Anggota Dewan Negara merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, hari Rabu kemarin (30/3) mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang menghadiri Pertemuan ke-3 Menteri Luar Negeri Negara-negara Tetangga Afghanistan di Tunxi, Provinsi Anhui, Tiongkok.
Kedua pihak menekankan perlunya mengimplementasi kesepahaman penting
yang dicapai pemimpin kedua negara dan memajukan hubungan Tiongkok-Rusia ke
level yang lebih tinggi.
Sergey Lavrov melaporkan keadaan perundingan Rusia-Ukraina, ia menyatakan bahwa Rusia berupaya meredakan ketegangan situasi, dan akan terus mengadakan perundingan damai dengan Ukraina, serta memelihara komunikasi dengan masyarakat internasional.
Wang Yi mengatakan, isu Ukraina memiliki sejarah dan asal-usul yang kompleks, merupakan letusan dari konflik keamanan Eropa yang telah lama menumpuk, juga merupakan akibat pikiran Perang Dingin dan perlawanan grup.
Dalam situasi dewasa ini, Tiongkok mendukung Rusia dan Ukraina mengatasi kesulitan dan meneruskan perundingan damai, mendukung hasil positif yang telah dicapai selama ini, mendukung segera terwujudnya peredaan situasi, serta mendukung upaya Rusia dan pihak-pihak lainnya untuk mencegah terjadinya krisis kemanusiaan berskala besar.
Ditinjau dari jangka panjang, berbagai pihak hendaknya belajar dari krisis Ukraina, mempertahankan prinsip saling menghormati dan keamanan tak terpisahkan, menanggapi keprihatinan rasional berbagai pihak terhadap keamanan, serta membangun kerangka keamanan Eropa yang seimbang, efektif dan berkelanjutan melalui dialog dan perundingan dalam rangka mewujudkan ketenteraman kekal di Eropa.
Jubir Kemlu Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa pers hari Rabu kemarin
(30/3) menyatakan, pihak Tiongkok menyatakan keprihatinan atas masalah
diskriminasi dan kejahatan kebencian terhadap keturunan Asia di AS, mendesak
pemerintah AS mendengarkan imbauan masyarakat internasional, dan tidak
terus menjadi contoh negatif standar ganda HAM.
Menurut laporan, hasil survei Federasi Asia-Amerika menunjukkan, 75% orang lansia keturunan Asia di New York City menyatakan tidak berani keluar rumah karena kekerasan anti keturunan Asia. Mengenai hal tersebut, Wang Wenbin menyatakan, ini adalah noda HAM AS, dan juga sindiran terhadap “kebebasan setara” yang dibanggakan oleh AS. Dalam sidang Dewan HAM PBB ke-48, banyak negara bersama mengecam AS sebagai “perusak terbesar usaha HAM dunia”, dan mendesak AS menyelesaikan masalah HAM-nya sendiri yang serius.