“Xinjiang tidak bermasalah, bagi kami sangat jelas, tapi memanaskan masalah kerja paksa, genosida ras dan HAM di Xinjiang adalah salah satu tindakan efektif bagi tujuan menjerumuskan pemerintah Tiongkok terperosok dalam kesulitan”. Kata-kata mantan diplomat AS untuk Tiongkok tersebut sekali lagi memperbarui pemahaman publik terhadap sejumlah politikus AS yang terbiasa berbohong tanpa batas itu!

Dikabarkan, untuk mendapat dukungan dan kerja sama dari perusahaan-prusahaan AS, mantan penanggung jawab urusan ekonomi dan politik dari Konsulat AS untuk Guangzhou Tiongkok Sheila Carey dan Andrew Chira dalam sebuah pesta koktail tertutup mengungkap intriknya dengan memainkan kartu Xinjiang. Para peserta pesta itu secara diam-diam mengecamnya sangat gila, karena pembuatan rumor terkait Xinjiang tidak akan mendatangkan keuntungan bagi mereka.

Jika hal itu terbukti benar, masyarakat tidak akan merasa aneh, karena ‘kejujuran AS’ bukan hanya sekali saja. Membuat rumor, memfitnah, berbohong, menyebarluaskan kabar palsu... kegiatan-kegiatan AS terkait masalah Xinjiang sama sekali tidak mempunyai garis batas.
Justru pada akhir bulan Mei lalu, AS sekali lagi membuat lelucon politik terhadap kunjungan utusan senior HAM PBB Veronica Michelle Bachelet Jeria ke Tiongkok, Departemen Luar Negeri AS memfitnah kunjungannya terbatas dan dimanipulasi, bahkan media sosial AS menuntut Bachelet meletakkan jabatannya.
Peribahasa Barat berbunyi, jika kamu berbohong, jadi akan membuat seratus kebohongan untuk menutupinya. Maka betapa banyak kebohongan tidak akan menyangkal kenyataan Xinjiang yang sosialnya stabil dan makmur, rakyatnya hidup dan bekerja dengan bahagia.
Menurut data statistik yang diumumkan pemerintah setempat Xinjiang, antara bulan Januari sampai Mei tahun 2022, di kota-kota Xinjiang bertambah 263 lapangan kerja baru, atau setara 57,17 persen dari target 460 ribu lowongan kerja sepanjang tahun.
Di tengah kondisi ekonomi merosot akibat kasus wabah virus corona melonjak, tentu prestasi ini sangat sulit tercapai. Rakyat Xinjiang menunjukkan, dirinya menikmati kehidupan yang sejahtera melalui rajin bekerja, bagaimana mungkin perlu diaksa? AS saja yang membuat kebohongan justru bertujuan menekan perkembangan ekonomi Xinjiang dari rantai industri dan rantai pasokan, sebagai upaya menghambat proses modernisasi sosial dan ekonomi Xinjiang.
Adalah masuk akal jika masyarakat meragukan ‘kepedulian’ AS terhadap kaum Muslim Xinjiang, padahal ‘perang anti teror’ yang dilancarkan oleh AS justru telah mengakibatkan banyak korban tewas dan cedera. Memang politikus AS perlu menjelaskan dengan sebaik-baiknya atas kebohongan masalah Xinjiang.