Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian di depan jumpa pers yang diadakan hari Selasa kemarin (15/03) menyatakan, Tiongkok mengimbau Amerika Serikat untuk menerima investigasi independen ahli-ahli internasional terhadap laboratorium biologinya di Ukraina, dan menghentikan penentangan eksklusifnya terhadap pembentukan mekanisme verifikasi ‘Konvensi Pelarangan Senjata Biologi’.
Zhao Lijian menyatakan, menurut informasi yang diumumkan belakangan ini, puluhan laboratorium di dalam wilayah Ukraina beroperasi atas perintah Departemen Pertahanan Nasional AS, dan AS telah memberikan dana lebih dari 200 juta USD untuk kegiatan dalam laboratorium tersebut.
Zhao Lijian menyatakan, bukti-bukti yang diumumkan oleh pihak Rusia menunjukkan bahwa AS berencana untuk mendapatkan cara untuk melepaskan senjata biologisnya melalui eksperimen antara hubungan migrasi burung dan penularan virus.
Selain itu, bukti-bukti tersebut juga menunjukkan bahwa AS dan negara-negara Barat sedang mengumpulkan dan mentransfer sampel biologis di dalam wilayah Ukraina, dan mungkin telah melakukan penelitian biologis yang ditujukan kepada ras tertentu.
Zhao Lijian menyatakan, menanggapi bukti-bukti yang diumumkan oleh Rusia, pihak AS mengabaikannya dengan menyebutnya sebagai “informasi palsu”. Bagaimana agar dipercaya oleh orang lain? Jika AS hendak membuktikan ketulusannya, seharusnya ia bersikap bertanggung jawab, memberikan penjelasan yang menyeluruh mengenai kegiatan militer biologisnya.
Zhao Lijian menyatakan, Tiongkok menyambut masyarakat internasional untuk bersama-sama melakukan evaluasi terhadap dokumen-dokumen yang diumumkan Rusia di bawah kerangka PBB dan Konvensi Pelarangan Senjata Biologi, juga mengimbau AS untuk membuka laboratorium tersebut dan menerima investigasi independen dari para ahli internasional, serta menghentikan penentangan eksklusifnya terhadap pembentukan mekanisme verifikasi Konvensi Pelarangan Senjata Biologi.
Juru bicara
Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian di depan jumpa pers rutin yang
diadakan hari Selasa kemarin (15/03) menyatakan, atas usulan Tiongkok, Dewan
Pengurus Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) bulan ini bermusyawarah untuk
menentukan agenda resmi terpisah, secara khusus membahas masalah kerja sama
kapal selam nuklir antara AS, Inggris dan Australia (AUKUS), ini merupakan yang
kedua kalinya Dewan Pengurus IAEA memasukkan topik ini ke dalam agenda sidang
sesudah November tahun 2021. Hal ini sepenuhnya memperlihatkan keprihatinan
serius masyarakat internasional termasuk anggota Dewan Pengurus terhadap kerja
sama kapal selam nuklir AUKUS, maka ketiga negara tidak seharusnya mengabaikan
hal ini.
Zhao Lijian menyatakan, seperti yang ditunjukkan oleh wakil Tiongkok di depan sidang tersebut, kerja sama kapal selam nuklir AUKUS berhubungan dengan integritas, validitas dan otoritas Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir, masalah pengawasan dan penjaminan terkait bersangkutan dengan kepentingan semua negara anggota, maka harus diputuskan oleh semua negara anggota dengan pembahasan bersama.
Zhao Lijian menyatakan, Tiongkok telah mengusulkan agar semua negara anggota dapat menghadiri komite khusus, mengadakan pembahasan mendalam mengenai hukum politik dan masalah teknik, serta menyerahkan laporan rekomendasi kepada Dewan Pengurus IAEA dan sidang tersebut. Sebelum berbagai pihak mencapai kesepahaman, AS, Inggris dan Australia seharusnya tidak melaksanakan kerja sama di bidang kapal selam nuklir, sekretariat IAEA juga tidak boleh secara sendirian bernegosiasi dengan ketiga negara tersebut terkait pengawasan kerja sama kapal selam nuklir AUKUS tanpa kesepakatan atau mandat dari negara-negara anggota IAEA.