Irma
menilai keputusan IDI arogan. Dia menyoroti soal uji kompetensi bagi para dokter
muda yang masih relatif sulit saat ini.
"NasDem
justru melihat IDI selain arogan juga sangat eksklusif dan elitis," kata
dia.
"Indonesia
masih butuh sangat banyak dokter tapi coba lihat bagaimana sulitnya
dokter-dokter muda yang ingin bekerja akibat sulitnya uji kompetensi. Kalau
tidak salah ada 2.500 orang," sambungnya.
Irma
berpandangan IDI tak bisa menangani nasib para dokter muda tersebut dan justru
berkeputusan memecat dr Terawan yang dia anggap sudah senior dan
berpengalaman.
"Sudah
nggak berguna bagi para dokter muda malah mau pecat dokter yang sudah
berpengalaman dan mumpuni seperti dr Terawan," ujarnya.
"Harusnya
IDI mampu memperjuangkan hal-hal sepele seperti ini. Jangan dibiarkan
dokter-dokter muda yang ingin mengabdi pada negara malah dibiarkan menganggur,"
katanya.
Baca
juga:
Ketum
PAN Sayangkan Pemecatan Terawan: Perlu Dijembatani
Pemecatan
Terawan Dinilai Berlebihan
Sementara
itu, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Lucy Kurniasari, menilai
pemecatan terhadap Terawan berlebihan. Dia menilai IDI seharusnya memberi
peringatan dulu terhadap Terawan.
"Pemecatan
Terawan Agus Putranto oleh IDI tampaknya berlebihan dan tidak proporsional. IDI
tak seharusnya memecat Terawan hanya karena dinilai melanggar etik profesi.
Terawan seharusnya cukup diberi peringatan dan pembinaan agar dapat memperbaiki
kesalahan etik," kata Lucy.
Dia
menambahkan keputusan IDI yang memecat Terawan itu dapat menjadi contoh buruk
bagi profesi kedokteran di Tanah Air.
"Para
dokter dikhawatirkan akan takut melakukan inovasi di bidang kesehatan yang tidak
sesuai dengan pakem yang lazim di dunia kedokteran," ujarnya.
"Padahal
inovasi kerap kali muncul dari temuan di luar pakem yang ditetapkan suatu
profesi. Kreativitas dalam memodifikasi metode riset kerap dapat mendorong
temuan di luar yang diperkirakan sebelumnya," lanjutnya.
Dia
meminta IDI mencabut keputusan pemecatan terhadap Terawan. Dia meminta agar IDI
mengedepankan pembinaan.
"Untuk
mencegah hal itu terjadi, selayaknya IDI mencabut keputusan terkait pemecatan
Terawan. IDI lebih baik mengedepankan pembinaan terhadap anggotanya agar inovasi
di bidang kesehatan di Indonesia tetap berkembang," lanjutnya.
Baca
juga:
Anggota
Komisi IX DPR Ramai-ramai Bela Terawan, Usul IDI
Dipanggil
PAN
Sayangkan Pemecatan Terawan
Anggota
Komisi IX DPR RI Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay, menyayangkan pemecatan
terhadap Terawan secara permanen. Dia menyebut Terawan adalah salah satu dokter
terbaik yang dimiliki Indonesia.
"Pemecatan
secara permanen dr Terawan dari keanggotaan IDI sangat disayangkan. Pasalnya, dr
Terawan adalah salah satu dokter terbaik yang dimiliki Indonesia. Sebagai dokter
dan anggota TNI, banyak prestasi yang sudah ditorehkan," kata Saleh kepada
wartawan.
Saleh
mengaku terkejut dengan pemecatan Terawan itu. Dia berkomentar pertemuan
muktamar seharusnya menjadi wadah silaturahmi alih-alih wadah pemecatan seorang
anggota.
"Saya
benar-benar terkejut dengan keputusan itu. Muktamar semestinya dijadikan sebagai
wadah konsolidasi dan silaturahmi dalam merajut persatuan. Kok ini malah
dijadikan sebagai wadah pemecatan. Permanen lagi. Ini kan aneh, ya," ujar
dia.
"Menyikapi
persoalan ini, Kementerian Kesehatan diminta mengambil tindakan. Kementerian
Kesehatan harus memfasilitasi pertemuan IDI dengan dr Terawan. Berbagai
persoalan dan isu yang beredar harus diselesaikan. Melalui dialog yang baik,
semua masalah diharapkan dapat selesai," kata dia.
Baca
juga:
Ada
Kemungkinan Komisi IX DPR Akan Panggil IDI soal Pemecatan Terawan
Komentar
Mahfud Md
Menanggapi
pemecatan Terawan itu, Menko Polhukam Mahfud Md mengaku pernah menjalani terapi
cuci otak oleh dokter Terawan dan divaksin Nusantara. Dia mengatakan sudah dua
kali terapi cuci otak.
"Saya
pernah dua kali cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography) ke dokter
Terawan, yakni, ketika masih ketua MK sekitar tahun 2011 dan pada tahun 2017.
Saya bukan ahli medis tapi kalau perasaan saya sih hasilnya bagus, keluhan
langsung hilang. Makanya saya sampai dua kali dan yang kedua mengajak istri,"
kata Mahfud kepada detikcom, Sabtu (26/3).
Selain
pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga mendapat
suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan. Mahfud mengaku usai
mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya meningkat.
"Saya
juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan sebelum
dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat non-tendis (tenaga
medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau menunggu, tak bisa cepat. Saya juga
tak mau cari-cari booster lewat jalan tol," ujarnya.
"Ketika
saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis dan TNI/POLRI
belum boleh booster maka saya ambil vaksin Nusantara. Antibodi saya naik tinggi
setelah divaksin Nusantara," lanjutnya.
Meski
merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa memberikan komentar
terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah ada mekanisme dan aturan
tersendiri. Namun yang terpenting baginya adalah kesembuhan dan imun tubuh
meningkat.
"Saya
bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait pemberhentian
Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan mekanisme tersendiri. Kalau saya
sendiri sih yang penting sembuh atau imun dari virus," imbuhnya.
Baca
juga:
Terawan
Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin
Nusantara
Terawan
Dipecat IDI
Dokter
Terawan sebelumnya resmi dipecat sebagai anggota IDI berdasarkan keputusan MKEK.
Terawan dan IDI memiliki hubungan panas dingin sejak munculnya terapi 'cuci
otak'.
Terawan
dipecat dalam Muktamar Ke-31 IDI yang digelar di Aceh. Terawan pun tidak
diizinkan melakukan praktik kedokteran. Hal itu dikonfirmasi Ketua Panitia
Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa, Sabtu (26/3).
"Iya
(dipecat), dari hasil muktamar yang kami terima ya. Dari hasil yang kita terima
yang diserahkan panitia memang begitu, (sesuai) MKEK iya," kata dr Nasrul
Musadir Alsa.
(lir/lir)
Baca
artikel detiknews, "Urusan Panjang Bagi IDI Buntut Pecat Terawan"
selengkapnya