Mungkin Anda adalah salah satu pasien yang masih
diberi nasihat oleh dokter, “jangan makan sayur hijau” jika anda penderita asam
urat. Begitu pula santan dan durian dituduh dokter sebagai pangan berkolesterol
tinggi. Tanpa studi berbasis bukti.
Di level ‘akar rumput’, publik sama sekali tidak
paham apa yang terjadi dengan nalar dan rasionalisasi kompetensi tenaga
kesehatan yang diandaikan mengerti soal gizi. Publik juga tidak paham perbedaan
ranah klinisi dan edukasi. Sehingga, mereka menuduh ahli gizi masyarakat yang
membicarakan edukasi PMBA menyerobot lahan pekerjaan spesialis anak. Lebih gawat
lagi publik (dan nakes sendiri) mengira, ahli gizi masyarakat itu tidak ada.
Yang ada (sekali lagi) dokter spesialis gizi klinik.
Kita perlu prihatin bersama sekaligus memberi
rekomendasi pentingnya mata ajar gizi masyarakat di kurikulum semua tenaga
kesehatan - termasuk dokter.
Dari unggahan di media sosial berdurasi pendek,
masyarakat dibuat bingung dengan nakes yang menganjurkan konsumsi produk-produk
industri yang semestinya justru dikritisi bukan dianjurkan dibeli.
Pemangku jabatan dan kebijakan barangkali sama
sekali tidak menyadari, bahwa mata kuliah gizi tidak ada lagi di kurikulum
pendidikan dokter umum.
Diandaikan gizi ‘sempat di bahas’ di blok penyakit
dalam, atau stase pediatri – ilmu penyakit anak.
Faktanya? Dokter baru lulus saja tidak paham soal
seluk beluk makanan pendamping ASI – yang hanya diulas sekilas. Bagaimana mau
jadi kontributor percepatan pencegahan stunting?
Dan saat ini para dokter umum yang pendidikannya
penuh liku stres itu, menjadi serba takut salah karena batasan kewenangan
spesialisasi yang tidak jelas.
Dokter umum hanya seperti tenaga pembuat surat
pengantar ke spesialis atau rujukan fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Atau
mengobati batuk pilek mencret (yang masyarakat pun sudah pandai ‘mengobati’
dirinya sendiri – bahkan menghajar tubuh dengan antibiotik yang masih bisa
dibeli bebas)
Masyarakat kita sudah terlanjur dikondisikan jika
punya uang lebih, langsung saja ke spesialis (jika perlu jenjang konsultan) -
sebab dokter umum faktanya tidak jauh seperti mantri di pelosok – bahkan bidan
‘jauh lebih keren’ sebab punya kewenangan menangani persalinan sekaligus
menerima praktik pribadi yang melayani ibu dan anak sakit.
Kemiskinan amunisi edukasi gizi tenaga kesehatan
menjadikan masyarakat kita masih berorientasi pada obat, atau ‘pengobatan alami’
(yang didapat dari konten medsos) – ketimbang menghormati tubuh dengan memberi
asupan nutrisi yang benar.
Sebagian tenaga kesehatan akhirnya mengaku mendapat
‘pengetahuan’ soal nutrisi, justru dengan mengikuti seminar-seminar yang
diselenggarakan industri. Ujung-ujungnya, pengetahuan yang didapat amat selektif
dan bersifat berat sebelah. Mereka dibekali amunisi pembelaan berbasis studi
versi industri.
Bukan rahasia umum lagi, penelitian atau studi
skala besar diikuti kebutuhan biaya besar. Yang mustahil diperoleh dengan
cara-cara wajar – apalagi menguras kocek sendiri.
Alhasil penelitian di bidang pangan pun mau tak mau
melibatkan kepentingan pemilik modal. Maka jangan ditanya kenapa di Indonesia,
istilah-istilah yang mestinya sudah mendunia, seperti rafinasi dan produk ultra
proses itu di mata nakes seperti melihat pinguin berbulu hijau. Bahkan dianggap
mengada-ada.
Mereka nol besar dengan pemahaman penggolongan
empat bahan pangan menurut NOVA – yang membedakan pangan utuh segar dari produk
ultra proses yang miskin kekayaan nutrisi, hanya sebatas daftar
komposisi.
Saya bukan makhluk munafik ekstrimis yang
menihilkan kemajuan teknologi pangan. Justru kita bersyukur adanya ilmu baru
yang kian seru. Tapi, bukan untuk menggeser kebutuhan pangan sesungguhnya.
Gunakan teknologi pangan untuk menciptakan produk ekspor, agar orang Inggris
bisa menikmati kripik manggis atau orang Taiwan tergila-gila mie instan rasa
rendang.
Mahasiswa rumpun kesehatan semestinya belajar
perbedaan ranah kodrat dan teknokrat. Agar teknologi tidak kesasar tidak pada
tempatnya. Agar kemajuan bisa dinikmati tepat sasaran dan tidak menyisakan
risiko masa depan.
Kita butuh para pengajar, dosen, yang secara
komprehensif dan kompeten menyampaikan landasan keilmuan yang menghasilkan
tenaga kesehatan, bukan hanya pintar secara kognitif tetapi juga cerdas
mengaplikasikan pengetahuannya secara arif dan bijak. Teknologi mestinya membuat
ikan-ikan kita hasil tangkapan nelayan bisa dibekukan di tempat dalam keadaan
segar, sehingga dinikmati penduduk di pelosok tanah air yang jauh dari
pantai.
Jika demokrasi di ranah politik membuat masyarakat
bergeliat berpendapat dan membuka suasana menjadi dewasa, maka demokrasi di
ranah edukasi gizi tanpa amunisi akan berakibat kita ditertawakan sebagai negara
pemakan kemasan – padahal tanah airnya kaya produk kupasan. Sebab yang dikupas
dan ditangkap dari laut lepas dijual ke tanah asing, yang rakyatnya lebih melek
gizi dan anak-anaknya tumbuh tinggi.
Sementara kita lebih menghargai majunya ekonomi dan
industri. Berharap produk industri bisa mengalahkan hasil bumi. Demi kelihatan
modern praktis ekonomis. Wallahualam
wisawab.