China.

Menganggu dominasi

Berkat kebijaksanaan Presiden Richard Milhous Nixon dan Menlu Henry Kissinger, memberi peluang seluas-luasnya kepada China untuk tumbuh dalam aspek investasi, alih teknologi dan masih banyak lagi.

PM Deng Xiaoping dan penerusnya, termasuk Presiden Xi Jinping menyalakan semangat patriotisme , etos kerja, menerapkan strategi pembangunan yang tepat, tarnsformasi ekonomi, bergabung dalam WTO, mengendalikan demokrasi dan memberantas korupsi. Cara ini membuat investor asing nyaman dan jumlah penduduk miskin menurun.  

Menurut laporan Bank Dunia per 1 April 2022, jumlah penduduk miskin di China turun sekitar 770 juta jiwa dalam waktu 40 tahun. Jumlah penduduk China tahun ini mencapai 1.441 juta jiwa.

British consultancy Centre for Economics and Business Research (CEBR) memperkirakan GDP China akan tumbuh 5,7% hingga 2025 dan 4,7% per tahun hingga 2030. China akan melampaui AS pada 2030.

Menurut laman Statista, GDP China pada 2020 turun hingga 2.24% akibat wabah Covid-19 dari 5,95% pada tahun sebelumnya. Namun GDP pada 2021, melonjak hingga 8,08%. Lalu berturut-turut 5,07%, 5,09%, 4,97%, 4,92% dan 4,78% pada 2027.

GDP AS, menurut laman yang sama, pada 2020 minus 3,41%, kemudian 3,41%, 5,97%, 5,2%, 1,7%, 1,7% dan 1,7% pada 2026. Kemerosotan ini al. disebabkan ekspor menurun dan impor meningkat hingga terjadi defisit. Pemerintah federal juga harus membayar pinjaman pokok dan bunga yang semakin besar. Belanja pemerintah federal, negara bagian dan lokal tak mampu menopang perekonomian ditambah dengan pandemi Covid-19.

Selain khawatir dengan keberhasilan China membangun ekonomi domestik, AS juga gusar  dengan Belt and Road Initiative (BRI) yang diperkenalkan di Kazakhstan pada September 2013. BRI bertujuan membangun konektifitas dan kerjasama enam koridor ekonomi yang meliputi China, Mongolia dan Rusia, negara-negara Eropa, Asia Barat dan Asia Tengah, Pakistan, serta negara-negara lain di anak benua India dan Indo-China.

Per Maret 2022, berdasarkan data Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD)  149 negara dan 31 organisasi internasional turut serta dalam program BRI.  43 negara diantaranya berlokasi sub-Sahara Afrika.

BRI mendapat sambutan baik sebab mengatasi kekurangan  infrastruktur yang menghambat perdagangan, keterbukaan dan kemakmuran di masa depan.  Sebaliknya, Amerika Serikat menilai BRI adalah instrumen yang akan mengubah tatanan dunia dengan (1) memperkenalkan sistem politik tidak demokratis. (2)  Menuduh China membawa sikap represif dari dalam negeri ke luar negeri. 

Selain itu isyu yang muncul belakangan ini adalah China membuat jebakan utang, padahal isyu debt trap sudah muncul 1970an. Ketika itu para ekonom, yang dijuluki kelompok ‘kiri baru”, menyatakan negara-negara Barat telah memberi pinjaman dengan syarat-syarat yang mengikat.

Cemas Tergusur

AS yang dominasinya terancam, berupaya membalikkan keadaan dengan membangun narasi China adalah musuh bersama yang harus ditangkal. Caranya adalah dengan mengurangi hubungan dalam arti luas China dan membeli peralatan militer dari AS.

Contohnya, penjualan senjata ke Taiwan berdasarkan Taiwan Relations Act tahun 1979  selalu diprotes Beijing, namun AS beretorika ancaman China terus meningkat dan kemungkinan konflik makin jelas. 

Pemerintahan Biden berhasil menjual peralatan militer seharga US$945 juta. Trump menjual seharga US$18,27 miliar. Obama (2009-2017) US$14 miliar dan lisensi pembuatan peralatan militer US$6,2 miliar.

Berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) sejak 1979-2022, sejumlah 77% dari total senjata konvensional yang diimpor Taiwan berasal dari AS. Jumlah yang memadai untuk menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan riset.

Sejauh ini invasi China tak terjadi sebab Beijing menganggap Taiwan adalah bagiannya. China juga lebih memiliki kepentingan lebih luas daripada menduduki Taiwan.  Ia sudah belajar dari Rusia.

Taiwan telah menjadi proxy. Siapa menyusul? ***

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages