Fw: *BONGBONG DAN LOYALIS SUHARTO*

2 views
Skip to first unread message

Chan CT

unread,
Sep 5, 2022, 10:08:37 PM9/5/22
to GELORA45_In
Di Fw dari WAG:
 
*BONGBONG DAN LOYALIS SUHARTO*
 
Hari ini Presiden Filipina, Ferdinand "Bongbong" Marcos, Jr. akan bertemu Presiden Jokowi. Ia mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.
 
Anda mungkin tidak peduli. Kasus Sambo lebih menarik didiskusikan dan diperdebatkan. Karena disana ada drama -- keculasan, kekejaman, romantisme, dan tragedi.
 
Urat kekuasaan sebenarnya senang saja kalau perhatian kaum ngehek ini tersedot ke Sambo. Itu lebih baik daripada mereka nyinyir soal telor ayam yang sebenarnya tidak memberatkan kantong mereka; atau Pertalite yang juga tidak membakar dompet mereka.
 
Sepanjang kaum ngehek ini tidak mengipas-ngipasi kaum jelata untuk mempertanyakan harga-harga atau keadilan untuk mereka, urat nadi kekuasaan akan tenang-tenang saja.
 
Apa hubungannya dengan Bongbong Marcos, Jr.? Agak samar. Tapi ada.
 
Bongbong Marcos adalah anak dari Presiden Filipina, Ferdinand Marcos, Sr. Marcos tua berkuasa dari tahun 1965 hingga 1986. Ia berkuasa secara brutal. Pada tahun 1972, ketika dia merasa akan kalah dalam pemilihan umum, dia menerapkan keadaan darurat.
 
Dan Marcos Sr. memerintah mandat darurat itu. Ia menindas habis-habisan gerakan oposisi di Filipina. Selain itu ia juga hidup sangat mewah dan boros.
 
Pada 1986, rakyat Filipina melancarkan Revolusi Edsa. Sebelumnya, tokoh oposisi utama Filipina, Senator Benigno Aquino, Sr. terbunuh di bandara sepulangnya dari pengungsian di Amerika Serikat. Loyalis Marcos diduga berada dibalik pembunuhan tersebut.
 
Pembunuhan Aquino itulah yang memancing antipati terhadap pemerintahan Marcos. Dia ditumbangkan lewat sebuah revolusi damai. Ketika rakyat menyerbu istana Malacanang, mereka tercengang karena kemewahan hidup keluarga Marcos. Ribuan sepatu dan gaun Imelda, istrinya, dipertontonkan kepada publik. Sebagian besar gaun itu berasal dari perancang-perancang ternama dunia -- dan tidak pernah dipakai!
 
Pemerintahan Marcos Sr. sangat korup. Hingga saat ini pemerintah Filipina berusaha mendapatkan kembali apa yang pernha dicuri keluarga ini. Hasilnya tidak begitu banyak. Imelda Marcos yang masih hidup bisa mengelak dari tahanan. Dia bahkan menjadi senator.
 
Sekarang ini, anaknya, Ferdinand "Bongbong" Marcos, Jr. bahkan terpilih menjadi presiden. Saya membaca bahwa dia terpilih karena kepandaian tim kampanyenya membalikkan imajinasi orang-orang Filipina terhadap pemerintahan Marcos.
     
Salah satu taktik kampanyenya yang menarik pemilih Filipina adalah bahwa Marcos itu kaya. Kalau dia terpilih dia akan membawa kekayaannya dari luar Filipina yang jumlahnya sangat besar itu kembali ke Filipina. Tentu rakyat senang karena akan ada uang. Dalam bayangan mereka, uang ini akan dibagi-bagi -- karena Marcos digambarkan murah hati juga.
 
Yang tidak dia katakan adalah bahwa uang itu hasil colongan bapaknya dari rakyat Filipina juga. Tapi orang termakan pada buaian yang disebarkan oleh media sosial itu.
 
Begitulah. Beberapa bulan lalu, Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. terpilih menjadi Presiden Filipina. Ketika dilantik, dia membawa semua keluarganya ke panggung. Ada juga Imelda Marcos, mantan ibu negara yang boros dan serakah itu. Tapi semua citra buruk tentang keluarga Marcos sudah diputihkan di depan rakyat Filipina.
 
Nah, orang inilah yang siang ini akan diterima Presiden Jokowi. Dia akan menerima salut kenegaraan dengan dentuman meriam 21 kali.
 
Kedatangan Bongbong ini sungguh menjadi déjà vu untuk saya. Karena saya masih ingat dengan Revolusi Edsa 1986. Itulah tahun pertama saya kuliah dan ia menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. Aroma Revolusi Edsa pun tercium hingga ke Indonesia.
 
Yang lebih mengejutkan adalah bahwa betapa mudahnya ingatan tentang revolusi itu luntur. Rakyat Filipina mendudukkan lagi seorang Marcos di puncak kekuasaan tertinggi di negeri itu. Marcos dan keluarganya tidak pernah dihukum. Mereka bahkan membuat "political come-back."
 
Kita di Indonesia juga punya sesuatu yang mirip. Sangat mirip. Kita meruntuhkan rejim otoriter pimpinan Suharto pada Mei 1998. Namun Suharto dan keluarganya tidak ada satupun yang berhadapan dengan keadilan. Para loyalisnya -- baik terang-terangan maupun tersembunyi -- melindunginya.
 
Bahkan penguasa yang tidak terhitung loyal pada Suharto tidak berani menghadapkannya ke pengadilan. Mereka takut. Para politisi lawan akan menggunakan isu Suharto untuk menggalang para loyalis presiden kedua ini untuk menjungkalkan mereka dari keluasaan.
 
Adakah loyalis Suharto? Banyak. Mereka duduk di posisi-posisi penting pemerintahan saat ini. Sebagian besar elit (kelompok 1%) yang ada di negeri ini diciptakan saat Suharto berkuasa. Hitung saja para menteri atau anggota parlemen yang memiliki hubungan darah dengan para pembantu (loyalis) Suharto. Bahkan bukan tidak mungkin kita akan mendapat presiden yang (mantan) menantunya Suharto, bukan?
 
Hari ini, saya mendapat kiriman poster ini. Rupanya para loyalis Suharto mendapat inspirasi dari Filipina. Bila Marcos yang reputasinya jauh lebih buruk dari Suharto -- setidaknya di mata negara-negara Barat -- bisa bangkit dan membuat "political come back" mengapa hal ini tidak bisa dilakukan di Indonesia?
 
Rencananya ratusan ribu loyalis Suharto akan berkumpul pada 10 November mendatang.
 
Akankah mereka berhasil? Saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah banyak sekali keturunan para abdi dan gedibal-gedibal rejim Orde Baru yang ada di kekuasaan. Tentu tidak akan terlalu sulit menyatukan mereka.
 
Dalam pandangan saya, sekarang pun mereka sudah bersatu walaupun tidak dalam satu bendera sebagai loyalis Suharto. Dan secara garis besar politik dan ekonomi kita pun tidak terlalu bergeser jauh dari Orde Baru bukan? Rejim developmentalis yang disokong oleh aparatus keamana polisi-militer-intelijen.
 
Kuis: Siapakah tokoh nasionalis yang patut mendapat "Suharto Award"?
 
(Jawaban menjadi tanggungjawab masing-masing individu yang memutuskan berpartisipasi).
 
_Made Supriatma_
 
-copas dr fb
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages