Waspadai Teknik Propaganda Politik Menjelang Pemilu 2024 !!!

2 views
Skip to first unread message

Roeslan

unread,
Sep 20, 2022, 11:35:42 AM9/20/22
to MU Ginting, gelor...@googlegroups.com

Waspadai Teknik Propaganda Politik Menjelang Pemilu 2024 !!!

Menjelang pemilu 2024 nampaknya Rakyat Indonesia akan menghadapi propaganda politik, dalam konteks ini saya berpendapat bahwa Rakyat Indonesia harus mencermatinya secara serius. Dalam konteks ini, yang harus di cermati adalah kemungkinan adanya beberapa orang Indonesia, terutama sekali elite politik dari partai-partai politik di Indonesia, ada yang telah bersiap-siap untuk menggunakan teknik propaganda Glittering Generality; yaitu menghubungkan sesuatu dengan >>kata yang baik<< , dipakai untuk membuat kita menerima dan menyetujuinya sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti. 

Menurut pengamatan saya,Glittering Generality pada umumnya muncul dalam pengiklanan yang mengandung penipuan pada tingkat tertentu; sehingga tindakan resmi diberlakukan. Beberapa pabrik misalnya, pabrik Sabun, pabrik Margarine, pabrik Sampo ; diminta oleh investornya untuk mengeluarkan pernyataan bahwa produk mereka menggunakan ``bahan-bahan alami``. Demikialah yang digunakan dalam periklannan pabrik-pabrik di negara-negara Kapitalis neoliberal bersaing dalam masalah nama-nama Produk dan Promosi.

Glittering Generality ternyata juga muncul bidang politik, di Indonesia Glittering Genertality ini muncul dalam menjelang Pemilu 2024, yang di isukan sebagai sebuah kegiatan elite politik yang tak kenal susah payah dalam usahnya untuk meningkatkan kesejahteraan Rakyatnya, ini tercermin dalam media sosial, antara lain yang muncul di Kompas.com dengan judul Ricuhnya Elite Politik ``naik-Turun Gunung `` baca: https://nasional.kompas.com/read/2022/09/19/06000031/riuhnya-elite-politik-naik-turun-gunung.
``Turun-naik`` Gunung kini telah menjadi perdebatan panas yang menarik, yang di awali dari rekaman video Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, majelis Tinggi Partai Demokrat yang mengancam akan turun gunung karena beliau mendengar  kabar ada tanda-tanda  bahwa pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 penuh dengan kecurangan, bahwa Pemilu 2024 akan diselenggarakan dengan tidak jujur dan tidak adil. Penyataan SBY yang diduga dilakukan saat acara Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat itu membuat pamor ``turun`` gunung.  Pernyataan ``turun`` Gunung SBY sepertinya bagus, mencerminkan bahwa SBY telah berusaha membenahi sistem Pemilu  2024 yang penuh dengan kecurangan. Menurut pengamatan saya ,sebagian besar Rakyat Indonesia memandang bahwa Ricuhnya Elite Politik ``naik-Turun Gunung hanyalah merupakan jalan yang efektif  untuk memancing timbulnya kepercayaan Rakyat terhadap SBY, yang se-olah-olah akan mencegah terjadinya kecurangan dalam pemilu 2024, sehingga dapat  meningkatkan kesejahteraan Rakyat.Demikianlah makna Glittering Generality yang disebar luaskan di media masa lewat Kompas.com dengan judul judul Ricuhnya Elite Politik ``naik-Turun Gunung.

Dalam konteks ini saya ``melihat`` Glittering Generality adalah merupakan suatu bentuk teknik Propaganda, yang mengkaitkan suatu kata-kata yang baik, yang dipakai untuk membuat kita menerima dan menyetujuinya tanpa memeriksa bukti-bukti. Dalam konteks ini saya melihat bahwa kekacauan pemilu di era reformasi ini teutama disebabkan oleh karena pemilu Indonesia selalu menggunalan sistem Hirarki dominasi atau hirarki kekuasaan, yang bisa disebut sebagai Hirarki wewenang, yang dalam praktek kehidupan masyarakat telah membawa manusia pada sifat penguasaan terhadap orang lain (Dominasi atas orang lain), sifat kemarahan, sifat penindasan manusia atas manusia.  Khususnya di Indonesia Hirarki dominasi berdampak pada pembunuhan terhadap Demokrasi. Dan Inilah yang terjadi di Indonesia era ``Reformasi``yang sudah 24 tahun berlalu. Kebijakan inilah yang tetap dipertahankan oleh jaringan Oligarki yang mendominasi kekuasaan di Indonesia khusunnya di MK. Ini tercermin dalam ketetapan Pemilu yang diatur dengan apa yang disebut Presidential Threshold yaitu ambang batas perolehan suara yang harus diperoleh partai politik dalam suatu pemilu untuk dapat mengajukan calon presiden. Rakyat menghendali adanya perubahan sistem Pemilu, tapi Majelis Konstitusi (MK), menolaknya. Ini berarti  Benar apa yang di katan oleh Yusril Ihza Mahendra bahwa MK tidak lagi sebagai 'the guardian of constitution', tetapi MK telah bermetaformosis  menjadi 'the guardian of oligarchy' . Masalah inilah yang akan menjebabkan terrjadinya kecurangan pemilu 2024 yang di sinyallir oleh SBY.  Oleh karena Undang-Undang Pemilu yang bersandar pada Presidential Threshold inilah yang menyebabkan mengapa SBY turun gunung, untuk memperkuat konsolidasi partai demokrat dengan Nasdem dan PKS. yang akan  menetapkan AHY paling tidak sebagai cawapres pada pemilu 2024. Untuk maksud itulah  maka YBY memerlukan dirinya untuk turun Gunung . Jadi jangan  dilebih-lebihkan. Selama MK tetap menjadi ``the guardian of constitutioin``, jangan berilusi Pemilu di Indonesia akan dapat menghasilkan suatu Presiden yang visioner, Karismatik dan Revolusioner, seperti yang sudah saya sampaikan dalam tulisan yang sebelumnya.

R-Roeslan.

 

 

 

 

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages