Akademisi: Waspadai konflik SARA dan politik identitas jelang pemilu
2 views
Skip to first unread message
Chan CT
unread,
Sep 12, 2022, 8:19:11 PM9/12/22
Reply to author
Sign in to reply to author
Forward
Sign in to forward
Delete
You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to GELORA45_In
Akademisi: Waspadai konflik
SARA dan politik identitas jelang pemilu
Selasa, 13 September 2022 07:09
WIB
Akademisi dari
Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Surakarta Dr. H. Amir Mahmud M.Ag.
(ANTARA/HO-BNPT)
Jakarta (ANTARA) - Akademisi
Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta Dr. H. Amir Mahmud M.Ag., mengingatkan
semua pihak untuk mewaspadai kelompok radikal yang memanfaatkan momentum
menjelang Pemilu 2024 untuk menghancurkan persatuan bangsa dengan memunculkan
konflik suku, agama, ras dan antargolongan atau SARA dan politik identitas di
tengah masyarakat.
"Sekarang ini hal seperti SARA itu kembali
dimunculkan oleh kelompok-kelompok itu, jadi sudah ada potensi itu dan
tokoh-tokohnya sudah ada yang muncul meskipun yang lain masih merayap," ujar
Amir Mahmud dalam keterangannya dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme
(BNPT) yang diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut ia, menjelang pesta pemilu, bibit-bibit
seperti konflik SARA dan politik identitas sudah mulai dimainkan kembali guna
menggoyahkan stabilitas bangsa yang berlandaskan Pancasila.
Dosen
Pascasarjana Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam UNU ini mengatakan
konflik sekecil apa pun bisa menjadi peluang dan dipandang sebagai potensi oleh
kelompok radikalis untuk kembali mempromosikan sistem kekhilafahan menurut versi
mereka dan menjatuhkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
"Mereka itu
selalu mencari kesempatan atau ruang yang bisa memperoleh atau meraih yang mana
di situ nantinya akan bisa terwujud suatu konflik. Tentunya saat ini gerakan
untuk mengganti (bentuk negara) dengan sistem kekhilafahan ini akan selalu
digaungkan," kata Direktur Amir Mahmud Center yang bergerak dalam bidang kajian
Kontra-Narasi dan Ideologi dari paham radikal terorisme ini.
Untuk itu, ia
menilai pentingnya peran bersama guna mewujudkan daya tangkal masyarakat dari
provokasi isu dan aksi yang menimbulkan konflik perpecahan, demi menjaga
stabilitas, toleransi dan harmoni dalam lingkungan berbangsa bernegara dengan
cara menanamkan nilai moderasi beragama dan wawasan kebangsaan.
"Seperti
selama ini BNPT sebagai lembaga yang telah menjalin kerja sama dengan berbagai
unsur masyarakat dalam membuat narasi, itu saya pikir harus sudah lebih mengarah
kepada pelatihan-pelatihan kepada parastakeholderterkait, lalu
untuk segera disosialisasikan," tuturnya.
Amir Mahmud mengharapkan pelatihan BNPT ini tidak
sekadar pada pertemuan atau sosialisasi, tetapi juga dimunculkan (diterapkan) di
tengah kehidupan masyarakat sehingga bisa diharapkan membawa hasil yang riil dan
benar-benar efektif mengantisipasi semua gerakan kelompok radikal.
"Terutama
kalau kita kaji pada hari ini. Misalkan, peranan dosen dari pendidikan agama
atau universitas yang berkaitan dengan keagamaan dengan masalah moderasi
beragama.Tentunya hal ini adalah untuk mengendurkan upaya-upaya yang dilakukan
oleh kelompok radikal itu semua di lingkungan masyarakat," katanya.
Amir Mahmud
juga berpesan kepada semua pihak, khususnya para tokoh dan organisasi masyarakat
yang moderat, untuk senantiasa berusaha merangkul umat agar memiliki kesadaran
berbangsa dan bernegara serta pemahaman agama yang moderat sehingga dapat
terhindar dari segala bentuk konflik dan provokasi yang mengarah kepada
radikalisme.
"Ini bukan persoalan salah satu agama, tapi juga
di seluruh agama. Itu juga merupakan suatu potensi tentang perkara radikal itu.
Jangan sampai kita disibukkan dengan suatu urusan perpecahan yang tidak pernah
berhenti. Oleh karena itulah, kita harus pahami pemahaman kebersamaan ini,"
katanya.