Jakarta
- Polemik pemecatan dr Terawan Agus Putranto dari anggota Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) terus menjadi sorotan. Empat menteri di Kabinet Indonesia Maju
pun ikut angkat bicara.
Diketahui
IDI memecat Terawan dari keanggotaan. Pemecatan Terawan sebagai anggota IDI
berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Keputusan itu
disampaikan dalam Muktamar Ke-31 IDI yang digelar di Aceh.
Terawan
pun tidak diizinkan melakukan praktik kedokteran. Hubungan Terawan dan IDI
diketahui sempat 'panas-dingin'. Hubungan 'panas-dingin' itu terjadi sejak
munculnya terapi cuci otak.
Pemecatan
Terawan itu memicu kritik hingga pembelaan untuk dr Terawan dari berbagai pihak.
Menteri Menkumham Yasonna Laoly dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan
Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjadi salah satu yang
membela dr Terawan.
Baca
juga:
Menkes
Bakal Bertemu dr Terawan Bahas Pemecatan dari IDI
Menkumham
Kecam Pemecatan
Menkumham
Yasonna Laoly menyayangkan pemecatan dr Terawan dari IDI. Yasonna mengaku telah
banyak dibantu Terawan, salah satunya mendapatkan vaksin Nusantara.
"Sebelum
gonjang ganjing keputusan IDI tentang Pemberhentian permanen Let. Jend. TNI
(Purn) Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad sebagai anggota IDI, tanggal
3 Maret 2022 yang lalu, saya sangat beruntung mendapat treatment Vaksin
Nusantara (Vaknus) dari Dr. Terawan," kata Yasonna, dikutip dari akun Instagram
resminya, @yasonna.laoly, Rabu (30/3/2022).
Yasonna
mengaku tidak meragukan kredibilitas Terawan sebagai dokter. Yasonna mengaku
tidak mendapatkan efek samping dari pemakaian vaksin Nusantara itu, bahkan ia
merekomendasikan dua temannya diterapi oleh Terawan.
"Oleh
karena kredibilitas dan keahlian Dr. Terawan yang tidak saya ragukan, sejak lama
saya sangat berminat untuk Vaksin Nusantara. Saya tahu banyak pejabat tinggi
negara yang sudah menerima suntikan Vaknus dari Dr. Terawan, serta sangat
meyakini keampuhannya. I feel great!!! No doubt about it!" kata
Yasonna.
"Pada
saat yang sama, saya membawa dua orang teman yang ingin mengikuti treatment DSA
dari Dr Terawan. Sahabat saya tersebut sangat tertarik karena kesaksian dari
beberapa teman yang telah pernah mendapat treatment DSA. Setelah mendapat
treatment DSA dari Dr. Terawan, seminggu kemudian saya tanya kepada mereka,
bagaimana hasilnya? Mereka berdua mengatakan super dan mantap, dan merekomendasi
saya untuk DSA," imbuhnya.
Baca
juga:
Polemik
Izin Praktik Terawan, Jalan Panjang Pemecatan Sejak
2013
Yasonna
mengaku menyayangkan terkait keputusan IDI memecat Terawan sehingga berdampak
Terawan tidak dapat melakukan praktik. Yasonna menilai justru IDI harus
dievaluasi, ia mengusulkan agar pemerintah membuat undang-undang izin praktik
dokter merupakan domain pemerintah.
"Secara
science, itu adalah bukti empirik! Oleh karenanya, saya sangat menyesalkan
putusan IDI tersebut, apalagi sampai memvonis tidak diizinkan melakukan praktek
untuk melayani pasien," ujar Yasonna.
"Posisi
IDI harus dievaluasi! Kita harus membuat undang-undang yang menegaskan izin
praktek dokter adalah domain pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan.
Kepada Dr. Terawan: 'tetaplah berkarya untuk bangsa dan negara, serta untuk
kemaslahatan umat manusia'," tutur Yasonna.
Menko
PMK Anggap Pemecatan Berlebihan
Menko
PMK Muhadjir Effendy menilai pemecatan dr Terawan berlebihan. Sebab, menurutnya,
permasalahan antara Terawan dan IDI bisa diselesaikan baik-baik.
"Pak
Menkes sudah berbicara dengan saya mengenai langkah yang akan dilakukan. Nanti
akan kita tindak lanjuti," ujarnya di sela kunjungan di Kabupaten Musi Rawas,
Sumatera Selatan, pada Kamis (31/3/2022).
Muhadjir
mengatakan dia telah bertemu dengan Ketua IDI Adib Khumaidi. Menurut Muhadjir,
Terawan dan IDI sama-sama memiliki tujuan baik.
"Jadi
dua-duanya ini (IDI dan dr Terawan) tujuannya sama-sama baik. IDI punya tanggung
jawab menegakkan kode etik profesi, Pak Terawan memiliki panggilan jiwa yang
untuk melakukan terobosan dan inovasi. Hanya mungkin tingkat pertemuannya yang
tidak intens saja kemudian menjadi masalah yang berkepanjangan,"
ucapnya.
Berdasarkan
penjelasan yang diterima, Muhadjir menilai IDI pada prinsipnya terbuka dan akan
mencari titik temu berkait dengan pelanggaran kode etik Terawan. Dia berharap
IDI bisa menegakkan disiplin bagi anggotanya. Tetapi juga bisa memberikan
peluang adanya inovasi dan terobosan yang digagas dan diinisiasi
anggotanya.
"Terobosan
dan inovasi itu kan sangat penting, sehingga ilmu kedokteran Indonesia tidak
mandeg. Kalau tidak ada yang melakukan terobosan inovasi kita khawatir program
percepatan transformasi di bidang kesehatan akan mandek. Perkembangan ilmu dan
praktik kedokteran Indonesia bisa jauh tertinggal," paparnya.
Baca
juga:
Dukung
Terawan, Ahmad Basarah Disuntik Booster Vaksin
Nusantara
Menkes
Akan Segera Bertemu dr Terawan
Menteri
Kesehatan Budi Gunadi Sadikin enggan berkomentar terkait pemecatan dr Terawan
Agus Putranto oleh IDI. Dia ingin semua pihak di lembaga kesehatan berfokus
terhadap masalah yang masih berjalan.
"Ini
kan isu mengenai organisasi dan anggota kami kan ingin agar temen-temen di
sektor kesehatan ini bisa konsen masih banyak masalah kesehatan di Indonesia
yang perlu didalami," kata Budi kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan,
Jakarta, Kamis (31/3/2022).
Meski
begitu, Budi mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan IDI serta dr Terawan
untuk membicarakan terkait pemecatan.
Kemenkes
kata Budi tidak memiliki kewenangan untuk terlalu mendalami persoalan itu. Tapi
dia menyebut Kemenkes akan berupaya memediasi keduanya.
"Jadi
saya memanggil semua, udah bertemu dengan IDI, sudah ketemu dengan Kemenkes,
nanti rencana saya mau ketemu dengan dr Terawan supaya kita berbicara. Memang
bukan wewenang, tapi peran Kemenkes di sini lebih memediasi. Ini kan masalah
internal organisasi. Tapi seenggaknya kita mengimbau agar kita dipakai untuk
energi yang lebih produktif," tuturnya.
Menko
Polhukam Singgung 'Dicuci Otak' dan Vaksin Nusantara
Sementara
itu, Menko Polhukam Mahfud Md mengaku pernah dua kali menjalani terapi cuci otak
oleh dokter Terawan dan divaksin Nusantara. Karena merasa hasil terapi cuci otak
bagus, dia kemudian mengajak istrinya untuk ikut terapi.
Selain
pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga mendapat
suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan. Mahfud mengaku usai
mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya meningkat.
"Saya
juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan sebelum
dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat non-tendis (tenaga
medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau menunggu, tak bisa cepat. Saya juga
tak mau cari-cari booster lewat jalan tol," ujarnya.
Baca
juga:
Prosesnya
Sejak 2013, IDI Bantah 'Pecat' Terawan Tunggu Lengser dari Menkes
"Ketika
saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis dan TNI/POLRI
belum boleh booster maka saya ambil vaksin Nusantara. Antibodi saya naik tinggi
setelah divaksin Nusantara," lanjutnya.
Meski
merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa memberikan komentar
terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah ada mekanisme dan aturan
tersendiri. Namun yang terpenting baginya asalah kesembuhan dan imun tubuh
meningkat.
"Saya
bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait pemberhentian
Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan mekanisme tersendiri. Kalau saya
sendiri sih yang penting sembuh atau imun dari virus," imbuhnya.
(dwia/haf)
Baca
artikel detiknews, "Komentar 4 Menteri Soroti Pemecatan Terawan dari IDI"
selengkapnya