Pengamat: Politik identitas sudah tidak relevan untuk Pilpres 2024
1 view
Skip to first unread message
Chan CT
unread,
Jun 15, 2022, 8:12:46 PM6/15/22
Reply to author
Sign in to reply to author
Forward
Sign in to forward
Delete
You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to GELORA45_In
Pengamat: Politik identitas
sudah tidak relevan untuk Pilpres 2024
Kamis, 16 Juni 2022 00:07
WIB
Pengamat intelijen
dan terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib (ANTARA/HO-Humas
BNPT)
Jakarta (ANTARA) - Pengamat
terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib menegaskan isu politik
identitas sudah tidak relevan untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres)
2024, karena literasi masyarakat tentang berita bohong atau hoaks sudah
membaik.
“Sudah tidak relevan (politik identitas) untuk
Pilpres 2024 nanti. Kenapa? Karena masyarakat sudah makin cerdas. Literasi
masyarakat tentang hoaks, berita palsu, berita bohong itu sudah makin baik.
Mungkin di 2014, 2019 berita hoaks masih bisa dan banyak beredar di WA grup,
tapi di 2024 saya tidak yakin,” ujar Ridlwan dalam siaran pers di Jakarta,
Rabu.
Dia
mengatakan hal ini juga terkait faktor banyaknya generasi Z atau milenial yang
saat ini sudah "melek" digital dan unggul dalam literasi, sehingga generasi ini
sudah memahami mana berita palsu, hoaks dan bohong.
Dengan
demikian, menurutnya, maka narasi politik identitas yang negatif sudah harus
ditinggalkan.
“Sebenarnya berpolitik identitas itu boleh boleh
saja, misalnya kampanye dengan menggunakan jargon agama itu sah-sah saja. Yang
tidak boleh adalah jika menggunakan politik identitas untuk menyalahkan pihak
lain di luar kelompoknya, bahkan mengampanyekan khilafah,” ujar Ridlwan.
Dia menekankan
mengampanyekan atau mempromosikan Indonesia harus menganut hukum agama tertentu,
artinya sudah menyalahi serta melanggar konsensus nasional yang telah disepakati
para pendiri bangsa.
“Jadi, politik identitas itu boleh saja asal yang
positif, yang tidak bertentangan dengan agama, yang bertujuan memajukan bangsa
dan tidak mengganggu orang lain, itu positif. Jadi politik identitas jangan
selalu dipahami negatif,” kata pria yang meraih gelar magister pada Kajian
Stratejik Intelijen Universitas Indonesia ini.
Dirinya juga
menyebut dalam perjalanan demokrasi di Indonesia, seringkali ditemui oknum
berkepentingan, yang memanfaatkan isu sentimen agama yang justru menimbulkan
reaksi balik dari kelompok masyarakat yang merasa terganggu dengan isu
tersebut.
Hal ini, menurutnya, mengakibatkan kerukunan,
persatuan, kemajemukan, tenggang rasa bangsa tercederai oleh narasi keagamaan
yang dipaksakan dalam politik.
“Indonesia menganut kebebasan demokrasi, tiap
orang boleh berekspresi, itu wajib dijaga, akan tetapi kebebasan berekspresi itu
tidak boleh melanggar kebebasan orang lain, nah termasuk dalam hal berpolitik
itu tadi,” tutur Ridlwan.
Tidak hanya itu, kata dia, kondisi iklim
demokrasi yang dirusak dengan pertarungan sentimen agama justru akan semakin
melanggengkan jalan bagi kelompok radikal guna mewujudkan visi-misinya guna
mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi atau sistem yang mereka percaya.
“Kalau negara
inichaos, maka mereka
akan bilang ‘inilah bukti bahwa Pancasila gagal dan tidak relevan lagi bagi
bangsa Indonesia, negara ini gagal, maka ganti lah Pancasila ke sistem khilafah,
karena terbukti bangsa ini pecah, maka ayo ganti ke sistem agama’. Tentunya hal
itu yang menjadi tujuan mereka,” ujar Ridlwan.
Tidak hanya
itu, dia mengingatkan, kondisi adu domba dan polarisasi yang semakin parah di
tengah masyarakat Indonesia yang beragam, juga menjadi kekhawatiran tersendiri
bagi masyarakat tentang bangkitnya gerakan-gerakan teror menjelang tahun politik
2024..
“Tindak terorisme sekarang ini sebenarnya sudah
dalam tahap minimal, karena kelompok ini di Timur Tengah sudah tidak punya basis
dan wilayah serta tidak ada perintah serta fatwa untuk membuat teror. Tapi
justru kelompok ini paham bahwa kalau mereka membuat teror, maka masyarakat akan
antipati, maka dari itu mereka mengubah strategi menjadi
strategisoft,”
ujarnya.
Strategisoftatau halus yang
dimaksud, yaitu dengan cara konvoi, membagikan selebaran, membuat acara menarik
yang tidak menakutkan, tetapi tetap dengan tujuan yang sebenarnya, yaitu untuk
mengganti ideologi bangsa.
"Mereka telah memahami bahwa metode menyerang
rumah ibadah atau melakukan pengeboman bukan lagi metode yang efektif. Justru
masyarakat akan jengkel dan sulit bagi mereka mencapai tujuannya," jelasnya.
Ridlwan
mengingatkan masyarakat, khususnya aktor politik nasional, untuk tidak mudah
terpancing dengan narasi negatif yang dibuat oknum berkepentingan, termasuk
narasi khilafah yang dewasa ini ramai diperbincangkan, serta harus bijaksana
membalas isu dan narasi yang dikeluarkan oleh kelompok radikal.
“Jadi tidak
perlu lah kita menciptakan musuh sendiri. Kecuali ketika mereka melakukan
manuver, baru lah direspons. Kalau tidak bermanuver kan semakin baik, apalagi
kelompok radikal ini mau berdemokrasi dan berkompetisi itu kan semakin baik bagi
Indonesia,” tutur Ridlwan.
Ridlwan juga berharap para aktor politik dan para
pendukungnya mampu mengubah cara kompetisinya dengan mengesampingkan politik
identitas negatif dan mulai mengedepankan kualitas program, prestasi dan
visi-misinya untuk kemajuan Indonesia.
“Kalau mau makin baik, maka bicara tentang
program, tentang prestasi, jangan melulu tentang isu agama. Kalau tetap seperti
itu maka 2024 akan terjadi politik identitas lagi. Ayo kita kembali
bermainfairsaja, tinggalkan
narasi politik identitas negatif kepada program dan prestasi,” kata
Ridlwan.
Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga Editor: Masuki M.
Astro