Menarik mengikuti perbincangan pakar militer Connie
Rahakundini sehubungan kasus invasi Rusia di Ukraina dibawah ini:
Dengan jeli Connie mengingatkan kita sejarah Uni Soviet buyar
ditahun 1991 menjadi berapa negara, dimana Ukrina dan Rusia semula adalah SATU
negara! Sedang sengketa yang terjadi merupakan kelanjutan permusuhan Amerika
yang tetap menganggap Rusia ANCAMAN sejak Perang Dingin berhadapan dengan Soviet
Uni.
Bahkan banyak pakar lain lebih tegas menyatakan, ketegangan
disulut oleh AS, dengan mendesak atau menginjak garis merah Rusia, tidak
menghendaki kekuatan dan pengaruh NATO mendesak ketimur, yang menjadi ancaman
keamanan nasional Rusia! Sejak tahun 2004 berturut-turut menggabungkan
negara-negara Eropa timur eks Negara Sosialisme kedalam NATO, yang tentunya
merupakan pelanggaran ketentuan pembentukan NATO sendiri dan menjadi ancaman
kemanan nasional Rusia! Usaha memasukkan Ukranie ditahun 2008 ditentang keras
oleh Rusia, ...!
Keberhasilan AS melancarkan revolusi warna di Ukraina 2019
berhasil menyingkirkan presiden Petro Poroshenko melalui pemilu dengan
kemenangan Zelenksy meraih 73,3% suara! Ternyata Zelensky BUKAN seorang pemimpin
politik cerdas bijaksana yang mengutamakan kepentingan dan keselamatan rakyat
Ukraina yang memilihnya! Zelsenky tidak berhasil membawa kemajuan ekonomi dan
kesejaahteraan rakyat, ... Kecuali merupakan aktor komedi dagelan politik yang
sepenuhnya menjadikan diri pion AS saja!
Dari menuntut Ukraina tergabung dalam NATO, bahkan dicantumkan
dalam konstitusi! Membuat Rusia lebih gerang, ...! Namun Zelensky tanpa
perhitungkan kekuatan sendiri yang jauh lebih lemah/kecil 10 X lipat dibanging
kekuatan militer Rusia, juga tidak memperhitungkan kepentingan nasionalnya
sendiri, terus agresif mendesak tanpa pedulikan ancaman Rusia! Terakhir ini,
meningkatkan dengan larangan penggunaan bhs. Rusia yang sudah menjadi bhs.
nasional sejak Uni Soviet lebih seabad yl. Padahal di Ukraina timur yang
mayoritas suku Rusia Slavia dan pro Rusia! Dengan tuduhan Ukraina melancarkan
genosida bangsa, mereka memisahkan diri menjadi 2 negara merdeka dan segera
diakui oleh Rusia. Barulah 24 Feb. kemarin Rusia mengambil tindakan tegas
melakukan serangan pengeboman belasan titik strategis militer Ukraina dan
menduduki Pembangkit Listrik Nuklir, ... melakukan pengepungan terhadap Kiyv,
ibukota Ukraina.
Nampak jelas, Putin bukan melakukan serangan militer untuk
menaklukkan dan mencaplok Ukraina, ... tapi sekadar memberikan tekanan militer
pada Zelensky untuk duduk dimeja perundingan memenuhi tuntutan: Pertama
mempertahankan netralisasi militer dengan tidak tergabung dalam NATO dan
mencabut tuntutan gabung dalam NATO dari konstitusi; kedua mengakui 2 negara
yang merdeka, Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat
Lugansk.
Mudah2an
saja perundingan bisa segera dilangsungkan dan berhasil diselesaikan secara
damai, ...Tapi kalau saja perundingan gagal dengan berbagai sebab, Rusia tentu
akan meneruskan gunakan kekuatan militer memaksa Ukraina tunduk menuruti
tuntutannya! Jatuh korban lebih banyak dikedua belah pihak tidak dapat
dihindari, ... dan yang paling menderita dan sengsara tentu rakyat Ukraina
sendiri!
Jadi,
mestinya Zelenksy tidak menjadikan diri pion yang dimainkan AS memusuhi dan
menantang Rusia, bisa lebih bebas aktif berperan mendahulukan kepentingan bangsa
dan rakyatnya, baru kapok setelah diserang Rusia, ternyata AS bahkan NATO yang
berada disamping tidak hendak memberi bantuan militer! Bagaimana AS, NATO mau
berkorban demi kepentingan Ukraina?
Betul
kata Connie, Indonesia jangan latah pada AS menjadikan Tiongkok ancaman berat
bahkan ikutan memusuhi Tiongkok! Jangan, ... sebaliknya Indonesia harus
sebaik-baiknya kerjasama dengan Tiongkok demi utamakan kepentingan rakyat
Indonesia sendiri!
Jangan
mau digunakan AS untuk lebih lanjut membuat ketegangan dengan Tiongkok di
perairan Laut Tiongkok Selatan, ... Bukan hanya mengganti nama jadi Laut Natuna,
tapi juga melakukan pemboran Minyak di wilayah perairan laut yang tumpang tindih
dengan 9 Garis-putus yang diklaim Tiongkok itu. Merupakan sikap pemerintah
Jokowi yang dirasakan hendak melepaskan diri dari tuduhan terlalu berkiblat pada
Tiongkok saja, ... Kalau betul Indonesia membutuhkan minyak lebih banyak dari
situ, kenapa pula tidak berani menempuh jalan yang diambil Durtete Filipina,
bekerjasama dengan Tiongkok dengan pembagian 6 : 4. Pembiayaan dan teknologi
sepenuhnya dari Tiongkok, pembagian hasil 60% untuk Tiongkok, 40% untuk
Indonesia; Setelah sekian tahun terbalik, 60% untuk Indonesia dan 40% untuk
Tiongkok. Sama-sama diuntungkan, ... Tanpa bikin tegang LTS!
Video Lengkap Connie Rahakundini dalam Diskusi
Virtual Crosscheck Medcom.id:
Rusia serang Ukraina, China
serang Taiwan?
Indra Maulana
bersama:
Gubernur Lemhanas: Andi
Wijayanto
&
Pakar Militer: Connie
Rahakundini
Effendi Simbolon Nilai Cuitan Jokowi-Kemlu soal Ukraina Tak
Tegas
Adhyasta
Dirgantara - detikNews
Senin,
28 Feb 2022 07:45 WIB

Foto:
Anggota Komisi I DPR fraksi PDIP Effendi Simbolon (Ari Saputra)
Jakarta
- Anggota Komisi I DPR fraksi PDIP Effendi Simbolon mengaku prihatin dengan
cuitan pernyataan sikap yang dirilis oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) soal invasi Rusia ke Ukraina. Effendi menilai
Jokowi tidak tegas.
"Kita
juga prihatin melihat Presiden dan Kemlu tidak tegas ya," ujar Effendi saat
dihubungi, Minggu (27/2/2022).
Effendi
mengatakan Jokowi harus mengambil langkah tegas karena Rusia telah melanggar
hukum internasional. Dia menyayangkan Jokowi tidak punya ketegasan mengingat
Rusia melakukan tindakan yang tak bisa dibenarkan karena menyerang negara
berdaulat.
00:18
/ 00:30
AD
Baca
juga:
Jokowi
Cuit Setop Perang Tanpa 'Rusia', Legislator PD Wanti-wanti Citra Buruk
"Karena
itu kan menginvasi negara yang berdaulat kan sudah pelanggaran hukum
internasional. Bagaimanapun kita harus menentukan ketidak setujuannya,"
tuturnya.
"Kalau
terjadi ke Indonesia kan akan sangat dirugikan kalau sikap yang tidak punya
ketegasan seperti itu. Karena ini kan menginvasi negara yang berdaulat, nggak
bisa dibenarkan itu," sambung Effendi.
by
Impactify
Lebih
lanjut, Effendi mendorong Jokowi segera menentukan sikap yang jelas. Dia turut
menyinggung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 2022 terancam batal.
"Lepas
dari itu sebenarnya Presiden dalam sikapnya bahwa kita tidak mentolerir untuk
operasi militer dan negara ke negara lain yang berdaulat dengan alasan apapun.
Harusnya kita ada sikap yang jelas," imbuhnya.
Baca
juga:
Tak
Ada Penyebutan 'Rusia' di Cuitan Jokowi dan Kemlu RI
Diketahui,
ada yang hilang dari cuitan Jokowi dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI saat
bersikap terkait invasi Rusia ke Ukraina. 'Rusia' sama sekali tak
disebut.
Jokowi
menyampaikan sikapnya terkait kondisi terkini dunia lewat cuitan Twitter pada
Kamis (24/2), yaitu di hari pertama invasi Rusia ke Ukraina. Jokowi meminta
setop perang tapi tak menyebut kepada siapa cuitan itu ditujukan.
"Setop
perang. Perang itu menyengsarakan umat manusia dan membahayakan dunia," demikian
bunyi cuitan Jokowi.
(drg/imk)
Baca
artikel detiknews, "Effendi Simbolon Nilai Cuitan Jokowi-Kemlu soal Ukraina Tak
Tegas" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-5961804/effendi-simbolon-nilai-cuitan-jokowi-kemlu-soal-ukraina-tak-tegas.
Download
Apps Detikcom Sekarang
https://apps.detik.com/detik/