Urusan
Nama Pak Harto Bikin Keppres 1 Maret dari Jokowi Kena Sorotan
Tim
detikcom - detikNews
Jumat,
04 Mar 2022 06:58 WIB

Soeharto
(AFP)
Jakarta
- Keputusan Presiden RI 2/2022 soal Penegakan Kedaulatan Negara menjadi polemik.
Urusan ini menjadi panjang karena Keppres tersebut tidak mencantumkan nama
Presiden ke-2 Soeharto terkait peristiwa serangan umum 1 Maret 1949.
Dilansir
dari situs Sekretariat Negara, Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres)
Nomor 2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara resmi diterbitkan
oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Keppres tersebut mengatur terkait Hari
Penegakan Kedaulatan Negara.
Baca
juga:
Fadli
Zon ke Mahfud soal Serangan Umum 1 Maret: Jangan Belokkan Sejarah!
Pada
diktum kesatu dan kedua keppres tersebut dinyatakan Hari Penegakan Kedaulatan
Negara jatuh pada 1 Maret dan bukan merupakan hari libur. Dalam keppres tersebut
juga dijelaskan alasan 1 Maret sebagai Hari Penegakan Kedaulatan
Negara.
Pada
poin c pertimbangan Keppres terdapat pembahasan berkaitan dengan sejarah
serangan umum 1 Maret 1949. Pada poin itu memang tidak tercantum nama
Soeharto.
"Bahwa
peristiwa Serangan Umum I Maret 1949 yang digagas oleh Sri Sultan Hamengku
Buwono IX dan diperintahkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman serta
disetujui dan digerakkan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad
Hatta dan didukung oleh Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik
Indonesia, laskar-laskar perjuangan rakyat, dan segenap komponen bangsa
Indonesia lainnya, merupakan bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa
Indonesia yang mampu menegakkan kembali eksistensi dan kedaulatan Negara
Indonesia di dunia internasional serta telah berhasil menyatukan kembali
kesadaran dan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia," bunyi poin c
pertimbangan Keppres Hari Penegakan Kedaulatan Negara.
Baca
juga:
Sejarawan:
Nama Soeharto Muncul 48 Kali di Naskah Akademik Keppres 1
Maret
Tanggapan Mahfud MD
Hal
tersebut pun lantas ramai dibahas oleh publik. Menko Polhukam Mahfud Md pun buka
suara terkait persoalan tersebut. Dia menyampaikan keppres tersebut tidak
menghilangkan nama Soeharto dari sejarah serangan umum 1 Maret 1949.
"Kepres
tersebut bukan buku sejarah, tapi penetapan atas 1 titik krusial sejarah. Kepres
tersebut tidak menghilangkan nama Soeharto dan lain-lain dalam SU 1 Maret 1949,"
kata Mahfud seperti dikutip detikcom dari akun Twitternya @mohmahfudmd, Kamis
(3/3/2022). Cuitan Mahfud Md telah disesuaikan dengan ejaan yang
berlaku.
Mahfud
memastikan nama Soeharto tetap disebutkan berkaitan dengan peristiwa serangan
umum 1 Maret 1949. Menurutnya, nama Soeharto tercantum dalam naskah akademik
Keppres.
"Nama
dan peran Soeharto disebutkan di Naskah Akademik Kepres yang sumbernya
komprehensif," ucap Mahfud.
"Di
dalam konsiderans ditulis nama HB IX, Soekarno, Hatta, Sudirman sebagai
penggagas dan penggerak. Peran Soeharto, Nasution, dan lain-lain ditulis lengkap
di Naskah Akademik. Sama dengan naskah Proklamasi 1945, hanya menyebut
Soekarno-Hatta dari puluhan founding parents lainnya," tambahnya.
Tonton
video 'Polemik Keppres 1 Maret: Mahfud Jelaskan, Fadli Zon
Menyanggah':
Kritik
Fadli Zon
Wakil
Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon turut buka suara terkait urusan ini. Fadli
Zon menilai peran Soeharto besar dalam peristiwa tersebut.
"Pak
Harto orang kepercayaan Jenderal Sudirman. Perannya dalam Serangan Umum 1 Maret
1949 sangat besar dan vital," kata Fadli Zon seperti dalam cuitannya yang sudah
diizinkan untuk dikutip, Kamis (3/3/2022).
Lebih
lanjut, Fadli Zon menyebut banyak pihak lupa terkait peristiwa tersebut. Dia
menyebut saat itu Indonesia berada di bawah Pemerintah Darurat RI yang dipimpin
oleh Sjafroeddin Prawiranegara.
"Yang
orang lupa, waktu itu negara di tangan Pemerintah Darurat RI (PDRI) di bawah
Sjafroeddin Prawiranegara dengan Ibu Kota di Bukittinggi," ucapnya.
Anggota
Komisi I DPR ini juga menyebut peristiwa tersebut sebagai strategi menunjukkan
bahwa Indonesia masih ada saat itu.
"Ini
strategi tunjukkan pada dunia RI masih ada," imbuhnya.
Lebih
lanjut, Fadli Zon pun mendesak agar pemerintah mengoreksi keppres yang sudah
diteken Jokowi tersebut. Menurutnya, Setneg seharusnya lebih cermat memberi
masukan kepada Jokowi.
"Keppres
itu harus dikoreksi. Setneg harusnya lebih cermat dalam memberi masukan kepada
Presiden. Jelas besar sekali peran Pak Harto (Soeharto) sebagai pelaksana
Serangan Umum 1 Maret. Meskipun ide dari Sri Sultan HB IX," tegasnya.
Keppres Bukan Buku Sejarah
Mahfud
menjelaskan bahwa keppres ini bukan sejarah. Karena itu, keppres ini tidak
menyebutkan banyak nama.
"Kenapa
dalam keppres tersebut tidak ada nama Soeharto. Ini adalah keputusan presiden
tentang titik krusial terjadinya peristiwa, yaitu hari yang sangat penting. Ini
bukan buku sejarah, kalau buku sejarah tentu menyebutkan nama orang yang banyak,
ini hanya menyebutkan bahwa hari itu adalah hari penegakan kedaulatan negara,"
kata Mahfud dalam keterangan persnya, Kamis (3/3).
Mahfud
menegaskan yang disebut dalam Keppres hanya pimpinan negara, yakni Presiden dan
jajarannya. Untuk diketahui, saat serangan itu terjadi, Soeharto menjabat
sebagai Komandan Wehrkreise III berpangkat letnan kolonel.
"Dan
yang disebut itu hanya pimpinan negara, Presiden dan Wakil Presiden, kemudian
Menhan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan kemudian Panglima Jenderal Soedirman
sebagai penggerak," ungkapnya.
Bukan
hanya Soeharto yang namanya tidak disebut dalam keppres itu. Sejumlah nama
pelaku sejarah, seperti Jenderal Nasution hingga Jenderal Kawilarang, juga tidak
ada dalam keppres tersebut.
"Yang
lain tidak disebutkan, Pak Harto tidak disebutkan dalam keppres tersebut. Pak
Nasution, Pak Kawilarang, Pak Oerip Soemohardjo tidak disebutkan,"
ungkapnya.
Nama Soeharto di Naskah
Akademik
Naskah
akademik peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 itu disusun oleh Pemprov DIY
dengan sejumlah ahli. Sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, Sri Margana,
menjadi salah satu tenaga ahli penyusun naskah akademik ini.Sri
Margana justru mempertanyakan mengapa nama Soeharto harus ada dalam Keppres
2/2022. Menurutnya, langkah pemerintah dan Mahfud Md memberi penjelasan sudah
tepat."Pak
Mahfud Md sudah benar (tidak mencantumkan nama Soeharto di Keppres)," kata
Margana saat dihubungi, Kamis (3/3).Dia
menjelaskan ada ribuan pelaku sejarah dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949
itu. Ratusan pemimpinnya tercatat dalam naskah akademik ini. Tak terkecuali
Soeharto."Ada
ribuan pelaku sejarah yang terlibat dalam peristiwa itu dan ratusan pemimpin
utama yang dalam naskah akademik telah disebut sesuai dengan porsinya
masing-masing. Tidak ada satu tokoh pun dalam sejarah yang memiliki peran
penting dalam peristiwa-peristiwa itu yang dihapuskan, termasuk Letkol Suharto
yang ditunjuk memimpin Serangan Umum di pusat kota. Naskah ini justru
menempatkan tokoh-tokoh penting yang dalam historiografi di masa lalu
dihilangkan atau direduksi perannya," ujar Margana."Nama
Letkol Soeharto di naskah akademik itu bahkan disebut sampai 48 kali,"
tambahnya.Dia
menegaskan Keppres bukanlah historiografi. Keppres dalam hal ini disusun dengan
bahasa administratif."Keppres
bukanlah historiografi. Keppres disusun dalam bahasa administratif, ringkas,
namun representatif. Fungsinya lebih sebagai keputusan penetapan 'Hari Penegakan
Kedaulatan Negara' sebagai event nasional untuk membangun nasionalisme dan
semangat mengisi kemerdekaan dan bukan legitimasi historiografi,"
tuturnya.Sementara
itu, Fadli meminta Mahfud tak membelokkan peristiwa sejarah Serangan Umum 1
Maret 1949. Fadli Zon merespons cuitan Mahfud Sukarno, Hatta, hingga Sudirman
sebagai penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949."Keliru
Pak @mohmahfudmd. Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, Sukarno dan Hatta masih
dalam tawanan di Menumbing," kata Fadli Zon. Cuitan Fadli Zon telah disesuaikan
dengan ejaan yang berlaku.Menurut
Fadli Zon, tak ada gagasan Sukarno dan Hatta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949,
sehingga apa yang disebut Mahfud Md keliru."Pemerintahan
dipimpin PDRI (Pemerintah Darurat RI) di bawah Sjafroeddin Prawiranegara. Tak
ada gagasan dari Sukarno dan Hatta dalam peristiwa ini. Jangan belokkan
sejarah!" tulis Fadli Zon.(rdp/rdp)Baca
artikel detiknews, "Urusan Nama Pak Harto Bikin Keppres 1 Maret dari Jokowi Kena
Sorotan" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-5967526/urusan-nama-pak-harto-bikin-keppres-1-maret-dari-jokowi-kena-sorotan.
Download
Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Fadli
Zon ke Mahfud soal Serangan Umum 1 Maret: Jangan Belokkan Sejarah!
Tim
detikcom - detikNews
Kamis,
03 Mar 2022 20:31 WIB

Fadli
Zon (Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Jakarta
- Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Gerindra Fadli Zon menilai cuitan Menko
Polhukam Mahfud Md soal Serangan Umum 1 Maret 1949 keliru. Fadli meminta Mahfud
tak membelokkan peristiwa sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949.
Hal
itu diungkapkan Fadli Zon di akun Twitter-nya, seperti dilihat, Kamis
(3/3/2022). Fadli Zon merespons cuitan Mahfud Sukarno, Hatta, hingga Sudirman
sebagai penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949.
Baca
juga:
Sejarawan:
Nama Soeharto Muncul 48 Kali di Naskah Akademik Keppres 1
Maret
"Keliru
Pak @mohmahfudmd. Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, Sukarno dan Hatta masih
dalam tawanan di Menumbing," kata Fadli Zon. Cuitan Fadli Zon telah disesuaikan
dengan ejaan yang berlaku.
Menurut
Fadli Zon, tak ada gagasan Sukarno dan Hatta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949,
sehingga apa yang disebut Mahfud Md keliru.
"Pemerintahan
dipimpin PDRI (Pemerintah Darurat RI) di bawah Sjafroeddin Prawiranegara. Tak
ada gagasan dari Sukarno dan Hatta dalam peristiwa ini. Jangan belokkan
sejarah!" tulis Fadli Zon.
Baca
juga:
Fadli
Zon Desak Keppres Jokowi Dikoreksi: Peran Soeharto di SU 1 Maret
Besar
Menko
Polhukam Mahfud Md sebelumnya buka suara terkait polemik Keputusan Presiden RI
2/2022 soal Penegakan Kedaulatan Negara. Dia menyampaikan keppres tersebut tidak
menghilangkan nama Soeharto dari sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949.
"Keppres
tersebut bukan buku sejarah, tapi penetapan atas 1 titik krusial sejarah. Kepres
tersebut tidak menghilangkan nama Soeharto dan lain-lain dalam SU 1 Maret 1949,"
kata Mahfud seperti dikutip detikcom dari akun Twitternya @mohmahfudmd, Kamis
(3/3).
Simak
selengkapnya, di halaman selanjutnya:
Mahfud
memastikan nama Soeharto tetap disebutkan berkaitan dengan peristiwa Serangan
Umum 1 Maret 1949. Menurutnya, nama Soeharto tercantum dalam naskah akademik
Keppres.
"Nama
dan peran Soeharto disebutkan di Naskah Akademik Kepres yang sumbernya
komprehensif," ucap Mahfud.
"Di
dalam konsiderans ditulis nama HB IX, Soekarno, Hatta, Sudirman sebagai
penggagas dan penggerak. Peran Soeharto, Nasution, dan lain-lain ditulis lengkap
di Naskah Akademik. Sama dengan naskah Proklamasi 1945, hanya menyebut
Soekarno-Hatta dari puluhan founding parents lainnya," tambahnya.
Baca
juga:
Tak
Ada Nama Soeharto di Keppres SU 1 Maret Disorot, Mahfud Md Buka Suara
(rfs/imk)
Baca
artikel detiknews, "Fadli Zon ke Mahfud soal Serangan Umum 1 Maret: Jangan
Belokkan Sejarah!" selengkapnya
https://news.detik.com/berita/d-5967319/fadli-zon-ke-mahfud-soal-serangan-umum-1-maret-jangan-belokkan-sejarah.
Download
Apps Detikcom Sekarang
https://apps.detik.com/detik/