Minggu, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil
Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya
hanya berempat. Pak Menteri BUMN aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di
depan kiri berdampingan dengan Zahidin, sopir pribadinya. Sedangkan aku
dan pak Jusak, duduk di belakang. Kami berdua seperti juragan di mobil
mewah itu. Terlihat beberapa botol air mineral dan camilan kecil
tersedia rapi. Juga ada permen. ''Kita berangkat pagi, karena aku
pingin mampir ATC (Auto Traffic Control) di Soeta,'' kata pak menteri
sambil menggulung lengan hem bergaris-garis warna biru yang dikenakan.
Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan kumasukkan ke dalam bagasi mobil
berwarna hitam metalik itu.
Sepinya jalanan ibukota, membuat
Zahidin tancap gas full. Tidak sampai 1 jam, perjalanan menuju bandara
Soeta dari Capital Residence, dilalui tanpa hambatan. Lucunya, saat
sampai di pintu gerbang Perum Angkasa Pura (PAP), mobil melaju pelan.
Pak menteri bergegas menurunkan kaca sambil menyapa sekurity dan satpam
yang tengah berjaga. ''Pagi, pak. Permisi, ya'' sapa pak Dis dengan
ramah. Belum sempat menjawab, mobil yang membawa kita melaju menuju
sebuah gedung paling ujung. Rupanya gedung ini adalah tempat paling
vital milik PAP. Karena di gedung inilah letak berbagai mesin pengontrol
lalu lintas udara yang ada di bandara Soeta.
Belum
sampai di tempat parkir, terdengar peluit dari security yang kita lalui.
Dari belakang, kulihat petugas jaga yang ada di pos, berlari-lari
menghampiri mobil kami. Dengan wajah garang, seorang petugas berbadan
agak tambun menyuruh mobil kami kembali. Alasannya, tempat terlarang dan
tidakb oleh sembarangan orang masuk. Untuk urusuan itu, pak Dis
menyerahkan pada Zahidin. Sepintas, kulihat ada adu argumentasi antara
sopir pribadi pak Dis dengan petugas security. Sedangkan Pak Jusak
buru-buru mencari toilet. Apa yang terjadi, aku tidak tahu pasti.
Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang sangat cepat, lebih penting.
Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis menuju sebuah gedung yang
salah satu mejanya bertuliskan receptionis. ''Pagi, Assalamulaikum,
permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu kosong. Tak ada jawaban.
Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan berusaha memasuki ruang demi
ruang yang ada sambil melihat-lihat keadaan. Kotor dan perlatan kantor
berserakan tidak pada tempatnya. Disamping itu, terlihat meja kerja
maupun meja tamu, terdapat botol air menieral, bekas piring makan dan
satu lagi, asbak penuh puntung rokok. Padahal, ruangan itu full AC.
Dingiiiiiin.
Bagiku, ini aneh. Meskipun minggu
dikenal hari libur bagi masyarakat umum, tidak demikian dengan PAP dan
dunia airline. Hari libur, justru hari-hari sibuk bagi instansi yang ada
dalam salahs atu BUMN tersebut. Makanya, ada 3 shif yang diberlakukan
bagi karyawannya di bagian ini. Belum tuntas keanehanku, muncul suara
nyanyian dari laki-laki yang ada di dalam ruangan yang ada di
televisinya itu. Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan salam.
Bukan jawaban salam, yang kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa sih
lo, pagi-pagi gini. Berisik amat,'' demikian jawab laki-laki berseragam
dengan wajah ketus. Begitu melihat wajahku, laki-laki lain muncul
dengan suara tak kalah garang. ''Siapa yang suruh masuk ke sini,''
katanya dengan suara lebih keras. Akupun tak mau kalah. ''Mana bosmu,
pak menteri pingin ketemu,'' jawabku dengan tak kalah garang. Mendengar
suara galakku, laki-laki yang ada di dalam, ikutan keluar. Sampai
akhirnya ada lima orang lelaki yang bersiap menghadapiku. Saat kutoleh
ke belakang, pak Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis keluar dan
mencari-cari sendiri ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti langkah
gesitnya. ''Lho, bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,'' kata dua petugas
yang masih muda dan ganteng. Tanpa menjawab, akupun pergi berlari
menguntit langkah pak Dis dari belakang.
Kulihat,
ada perubahan wajah pak Dis dari yang sebelumnya ramah, agak kecut. HP
blakberry warna hitam dikeluarkan dan memencet nomor telepon. Sambil
terus berjalan, pak Dis menelepon seseorang. ''Assalamulaikum, selamat
pagi mas. Mohon maaf, mengaanggu libur anda ya. Sory, nih, saya nuwun
sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC. Melihat komputer yang baru kita
beli kemarin. Nuwun sewu lho, mas,'' ucap pak menteri. Rupanya, pak Dis
menelpon bos PAP yang tengah menikmati libur minggu. ''Tidak usah,
tidak usah. Biar saya sendiri saja yang mencari. Saya sudah ada di dalam
kantor anda kok ini. Cuma mencari-cari belum ketemu,'' ucap pak menteri
sambil terus membuka-buka pintu ruangan yang dilalui. Rupanya, sebelum
itu, pak Dis sudah pernah berkunjung. Hanya saja, lupa tempatnya. Meski
demikian, pak Dis tidak putus asa. Sampai akhirnya, ada ruangan yang
bertuliskan ATC. Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' ucapnya
dengan wajah berbinar.
Akupun mengikuti langkah pakDis.
BEnar. Di ruangan yang agak tersembunyi itu, terdapat sebuah ruangan
khusus. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang bekerja. Sambil
mengucapkan salam, pak Dis menyalami satu persatu karyawan yang tengah
bertugas. Tentu saja mereka kaget. Tidak mengira, jika ruangan mereka
dikunjungi menteri. Beberapa orang yang tadinya santai, terlihat kembali
ke komputernya. Begitu juga yang tengah merokok, meletakkan putung
rokoknya di asbak yang ada di sampingnya. ''Wah, nglembur ya. Maaf, saya
menganganggu,'' ucap pak Dis sambil bertanya-tanya pada karyawan yang
berkerja kala itu. Setelah meminta penjelasan bagian apa ruangan yang
tengah didatangi, pak Dis minta ditunjukkan tangga menuju tower ATC.
''Wah, disini perokok semua ya,'' kata pak Dis setengah menyindir.
Kudengar ada yang menjawab dan ada yang membisu, sambil mematikan putung
rokoknya. Beberapa orang, kulihat sibuk menelepon. Entah siapa yang
ditelepon.
Pastinya, ada dua orang lelaki yang
memperkenalkan diri sebagai supervisor menjadi penunjuk jalan menuju
tower. Kamipun berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan. ''Di sini pak.
Mari,'' ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan hem kuning muda. Di
depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan ''dilarang masuk'' dan
tulisan ''steril''. SElain itu juga ada tulisan ''jagalah kebersihan''.
Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot sepatu ketsnya.
Apalagi di tempat itu juga terdapat rak sepatu. ''Di sini tidak
sembarang orang boleh masuk, pak,'' kata petugas tadi menjelaskan
ruangan khusus itu. Pak Dis hanya manggut-manggut. Setelah itu, kami
diajak naik ke sebuah tangga. Kalau tidak salah, ada 10 anak tangga yang
kami naiki. Di ujung anak tangga, terdapat sebuah ruangan yang
dipintunya bertuliskan ''yang tidak berkepentingan di larang masuk''.
Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh ruangannya
full komputer. Suasananya ramai. Sedikitnya ada 30 komputer berbagai
ukuran. Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang,
ruangan yang super dingin itu tidak sesteril, seperti slogan yang
dituliskan. Buktinya, di samping meja komputer, ada beberapa makanan.
Mulai makanan kecil, sampai piring bekas makan mie. Tragisnya, ruangan
ber suhu super dingin itu terdapat beberapa asbak ukuran 1 meter. Sangat
kontradiksi, memang.
STRES
Melihat ini
semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada rokok dan bekas
makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis serius. Kulihat,
leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan. ''Oh, iya pak. Rokok
itu untuk menghilangkan stres saja. Kalau tidak, temen-teman tidak bisa
konsentrasi dalam memantau jalur-jalu penerbangan,'' jawab lelaki itu
sekenanya. ''Oh, gitu ya. Kalau stres ya gak usah bekerja saja. Cukup di
rumah. Di sini kan butuh orang sehat. Bukan untuk orang stres,'' jawab
pak Dis tak mau kalah. Melihat jawaban itu, lelaki tadi tersenyum
kecut. ''Iya, pak. Siap,'' jawabnya dengan wajah pucat. ''Tolong ya,
pak. yang stres diistirahatkan saja,'' tambah pak Dis. Setelah itu, pak
Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang baru saja didatangkan
oleh kementeriannya. Setelah itu, pak Dis berkeliling dan melihat
sekeliling. Begitu melihat ada piring makan, sendok, mangkuk dan
beberapa bekas pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ''Lebih komplit
disini, dibuka kantin atau resto ya,'' ucapnya sinis. Sindiran ini
ternyata direspon positif. Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya
mengikuti langkah kita, buru-buru menugasi kawannya membersihkan bekas
makanan, piring atau apa saja yang ada di meja sekitar komputer. Akupun
hanya senyum-senyum melihat karyawan di bagian komputer itu kelabakan.
KONSER
Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC
berada. SEsuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada di
bandara Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap bandara.
Karena di tempat inilah komunikasi antara petugas dengan pilot pesawat
untuk minta ijin landing atau take off pesawat. Sial. Meskipun tempat
ini bisa dikatakan jantungnya bandara, tidak seperti yang digambarkan.
Super sterilnya tidak tampak. Putung rokok juga masih ada di beberapa
tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri,
kembali kecewa. Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak diimbangi
dengan atitu operatornya. Ketka ditanya mengapa masih ada putung dan
asbak, petugas tadi berkata lugu.
''Biasanya kalau teman-teman
panik, pelampiasannya memukul-mukul berbagai alat yang ada untuk
pelampiasan kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak. Apalagi jika cuacanya
buruk seperti akhir-akhir ini,'' ujar petugas yang bertanggung jawab di
bagian tower. Pak Dis pun mendengar dengan serius jawaban petugas
tersebut. ''Oh begitu. Bagus, bagus,'' jawab menteri kelahiran Takeran
sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan
secara rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di
bagian tower itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di
sebuah ruangan kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan akan
ditindak lanjuti. Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di
bagian tower sebagai pelampiasan kegalauan karyawan.
''Ita,
tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja kita di
Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower dibuatkan orkestra
untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik toh, jadi gampang
untuk mengatur mereka,'' kata pak Dis kepadaku. Mendengar ucapan pak Dis
kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya menganggukkan kepala.
Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila pak menteri gundah.
DOSEN
Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri mengenakan
sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru, akupun
mengisahkan bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos. Bapak-bapak,
kataku memulai ''ceramah'' kecil''. Di Jawa Pos, peralatannya juga
canggih karena ada alat cetak jarah jauh dan lain sebagainya
yangberkaitan dengan satelit. Untuk menjaga itu semua, bukan berarti
karyawan yang merokok tidak boleh merokok. Boleh. Asalkan di luar
ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh dilakukan. Karena
merupakan kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya itu harus dilakukan
pada tempatnya. Untuk merokok, haruslah di luar ruangan. Di dalam ruang
redaksi, harus steril. Jadi, kataku lebih lanjut, tolong, di sediakan
ruangan merokok bagi yang merokok. Sehingga, selain ruangan ber AC jadi
segar dan bersih, peralatan super canggih yang dibelikan dengan uang
rakyat bisa diperlihara dengan aman. Melihat aku berceramah seperti
dosen di depan mahasiswa, pak Dis menahan senyum sambil pura-pura sibuk
membetulkan tali sepatunya.
Oalah....rek....rek. Dadi opo aku iki.
Setelah itu, kamipun pamitan pulang. Di tengah perjalanan menuju mobil,
kulihat ada seorang pejabat yang buru-buru hendak menemui kami. ''Mana
pak menteri Dahlan,'' tanyanya kepadaku. Akupun segera menunjukkan
dengan tanganku ke arah belakang. Kulihat pak Dis sibuk menelpon di
temani tiga orang supervisor yang tadi kukuliahi. Sayup-sayup, ku
dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta maaf pada pak Dis karena
keterlambatannya itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di tempat lain,''
ucapnya memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet karena dinginnya
ruangan ''steril'' tersebut.
(bandara Soekarno-Hatta medio februari 2012)
dituturkan oleh Siti Ita Nasyi'ah wartawan di Majalah Kartini
--
==============================================
Website : www.tentangqatar.com
Facebook: http://www.facebook.com/TentangQatar
Kirim email ke milis : tentan...@googlegroups.com
Mendaftar ke milis : tentangqata...@googlegroups.com
Berhenti berlangganan milis kirim email ke tentangqatar...@googlegroups.com lalu reply pada saat menerima email konfirmasi
Ada hubungannya nggak ya ruangan ini dengan kecelakaan pesawat? Katanya komunikasi terakhir antara pilot Sukhoi dan airport terjadi bukan dengan Halim tapi dg Cengkareng.