
Pada musim panas yang merupakan musim panen raya, rakyat Tiongkok mendapat satu kabar yang baik: Menteri Pertanian Tiongkok baru-baru ini menyatakan, menurut data terbaru yang dirangkum dari berbagai daerah, bahan pangan musim panas tahun ini akan sekali lagi berpanen raya, penghasilannya diperkirakan akan mencetak rekor tertinggi dalam sejarah untuk mencapai 1,3 triliun kati(1kg=2Kati)ke atas.

Rakyat adalah dasar tiap negara, dan bahan pangan adalah dasar rakyat. Bahan pangan berkaitan dengan nasib negara dan kehidupan rakyat. Jaminan hak bahan pangan rakyat adalah dasar yang menjamin rakyat menikmati HAM lainya. Penyelesaian masalah sandang pangan bagi ratusan juga warga negara selalu adalah hal terbesar dalam pengelolaan suatu negara.

Presiden Xi Jinping sangat mementingkan produksi dan ketahanan bahan pangan. Ia berpesan agar dengan teguh memikul tanggung jawab ketahanan bahan pangan. Beliau mengajukan strategi ketahanan bahan pangan pada era baru dan memimpin rakyat menempuh jalan bahan pangan beciri khas Tiongkok.Dengan kata lain “piring nasi harus dipegang di tangan diri sendiri”.

Sejak Repelita ke-13, produksi bahan pangan Tiongkok berkembang dengan mantap. Pada tahun 2020, Tiongkok mewujudkan penghasilan bahan pangan sebanyak 1,339 triliun kati, dengan bertambah 11,3 milyar kati dibandingkan tahun 2019 atau meningkat 0,9 persen. Penghasilan per tahun secara berturut-turut mencapai 1,3 triliun kati ke atas dalam waktu 6 tahun lalu. Kepemilikan pangan per kapita mencapai 480 kg ke atas, atau 80 kilogram lebih tinggi daripada garis ketahanan pangan dunia yang berkisar pada 400 kg.

Dari visi seluruh dunia, tantangan ketahanan bahan pangan tetap serius, wabah virus corona yang merebak di seluruh dunia lebih-lebih mendampak ketahanan bahan pangan. Di seluruh dunia, lebih dari 800 juta orang masih kelaparan, perdagangan bahan pangan internasional tetap menghadapi gangguan proteksionisme dan unilateralisme, faktor ketidakpastian kian bertambah, masalah ketahanan bahan pangan global telah menjadi bagian penting dalam perekonomian seluruh dunia.

Sebagai negara berkembang yang terbesar dan populasinya paling banyak di seluruh dunia, Tiongkok dengan teguh memikul tanggung jawab ketahanan bahan pangan dunia melalui perwujudan ketahanan pangan demostik, yakni bertolak dari keadaan dalam negeri, dengan aksi riil bersama berbagai negara untuk menghadapi masalah kelaparan global.

Tiongkok meningkatkan reformasi, keterbukaan dan kerja sama internasional, menjadi negara penyummbang yang penting melalui Program Pangana Dunia(WFP), juga memberikan kontribusi penting di bidang ketahanan bahan pangan melalui pendorongan Satu Sabuk Satu Jalan, Forumm Kerja Sama Tiongkok-Afrika dan Kerja Sama Selatan-Selatan.

Menurut data statistik, sejak tahun 1996, Tiongkok dengan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB(UNFAO) melaksanakan lebih dari 20 program kerja sama Selatan-Selatan, membagi teknologi dan pengalaman pertanian kepada lebih 150 negara dan daerah, membangun lebih 30 pusat dan pos promosi teknologi pertanian diAsia, Afrika dan Amerika Latin. Hanya dalam kerangka UNFAO, Tiongkok total mengirim sebanyak 1.100 ahli atau teknisi pertanian, membagi 1.000 lebih teknologi pertanian.Berkat upayanya produksi bahan pangan setempat termasuk hasil padi dan jagung meningkat 30-60 persen.

Sejauh ini, Tiongkok telah membentuk sebanyak 1.000 perusahaan pertanian di 106 negara dan daerah, membayar pajak sebesar 358 juta dolar AS dan menciptakan lowongan kerja sebanyak 200 ribu sehingga telah memberikan pendorongan kuat bagi perkembangan pertanian di negara-negara penerima bantuan. Tiongkok memainkan peranan lebih positif di bidang ketahanan bahan pangan global, memperlihatkan ketanggungjawaban dalam solusi masalah kelaparan di seluruh dunia, memberikan kontribusi lebih besar dan krusil demi mendorong ketahanan bahan pangan dunia dalam rangka menciptakan dunia yang bebas dari kelapran dan kemiskinan serta dunia yang dapat berkembang berkelanjutan.
