Solo
- Sejarah arus utama mencatat Amir Syarifudin sebagai tokoh komunis yang
terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. Namun, di balik sejarah
kelam tersebut, banyak hal baik yang patut dikenang dari pejuang kemerdekaan
sejak zaman pendudukan Jepang itu.
Dalam
bukunya yang berjudul Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan (Yayasan Bentang
Budaya, 1997), Soe Hok Gie, menuliskan Amir Syarifudin dieksekusi oleh regu
tembak di Kampung Ngaliyan, Kelurahan Lalung, Karanganyar, Jawa Tengah, pada 19
Desember 1948.
Mantan
perdana menteri RI di era Presiden Soekarno itu dieksekusi bersama 10 tokoh PKI
lain dan dimakamkan dalam satu liang lahat. Hingga kini, makam kesebelas orang
itu masih ada di Taman Permakaman Umum (TPU) Ngaliyan.
TPU
Ngaliyan berjarak tiga kilometer dari kantor Bupati Karanganyar, sekitar 200
meter dari jalan raya penghubung Kabupaten Karanganyar-Wonogiri. Makam Amir
Syarifuddin dkk berada di sisi utara. Dari 11 nisan yang berjajar rapi itu, satu
di antaranya dibuat dari keramik merah.
Baca
juga:
Kenapa
PM Amir Syarifudin Berpaham Komunis? Ini Kata Soe Hok
Gie
Di
bawah nisan merah itulah bersemayam jasad Amir Sjarifuddin. Sedangkan 10 makam
lainnya hanya terbuat dari semen. Pada 26 September 2021, dikutip dari
detikNews, kondisi 11 makam ini tampak tak terawat dan penuh semak
belukar.
Namun,
kondisi itu sudah terbilang layak dibandingkan 2006 silam. Pada 16 tahun lalu,
dikutip dari detikNews, Amir Syarifudin dan 10 rekannya masih dimakamkan di satu
liang yang sama. Makam mereka hanya berupa satu gundukan tanah 2 x 8 meter tanpa
nisan atau papan nama.
Tentang
Amir Syarifudin