36 views
Skip to first unread message

kh djie

unread,
Jun 17, 2021, 3:09:23 AM6/17/21
to
Si DO ITB

Ketika terjadi pemberontakan ITB anti Soeharto tahun 1978, semua aktivis  ITB, baik pengurus Dewan Mahasiswa seperti Heri Akhmadi, Aussie Gautama, Indro Tjahjono, Joseph Manurung, Kemal Taruc, Rizal Ramli, maupun dosen seperti Wimar Witoelar, ditahan di penjara CPM Jln. Jawa, Bandung.
Semua mereka itu dengan gagah berani menjalaninya, ditahan ber-bulan² dan diadili serta divonis penjara ber-tahun².
Mereka hidupnya saat itu disokong oleh Ibu Azis Saleh, yang waktu itu 'panglima laskar anti Soeharto'. Jadi saya tahu lengkap ceritanya. Malah beberapa waktu kemudian, setelah seusainya hukuman penjara, mereka menyelesaikan kuliahnya, lalu ada yang ditampung kerja pada saya (dan Wangki Saleh).
 
Semua konsisten anti rezim diktatur korup, kecuali satu orang. Dia ini baru beberapa hari dalam tahanan sudah lantas menangis me-raung², mencium kaki para tentara interogator (penyidik), minta² maaf, dan minta diampuni Soeharto.
Itulah Rizal Ramli!!

Oleh Pangkopkamtib Sudomo lalu dia diampuni, dengan syarat keluar dari ITB.
Dengan senang dia drop-out dari ITB. Apalagi karena dengan itu dia bukan cuma diampuni rezim OrBa, juga malah disekolahin ke luar negeri, di 'univ. pasti doktor'  (tapi bukan 'unpad' lho 😄😁🤣...).

Jadi ya begitulah kelasnya si Dapang tukang kawin (sudah 3 atau 4 kali kawin) itu.

Teman² aktivis 1978 kalau menyebut dia "si DO ITB".            

 ( Johny Saleh.)

kh djie

unread,
Jun 17, 2021, 4:57:09 AM6/17/21
to
Puisi GUS MUS
yang menyejukkan dan sangat bagus sekali untuk kita ambil hikmahnya :

      BUBARNYA AGAMA
    By. Ahmad Mustofa Bisri

Mekkah sepi
Madinah sunyi
Ka'bah dipagari
Masjid tutup
Jama'ah bubar
Jum'at batal
Umrah di stop
Haji tak pasti
Lafadz adzan berubah
Salam jabat tangan dihindari

Corona datang
Seolah-olah membawa pesan
Ritual itu rapuh!

Ketika Corona datang
Engkau dipaksa mencari Tuhan
Bukan di tembok Ka'bah
Bukan di dalam masjid
Bukan di mimbar khutbah
Bukan dalam thowaf
Bukan pada panggilan azan
Bukan dalam shalat jama'ah
Bukan dengan jabat tangan

Melainkan,
Pada keterisolasianmu
Pada mulutmu yang terkunci
Pada hakikat yang tersembunyi

Corona mengajarimu,
Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian
Tuhan itu bukan (melulu) pada syari'at
Tuhan itu ada pada jalan keterputusanmu
Dengan dunia yang berpenyakit

Corona memurnikan agama
Bahwa tak ada yang boleh tersisa
Kecuali Tuhan itu sendiri!

Temukan Dia
JANGAN HANYA SIBUK
Menyebarkan sisi :
BURUK COVID 19 SAJA

COBA LIHATLAH :

SISI POSITIF VIRUS CORONA

Tidak ada di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Semua ada Tujuan  dan Hikmahnya.
Inilah Hikmah di balik pandemi Corona.

1. Corona menutup bar, klub malam, rumah bordil, kasino dan tempat orang berbuat maksiat.

2. Corona menurunkan suku bunga bank yang mencekik leher.

3. Corona membawa keluarga kembali ke dalam rumah dan melakukan aktivitas rumah bersama.

4. Corona memindahkan alokasi anggaran militer menjadi anggaran perawatan kesehatan.

5. Corona melemahkan para  diktator dunia yang selama ini sombong luar biasa.

6. Corona membungkam kesombongan negara yang menganggap dirinya paling hebat dan tak terkalahkan.

7. Corona membuat manusia banyak berdoa dan berharap pada-Nya dan tidak semata-mata mengandalkan sains dan teknologi.

8. Corona memaksa negara memperhatikan rakyatnya.

9. Corona mengajarkan cara bersin, menguap, dan batuk yang baik dan benar.

10. Corona membuat kita tinggal di rumah dan hidup sederhana.

11. Corona mengajarkan bagaimana virus kecil yang berukuran 150 nano bisa mengalahkan tujuh milyar manusia yang hidup di bumi yang luasnya ratusan juta hektar.

12. Corona memberi kesempatan kepada kita untuk menyadari bahwa kematian itu nyata dan dekat dengan kita.

13. Corona mengajari kita agar tidak jajan dan makan sembarangan di luar.

14. Corona membangunkan kita pada kenyataan dan memberi kita kesempatan untuk meminta pengampunan dan pertolongan-Nya.

15. Corona menyadarkan kita bahwa apa yang kita miliki adalah milik Tuhan yang bisa diambil kapan saja.
Percayalah, Tuhan menurunkan sesuatu dengan hikmah; ada pelajaran besar dalam hal ini bagi mereka yang arif dan bijaksana untuk melihat dan menyadari.

16.Corona membuat kita menyadari pentingnya mempunyai proteksi kesehatan yg bagus.

MARI KITA RENUNGKAN,.  APAPUN AGAMA MU.. KITA HANYA MANUSIA BIASA...  BERBUATLAH  YANG TERBAIK DALAM HIDUP INI...   Salam  3M buat kita semua.. 🙏🇮🇩 😇

Sunny ambon

unread,
Jun 23, 2021, 5:02:04 PM6/23/21
to

Tahukah Anda siapa diantara para petinggi /elit rezim neo-Mojopahit yang memiliki tambang batu bara dan juga pembangkit tenaga listerik beraaskan batu bara?

https://asiatimes.com/2021/06/indonesias-dirty-coal-habit-is-proving-hard-to-break/

Indonesia’s dirty coal habit is proving hard to break

Indonesia's 2070 zero-emissions target is 20 years behind most other countries and more coal-fired plants are coming online

By JOHN MCBETHJUNE 23, 2021

image.png


A barge on the river of Mahakam loada coal from the mining area in Samarinda, East Kalimantan. Photo: AFP / Bay Ismoyo

JAKARTA – In setting an original target of 2070 for net-zero carbon emissions, President Joko Widodo’s government has made it clear to the angst of environmentalists that at least for now coal remains the necessary way of the future in powering Indonesia towards a place in the global industrial supply chain.

Despite a renewedcampaign by the Joe Biden administration and the European Union to tackle climate change, there is still 6,000-8,000-megawatts of coal-fired power generation either under construction or in the final planning stages across the archipelago.

Analysts estimate that coal won’t reach peak usage until 2035, a period during which Indonesia hopes to become the world’s fourth-biggest economy despite the setback caused by the Covid-19 pandemic that saw growth slide by minus-1.2% last year.

Domestic consumption still dominates the economy. But what is expected to drive further post-pandemic growth is Widodo’s single-minded effort to become a major cog in the global lithium battery-electric car industry and other economic benefits those industries are expected to bring.   

Former Indonesia ambassador to Washington Dino Djalal says Widodo was made to feel uncomfortable at last April’s virtual global climate change conference when his 2070 zero-emissions target turned out to be 20 years behind most other countries.

Under the Paris Climate Change Agreement’s five-yearly cycle, each of the 196 signatory countries are committed to mandatory nationally determined contributions (NDCs) to an increasingly ambitious program to slash greenhouse gas emissions. 

While the president doesn’t usually show much interest in international affairs, he is now confronted with the realization that if he wants Indonesia to be a destination for major foreign investments, he can’t afford to ignore the growing demand for climate change action.

image.png
Indonesian President Joko Widodo, wearing traditional Balinese attire, at a ceremony to celebrate Indonesia’s 74th Independence Day at the presidential palace in Jakarta, Indonesia on August 17, 2019. Photo: AFP / Anadolu Agency / Anton Raharjo

But only up to a point. Western pressure to phase out coal at this critical stage in Indonesia’s development is often met with resentment, with officials noting that developed countries had no such environmental obstacles in growing their economies.

Widodo doesn’t react well to pressure and with powerful Chief Maritime Minister Luhut Panjaitan as his point man, some analysts believe Jakarta is falling ever-deeper under Beijing’s influence with Chinese firms showing no signs of losing their position as the country’s biggest investors.

Former trade minister Tom Lembong warned recently that Australia, the US and like-minded countries will have to mount a coordinated effort if they want to stop Jakarta “going all in” with the superpower. “Indonesia will continue to gravitate towards China under the Jokowi administration and possibly beyond,” he told the Sydney Morning Herald.  

Djalal says climate change has been an Indonesian “blind spot” and that despite setting emission targets Widodo has remained fixated on infrastructure and economic development, with coal making up 22,000MW of the 35,000MW electricity program he launched in 2014.

Leaders at the recent G7 Summit in the UK agreed to end the funding of new coal generation in developing countries and to offer up to $2 billion to support the transition away from unabated coal capacity.

There are also signs that the EU may be prepared to add coal to a list of commodities that could be denied access to the European market unless Indonesia complies with international sustainability and environmental standards.

Although the government is committed to reducing emissions by 29% over the next eight years, or 41% with international assistance, it will only phase out new coal projects after 2025 when the last of the thermal plants under the 35,000MW program is commissioned.

“We think the strategy will shift to new and renewable sources (but) how Indonesia actually gets there is a question still up in the air,” S&P Global Ratings analyst Minh Hoang told a webinar this week. “Coal will still feature heavily in Indonesia’s energy mix for years to come.”

While state-owned power utility Perusahaan Listrik Negara (PLN) is prohibited from building new coal-fired plants after 2025, the policy on private projects is unclear, particularly on the main islands off Java where power shortages have always been an issue.

image.png
The coal-fied Celukan Bawang 2 power plant in Singaraja on Indonesia’s resort island of Bali. China’s plan to fund dozens of foreign coal plants from Zimbabwe to Indonesia is set to produce more emissions than those of major developed nations, threatening global efforts to fight climate change, environmentalists have warned. Photo: AFP / Sonny Tumbelaka

The biggest of those stations are in nickel-rich Central Sulawesi and North Maluku where Chinese industrial giant Tsingshan Steel and its partners are drawing on the world’s biggest reserves of nickel to put Indonesia on the global industrial map.

Tsingshan’s refining complex in Morawali, Central Sulawesi, is already powered by a 2,000MW coal-fired station, but the Mines and Energy Ministry (ESDM) has reportedly banned the firm from adding a further 250MW unit to its 750MW coal plant at Weda Bay in Halmahera.

After months of indecision and fruitless negotiation, that may explain why the government has now apparentlydecided that Freeport Indonesia’s (PTFI) new copper smelter will be built at its original site at East Java’s Gresik Industrial Park (JIIPE) instead of Weda Bay.

ESDM’s director-general for minerals and coal, Ridwan Djamaluddin, told Petromindo.com earlier this month that PTFI and state-owned holding company MIND ID had made the final decision to stay with Gresik, which has already undergone some site preparation. 

Joint venture talks ran into an obstacle over Tsingshan’s demands for a 5% discount on the price of PTFI’s concentrate and also parent Freeport McMoRan Copper & Gold’s concerns over adhering to Securities and Exchange Commission (SEC) rules that Chinese firms are not compelled to follow.

Economic Coordinating Minister Airlangga Hartarto, the concurrent chairman of the third-ranked Golkar Party, had been at odds with Panjaitan over where to put the $2.8 billion smelter, which will process the remaining concentrate from PTFI’s Grasberg mine in Papua. 

Airlangga favored Gresik, in part because of the heavy voting concentration in East Java, while Panjaitan wanted the facility moved to lightly populated Halmahera, where its sulphuric acid by-product could be used in Tsingshan’s planned lithium battery plant.

Tsingshan may have already seen the writing on the wall, with expected customer resistance in the West to nickel smelted by coal-fired power and Zhejiang Huayau Cobalt planning a new $2 billion cobalt and nickel smelter as part of a significant expansion of the Weda Bay site.

image.png
Tsingshan’s steel plant at Weda Bay. Photo: Tsingshan Steel website

Last March, Tsingshan said it intended to build up to 2,000MW of solar-based power at both of its processing facilities over the next three to five years in what may become the first test of how renewable energy can support a major industrial undertaking.

Leading renewable energy expert Fabby Tumiwa estimates it will cost about $700 million to build a 1,000MW solar plant and associated storage facility covering a required 1,000 hectares of land around Weda Bay, on the east coast of Halmahera.

If Tsingshan can make it happen, he says, it could become the norm for all industrial parks across the country at a competitive cost of about 6 cents per kilowatt-hour, similar in fact to coal.

Tumiwa, executive director of the Institute for Essential Services Reform (IESR), has few doubts solar is the way of the future, quoting estimates of a technical potential as high as 207 gigawatts. An IESR report estimates it will only require 4% of Indonesian land for solar to meet 100% of electricity demand by 2050.

Still, climate change proponents are worried the Indonesian business community has yet to fully embrace clean energy goals, largely because Panjaitan, State Enterprise Minister Eric Thohir and other influential figures are part of the powerful coal lobby.

Critics note the 2030 emission target is not accompanied by any detailed schedule and say it is only the revival of international concern over climate change, along with a shift in public opinion on the issue, that is forcing the government to pay some attention.

Coal plants currently contribute 49.6% of Indonesia’s 69,600MW of power generation, of which renewables account for a lowly 14.9%. Although the pandemic has set back calculations significantly, the ESDM estimated in 2019 that power consumption will more than double by 2027.

https://i2.wp.com/asiatimes.com/wp-content/uploads/2021/06/Indonesia-Coal-Protest-Gree-Peace.jpg?resize=780%2C519&ssl=1Greenpeace activists wearing black masks and face paint at a rally outside the Maritime and Fisheries Ministry in Jakarta to protest against plans to build coal-fired power plants in a file photo. Photo: AFP / Romeo Gacad

Coal may also still have a future. American firm Air Products & Chemicals recently announced plans to invest $2 billion in a landmark coal-to-methanol production facility in Bengalon, East Kalimantan, in what may be the country’s first serious venture into coal gasification.

Twenty-five percent of Indonesia’s coal production is currently reserved for the domestic market, with the remaining 75% (or 456 million tonnes in 2020), shipped mostly to China, India, Japan and South Korea. That adds up to about a third of the world’s total coal exports, even if Indonesia is home to only 2.5% of existing global reserves.

Apart from solar, it is unclear how Indonesia will meet its other future energy needs, with large-scale hydro potential limited to North Kalimantan and Papua, away from large population centers, limitations on new supplies of natural gas, and pricing issues holding back the country’s vast geothermal potential.

Analysts note there has been no new foreign investment in the sector for two decades because Indonesian consumers still enjoy the cheapest power in the region at 1,000-1,500 rupiah (7-10 US cents) per kilowatt-hour. Current installed capacity is 2,130MW, measured against total resources estimated at more than 24,000MW.

Despite investing $7-8 billion in geothermal over the past 20 years, one major geothermal developer made only $20 million from carbon credits in that time. As one senior executive noted: “The rules keep changing, the whole process is convoluted and complicated and the banks aren’t interested. It also takes 3-5 years to apply for carbon credits.”

He said to entice more investment and cover the heavy up-front cost of geothermal power, Indonesia will need to raise consumer prices by up to 50%, something successive governments have been loath to do because of the ever-present fear of social unrest.

 

kh djie

unread,
Jun 24, 2021, 2:16:08 AM6/24/21
to
image.png

kh djie

unread,
Jun 25, 2021, 2:57:23 AM6/25/21
to GELORA45_In
Wanita Indonesia Ganti Hati di Iran

Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Meski diblokade oleh Amerika Serikat (AS), ternyata Iran tetap berkembang. Bahkan ilmu kedokteran di negeri para mullah itu berkembang sangat dahsyat. Termasuk tranplantasi hati. Dokternya, Dr Ali Malek Hosseini, sudah menangani lebih 10.000 kali transplant. Ingat! Ibnu Sina, bapak kedokteran dunia lahir di Iran!

Kini orang Indonesia memilih ganti di Iran, bukan Tiongkok.

Benarkah? Silakan ikuti tulisan menarik Dahlan Iskan, wartawan handal, di Disway, HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com hari ini, 21 Juni 2021. Selamat membaca:

SEBENARNYA saya tidak heran, tapi terkejut juga: ada orang Indonesia memilih transplantasi liver di Iran. Sukses pula. Sekarang masih di rumah sakit di sana. Menunggu kapan boleh pulang.

Sudah lama saya dengar –dari dokter ahli Indonesia– bahwa ilmu kedokteran di Iran sangat maju. Transplant apa saja bisa. Termasuk transplant pankreas dan sumsum. Bahkan kemampuan di bidang stemcell-nya masuk lima terbaik dunia.

Tapi baru sekali ini saya tahu: ada orang Indonesia memutuskan melakukan transplantasi hati ke Iran. Berarti Tiongkok bukan satu-satunya pilihan lagi. Atau Singapura.

Yang transplantasi hati ke Iran itu seorang wanita. Janda. Dengan donor putrinya sendiri.

Sang putri berumur 22 tahun. Masih kuliah di semester akhir di Universitas Trisakti Jakarta. Jurusan arsitektur.

Trisakti memberikan kelonggaran kepada sang putri: skripsi tugas akhirnya boleh mundur. Dia harus ikut ibunyi ke Iran. Hati sang putri harus dipotong setengahnya. Untuk menggantikan hati ibunyi yang sudah rusak –akibat sirosis. Hati sang ibu sudah dibuang total. Untuk diisi separo hati milik sang putri.

Kini sang putri masih dirawat di rumah sakit yang sama. Hati sang calon arsitek –yang tinggal separo itu– akan utuh kembali dua bulan lagi. Sedang separo hati yang dipasang di sang ibu akan menjadi hati yang utuh tiga bulan mendatang.

Hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh begitu cepat. Telinga juga bisa tumbuh tapi terbatas.

Cara transplant seperti itu juga berhasil dilakukan selebriti Setiawan Djody –juga dari hati milik putrinya. Di Singapura. Lebih 10 tahun lalu.

Sedang yang saya alami berbeda. Saya mendapatkan hati utuh dari seseorang yang meninggal muda di Tianjin, Tiongkok.

Yang lebih mengejutkan saya: transplantasi itu bukan dilakukan di Teheran, ibu kota Iran. Bukan pula di kota besar lainnya seperti Mashhad dan Isfahan. Tapi di kota Shiraz –mungkin kota besar keempat atau kelima di Iran. Saya belum pernah ke Shiraz.

"Kami pilih ke Shiraz karena ada departemen internasionalnya," ujar Mochamad Baagil, kakak pasien. "Sebenarnya saya sendiri yang akan memberikan separo hati saya ke kakak. Tapi tidak cocok," ujar Baagil.

Sebenarnya, kata Baagil, banyak rumah sakit di Iran yang bisa melakukan transplant. Tapi lebih untuk orang Iran sendiri. Sedang yang di Shiraz ini untuk internasional. Banyak pasien dari Qatar, Uni Emirat Arab, dan negara sekitar.

Keluarga Baagil ini asli Kudus. Tapi sudah lama pindah ke Jakarta. Baagil sendiri tamat SMA masih di Kudus, di SMAN 2. Lalu kuliah di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta jurusan teknik sipil. ISTN dulunya dikenal sebagai Akademi Teknik Nasional (ATN) yang didirikan ahli beton terkemuka Indonesia Prof Dr Roosseno Soerjohadikoesoemo. ISTN berada di bawah Yayasan Perguruan Cikini. Yang punya lembaga pendidikan terkenal di Jalan Cikini Jakarta.

Setelah lulus ISTN dengan pujian Baagil langsung ke S2 di Technische Universität Dresden, Jerman. Kini Baagil bekerja sebagai konsultan perusahaan asing di Jakarta untuk masalah gedung-gedung pencakar langit.

Baagil juga masih di Shiraz. "Saya tunggu sampai kakak boleh pulang," ujarnya pada saya kemarin.

Meski Shiraz agak jauh di timur laut Teheran, ternyata keluarga ini tidak harus mendarat dulu di Teheran. "Ada pesawat langsung dari Dubai ke Shiraz," ujar Baagil.

Ternyata kota Shiraz cukup besar. Penduduknya sekitar 4 juta –sekelas Surabaya. Ini kota tua. Kekaisaran Parsi zaman dulu beribu kota di Shiraz. Karena itu peradaban dan ilmu pengetahuan di Shiraz sangat maju.

Yang saya juga heran: di Shiraz, di tengah blokade ekonomi Barat, berhasil dibangun mal besar. Salah satu yang terbesar di dunia. Ini berita baru bagi saya. Waktu saya ke Iran dulu mal belum ada. Tidak terlihat bangunan atau toko jelek tapi juga tidak ada mal. Tidak ada kaki lima tapi juga tidak ada supermarket internasional. Tidak ada mobil jelek tapi juga tidak ada Mercy di jalan-jalan. Berarti Iran sudah berubah banyak. Dan memang mal ini masih baru. Belum genap lima tahun.

Di tengah blokade Amerika yang begitu keras dan panjang ternyata ekonomi Iran masih jalan. Memang inflasi di negara itu tertinggi di dunia. Mata uangnya menjadi yang terlemah dibanding negara mana pun. Tapi semangat hidupnya tidak bisa diblokade.

Saya jadi ingat ketika mengunjungi instalasi LNG dan pabrik turbin di Iran. Saya harus akui: Iran adalah satu-satunya negara Islam yang mampu memproduksi turbin untuk pembangkit listrik besar.

Rumah sakit di Shiraz itu sendiri ternyata sangat besar. Modern. Seperti di Tianjin. Statusnya juga sama: RS Transplant Center. Bisa mengerjakan transplant organ apa saja di situ. Saya jadi ingat: bapak kedokteran dunia adalah orang Iran: Ibnu Sina. Yang di Barat dikenal sebagai Ibn Sina atau Avicenna. Yang juga dikenal sebagai bapak fisika.

Transplantasi hati untuk ibu dari Jakarta itu dilakukan oleh Dr Ali Malek Hosseini. Ia mendapat gelar ''Bapak transplant Iran''. Sudah 26 tahun Hosseini menjalankan transplantasi di sana. Sudah menangani lebih 10.000 kali transplant.

Dr Hosseini dua tahun lebih tua dari umur saya. Lahir di desa dan sampai SMA masih di desa itu. Lalu masuk D1 ilmu keguruan untuk kembali mengajar di desanya.

Dua tahun mengajar barulah Hosseini ikut tes masuk universitas. Diterima. Ia memilih fakultas peternakan.

Belum lagi lama di fakultas itu ibundanya meninggal dunia: sakit liver. Sejak itu Hosseini ikut tes lagi masuk fakultas kedokteran. Diterima.

Jadilah Hosseini dokter di Shiraz. Lalu dapat beasiswa memperdalam ilmu transplant di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Dari mana Baagil tahu kalau Iran punya kemampuan transplant itu? "Sejak tinggal di Jerman saya sudah tahu," ujarnya. Apalagi ia sendiri sudah beberapa kali ke Iran –meskipun baru sekali ini ke Shiraz.

Baagil kini menyiapkan diri untuk ke S-3. Juga di Jerman. Ia akan melakukan penelitian gedung tinggi dengan struktur tanpa balok.

Sejak SMA Baagil sudah tertarik mengikuti pembahasan soal apa yang terjadi di Iran. Termasuk aliran keagamaannya. Dan masuk ke dalamnya. (*)

kh djie

unread,
Jun 28, 2021, 3:10:49 AM6/28/21
to Billy Gunadi, GELORA45_In

Bung Billy,

Ada yang kurang tepat di tulisan Dr. Ong Han Ling tentang berdirinya Technishe Hogeschool Bandung seolah olah bukan didirikan oleh Belanda. Sumbangan dari masyarakat Tionghoa, dari orang2 kaya yang dikumpulkan oleh Phoa Keng Hek, kapitein der Chinezen Nio Hoey Oen dan H.H. Kan memang banyak sekali f.500.000. Tetapi sumbangan yang terkumpul dari kaum industrialis Belanda, pengusaha2 perkebunan Belanda dalam semalam lebih banyak yaitu f. 3000.000 dan sumbangan 30 ha tanah oleh walikota Bandung, sehingga akhirnya Bandung dan bukan Batavia yang terpilih sebagai tempat berdirinya TH Bandung. Semua ex mahasiswa bagian Teknik ITB pasti pernah praktikum Fisika Dasar di Lab. Bosscha, sumbangan Bosscha, pengusaha perkebunan tehyang banyak sumbangannya pada TH Bandung dan yang mendirikan Bosscha Sterrenwacht di Lembang (Patungnya Bosscha dipindahkan ke dalam). Ayah Bosscha pernah jadi rektor TH Delft.

Sehabis Reunion TFI ( TH Bandung, Fakultas Ilmu Pasti Ilmu Alam-Fakultas Teknik sebagai bagian dari UI, ITB), kami ikut Post Reuinion Tour dari Shanghai ke Korea Selatan dan Jepang. Waktu balik di Shanghai, kami dijemput Sucipto Nagaria (Liong Sie Tjin) mau diajak lihat penjualan real estatenya (Summarecon Agung) di Pudong Shanghai,dan dikelilingkan Shanghai, antaranya daerah Bund dulu. Di tengah jalan, dalam bus, saya disodori Sie Tjin copy surat tercetak. Saya baca lho Staatsblad jaman Hidia Belanda tentang pembentukan komisi Keuangan13 orang untuk Mendirikan Suatu sekolah tinggi Teknik.

 Saya baca ada nama Phoa Keng Hek, Nio Hoey Oen, dan HH Kan. Saya bilang Phoa Keng Hek dan kapitein der Chinezen Nio Hoey Oen yang dirikan perkumpulan THHK dan setahun kemudian dirikan sekolah PaHoa (Patekoan Tiong Hoa Hwee Koan), tempat Sie Tjin sekolah dan lulus SMA nya. Dia tanya saya, kok saya tahu. Saya bilang, saya baca di bukunya Benny Gator Setiono,” Tionghoa dalam Pusaran Politik”.

Sie Tjin bilang, Nio Hoey Oen itu engkong buyutnya. Saya tanya, apa engkong luar? Dia jawab, engkong dalam, nama lainnya adalah Liong Yin Tang. Belakangan tentang komisi 13 orang itu ditulis lengkap di buku biografi dari keluarga Liong : Pancaran Cahaya 7 generasi.                  

Istri saya, setelah kerja beberapa tahun di Geologisch Instituut di Leiden, oleh direkturnya ditawari belajar ambil ijasah di Delft mengingat akan ada fusi beberapa tahun lagi antara Leiden dan Utrecht. Karena istri saya alumni TH Delft, jadi kami terima majallah berkala dari TU Delft, dan pada waktu ITB berdiri 100 tahun, TU Delft memuat tulisan tentang berdirinya ITB dan sangkut pautnya dengan TU Delft. Dan dari bahan2 itu saya menulis artikel di Hua Yi blad negeri Belanda tentang 100 tahun berdirinya ITB.

Ini terjemahannya ke bahasa Indonesia :                    100 tahun Institut Teknologi Bandung.

                                       Diterjemahkan dari majallah Hua Yi  Belanda.

Seratus tahun lalu, tepatnya 3 Juli 1920, Institut Teknologi Bandung didirikan.

Sekitar tahun 1900, 25 - 30% dari semua insinyur Delft bekerja di Hindia Belanda, tetapi ini terhenti karena Perang Dunia Pertama (1914-1918).

Pada bulan Februari 1914, Pemerintah Hindia Belanda membentuk Komite Keuangan untuk Yayasan Eener Technische Hoogerchool dengan Ketua Gubernur Batavia H Rijfsnijderf dan Sekretaris Mr. I.Hen, dengan anggota:

1. E.A. Zelinga Azn, Presiden Javasche Bank

2. C. Canne, Ketua Dewan Kota Batavia

3. F.H.K. Pemimpin Redaksi Bataviasch Handelsblad

4. G.P.N. Elenbaas, Arsitek

5. R.M. Ario Dhipokoesoemo, Bupati Batang

6. Raden Batin Djaja Negara, Kepala Jaksa di Batavia

7. Kapiten der Chinezen Nio Hoey Oen (Liong Yin Tang)

8. Phoa Keng Hek, Presiden Perkumpulan Tiong Hwa Hwee Kwan

9. H.H. Kan, Tuan Tanah, Anggota Dewan Kota Batavia

10. Dr. J. Noordhoek, Direktur S.T.O.V.I.A

11. Dr. Ingr.P.N. Degens, Guru K.W.S.

12. F.J.H Cowan, Sekretaris Departemen Kehakiman

13. Dr. W.M.G. Schumann, Ambtenaar ter beschikking b/d Burg. Geneeskundige Dienst

Namun pada tahun 1915, Menteri Pendidikan  Belanda menggagalkan rencana pendirian Technische Hogeschool di Hindia Belanda, dengan alasan jumlah siswa yang mungkin mendaftar terlalu sedikit.

Pada tahun 1917 delegasi dari Hindia Belanda mendatangi parlen Belanda yang kali ini mendapat perhatian dari pemerintah di Belanda yang menyetujui rencana pendirian Technische Hogeschool di Hindia Belanda.

Mengapa Technische Hogeschool akhirnya bisa didirikan di Hindia Belanda?

1. Ada kebutuhan besar akan insinyur di bidang pertambangan dan pengeboran minyak bumi.

2. Pengaruh politik etis.

3. Tumbuhnya seruan untuk kemerdekaan Indonesia.

4. Saat itu jumlah lulusan HBS dan AMS cukup banyak.

5. Ide untuk mendirikan TH didukung oleh K.A.R. Bosscha, sejumlah pemilik industri, pengusaha, dan pengusaha perkebunan. Bosscha adalah seorang pengusaha perkebunan yang sangat kaya, filantroop dan putra dari Dr. J. Bosscha, salah satu rektor TH Delft.

Nio Hoey Oen (Liong Yin Tang), Phoa Keng Hek dan H.H. Kan telah mengumpulkan 500.000 gulden dari orang-orang Tionghoa kaya. Bosscha dan pengusaha lainnya telah mengumpulkan 3 juta gulden dalam 1 malam. Walikota Bandung telah menawarkan lahan seluas 30 ha secara gratis untuk pendirian Perguruan Tinggi Teknik ini. Kemudian Bandung ditetapkan sebagai lokasi Sekolah Menengah Teknik ini.

Insinyur Delft terlibat dalam pendirian TH Bandung. Guru besar matematika dan mekanik terapan Jan Klopper, misalnya, berkontribusi pada Program Pembelajaran dan menjadi rektor magnificus pertama di Bandung. Awalnya, sekolah tersebut hanya menawarkan jurusan teknik sipil. Gelombang pertama terdiri dari 25 siswa, termasuk seorang perempuan. Pada tahun kedua keberadaannya, mahasiswa paling terkenal dari Bandung mendaftar: Sukarno, presiden pertama Indonesia merdeka.

Bung Karno pernah dipanggil rektornya karena adanya laporan polisi tentang aktivitas politiknya.Bung Karno diminta memilih terus sebagai mahasiswa atau keluar dan aktif di politik. Bung Karno berjanji akan menyelesaikan studienya. Setahun kemudian bung Karno menghadap Jan Klopper, minta pada sang rektor agar bung Karno dibebaskan dari janjinya, mengingat rakyat begitu menderita dan bung Karno harus aktif di politik. Jan Klopper memberikan ijin dan mengagumi kejantanan bvung Karno yang datang berterus terang.

Bahkan kini ada ikatan khusus antara Bandung dan Delft. Kolaborasi terjadi di berbagai bidang seperti pengelolaan air dan pendidikan arsitektur. Kuliah Karel Luyben tahunan yang rencananya akan berlangsung di Bandung pada bulan Juli ini telah ditunda karena adanya krisis korona. Pameran di Arsitektur dan Teknik Sipil juga akan dibatalkan untuk sementara waktu.

TH Bandung kemudian menjadi bagian dari Universitas Indonesia. Pada tanggal 2 Maret 1959, TH Bandung dipisahkan dari Universitas Indonesia dan ditetapkan sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). 38 tahun setelah berdirinya TH Bandung pada tahun 1920, Cicit Nio Hoey Oen (Liong Ying Tang) Liong Sie Tjin (Soetjipto Nagaria) menjadi mahasiswa Teknik Kimia ITB. Dia lulus pada tahun 1964.

What a wonderful world - Paduan Suara Guru dan Alumni ITB- 100 tahun ITB : https://www.youtube.com/watch?v=1PEUHiyezuY

Summaecon Agung menyumbang 2 ha tanah untuk innovation-park ITB :

https://industri.kontan.co.id/news/summarecon-hibah-lahan-itb-innovation-park

Kiri Herman Nagaria. Sebelahnya, ayahnya, Soetjipto Nagaria, dari Summarecon Agung.

Soetjipto Nagaria (Liong Sie Tjin, alumni ITB, buyut Nio Hoey Oen) menyumbangkan 1 ha lahan untuk ITB dan 1 ha lagi untuk pembangunan ITB Innovation Park di Gedebage, Bandung.

Bila kakek buyutnya, Nio Hoey Oen bersama Phoa Keng Hek dll. mendirikan sekolah Pahoa (Patekoan Tiong Hoa Hwee Koan) ditahun 1901, Liong Sie Tjin  (Soetjipto Nagaria) dan kawan2nya alumni PaHoa mendirikan sekolah Pahoa integrated dari Taman Kanak-kanak hingga SMA di Serpong kurikulum nasional dengan tambahan bahasa Mandarin dan pendidikan Confucianisme ( Di Zi Gui). Sekarang focus pada 3 M : Moral, Mandarin, Matematika. Jumlah siswanya sudah mencapai 4000 orang.

Sumber:

Delft Outlook, No.2, Juli 2020

https://industri.kontan.co.id/news/summarecon-hibah-lahan-itb-innovation-park

kh djie

unread,
Jun 28, 2021, 3:15:03 AM6/28/21
to Billy Gunadi, GELORA45_In
Tambahan : Reunie TFI tahun 2010 di Bali.

Op ma 28 jun. 2021 om 09:10 schreef kh djie <dji...@gmail.com>:
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavghS9xhG1SH_mgC3ELpShwNV2de0bWsc6Uqr4M23ZFS2A%40mail.gmail.com.

BILLY GUNADIE

unread,
Jun 28, 2021, 4:54:21 AM6/28/21
to dji...@gmail.com, GELORA45_In
Terima kasih banyak atas tulisan Meneer Djie yang melengkapi Dr. Ong.
Kalau Belanda yang mendirikan, tentunya atas initiative Mr. Phoa?
Ada beberapa yang menjadi pertanyaan saya.
Tahun 1920 harga mas sekitar 20$/ounce. 
Kompleks gedung kampus ITB Jalan Ganesha, sebesar itu apakah sampai Makan beaya 3.5juta f.? Rumah di Bandung sekitar jalan Dago, 29-30ribu f..

Juga tidak pernah ada Rektor dari etnis Tionghoa? Yang pernah ada ketua Dewan Mahasiswa The Gian.Heng (Seni Rupa 1962?).
Bangunan aslinya hanya yang menggunakan atas sirap (kayu), dengan pilar batu alam dan semen. Selebihnya prefab termasuk gedung lab Kimia, gedung 3 tingkat Geologi, bagian barat kampus.
Perlu juga diketahui, berpuluhan tahun penerimaan etnis Tionghoa dijatah 3%, atas dasar populasi kependudukan.
1968, Rektor Kuntoadji baru kembali dari Belanda, penerimaan atas dasar hasil tes, terjadi istilah Ganesha Sipit, dan penskoran pada saat Mapram.

Akan saya usahakan kontak Dr. Ong via editornya atau ex-siswanya.
Terima kasih yang sebesar besarnya pada Meneer Djie, yang sudi menulis secara detail.








On Mon., Jun. 28, 2021 at 3:10 a.m., kh djie

Bung Billy,

Ada yang kurang tepat di tulisan Dr. Han Ling tentang berdirinya Technishe Hogeschool Bandung seolah olah bukan didirikan oleh Belanda. Sumbangan dari masyarakat Tionghoa, dari orang2 kaya yang dikumpulkan oleh Phoa Keng Hek, kapitein der Chinezen Nio Hoey Oen dan H.H. Kan memang banyak sekali f.500.000. Tetapi sumbangan yang terkumpul dari kaum industrialis Belanda, pengusaha2 perkebunan Belanda dalam semalam lebih banyak yaitu f. 3000.000 dan sumbangan 30 ha tanah oleh walikota Bandung, sehingga akhirnya Bandung dan bukan Batavia yang terpilih sebagai tempat berdirinya TH Bandung. Semua ex mahasiswa bagian Teknik ITB pasti pernah praktikum Fisika Dasar di Lab. Bosscha, sumbangan Bosscha, pengusaha perkebunan tehyang banyak sumbangannya pada TH Bandung dan yang mendirikan Bosscha Sterrenwacht di Lembang (Patungnya Bosscha dipindahkan ke dalam). Ayah Bosscha pernah jadi rektor TH Delft.

kh djie

unread,
Jun 28, 2021, 6:13:04 AM6/28/21
to BILLY GUNADIE, GELORA45_In
Bung Billy,
Yang paling membutuhkan tenaga insinyur adalah kaum industri.
TH Bandung dari mula2 berdirinya semua dari sumbangan swasta
untuk bangun TH Bandung, perumahan Professor2 dari negeri
Belanda, dan bayar gaji semua yang kerja.
Lha, waktu itu pembangunan di berbagai bidang di Hindia Belanda
banyak membutuhkan tenaga teknik
Pemerintah Hindia Belanda mula2 tidak bayari tenaga2 kerjanya. Tidak tahu
sejak kapan dapat pembeayaan dari negara. Saya pernah ngobrol dengan 
Presiden Manusama, presidennya RMS di pertemuan orang2 ex Bandung. Saya
tanya dari jurusan apa. Dia tertawa, bilang waktu jamannya masih hanya 
ada satu jurusan, yaitu bagian Sipil. Saya pikir2, lho kan mungkin sudah 
15 tahun TH Bandung didirikan, waktu Pak Manusama kuliah, kok belum
ada jurusan lain. Belakangan saya baca di artikel lain, kalau rencana semula
mau didirkan jurusan Teknik Kimia, tetapi dihitun-hitung financien terlalu 
berat, mesti bangun berbagai laboratorium.
Ya, kalau pikir2, Bosscha luar biasa besar sumbangannya. Di bagian Teknik
Kimia dulu, ada multiple effect evaporator, dapat dari bekas pabrik opium?
Ya, kalau mau beli sendiri, tidak ada uangnya?
Saya pikir, toch TH Bandung suatu waktu pasti didukung pemerintah Hindia
Belanda, kalau mengingat jurusan2 yang kemudian dibuka, yang butuh
banyak pembeayaan. Tetapi saya belum pernah ketemu artikelnya yang menulis
lengkap perkembangan TH Bandung.

Op ma 28 jun. 2021 om 10:54 schreef BILLY GUNADIE <billyg...@rogers.com>:
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.

kh djie

unread,
Jun 28, 2021, 6:32:37 AM6/28/21
to BILLY GUNADIE, GELORA45_In
Ada dari ex siswa Ureca, yang meneruskan tulisan saya ke teman sekolahnya 
dulu di SMA Budi Utomo, seorang Prof. yang sedang mengumpulkan sejarah 
berdirinya TH Bandung. Ya, ada beberapa hal kebetulan, seperti Sucipto Nagaria
yang dimintai sumbangan oleh ITB. Dia jawab, pasti dia sumbang, ITB kan Alma
Maternya. Wakil rektornya kaget, tidak tahu kalau dia itu lulusan ITB, juga tidak 
tahu kalau kakek buyutnya salah satu dari 3 orang Tionghoa yang ditunjuk
di Panitia 13 orang untuk dirikan suatu Fakultas Teknik di Hindia Belanda. Sucipto
nya juga tidak cerita pada sang wakil Rektor tentang kakek buyutnya dan hubungannya
dengan pendirian TH Bandung. Banyak dari ex ITB juga tidak tahu. Waktu saya 
ceritai Ketua Reunie TFI di Surabaya, dia tanya Sucipto Nagaria yang duduk semeja 
dengan kami. Waktu Sucipto bilang benar, lalu sang ketua berdiri, dan beritahu 
semua bahwa cucu buyut orang yang ikut bantu dirikan TH Bandung ada ditengah kita. 
Sucipto diminta berdiri untuk ceritakan asal mula berdirinya TH Bandung.

Op ma 28 jun. 2021 om 10:54 schreef BILLY GUNADIE <billyg...@rogers.com>:
Terima kasih banyak atas tulisan Meneer Djie yang melengkapi Dr. Ong.

BILLY GUNADIE

unread,
Jun 28, 2021, 9:18:11 AM6/28/21
to dji...@gmail.com, GELORA45_In
Nuwun sewu Meneer.Djie atas tambahannya,
Selama Ini belum saya lihat university Di Indonesia yang bersifat mendidik menjadi manusia teladan.
University yang mirip suatu badan pemerintahan kecil, komplit dengan hukum, polisi, Mensa, tempat.makan, tukang cukur, polisi, arbitrasi untuk jawaban soal ujian, nilai dsb..dsb..
Dan kenapa tidak terbuka untuk umum, kalau cuma mau mendengarkan kuliah, Dan bulan terakhir semester, angket untuk penilaian kuliah seorang Dosen/professor..
Di Indonesia Dosen itu mirip Dewa?
Apa lagi professor? Bukannya tugas professor itu ngajar?
Mungkin masih bermental kolonial?

On Mon., Jun. 28, 2021 at 6:32 a.m., kh djie
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages