15 03 2022
AKHIRNYA Rusia
sampai pada putusan ini: meroket kompleks militer Yavoriv.
Sebenarnya itu sangat riskan. Yavoriv terlalu dekat
ke perbatasan dengan Polandia. Tidak sampai 10 Km dari negara anggota NATO itu.
Meleset sedikit bisa menjadi penyebab perang dunia.
Apalagi jumlah roketnya sampai 30 moncong. Yang
meledak hampir bersamaan. Akibatnya sangat besar: lebih 30 orang tewas dan lebih
100 orang terluka.
Tapi sampai tadi malam, lebih 40 jam setelah
peristiwa, belum saling membuka data: dari mana roket itu diluncurkan. Dari satu
tempat atau dari banyak lokasi. Dan yang penting siapa dan dari mana saja yang
tewas itu.
Sepertinya terlalu banyak rahasia di balik serangan
ke Yavoriv ini. Barat tidak segera mengumumkan: dari mana asal roket itu. Seolah
ada aib di dalamnya: kok roket-roket tersebut tidak bisa ditepis ketika masih di
udara.
Mestinya Rusia menembakkannya dari jarak jauh.
Memang, sudah 18 hari Rusia menyerang Ukraina. Tapi, tentara Rusia baru
menguasai wilayah timur, selatan dan utara. Belum ada pergerakan militer sama
sekali di wilayah barat Ukraina.
Meski dari jauh, roket-roket itu mestinya,
diluncurkan dari dalam negeri Ukraina. Dari arah timur. Berarti dari jarak
sekitar 600-900 km. Sangat kecil kemungkinan roket-roket itu diluncurkan dari
daratan Rusia: terlalu memancing ketegangan internasional.
Mengapa Yavoriv yang diserang, Rusia punya dalih
khusus: Yavoriv bukan kompleks militer biasa. Intelijen Rusia mendeteksi di
situlah berkumpul tentara asing yang berperang membela Ukraina.
Sebenarnya itu juga bukan rahasia lagi. Tentara
Amerika, Kanada dan negara Barat lainnya memang ada di situ. Bukan baru
sekarang. Secara legal. Mereka melatih tentara Ukraina. Latihan itu berdasar
perjanjian kerja sama antara NATO dan Ukraina. Berarti, meski belum menjadi
anggota NATO, Ukraina sudah menerima jasa NATO beberapa tahun
terakhir.
Kompleks militer Yavoriv seluas hampir 350 hektare.
Sudah ada sejak tahun 1939 –sebelum Uni Soviet menguasai Polandia. Yavoriv juga
menjadi pusat latihan militer penjaga perdamaian dunia.
Sebenarnya menarik sekali kalau data serangan ini
dibuka: siapa saja yang meninggal dunia –dan yang terluka itu. Dan yang penting,
mereka dari mana saja. Yang jelas, sebelum serangan Rusia 24 Februari lalu
memang banyak tentara dari Florida ada di Yavoriv.
Kalau saja banyak tentara Barat yang tewas,
dampaknya bisa panjang: Barat bisa terprovokasi lebih dalam.
Rusia sendiri terus melakukan konsolidasi di daerah
yang sudah ia kuasai. Termasuk mengganti wali kotanya.
Misal: di kota Melitopol. Di bagian
selatan.
Wali kota hasil Pilkada Melitopol ditangkap.
Ditahan. Dengan tuduhan melakukan tindakan terorisme. Namanya: Ivan
Fedorov.
DPRD setempat lantas menetapkan seorang wanita
anggota legislatif di situ menjadi wali kota: Galina Danilchenko.
Tentu, pemerintah pusat Ukraina langsung ambil
sikap: memperkarakan Galina. Dengan tuduhan sangat berat: pengkhianat
negara.
Pemerintah pun menyerukan agar Rusia segera
membebaskan Ivan Fedorov.
Melitopol memang bukan kota besar. Penduduknya
tidak sampai 200.000. Tapi posisi kota ini strategis: di simpang empat jalur
utama trans Eropa. Kereta-kereta antar negara melewati Melitopol. Ia seperti
kota Prabumulih –punya simpang empat ke segala jurusan di Sumatera
Selatan.
Dari Melitopol ini sasaran berikutnya sangat jelas:
Odesa. Pelabuhan terbesar di Ukraina. Pelabuhan itu sendiri sekarang sudah
terkunci. Akses ke Laut Hitam sudah diblokir Rusia.
Dari Maletopol, ke utara sedikit sudah sampai
kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Ukraina - -juga di Eropa.
Dan itu sudah dikuasai Rusia.
Maka serangan ke Yavoriv yang nun di Barat
kelihatannya punya tujuan khusus: untuk memutus jalur bantuan dari barat. Itu
dianggap penting mana kala Rusia akan bergerak menjatuhkan ibu kota Ukraina,
Kiev. Dan itu sudah dimulai Minggu dini hari lalu. Media Barat melaporkan
semakin sering terdengar ledakan di Kiev.
Kiev sudah seperti terkepung.
Misalkan, Kiev jatuh dalam seminggu ini, bagaimana
nasib Presiden Volodymyr Zelenskyy. Dilarikan ke negara Barat? Menyerah jadi
tawanan? Melawan sampai titik darah penghabisan?
Ataukah di saat kritis itu Barat akhirnya turun
tangan secara langsung? Dengan alasan yang sudah tersedia —serangan ke kompleks
pelatihan perdamaian dunia itu?
Anggota DPR di Amerika sudah mulai bersuara: sudah
saatnya Amerika kirim pesawat tempur ke Ukraina –bukan hanya peralatan militer.
Memang itu belum mencerminkan sikap DPR –apalagi sikap pemerintah. Namun suara
seperti itu merupakan perkembangan baru di sana. Apalagi sampai diliput media
main stream yang jadi sumber penulisan ini.
Setidaknya Amerika masih terus meningkatkan tekanan
secara ekonomi. Senjata ekonomi sudah dianggap seperti senjata nuklir: akan
melumpuhkan Rusia. Terakhir, pun sampai larangan impor minuman keras
Vodka.
Sebaliknya masyarakat umum Amerika sudah mulai pula
merasakan secara langsung dampak perang di Ukraina: harga-harga naik. Sampai ke
harga daging, tarif ke salon dan apa saja. Tidak lagi hanya ke harga
bensin.
Perkembangan harga-harga di Amerika itu sangat
memprihatinkan: meningkatkan inflasi yang sudah tinggi. Tapi juga bisa menghibur
kita: you will never walk alone. (Dahlan
Iskan)