Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel dibandingan perusahaan lokal.
Maksud kebijakan itu misalnya: 1. Akses internet hanya untuk manager keatas (lucunya managernya biasanya juga jarang pakai internet, lebih sering telpon atau sms). 2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll. 3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan siang atau jam pulang kantor. 4. dll
Alasannya sih bermacam-macam, mulai dari meningkatkan produktivitas, menghemat bandwidth serta lain-lain.
Ada yang mau berbagi bagaimana kondisinya di kantor masing-masing? Serta alasan apa seandainya ada pembatasan akses?
Menarik soalnya hal ini - terutama untuk menyusun 'common business practice' vs. 'efective business practice'.
> Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan > internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan > perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel > dibandingan perusahaan lokal.
> Maksud kebijakan itu misalnya: > 1. Akses internet hanya untuk manager keatas (lucunya managernya > biasanya juga jarang pakai internet, lebih sering telpon atau sms). > 2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses > ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll. > 3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan > siang atau jam pulang kantor. > 4. dll
> Alasannya sih bermacam-macam, mulai dari meningkatkan produktivitas, > menghemat bandwidth serta lain-lain.
> Ada yang mau berbagi bagaimana kondisinya di kantor masing-masing? > Serta alasan apa seandainya ada pembatasan akses?
Ada, Dikantor saya akses internet sangatlah lambat, lebih cepat dial up sedikit, sehingga akses internet ke tempat yang banyak load gambarnya sering kali di blok, spt friendster, multiply, youtube dan tentunya site porno.
Sebenarnya ada tawaran yang murah untuk solusi internet ini , tapi karena kalau langganan isp sekarang bisa ngutang jadinya gak pindah isp :|
Tapi sepertinya lucu sih, perusahaan konsultan IT sering bermasalah dengan internetnya :|
Menarik soalnya hal ini - terutama untuk menyusun 'common business
On 10/3/07, Andriansah™ <andrians...@gmail.com> wrote:
> Ada, > Dikantor saya akses internet sangatlah lambat, lebih cepat dial up sedikit, > sehingga akses internet ke tempat yang banyak load gambarnya sering kali di > blok, spt friendster, multiply, youtube dan tentunya site porno.
Alasannya keterbatasan kecepatan ya? Masuk akal sih seandainya memang sangat lambat.
> Tapi sepertinya lucu sih, perusahaan konsultan IT sering bermasalah dengan > internetnya :|
Masih banyak loh yang lebih lucu, seperti perusahaan web developer dan e-learning tapi programmer dan desainernya tidak dapat akses internet. Seru kan ;).
On 10/3/07, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:
> Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri. > Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada > di kantor.
Betul pak, jadi sepertinya alasan 'produktivitas' jadi basi ya? Toh kalau alasannya tidak boleh memakai internet di kantor masih banyak cara menuju Roma.
> Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua > dan itu merupakan masalah security.
Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko pemborosan bandwidth?
On 10/3/07, boy avianto <avia...@gmail.com> wrote:
> On 10/3/07, Budi Rahardjo <rah...@gmail.com> wrote:
> > Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri. > > Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada > > di kantor.
> Betul pak, jadi sepertinya alasan 'produktivitas' jadi basi ya? Toh > kalau alasannya tidak boleh memakai internet di kantor masih banyak > cara menuju Roma.
tapi kalau untuk keperluan kantor masa harus karyawan yang modalin? mending 3G itu untuk proyek sampingan buat bayarin biaya 3Gnya
> Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua > > dan itu merupakan masalah security.
> Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih > pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi > karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko > keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko > pemborosan bandwidth?
Kalau buat saya sih kecepatanya sewajarnya deh, masak harus bukan gmail harus bersabar 5 menit dulu, mau search digoogle.com harus bersabar juga menunggu buka hasil search dari google. Saya lebih baik ada pembatasan ke situs tertentu, tapi akses internet cukup kencang, tidak secepat dial up :|
Ayo, yang lain bisa ikutan diskusi?
Ditempat saya kerja (klien), ketiadaan internet seperti membuat kita sendiri sengsara, padahal hubungan dengan klien, walaupun hanya selemparan kertas, sering dilakukan dengan internet. Akhirnya terpaksa kita mencuri user internet yang ada, bagaimana mencurinya? wah nanti yg audit bakal kasih saran untuk makin memperketat :)
btw, sebenarnya kita sudah minta dengan tertulis agar diberikan akses internet ditempat kita kerja (client site), tapi dengan alasan keamanan hal ini tidak bisa dilakukan karena berarti kita bisa mengakses intranet jaringan.
Mau pake 3G / 3,5G? selama untuk keperluan pribadi sih gpp, tapi kalo untuk keperluan kantor jadinya sayang, mending dibayarin kantor. Akhirnya solusinya adalah dengan mencari passwd, kalau perlu tanya langsung ama user yang bersangkutan agar kita bisa akses internet
> > Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri. > > Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada > > di kantor.
Gak semua karyawan punya HP yang ada 3G nya (termasuk saya). Dan kalaupun ada, rugi lah mau pake.. wong ada yang gratis (punya kantor). Disini kita kasih pembatasan, karena: 1. Koneksi lambat. Terutama kita batasi saat orang finance mau akses bank. 2. Banyak yang buka FS, MP, dan sejenisnya. Ini tuntunan management, gak terlalu suka lihat orang pake fasilitas kantor untuk ber-haha-hehe.
> > Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua > > dan itu merupakan masalah security.
> Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih > pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi > karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko > keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko > pemborosan bandwidth?
Banyak yang prefer pake blackberry, karena mereka lebih butuh imel dan chating, dimana BB sangat efisien dan sangat mobile. Untuk internet (yang dicolokin ke laptop / pc), tetap dibatasin.
> Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan > internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan > perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel > dibandingan perusahaan lokal.
> Maksud kebijakan itu misalnya: > 1. Akses internet hanya untuk manager keatas (lucunya managernya > biasanya juga jarang pakai internet, lebih sering telpon atau sms). > 2. Beberapa situs tertentu di blok - baik dengan keyword maupun akses > ke situs seperti friendster, flickr, youtube, yahoo dll. > 3. Akses internet hanya diberikan pada jam-jam tertentu - jam makan > siang atau jam pulang kantor. > 4. dll
> Alasannya sih bermacam-macam, mulai dari meningkatkan produktivitas, > menghemat bandwidth serta lain-lain.
> Ada yang mau berbagi bagaimana kondisinya di kantor masing-masing? > Serta alasan apa seandainya ada pembatasan akses?
> Menarik soalnya hal ini - terutama untuk menyusun 'common business > practice' vs. 'efective business practice'.
> Terimakasih sebelumnya!
Kalau saya pernhanya bertemu dengan alasan tidak produktif. Misalnya alih-alih mengerjakan tugas yang sudah diassign malah mainan frenster, dll. Project manager bilang tdak produktif, sedang bawahannya bilang mereka ngenet untuk mencari atau mempertahankan mood, dan atau belajar.
Sampai pada titik tersebut, saya bingung. Mana yang hendak dibenarkan. Diambil jalan tengah dengan jawaban "semua harus direncanakan" atau mengusut dulu kenapa karyawan suka ngenet di (jam) kantor? Dari sisi karyawan, tentunya masih banyak yang bilang bawah internet mahal. Adanya fasilitas internet di kantor, selain sebagai sarana komunikasi dan sarana mencari informasi, juga bisa dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan "kemewahan" bagi sebagian karyawan -- dalam rangka menuju titik puas.
Solusi yang bisa dipakai untuk memecahkan masalah karyawan dan project manager mempunyai dua alternatif. Didekati dari sisi karyawan, dengan jalan menfasilitasi supaya moodnya bagus, karyawan seang dan kemudian energinya diorganisasi sedemikian rupa oleh project manager untuk menyelesaikan target proyek. Atau, didekati dari sisi project manager dengan memaksakan policy ketat, seperti melarang akses internet pada jam-jam tertentu dan berimbas pada resistensi atau penurunan semangat kerja akibat belenggu aturan?
Tentu saja, secara klise, kita bisa menjawab bahwa masalah seperti itu perlu dipandang lebih holistik dengan mempertimbangkan kondisi yang ada dan tujuan yang hendak dicapai. Solusi tidak harus terlalu mudah atau terlalu dipersulit.
Waduh, mudah2an saya tidak salah fokus :D.Masih "cupu", mohon pencerahannya dari yang sudah teman-teman sekalian :D.
PS: alasan pembatasan akses: - tidak produktif - konsumsi akses internet mengganggu kelancaran komunikasi kantor dengan klien - konsumsi akses tidak bermanfaat karena dipakai untuk kepentingan yang tidak bermanfaat (secara langsung) bagi kantor - bandwidth mahal
> > > Sekarang malah banyak yang langsung pakai 3G (3,5 G?) sendiri. > > > Dia langsung langganan sendiri tanpa peduli internet yang ada > > > di kantor.
> Gak semua karyawan punya HP yang ada 3G nya (termasuk saya). Dan > kalaupun ada, rugi lah mau pake.. wong ada yang gratis (punya kantor). > Disini kita kasih pembatasan, karena: > 1. Koneksi lambat. Terutama kita batasi saat orang finance mau akses bank. > 2. Banyak yang buka FS, MP, dan sejenisnya. Ini tuntunan management, > gak terlalu suka lihat orang pake fasilitas kantor untuk > ber-haha-hehe.
> > > Problemnya ... kaki komputer (notebook)nya jadi dua > > > dan itu merupakan masalah security.
> > Benar, jadi malah lebih parah urusan securitynya. Wah, terimakasih > > pak, jadi ada wacana tambahan: Lebih baik membatasi internet tetapi > > karyawan masih bisa akses dengan fasilitas pribadi (3G) = resiko > > keamanan meningkat - atau - tidak dibatasi saja dengan resiko > > pemborosan bandwidth?
> Banyak yang prefer pake blackberry, karena mereka lebih butuh imel dan > chating, dimana BB sangat efisien dan sangat mobile. Untuk internet > (yang dicolokin ke laptop / pc), tetap dibatasin.
Sepertinya memang tidak bisa digeneralisasi, untuk kantor yang pekerjaannya administratif _kayaknya_ akan cenderung lebih ketat dalam aturan2x seperti ini.
Kantor saya yang sekarang di bidang kreatif cukup bebas soal akses Internet, selama kerjaan beres ga ada batasan soal akses internet.
On 10/3/07, boy avianto <avia...@gmail.com> wrote:
> Akhir-akhir ini saya sering berdiskusi mengenai kebijakan penggunaan > internet di kantor. Ternyata beragam sekali dan saya perhatikan > perusahaan asing (MNC dkk) biasanya justru jauh lebih fleksibel > dibandingan perusahaan lokal.
Di tempat saya, pembatasan akses hanya untuk keperluan security, misalnya port 25 diblokir (membatasi kemungkinan open relay yang dimanfaatkan para spammer). Komunikasi email harus melalui MX kampus yang telah ditentukan.
Peraturan penggunaan komputer/Internet ada, tapi tidak diimplementasikan dengan menggunakan tools di network. Hanya berupa aturan/himbauan tertulis mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Misalnya, ada aturan yang melarang penggunaan aplikasi file sharing semacam bittorrent. Di jaringan, tidak ada port2 aplikasi P2P yang diblokir. Akan tetapi, kalau ketahuan menggunakan aplikasi file sharing (melalui log di proxy server atau cara lain), sangsinya berat, misalnya tidak diperbolehkan menggunakan Internet di kampus sampai lulus atau paling berat DO. Aturannya halus, tapi mematikan.
On 10/3/07, Enda Nasution <enda....@gmail.com> wrote:
> Sepertinya memang tidak bisa digeneralisasi, untuk kantor yang pekerjaannya > administratif _kayaknya_ akan cenderung lebih ketat dalam aturan2x seperti > ini.
Betul, tidak bisa digeneralisir. Kebijakan manajemen juga pengaruh.
Bulan lalu saya dipanggil --lagi-- karena sudah menghabiskan benwit sekitar 2GB :d Kantor saya pake ISA proxy dan windows domain. Semua pemakaian internet selalu tercatat.
Kenapa dipantau sampe hal kecil?
Karena kebijakan mikromanajemen.
Awalnya dari Teori X: "semua karyawan malas, jadi perlu dicambuk". Saya amati 'penyakit' ini muncul di organisasi yg banyak manajernya, tapi minim leader. Inkapabilitas manajer untuk memotivasi karyawan lalu diwujudkan dalam hal kontrol yg ketat, sampai ke hal2 paling sepele/mikro. Thus, micromanagement.
Saya pernah baca buku, lupa judulnya, tapi inget satu quote-nya: "monitoring employees' downtime (i.e web surfing) will consume employees' trust, and eventually will risk healthy corporate culturel in long run".
Bukan berarti saya menentang ide "controlling". Total anarki cuma bisa jalan di wadah yg sifatnya liquid/organik seperti blogsphere, tapi ga bisa diterapin di organisasi struktural. Kontrol tetap perlu, hanya saja harus untuk alasan yg tepat.
Misal: situs porno diblock karena itu sarang virus dan worm. FS diblock karena memang nggak ada relevansinya ke urusan kerja, dst dst.
Itu cuma 'my 2 cents'. Saya cuma karyawan sekelas jongos/kacung. Ndak ada urusan sama pembuat kebijakan.
Bisanya cuma ngedumel kalo ndoro majikan mulai aneh2. Atau paling banter, ya pindah kerja cari leader yg lebih realistis. Dan memang itu yg saya lakukan --dan beberapa team member saya-- bulan2 terakhir ini :d