From: "donnybu" <donn...@gmail.com>
Date: Sun, 13 Mar 2005 16:51:10 -0800
Local: Sun, Mar 13 2005 7:51 pm
Subject: Re: Himbauan Kepada Hacker & Cracker Indonesia & Malaysia
Priyadi Iman Nurcahyo wrote: eh ndak apa2 mas, saya yang justru minta maaf kalau dalam dalam > On Sunday 13 March 2005 22:35, donnybu wrote: > ok, pertama2 saya minta maaf kepada mas donnybu atas reaksi saya merespon masukan dari teman2, ada beberapa hal yang seolah2 "berseberangan". sebenarnya ya itu tadi, perbedaan adalah rahmat. btw, saya rada2 lupa, kapan mas pri dulu nulis buat detikinet.com (IT detikcom) ya? saya resign dari detikinet sekitar tahun 2001 (masuk 1999). dan sejak sebulan lalu, saya ditarik kembali dan diminta untuk membenahi dan meningkatkan kualitas detikinet. salah satu tugas saya adalah mereinkarnasikan detikinet menjadi sebuah "portal baru" (disainnya, rubrikasinya, penulisannya, awaknya, dsb). kini tengah dirancang berbagai macam hal yang akan menuju ke hal btw, saya lupa menyampaikan juga. tulisan yang sudah dalam bentuk > pendapat saya masih sama. detikinet terlalu mendekatkan diri ke dunia ya memang. masih banyak para oknum yang berdarah muda, baca cuma > underground dibandingkan ke sisi lainnya. ciri artikel detik tentang deface > tetap sama seperti dulu: mencantumkan identitas/nickname oknum, kata-kata > hasil deface, dan terkadang bahkan screenshot. hal ini menurut saya sudah > cukup untuk menjadi 'bahan bakar' untuk para oknum tersebut. mereka sudah > melakukan tindak kriminal dan menurut saya tidak akan peduli terhadap > editorial yang ditaruh di bawah artikel. judulnya aja, lalu udah panas. itu kalau dikasih koran rakyat merdeka, mungkin bawaannya pingin berantem melulu. hehehehe.... tetapi saya juga "terpaksa" beberapa hari belakangan melakukan penetrasi langsung ke chatroom mereka. saya posting url berita di detikinet, dan mereka ternyata membaca baik2. terbukti banyak yang kemudian melakukan posting dengan menggaris-bawahi > menurut saya sebenarnya sudah cukup informasi bahwa situs ini detikhot :) dicrack, situs > itu dicrack dan tentunya tidak perlu sampai ada 1/2 lusin berita tentang > deface dalam 1 hari. gimana kalau dibahas juga liputan dari sisi lainnya, > yaitu dari pihak yang mengalami kerugian. selain itu bisa bahas juga dari > sisi teknisnya juga misalnya dari servis mana cracker bisa menyusup, jangan > cuma dibahas dari sisi intriknya saja. ini kan detikinet, bukan yes. ini saya sepakat. sebenarnya hampir 1/2 lusin berita soal deface nah kemudian kita memang sudah berniat melakukan konfirmasi kepara para misalnya 2 hari lalu, ketika tim detikcom sedang SWOT ke anyer, hp saya lalu dari soal teknisnya, sebenarnya di awal2 berita (kalau ndak tetapi sangat mungkin, jika memang ada serangan lagi yang sifatnya > intinya mungkin seperti yang saya katakan sebelumnya, masyarakat saya yakin, masyarakat kita, khususnya sidang pembaca detikinet secara melihat > aktivitas crack mengcrack sebagai sesuatu yang 'wah', 'hebat', 'patut > dibanggakan', 'patriotik', 'nasionalis', dll dsb. menurut saya (dan mudah2an > sebagian besar di sini juga) cracking adalah hanyalah tindak kriminal biasa, > bedanya hanya menggunakan media internet. sekarang tinggal bagaimana reaksi > media massa dengan detik salah satunya menyikapi kondisi demikian. umum cukup dewasa untuk membaca pesan yang tersurat dan tersirat di pemberitaan. apalagi kalau seperti rekan2 di teknologia, pasti dengan mudah dapat menebak, berada di posisi mana sebenarnya detikinet dalam kasus aksi salingdeface tersebut. sebenarnya gak hanya detikinet atau berita IT saja. bahkan berita2 politik di media massa nasional sekalipun, atau CNN kalaupun mau dikata demikian, bisa kita tebak posisinya dari pemberitaan mereka "selengkap"-nya. dari judul, pemilihan angle, pemilihan nara sumber, waktu tayang, durasi, audio-visual pendukung, dsb. > sebenarnya kalau mau kita lihat, bentuk 'perang cyber' bukan cuma tenang saja mas. komunitas blog sudah menjadi sebuah pertimbangan yang crack > mengcrack. di blog juga sangat ramai, kita bisa dengan mudah cari opini dari > pihak kita atau seberang, di pihak kita bisa lihat homepage dudi gurnadi, > sedangkan untuk pihak malaysia misalnya di http://www.jeffooi.com/. detikinet > saat ini bahkan belum memuat himbauan dari pak budi rahardjo. saat ini pun > saya sibuk memoderasi komentar-komentar tentang yang masuk ke blog saya, > dalam satu jam bisa ada 5-10 komentar tentang ambalat, tapi hampir semuanya > memang cuma 'sumpah serapah' dari kedua belah pihak. coba sekali-kali search > technorati atau bloglines dengan keyword 'ambalat'. saya yakin di sana lebih > banyak yang menarik daripada cuma sekedar crack mengcrack. serius bagi teman2 di detikinet. tetapi memang untuk mengangkat sebuah opini di blog menjadi sebuah berita, tidak mudah. karena menyangkut 5w+1h tadi. khususnya, "who", alias "siapa dia?". beda misalnya ketika irak dalam persiapan akan digempur oleh amerika. ada sebuah blog yang terkenal, milik seorang remaja di iraq, yang terus-menerus melakukan update kondisi iraq di blognya. nah blognya tersebut bahkan menjadi pemberitaan di media2 massa internasional. orang tidak lagi mementingkan "who"-nya, tetapi sudah pada "what"-nya, yaitu "situasi terkini iraq". ok trus balik ke soal komunitas blog indonesia, dalam salah satu lalu soal komen dari para pakar, tenang saja. detikinet punya aturan sama misalnya di suatu kelurahan ada 2-3 anak kena demam berdarah, lalu seperti apa penutupnya? ya tergantung topik beritanya. bisa ditutup > kalau detik gak setuju, saya akan coba ikut saran rekan2 yang lain, ini. diamkan > saja, jangan dibaca... jadi ini masukan saya yang terakhir untuk hal tidak setuju khan bukan berarti harus didiamkan khan? :) justru kalau jadi tetaplah menjadi pembaca setia detikinet. setia ini khan menjadi > mengenai artikel untuk detik? terus terang niat ke sana sudah ada, walah, kalau perlu, kritikan untuk detikinet.com, di-rewrite, lalu hanya saja > saya belakangan ini ngeblog sudah menjadi refleks :) kadang-kadang artikel > yang saya rencanakan untuk dikirim ke detik terpublish. tapi tunggu aja, > suatu saat pasti ada. mudah2an kritik saya gak menjadi penghalang artikel > saya untuk masuk detik :) jadikan saja artikel. ndak masalah kok mas. saya pernah menulis artikel untuk warta ekonomi soal peran media dalam "membakar" emosi para pelaku aksi deface. ya dimuat tuh. lalu saya pernah menulis untuk detikinet (1 tahun lalu), ya saya katakan kalau media massa punya peranan juga dalam eskalasi aksi deface, ya ndak masalah kok. yang perlu dihindari khan sebenarnya "serangan" yang bersifat frontal ke suatu media tertentu. misalnya secara detil menulis nama medianya. jadi misalnya menulis "detikinet kurang mendidik", tetapi minta dimuat jadi saya ndak pernah kepikiran bahwa suatu kritikan akan menjadi > sekali lagi mohon maaf kalau ada kata2 saya yang menyinggung... mudah2an saya dimaafken juga, kalau rada "bawel" dalam menjawab beberapa pertanyaan/tanggapan rekan2 :) nb: Aksi e-Ganyang Situs RI - Malaysia Aksi e-Ganyang Situs RI - Malaysia mudah2an bermanfaat :) -dbu- You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
| ||||||||||||||