Ragam
Kisah Mengenang Guru Bangsa Buya Syafii Maarif yang Berpulang
Tim
detikcom - detikNews
Sabtu,
28 Mei 2022 06:20 WIB

Ahmad
Syafii Maarif (Ristu Hanafi/detikcom)
Jakarta
- Indonesia kehilangan satu guru bangsa, Ahmad Syafii Maarif. Presiden hingga
tokoh-tokoh nasional mengenang Buya Syaffii yang telah berpulang ke
rahmatullah.
Buya
Syafii meninggal dunia pada Jumat (27/5). Almarhum disemayamkan di Masjid Gedhe
Kauman, tak jauh dari Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kemudian,
dia dimakamkan di Pemakaman Muhammadiyah, Dusun Donomulyo, Kapanewon Nanggulan,
Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Baca
juga:
Prabowo
Berduka atas Wafatnya Syafii Maarif: Indonesia Kehilangan
Berikut
adalah kenangan para tokoh nasional tentang Syafii Maarif:Jokowi
Presiden
Joko Widodo (Jokowi) mengenang Buya Syafii sebagai teladan. Dia mendatangi
kediaman Syafii Maarif di Kabupaten Sleman, Sabtu (26/3) lalu, kemudian sempat
menjenguk Syafii Maarif di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Gamping, Sleman. Syafii
Maarif kemudian wafat."Selamat
jalan Sang Guru Bangsa," kata Jokowi lewat akun Twitter-nya.
Presiden Jokowi datang ke Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, untuk
melayat almarhum Ahmad Syafii Maarif. Selain itu, Jokowi juga melepas almarhum
Buya Syafii untuk dimakamkan sore ini. Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat
Presiden
Di
Masjid Gede Kauman Yogyakarta, Jokowi menyatakan Syafii Maarif adalah kader
terbaik Muhammadiyah yang senantiasa menyarakan keberagaman dan toleransi
beragama. Selain itu, Syafii Maarif juga tidak hidup bermewah-mewah.
"Beliau
guru bangsa, hidup dalam kesederhanaan," kata Jokowi.
Baca
juga:
Jokowi
Ikut Salat Jenazah Buya Syafii Maarif di Masjid Gede
Kauman
Ma'ruf
Amin
Wakil
Presiden Ma'ruf Amin mengenang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu. Dia
menilai Syafii Maarif adalah ulama moderat.
"Keteladanan
beliau wajib kita teruskan. Sebagai guru bangsa, pemikiran-pemikiran beliau
sangat menyejukkan, moderat, dan dapat diterima lintas generasi," kata Ma'ruf
dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (27/05).
Amien
Rais
Mantan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Amien Rais, turut berbela sungkawa. Dia mengenang
koleganya di ormas Islam tertua di Indonesia itu. Amien yang kini memimpin
Partai Ummat menganggap Syafii Maarif sebagai sahabatnya.
"Pada
hari ini saya berdukacita sangat mendalam karena sahabat saya, karib saya, sejak
muda sampai setua ini, saya sebagai saksi bahwa dalam kehidupan yang panjang
almarhum telah banyak jasanya buat Muhammadiyah, buat bangsa kita," ucap Amien
dalam video yang diterima detikcom.

Amien
Rais dan Buya Syafii Maarif di kantor PP Muhammadiyah, Senin (19/11/2018). Foto:
Istimewa
Masih
dari kolega Muhammadiyah, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin
berharap agar ada kader yang meneruskan karakter Syafii Maarif. Lebih dari itu,
wafatnya Syafii Maarif bukan terbatas sebagai kehilangan Muhammadiyah
saja.
"Tapi
bagi bangsa Indonesia dan dunia Islam," ujar Din.
Baca
juga:
Masjid
Al Akbar Surabaya Gelar Salat Gaib untuk Buya Syafii
Maarif
Sri
Sultan HB X
Gubernur
DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan kepergian Syafii Maarif merupakan
kehilangan bagi Yogyakarta. Sultan mengenang sosok Syafii Maarif sebagai pria
sepuh berwawasan luas.
"Tapi
lembut di dalam membangun komunikasi dengan kearifannya," kata Sultan.
Putri
Gus Dur
Putri
Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid, menyatakan Buya
Syafii adalah sosok yang berhati bersih dan bernurani jernih. Almarhum semasa
hidup adalah tempat Alissa meminta petuah. Tokoh Muhammadiyah itu juga merupakan
sosok yang dihormati ayahnya."Buya
adalah tokoh yang sangat dihormati #GusDur," kata Alissa.
Kiai
Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (Istimewa/Getty
Images)
Jusuf
Kalla
Wakil
Presiden ke-10 dan 12 RI yang juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI),
Jusuf Kalla (JK) menyebut Syafii Maarif sebagai pembimbing bangsa Indonesia.
Jasa Syafii Maarif tidak terbatas pada Muhammadiyah saja, tapi juga berjasa bagi
Indonesia."Kami
sekeluarga dan seluruh pengurus Dewan Masjid Indonesia mengungkapkan duka cita
yang mendalam atas berpulangnya almarhum bapak Syafii Maarif yang selama ini
menjadi guru bangsa, negarawan pembimbing kita semua," kata JK dalam
keterangannya.Baca
juga:
Buya
Syafii Soal Sikap RI Terhadap Konflik Rusia-Ukraina: Bebas Aktif
Saja
Hubungan
JK dan Ahmad Syafii Maarif terbilang sangat dekat. Istilah JK sebagai the real
Presiden saat mendampingi SBY selaku wakil Presiden, terlontar dari almarhum.
Yang kemudian diluruskan oleh Jusuf Kalla, bahwa dirinya seorang the real vice
President.
Mahfud
Md
Menteri
Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud Md
menyebut Syafii Maarif sebagai tokoh besar. Ide-ide Syafii harus dilanjutkan
oleh generasi muda supaya Indonesia bisa rukun, bersatu, kompak, dan saling
membantu. Syafii mengajarkan kosmopolitanisme. dan memedomani Pancasila dalam
hidup berbangsa dan bernegara."Kehilangan
seorang tokoh besar Buya Syafii Maarif meskipun beliau bukan seorang ningrat
bisa disebut seorang bangsawan. Bangsawan dalam arti bahwa dia selalu berpikir
untuk kepentingan bangsanya sampai saat-saat terakhir," kata Mahfud ditemui di
Masjid Gedhe Kauman.
Menko
Polhukam Mahfud Md Foto: Rahmatia Miralena/detikcom
Lebih
lanjut, Mahfud menceritakan bahwa dirinya punya kenangan yang dalam dengan Buya.
Dulu dia merupakan asisten Buya. "Saya mengajar itu bersama Pak Syafii saya
sebagai asistennya saya punya kenangan yang cukup dalam," ucapnya.
Bersama
Buya, Mahfud mengajar mata kuliah Pancasila 2 selama satu semester. "Saya adalah
asisten Pak Syafii ketika mengajar mata kuliah Pancasila 2. Pancasila 2 itu
pancasila filsafat kenegaraan," tutupnya.
Selanjutnya,
Ahok:
Simak
Video: Buya Syafii di Mata Jokowi Hingga JK, Negarawan Penyuara
Toleransi
Ahok
Basuki
Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok juga turut berbela sungkawa atas kepergian
Syafii Maarif. Di mata mantan Gubernur DKI yang kini duduk sebagai Komisaris
Utama Pertamina ini, Syafii Maarif adalah sosok teladan dalam
keberagaman."Bangsa
Indonesia sangat kehilangan negarawan seperti beliau yang telah menjadi teladan
dan insipirasi bagi kami dalam merawat kebinekaan," kata Ahok.
Ahok
makan siang bersama Buya Syafii Foto: Screenshot Instagram
basukibtp
Ketua
MPR
Ketua
MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengenang ajaran Syafii Maarif untuk bersaudara
dalam perbedaan. Dia juga mengenang kisahnya yang mengagumi Syafii Maarif
sebagai wartawan.
"Sebagai
orang yang pernah menggeluti dunia jurnalistik, saya punya kekaguman tersendiri
terhadap Buya Syafii Maarif. Analisis dan tulisan Buya sangat tajam dan
mendalam. Keberpihakannya kepada kebenaran dan keadilan jauh melampaui para
jurnalis pada umumnya. Lebih dari itu, Buya adalah sosok negarawan yang
istiqomah membela kebinekaan dan kemajemukan demi keutuhan NKRI," jelas
Bamsoet.
Baca
juga:
Jusuf
Kalla Kenang Buya Syafii Maarif Sebagai Guru Bangsa
Menag
hingga Menteri BUMN
Menteri
Agama Yaqut Cholil Qoumas juga menyebut Syafii Maarif sebagai guru bangsa.
Menurutnya, Syafii Maarif bukan hanya intelektual namun juga ulama."Meninggalnya
ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa
ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam...," ucap Yaqut mengutip
salah satu hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan Imam al-Tabrani dan
al-Baihaqi.Menag
Yaqut Cholil dan istri saat ditemui di Leteh, Rembang. Foto: Mukhammad
Fadlil/detikJatengAirlangga
Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketum Partai Golkar
mengaku sangat kehilangan sosok panutan. Dia bakal rindu dikritik Syafii
Maarif."Wejangannya,
nasihatnya, dan kritik-kritiknya, akan kami rindukan. Saya mewakili seluruh
kader Golkar di seluruh nusantara menyampaikan duka mendalam, dan mendoakan agar
Buya Syafii mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amin," ujar
Airlangga.Menteri
Koordinator Bidang Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate merasa
Indonesia kehilangan pengayom bangsa. Syafii adalah panutan kemajemukan bangsa
dan jangka negara.Menteri
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar
Makarim menuturkan kepergian Syafii Maarif adalah kehilangan besar bagi bangsa
Indonesia. Syafii perlu diteladani semua orang. Syafii adalah pengawal
toleransi.Menteri
Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga berduka. Dalam kenangannya, Syafii Maarif
adalah sosok yang berkontribusi pada perkembangan perekonomian nasional serta
beragam tatanan kebijakan dalam kehidupan berbangsa. Sumbangsih Syafii tak
ternilai dan perlu dilanjutkan.Erick
Thohir, Menteri BUMN, mengenang masa-masa saat Almarhum masih giat menulis di
kolom Resonansi milik koran Republika. Erick dulu duduk sebagai Direktur Utama
di surat kabar itu. 18 Tahun Syafii Maarif menyumbangkan buah
pikirannya."Tak
berlebihan jika kami semua memanggilmu Guru Bangsa. Lewat kegigihan Buya Syafii
dalam pengajaran dan konsistensi beliau dalam menulis, kita semua bisa memiliki
cakrawala berpikir yang lebih luas lagi," kata Erick.Menteri
Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menilai
Syafii sebagai sosok yang ramah dan toleran. Syafii senantiasa mengingatkan
Islam yang ramah. Hal ini disampaikan oleh Sekjen Partai Gerindra, Ahmad
Muzani.Selanjutnya
BPIP:BPIPKepala
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi mengenang Syafii
sebagai ulama dan pemikir Islam kontemporer. Syafii juga menjadi guru dan juga
berperan menghantarkan dirinya memperoleh beasiswa untuk studi lanjut di McGill
University dan mengajar di School of Law, Harvard University.Buya
Syafii yang telah menjadi anggota Dewan Pengarah BPIP juga telah menulis lebih
dari puluhan buku yang sebagian besar mengulik isu pembumian Islam, pendidikan,
hingga Kebhinekaan.Seperti
bukunya yang berjudul; Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi tentang Percaturan
dalam Konstituante (1985), Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan:
Sebuah Refleksi Sejarah (2009), Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia
(1993), Membumikan Islam (2019) dan karya-karya lainnya.Kepala
BPIP, Yudian Wahyudi (Foto: BPIP)Melalui
karya-karya dan kontribusinya pada tahun 2008 Buya Syafii juga dianugerahi
penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina.Buya
juga pernah memimpin Muhammadiyah dengan ditunjuk sebagai Ketua Umum Pengurus
Pusat Muhammadiyah dari tahun 2000 hingga tahun 2005. Sementara pada tahun 2017
Buya Syafii dilantik sebagai Dewan Pengarah BPIP RI yang saat itu masih bernama
Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila."Berpulangnya
Buya Syafii merupakan kehilangan besar bagi Bangsa Indonesia. Tulisan dan
gagasan beliau yang mengedepankan hati nurani di atas kepentingan politik sesaat
selalu menjadi oase bagi apatisme publik," ungkap Yudian dalam keterangan
tertulis.(dnu/dnu)Baca
artikel detiknews, "Ragam Kisah Mengenang Guru Bangsa Buya Syafii Maarif yang
Berpulang" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-6098969/ragam-kisah-mengenang-guru-bangsa-buya-syafii-maarif-yang-berpulang.
Download
Apps Detikcom Sekarang
https://apps.detik.com/detik/