Senin, 14 Februari 2022 05:29 WIB

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menemui warga penolak penambangan kuari terkait rencana pembangunan Bendungan Bener di Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Minggu (13/2/2022). ANTARA/HO-Humas Pemprov Jateng
Pewarta: Wisnu Adhi Nugroho
Editor: Adi
Lazuardi
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke gelora1945+...@googlegroups.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7E47526C10E940119DA51CAB1EF7B943%40A10Live.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CMYqKk6B2Rce27rw%2BiJbNLL3p8LvOGe_qj5XAG_yHPOQ%40mail.gmail.com.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EE3CF870BEFB493C990F3778BB867418%40A10Live.
Ada warga yg menentang proyek tambang iya dan pembayaran lahan yg belum selesai. Rasanya sedikit yg menentang bendungan Bener nya walaupun ada.
Fakta: warga yg menentang ada yg beringas; ada yg ngomporin; ada aparat yg kurang menguasai komunikasi massa; ada perbedaan persepsi warga yg menolak dan petugas BPN yg datang mengukur (warga takut dgn kedatangan tukang ukur dari BPN krn blm dapet duit ganti untung dan tukang ukur persepsinya lain: koq takut, Wong kami datang hanya buat ngukur tanah saja); ada yg gak ngerti masalah dan hanya narik kesiimpulan; dan yg paling parah mereka2 yg mempolitisir masalah Wadas ini utk kepentingan sendiri2.
Kalau bendungannya dibatalkan ya rugi rakyat disekitarnya krn itu utk ngatur air pada saat kemarau dan banjir. Ada yg lucu mereka2 yg menolak ada yg berargumen: kami tidak ada masalah air selalu ada krn turun dari gunung. Ya ini mungkin benar krn sawah miliknya tidak kena banjir waktu musim hujan dan air tetap masih ada waktu kemarau. Tetapi sudut pandangnya diperlebar dgn melihat sawah seluruh desa, kecamatan dst akan lain. Jelas bendungan itu perlu utk ngatur air. Ini masuk proyek strategis nasional dan anggarannya trilyunan rupiah.
Ya memang akan lebih baik bagi mereka2 yg berkoar2 sebaiknya turun lapangan melihat dgn mata kepala sendiri apa yg terjadi di Wadas, tetapi jangan lupa jgn menarik kesiimpulan demi menopang opini sendiri dan golongannya. Ini namanya politisasi. Kalau merasa gak mampu berbuat banyak, ya diskusi spt di warung kopi ini sdh cukup. Siapa tahu ada yg baca dan bisa melihat permasalahan lbh objektif. Jadi belum apa2 sdh marah2 duluan. Penghakiman thd opini seseorang itu sgt mudah dilakukan kalau control thd diri sendiri kurang.
Nesare
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0E80F2A91716455791B979AE93E93F3D%40A10Live.
Saya sangat mengerti kalau ada warga tani yang jadi beringas. Siapa yang tidak jadi beringas ketika sumber penghasilannya akan hilang dan lingkungan hidupnya akan mendpat dampak negatif. Masih terbayang di ingatan saya perempuan yang duduk di mesin yang akan menghancurkan rumahnya di Kulon Progo. Tak peduli lagi dia dengan nyawanya. Yang jelas keberingasan rakyat (wah, saya pasti akan dituduh menggunakan rakyat untuk kepentingan politik orang-orang sepaham dengan saya!) TAK BISA DIBANDINGKAN dengan keberingasan polisi dan TNI yang bersenjata lengkap dan disertai dengan hukum dan UU yang selalu berpihak kepada yang berkuasa! Kaum tani hanya punya dua tangan dan dua kaki, seberapa besarnyapun keberingasannya, begitu dia dikeroyok dan digebuki Polisi dan TNI yang bersenjata sampai giginya dan digiring ke kantor polisi dan masuk penjara, habislah keberingasannya!
Siapa yang ngomporin kaum tani untuk berjuang mempertahankan tanahnya? Saya bias termasuk orang yang “ngomporin” kaum tani, seperti nasihat Wiji Tukul “hanya ada satu kata “Lawan”. Dan saya tidak marah disebut begitu, karena yakin saya “ngomporin” perjuangan yang saya anggap benar dan adil. Ah, sudah tentu, benar dan adil dari perspektif rakyat (ah, lagi-lagi saya “menyalahgunakan” rakyat!?), jelas bukan dari perspektif penguasa.
Rakyat yang menolak perampasan tanahnya, sering kali dituduh menolak pembangunan. Soalnya sejak ORBA dengan Soeharto, “pembangunan” tidak menyelesaikan masalah kemiskinan, pengangguran, penghisapan dan penindasan. Hanya menguntungkan mereka yang berkuasa dan kelas menengah keatas. Tiap tahun ratusan jumlah konflik tanah di seluruh Indonesia, tak satupun yang mendapat solusi yang menguntungkan rakyat! Selalu rakyat yang masuk penjara dan tanahnya hilang atau rumahnya digusur. Ingat juga yang terjadi di Bulukumba sekarang…
Ada pembangunan neo-liberal dan ada pembangunan yang mengabdi kepada kepentingan rakyat!! SELALU MUNCUL MASALAH KEPADA SIAPA ORANG BERPIHAK!
Aneh, siapa sih yang “mempolitisi” kasus perampasan tanah ini? Apakah kebijakan pemerintah untuk membuka tambang dan membangun waduk itu bukan politik? Jelas, perlawanan terhadap “politik” pemerintah itu juga bersifat politik!! Tidak perlu ada orang yang “khusus” “mempolitisasi” konflik itu. Sungguh lucu!
Persis seperti China menuduh AS “mempolitisi” Olympiade dengan boikotnya…Lho, sport dunia itu MEMANG bertsifat politik! Dasar revisionis, ingin membutakan dirinya sendiri dan tidak mengakui bahwa kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari POLITIK!
Ada orang yang bilang tidak mau terlibat dalam politik. Padahal sikap “tidak mau terlibat dalam politik” itu sendiri adalah sebuah sikap politik!
Sent from Mail for Windows
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/BL0PR07MB5441D4B28E0CC5D52EB5D768F0349%40BL0PR07MB5441.namprd07.prod.outlook.com.
Yg saya tahu begini: ada warga wadas yg menolak dan membawa senjata tajam. Silahkan dinilai apakah ini beringas atau tidak. Saya bilang beringas krn orang2 ini bukan hanya bawa senjata ttp juga menakut2i warga wadas yg setuju. Disini ada ancaman. Aparat dating nguber warga yg beringas ini yg masuk kemesjid. Saya tidak tahu apakah ada provokator yg bawa senjata taja mini, makanya saya hanya nulis warga yg menolak yg membawa senjata tajam. Sayangnya diluaran yg ngomporin/politisir bilang aparat masuk menyerang masjid dan menahan anak2 dan ibu2. Ini salah. Sekali lagi polisi masuk kemesjid nguberin mereka2 yg bawa senjata lalu digiring ke kantor polisi. Sehari sdh dilepas. Dalam kantor polisi para warga ini main biliard yg semarak di media social. Lucunya lagi politisir bilang koq kantor polisi ada meja billiard enak bener, apa kerja polisi hanya main billiar dll. Ini semua hanya nyinyir.
Yg ingin saya katakan social media itu dipolitisir utk kepentingan politik mereka masing2. Sedangkan persoalan warga wadas nya mah enggak terlalu dipikirin. Semua jadi objek saja.
Kalau bung yg radikal akan selalu membela rakyat. Disini kritik saya thd bung. Rakyat itu semua manusia warganegara bukan sekelompok rakyat miskin saja.
Ada hal2 esensial dalam bermasyarakat. Saya masih teringat ada ceritera begini: disuatu kota pemerintah datang kerumah2 orang tionghoa dikawasan pasar utk merelakan sebagian tanahnya utk diperlebar. Tidak ada ganti rugi apalagi ganti untung. Ya tionghoa2nya diam saja. Mau apa lagi, ada yg diam, ada yg ngedumel, ada yg pasrah ttp jelas gak ada yg berani bawa parang.
Nesare