Kisah Eks Tapol Lukas Tumiso, Dari Penjara Hingga Pulau Buru
2 views
Skip to first unread message
Chan CT
unread,
Sep 29, 2022, 9:01:11 PM9/29/22
Reply to author
Sign in to reply to author
Forward
Sign in to forward
Delete
You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to GELORA45_In
Kisah
Eks Tapol Lukas Tumiso, Dari Penjara Hingga Pulau Buru Nada
Celesta - detikNews Jumat,
30 Sep 2022 06:05 WIB
Jakarta
- Di balik garis wajah keriput serta tangan yang gemetaran, ada sorot mata tajam
dan derap langkah mantap. Ia tinggal dan mengisi hari-harinya di sebuah Panti
Jompo Waluya Sejati Abadi, Kramat 5, Jakarta Pusat. Dia adalah penghuni terakhir
gedung tua itu. Kawan-kawan sesama penghuni banyak yang telah meninggal dunia
atau kembali ke keluarga. Dengan membaca buku, rasa sepi sejenak menghilang dan
otaknya tetap terasah. "Kalau
saya diajak ngobrol itu otak saya masih fresh, masih fresh. Karena saya membaca
buku," katanya.
Laki-laki
tua itu adalah Lukas Tumiso. Semasa muda, Lukas atau yang biasa dipanggil Cak So
adalah seorang guru yang juga sedang menjalani pendidikan di IKIP Surabaya. Saat
itu,ia tergabung dalam Resimen Mahasurya Jawa Timur, organisasi pemuda pro
Soekarno. Keterlibatan dalam organisasi inilah yang menyebabkan ia ditangkap di
era Presiden Soeharto.
"Desember
(1965) ditangkap, ditangkap itu biasa aja, saya didatangi, diajak bicara, naik
Jeep, dibawa ke Kodim (Komando Distrik Militer, red). Setelah di Kodim, pindah
ke Koblen, Koblen pindah ke Kalisosok, setelah berapa bulan, pindah ke
Nusakambangan. Kita dibawa ke Pulau Buru tanggal 17 Agustus 1969," kenang Lukas
di program Sosok detikcom (30/9/22).
10
tahun lamanya Lukas ditahan di Pulau Buru bersama dengan 12 ribu tahanan politik
lainnya. Namun, Lukas mengaku bahwa Pulau Buru bukanlah penjara yang paling
berat. Menurut penuturannya, penjara Kalisosok Surabaya adalah yang paling
menyeramkan.
"Kalau
di penjara di Kalisosok Surabaya itu, penjaranya itu lebih kejam dari penjara
yang lain. Satu sel itu (harusnya) isinya 15 orang, itu bisa diisi 40 orang.
Sehingga tidur saja bergantian. Dan dalam posisi berdiri. Dan yang mati itu
hampir 60%. Dan yang mati tidak kita laporkan. Mengapa tidak kita laporkan?
Supaya jatah makannya bisa kita terima," kata Lukas.
Di
Buru, ia menggambarkan kondisi saat itu bagai kuda yang lepas dari kandang.
Meski demikian, 'kebebasan' yang ia rasakan juga penuh dengan keterbatasan.
Suplai makanan dari pemerintah hanya bertahan 6 bulan. Sementara itu, untuk
menyambung hidupnya di pulau asing, ia mengambil sagu di kebun milik warga.
Dengan peralatan seadanya, Lukas mengolah sendiri bahan makanan curian
itu.
Pembebasannya
dari Buru pada 1979 bukanlah akhir penderitaannya. Status baru yang disandangnya
sebagai bekas tahanan politik menjadi ganjalan Lukas untuk kembali ke profesi
sebagai guru. Cap yang dihasilkan dari propaganda anti PKI berdampak besar pada
hidupnya. Tidak ada jalan lain, dirinya pun melakukan apapun untuk
mempertahankan hidup termasuk merintis usaha material bangunan.
Kebutuhan
Lukas Tumiso di masa tua, halaman selanjutnya.
Puluhan
tahun berlalu. Secara fisik, hidup Lukas berubah. Kini, ia tidak perlu lagi
mengais untuk mengisi perutnya. Tempat tinggalnya kini cukup menyediakan
kebutuhan untuk hidup. Namun, ia menyadari, ada hal lain yang membuatnya
gelisah. Di usianya kini, ia merindukan sosok seorang istri.
"Ternyata
hari-hari terakhir itu memang butuh. Ada yang diajak bicara, ternyata itu
perlu," terang Lukas.
Di
balik keresahan serta kondisi fisik yang tidak lagi muda, ada semangat yang
masih sama. Tidak ada penyesalan, melainkan perjuangan mencari keadilan. Untuk
itu, di waktu-waktu tertentu ia turun ke jalan mendukung aksi Kamisan. Sebagai
bentuk antusiasmenya, ia membuat sendiri properti untuk aksi: tengkorak dan
tulang belulang dari bubur kertas.
Dalam
beberapa kesempatan, ia berusaha menularkan semangat itu kepada para generasi
muda yang ditemuinya. Lukas ingin mereka mengingat masa kelam dan gelap saat dia
dan ribuan orang dibantai dan diasingkan. Untuk merawat ingatan itu, Lukas
sesekali mengunjungi Pulau Buru. Di sana, ia merenovasi makam kawan-kawan sesama
tahanan yang meninggal dan tidak sempat dipulangkan.