Hari Minggu lalu (29/5) adalah ‘Hari Internasional Penjaga Perdamaian PBB’. Di depan jumpa pers hari Senin kemarin (30/5), Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian memperkenalkan partisipasi Tiongkok dalam kegiatan pemeliharaan perdamaian PBB. Dikatakannya bahwa “Helm Biru” Tiongkok telah menjadi kekuatan utama Pasukan Penjaga Perdamaian PBB.
Zhao Lijian memperkenalkan, Tiongkok mengirim pengamat militernya ke PBB pada tahun 1990, dan sejak itu, Tiongkok mulai mengikuti aksi pemeliharaan perdamaian PBB. Kemudian, Tiongkok mengirim ‘Pasukan Helm Biru’ pertama dalam aksi pemeliharaan perdamaian PBB pada tahun 1992. Selama lebih dari 30 tahun ini, Tiongkok telah mengirim total sekitar 50 ribu prajurit dalam aksi pemeliharaan perdamaian PBB di lebih dari 20 negara dan daerah, dan terdapat 16 prajurit dan perwira berkorban yang menyumbangkan jiwanya.
Zhao Lijian menunjukkan, kini Tiongkok adalah negara besar kedua yang menanggung iuran pemeliharaan perdamaian PBB dan negara pertama pengirim pasukan sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, total sekitar 2,2 ribu prajurit dan perwira Tiongkok sedang bertugas di 8 zona tugas pemeliharaan perdamaian.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian di depan jumpa pers hari Senin kemarin (30/5) membicarakan apa yang disebut ‘Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik’. Dia menunjukkan, rahasia kesuksesan Asia-Pasifik adalah kerja sama dan kemenangan bersama bukanlah konfrontasi zero-sum.
Di depan Konferensi Internsional ke-27 tentang Masa Depan Asia (FOA 2022), Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir bin Mohamad mengatakan, ‘Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik’ bersifat politik bukan ekonomi, bertujuan untuk menyingkirkan dan melawan Tiongkok. Tiongkok telah memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi negara-negara lain, namun malah disingkirkan.
Pertumbuhan ekonomi membutuhkan kestabilan bukan konflik, Amerika Serikat bersikeras menyingkirkan Tiongkok dan mengirim kapal perang ke Laut Tiongkok Selatan, hal itu berkemungkinan mengakibatkan peristiwa di luar dugaan bahkan kekerasan atau peperangan, dan ini tidak menguntungkan pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN. Hendaknya dihindarkan peningkatan konflik AS-Tiongkok demi memelihara kestabilan kawasan.
Zhao Lijian ketika menanggapi hal tersebut mengatakan bahwa apa yang dikatakan mantan Perdana Menteri Mahathir bin Mohamad tersebut benar dan mewakili pendirian kebanyakan negara di kawasan, juga telah menjelaskan hal yang paling diperhatikan dan diinginkan oleh negara-negara kawasannya, yaitu perdamaian, kestabilan dan pertumbuhan ekonomi di kawasan. Inilah tren zaman dan kehendak rakyat.
AS membelakangi arah tersebut dan mempolitisasi isu ekonomi demi kepentingannya sendiri dengan merugikan kepentingan negara lain bahkan seluruh kawasan, tindakan tersebut tidak akan memperoleh dukungan dan tidak akan berhasil.