Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

Amburadul-nya Al-Quran

4 views
Skip to first unread message

mendang...@gmail.com

unread,
Dec 29, 2008, 11:36:59 AM12/29/08
to

The Quran's Historicity

MEMPERTANYAKAN BUKTI HISTORIS QURAN

Sebelum 750 AD (sekitar 100 tahun setelah wafatnya Muhamad) tidak ada
satupun dokumen yang dapat memberikan gambaran tentang perioda
pembentukan Islam. Tidak ada sedikitpun keterangan/kesaksian dari
masyarakat Islam selama 150 tahun pertama mereka, antara masa
penjajahan Arab pertama pada permulaan abad ke 7, sampai timbulnya
literatur pertama Islam abad ke 8 (Riwayah SIRA-MAGHAZI).

Satu-satunya hal yang kita miliki sebelum tahun 750 itu terdiri dari
‘hampir seluruhnya pernyataan yang tidak jelas asalnya' (“almost
entirely of rather dubious citations in later
compilations’’[Humphreys]).

Memang luar biasa bahwa Islam tidak dapat menunjukkan satupun bukti
sejarah buku suci mereka bahkan dalam waktu 100 tahun setelah
kelahiran nabi mereka.

Sejumlah cerita dalam Quran berasal dari abad ke-2 literatur Yahudi:

cerita Cain & Abel (Kain & Habil) dalam dalam Surah 5.31-32 dipinjam
dari Targum Jonathan ben Uzziah dan Mishnah Sanhedrin 4.5;

cerita Abraham, berhala dan penghancuran mereka dalam Sura 21.51-71
adalah dari Misdrash Rabbah ;

cerita Solomon dalam Sura 27.17-44, tentang burung yang dapat
berbicara dan ratu Sheba yang mengangkat gaunnya karena menyangka
lantai mengkilap sebagai air, diambil dari Targum kedua cerita
Esther.

Bahkan cerita Gunung Sinai diangkat dan mengambang diatas kepala
rakyat Yahudi sebagai ancaman kalau menolak hukum Yahwe (Surah 7.171)
berasal dari The Abodah Sarah. Dan seterusnya dst.

Dalam Surah 17.1 terdapat laporan tentang perjalanan Muhamad dari
mesjid suci ke mesjid terjauh. Dalam tradisi berikutnya, ayat ini
menunjuk kepada Muhammad menaiki langit ke 7, setelah sebuah
perjalanan malam ajaib (MI’RAJ) dari Mekah ke Yerusalem, diatas kuda
bersayap bernama Buraq. Ini berasal dari berbagai sumber : Testamen
Ibraham (~200), Rahasia Enoch (chap.1.4-10 and 2.1), dan buku Persia
tua berjudul Arta-I Viraj Namak.

Quran menunjukkan bahwa Muhammad memutuskan hubungan dengan orang-
orang Yahudi pada tahun 624 dan memindahkan arah Kiblat (Surah 2.144
and 149-150) dari Yerusalem ke Mekah. Namun, dokumen yang ada dalam
kepemilikan kami, yaitu Doctrina Iacobi Chronicler (dari tahun 661)
dan dokumen Usup Sebeos (dari tahun 660) menunjukkan hubungan baik
antara kaum Yahudi dengan kaum Ismaeli yang dahulu dikenal sebagai
kaum Saracen. Sumber berikut dari Armenia bahkan menyebut gubernur
Yerusalem adalah orang Yahudi pada tahap akhir masa penjajahan/
conquest. Jadi, testimoni-testimoni sejarah ini bertentangan dengan
kesaksian dalam Quran.

MEKAH

Dalam Surah 3.96 dan 6.92 terdapat sebutan Mekah (Bakkah) yang
merupakan tempat perlindungan pertama umat manusia, atau the ‘’Mother
of all settlement’’ Adam menempatkan batu hitam dalam Ka’bah pertama,
namun dalam Sura 2.125-127 disebutkan bahwa Abraham dan Ishmael yang
membangunnya kembali beberapa tahun kemudian.

Riset oleh Patricia Crone dan Michael Cook menunjukkan bahwa Mekah
tidak disebut-sebut dalam dokumen arkeologi sebelum permulaan abad ke
8. Ingatlah bahwa ini merupakan 1 abad setelah wafatnya Muhamad.

Bahkan lebih aneh lagi adalah pernyataan kaum Muslim bahwa selain
merupakan kota tua dan besar, Mekah juga pusat dagang Arab di abad ke7
dan sebelumnya. Pernyataan ini lebih mudah diperiksa kebenarannya
karena bukti-bukti dokumen dari jaman itu cukup banyak.

Dari riset ekstensif Bulliet bisa dikatakan dengan pasti bahwa
pernyataan kaum Muslim ini SALAH. Ini dibuktikan lebih lanjut oleh
Groom dan Muller yang mengatakan bahwa Mekah tidak mungkin berada pada
rute perdagangan karena secara geografis ini berarti orang harus
mengadakan de-tour (jalan memutar yg lebih panjang, yg justru
bertentangan dengan logika ekonomi kaum pedagang) ketimbang melewati
rute normal, yaitu melalui jalur barat. (It would have entailed a
detour from the natural route along the western ridge.)

Bahkan Patricia Crone menambahkan ‘’Mekah adalah tempat gersang dan
kering dan tempat-tempat macam itu bukan pilihan pedagang. Mengapa
karavan harus turun kedalam lembah gersang Mekah kalau mereka dengan
mudah dapat berhenti di Ta'if?"

Ia juga mempertanyakan, komoditi macam apa di wilayah Arab saat itu yg
bisa ditransportasi melewati jarak jauh dan alam kering, dan tetap
bisa dijual dengan mendapatkan keuntungan yang cukup besar untuk
mendukung pertumbuhan sebuah kota yang kedudukannya tidak strategis
itu?"

Faktanya adalah, pada abad-abad tidak lama menjelang kelahiran Muhamad
di tanah Arab ini tidak ada satupun jalur pedagangan internasional,
apalagi di Mekah. Ternyata kebanyakan data mengenai asal pernyataan
"Mekah sarang dagang" ini adalah gara-gara riset tidak teliti seorang
Jesuit, Henry Lammens, seorang "akademik yang tidak reliable".

Lammens menggunakan sumber-sumber abad pertama (seperti orang-orang
Romawi, Periplus dan Pliny) dan bukannya sumber-sumber sejarawan
Yunani yang hidup lebih dekat pada masa tersebut seperti Cosmas,
Procopius dan Theodoratos (P. Crone).

Kenyataannya, di abad pertama, jalur perdagangan Yunani antara India
dan negara-negara Mediterania sepenuhnya bersifat maritim. Silahkan
anda membuka atlas untuk mengerti mengapa. Tidak ada gunanya
mengangkut barang dagangan melewati jalan darat yang cukup jauh jika
jarak itu bisa ditempuh dalam separuh waktu lewat sungai/laut. Selain
lebih cepat dan menjaga agar komoditi dagangan tidak rusak termakan
waktu, juga lebih hemat dalam biaya dan resiko perjalanan. Logika
pedagang mana yg mau mengambil jalan/rute yg sama sekali tidak
ekonomis itu?

Menurut Nn. Croone, pada masa kaisar Dioclesias, lebih murah bagi
kerajaan Romawi untuk mengangkut gandum lewat laut sepanjang 780 km
(1,250 miles) ketimbang mengangkutnya lewat jalan darat sepanjang 30
km (50 miles). Mengapa para pedagang dari India mengirim lewat laut
barang dagangan mereka, menurunkannya di pelabuhan Aden dan meneruskan
perjalanan di pundak onta sepanjang 780km lewat gurun gersang?

Jika Lammens melakukan riset secara benar, ia juga akan melihat bahwa
jalur perdagangan Yunani-Romawi dengan India runtuh pada abad 3 AD
(sesudah Masehi), sehingga pada jaman Muhammad tidak ada jalur darat
maupun pasar Romawi yang menjadi tujuan barang dagang tersebut. Croone
juga menunjukkan bahwa, seandainya Lammens meluangkan waktu untuk
membaca sumber-sumber Yunani kuno, ia akan menemukan bahwa orang-orang
Yunani -- tujuan barang dagangan tsb -- belum pernah mendengar nama
kota Mekah. Kalau memang tempat itu begitu penting, tentunya mereka
yang akan menerima barang dagangan tersebut pasti mengetahui
eksistensinya. Namun, kita TIDAK MENEMUKAN SEDIKITPUN KETERANGAN,
kecuali bahwa orang Yunani menyebut kota Ta’if dan Yathrib (kemudian
dinamakan Medina), juga Khaybar di bagian utara. Tidak adanya sebutan
Mekah dalam dokumen historis memang merupakan fakta problematik dalam
membuktikan keberadaan sebuah kota yang dianggap pusat kelahiran
Islam.

Bahkan terdapat kebingungan dalam tradisi Islam tentang dimana
sebenarnya letak Mekah. Menutut riset J. van Ess, baik pada masa
perang sipil pertama dan kedua, ada kesaksian tentang orang-orang yang
bergerak dari Medina ke Iraq, lewat Mekah. Namun kota MEKAH itu
terletak di bagian south-west Medina sementara Iraq berada di belahan
north-east. Maka kota perlindungan Islam, menurut tradisi tersebut
terletak di bagian timur Medinah, yaitu arah berlawanan dari letak
Mekah sekarang!?!?!

(According to the research by J. van Ess, in both the first and second
civil wars, there are accounts of people proceeding from Medina to
Iraq , via Mecca , yet the town is situated south-west of Medina and
Iraq is north-east. Thus the sanctuary for Islam, according to these
traditions was at one time north of Medina , which is the opposite
direction from where Mecca stands today!)

Ini mengakibatkan kebingungan. Bukan hanya bukti-bukti dokumenter Arab
dan Yahudi tentang penanggalan saling kontradiksi, namun kota pusat
Islam itu dikenal hanya jauh kemudian.


BUKTI ARKEOLOGIS ARAH KIBLAT

Dikatakan bahwa arah kiblat ditetapkan pada Mekah pada sekitar tahun
624. Namun bukti-bukti arkeologis yang masih berlangsung pada mesjid-
mesjid pertama yang dibangun pada abad ke7 oleh para arkeolog Creswell
dan Fehervari mengenai 2 mesjid Umayyad di Iraq dan didekat Baghdad,
menujukkan bahwa Kiblat tidak diarahkan pada Mekah tetapi jauh ke
utara. Mesjid Wasit malah melewati Mekah sebanyak 33 derajat dan
mesjid Baghdad sebanyak 30 derajat. Ini sesuai dengan kesaksian
Balahhuri (yang disebut Futuh) bahwa Kiblat mesjid pertama di Kufa,
Iraq, yang dibangun tahun 670 mengarah ke barat, padahal kalau mau
mengarah ke Mekah, seharusnya mengarah ke selatan.

Mesjid Amr b. al As diluar Kairo di Mesir menunjukkan bahwa arah
Kiblat menunjuk jauh ke utara sampai harus diperbaiki oleh gubernur
Qurra b. Sharik. Bukti-bukti diatas menunjukkan bahwa Kiblat tidak
diunjukkan pada Mekah tetapi pada sebuah kota jauh di utara,
kemungkinan didekat Yerusalem.

Ini diperkuat oleh pelancong dan penulis Kristen Yakub dari Edessa,
yang tulisannya berasal dari tahun 705 dan merupakan saksi mata di
Mesir. Ia menulis bahwa kaum Mahgraye (nama Yunani bagi kaum Saracen)
di Mesir bersolat menghadap ke timur dan TIDAK ke selatan atau
tenggara (menghadap Mekah). Suratnya (yang disimpan di British Museum)
memang merupakan pembuka mata. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa
sampai tahun 705 pun, arah kiblat ke Mekah BELUM JUGA DITETAPKAN.

Menurut Dr. Hawting, dari SOAS (School of Oriental and African Studies
di London), penemuan arkeologis baru juga menunjukkan bahwa sampai
saat itu, kaum Muslim (atau disebut juga kaum Hagar, dari nama ibu
Ishmael, yang dihamili nabi Ibrahim) memang solat tidak mengarah ke
Mekah tetapi ke utara, kemungkinan besar Yerusalem. NAMUN QURAN
MENGATAKAN KEPADA KITA (dalam Surah 2) BAHWA ARAH KIBLAT ADALAH MENUJU
MEKAH, kira-kira 2 tahun setelah HIjrah, atau sekitar 624 dan tidak
pernah berubah sampai sekarang.

Apa yang terjadi disini? Mengapa Kiblat tidak mengarah kepada Mekah
sebelum tahun 705? Mari sekarang kita melihat Yerusalem.

THE DOME OF THE ROCK

Dome megah ini didirikan oleh Abd al-Malik pada tahun 691 dan sampai
sekarang masih berdiri. Pertama, kita harus mengingat bahwa the Dome
of the Rock bukan sebuah mesjid karena tidak memiliki arah kiblat.
Hanya sebuah gedung oktagonal dengan 8 pilar.

Muslimin puas dengan keterangan bahwa Dome ini didirikan guna
memperingati malam Muhamad terbang ke surga guna berbicara dengan Musa
dan Allah tentang jumlah sholat yang harus dipatuhi pengikutnya.
Namun, menurut riset oleh Van Berchem dan Yehuda Nevo, kaligrafi
disana tidak menyebtukan apa-apa tentang Mi’raj NAMUN MENOLAK STATUS
KETUHANAN YESUS, PENERIMAAN PARA NABI, PENERIMAAN WAHYU OLEH MUHAMAD
DAN PENGGUNAAN ISTILAH ‘’Islam’’ DAN ‘’Muslim’’.

Mengapa, kalau memang khusus didirikan untuk memperingati Mi’raj Nabi
gedung itu tidak menyebut sepatah katapun tentangnya? Gedung megah ini
yang didirikan pada masa kelahiran Islam menunjukkan bahwa GEDUNG
INILAH DAN BUKAN MEKAH yang merupakan tempat perlindungan Islam
pertama dan pusat kelahiran Islam sampai paling tidak abad ke7.

Menurut tradisi Islam, kalif Sulaiman, yang berkuasa antara tahun
715-717, pergi ke Mekah dan bertanya tentang naik haji. Ia tidak puas
dengan jawaban yang diterimanya disana dam memilih untuk mengikuti Abd
al-Malik (i.e. melancong ke the Dome of the Rock). Fakta ini saja,
kata Dr. Hawting, menunjukkan bahwa bahkan pada abad ke 8 sudah adanya
ketidakpastian tentang letak tempat lahirnya Islam.

Menurut tradisi, WALID I, kalif yang berkuasa antara 705-715 menulis
kepada semua daerah, memerintahkan penghancuran dan peluasan mesjid-
mesjid. Mungkinkah ini saat Kiblat ditetapkan kearah Mekah? Kalau iya,
ini menunjukkan kontradiksi besar-besaran dalam Quran.

Dr. John Wansbrough, otoritas terbesar dalam tradisi dini Islam,
menunjukkan pengamatan menarik terhadap Muhamad. Sumber-sumber non-
muslim terbaik masa ini diberikan oleh kaligrafi Arab pada batu-batuan
yang tersebar di gurun dan daratan Syria-Yordan, khususnya di gurun
Negev. Alm. Yehuda Nevo, dari Universitas Yerusalem, melakukan riset
ekstensif dan menerbitkan hasilnya pada tahun 1994 dalam bukunya
‘’Toward a Prehistory of Islam/Menuju Masa pra-sejarah Islam’’, yang
saya jadikan bahan acuan disini.

Nevo menemukan dalam teks-teks religius Arab, dari satu setengah abad
kekuasaan Arab (abad ke 7 dan ke adanya sebuah kepercayaan monotheis
yang ‘’jelas-jelas bukan Islam, namun sebuah kepercayaan dari mana
Islam bisa berkembang" ("demonstrably not Islam, but a creed from
which Islam could have developed’’.)

Ia juga menemukan bahwa dalam semua institusi religius selama masa
SUFYANI (th 661-684) tidak ada sedikitpun sebutan tentang Muhammad
atau petunjuk bahwa Muhamad adalah nabi Allah. Ini benar, sampai
sekitar tahun 691, dimana tujuan utama inskripsi adalah religious atau
hanya commemorative, seperti inskripsi pada bendungan didekat Ta’if,
yang didirikan oleh Kalif Muâwiya pada tahun 660-an. Absennya nama
Muhamad pada inskripsi-inskripsi kuno adalah penting.

Kemunculan pertama nama Muhamad rasul Allah ditemukan pada coin Arab-
Sassanian dari Xalib ben Abdallah dari tahun 690, yang dibuat di
Damaskus. Pernyataan Kepercayaan, termasuk Tauhid (KeTunggalan Allah),
pernyataan bahwa Muhammad rasul Allah dan penolakan keTuhanan Jesus
(rasul Allah wa-abduhu) ditemukan dalam inskripsi Abd al-Malik dalam
the Dome of the Rock, tertanggal 691. SEBELUMYA, PERNYATAAN
KEPERCAYAAN MUSLIM TIDAK DAPAT DIPASTIKAN.

Setelah dinasti MAARWANID (sampai 750), nama Muhammad biasanya timbul
dalam pernyataan religius, seperti pada coin, milestones and papyrus
‘’protocols’’. Namun, papirus bahasa Arab pertama di Mesir, dalam
bentuk bukti penerimaan pajak tahun 642, ditulis dalam bahasa Yunani
dan Arab dan menganut judul ‘’BASMALA’’, namun karakternya bukan
Kristen maupun Muslim.

Inskripsi-niskripsi dalam the Dome of the Rock, walaupun mengandung
teks religius, tidak pernah menyebut nama nabi atau kepercayaan
Muslim, 30 tahun setelah kematian Muhammad, walaupun menganut suatu
bentuk monotheisme yang berkembang dari gaya literatur Yahudi-Kristen.
Terlibih lagi, ketika kepercayaan itu diperkenalkan pada masa MARWANID
(setelah 684) it is carried almost ‘’overnight’’. Tiba-tiba,
kepercayaan itu menjadi satu-satunya deklarasi religius negara. Namun
lagi-lagi tidak begitu saja diterima rakyat.

Menurut Y. Nevo, rumusan Mohammedan ini hanya dimulai digunakan dalam
inskripsi umum pada jaman Kalif Hisham (724-743). NAMUN WALAUPUN
MEREKA PEGIKUT MUHAMAD, MEREKA BUKAN MUSLIM. Untuk itu, kata Nevo,
kita harus menunggu sampai permulaan abad ke 9 (sekitar 822),
bersamaan dengan ditemukannya Quran tertulis pertama. Jelaslah bahwa
bukan semasa hidupnya Muhamad diangkat kepada posisi nabi, BAHKAN
KETIKA ITU, KEPERCAYAAN KEPADA MUHAMAD TIDAK SAMA DENGAN APA YANG
DITEMUKAN SEKARANG.

QURAN

Sumber-sumber menunjukkan bahwa buku ini (Quran) disusun secara
tergesa-gesa. Wansbrough mengatakan bahwa ‘’nampak jelas bahwa buku
ini (Quran) tidak memiliki struktur keseluruhan, sering tidak jelas,
baik dari segi bahasa maupun isi, menghubung-hubungkan materi yang
terpisah-pisah dan cenderung mengulang-ulang anak-kalimat dalam
berbagai versi. Atas dasar ini dapat disimpulkan bahwa buku ini adalah
produksi editing tidak sempurna di masa kemudian dari bermacam-macam
tradisi’’ seperti dikutip dalam buku Crone-Cook ‘’Hagarism’’.

Mengenai kapan Quran itu disusun kami hanya bisa menerka dari
penanggalan manuskrip-manuskrip yang ada. Dari sini, kami bisa
menyimpulkan bahwa Quran tidak eksis sebelum akhir abad ke 7.
Referensi tertua dari luar tradisi literatur Islam mengenai sebuah
buku yang dinamakan dengan ‘’Quran’’ timbul pada pertengahan abad 8
dari tulisan pembicaraan antara seorang Arab dan seorang pendeta dari
Bet Hale. Namun ini belum tentu menunjuk pada buku yang kita kenal
sekarang. Baik Crone maupun Cook menyimpulkan bahwa selain referensi
kecil ini, tidak ada indikasi apapun bahwa Quran eksis sebelum akhir
abad ke 7.

Dalam riset mereka, baik Crone dan Cook bersikeras bahwa kemungkinan
besar, Quran (atau dalam bentuk permulaan) disusun sebagai bukunya
Muhamad pada masa gubernur HAJJAJ BEN YUSUF (663-714), sekitar tahun
705. Dari kesaksian Leo by Levond, gubernur Hajjaj nampak telah
mengumpulkan semua tulisan-tulisan lama kaum Hagarene dan
menggantikannya dengan versi yang disusun ‘’menurut keinginannya, dan
membagikannya kepada siapaun di negerinya’’. Ini juga sesuai dengan
fakta bahwa baik manuskrip Quran di Samarqand dan Topkapi (di Turki),
Quran tertua yang kita miliki, ditulis dalam bahasa Kufic, dialek
Persia dari Kufa, dan bukan bahasa Arab.

Kesimpulan masuk akal adalah bahwa dalam masa inilah Quran memulai
perkembangannya, kemungkinan ditulis, sampai akhirnya disahkan pada
pertengahan sampai akhir abad 8 sebagai Quran yang kita kenal
sekarang.

Namun demikian, bukti-bukti arkeologis tentang keberadaan Quran adalah
yang paling problematik. Bekas-bekas bangunan dan inskripsi dari
daerah itu dari abad 7 dan 8 tidak hanya menunjukan kontradiksi bahwa
Muhamad mengesahkan Kiblat semasa hidupnya, atau bahwa ia yang
menyusun Quran yang kita kenal sekarang, bahkan asal usul ke-nabiannya
juga diragukan. Ini merupakan penemuan penting dan problematik.

Sekarang kita menemukan coin-coin yang katanya memuat tulisan Quran,
tertanggal 685, yang dibuat pada masa Abdul Malik. Terlebih lagi, the
Dome of the Rock yang dibangunnya pada tahun 691 menunjukkan
ketidaksesuaian antara inskripsinya dengan pernyataan dalam Quran.

Dua ahli etymologi, Van Berchem and Grohmann, setelah riset ekstensif
terhadap inskripsi ini mengatakan bahwa mereka mengandung ‘’variant
verbal forms, extensive deviances, as well as omissions from the text
which we have today’’(‘’Arabic Papyri from Hirbet el-Mird’’ as cited
by Crone-Cook).

Jika inskripsi-inskripsi ini berasal dari Quran, dengan berbagai macam
variasi. bagaimana mungkin Quran disahkan (dikanonisasi/qanun) sebelum
akhir abad ke 8? Orang hanya bisa menyimpulkan bahwa terjadi sebuah
evolusi dalam penyusunan Quran, KALAU MEMANG MEREKA ASALNYA DIKUTIP
DARI QURAN.

KESIMPULAN SINGKAT :

Kaum Yahudi dan Arab bersahabat sampai paling tidak tahun 640.

Yerusalem adalah Holy Sanctuary for Islam sebenarnya sampai permulaan
abad ke 8.

Mekah tidak dikenal sebagai kota yang viable sebelum akhir abad ke 7
dan tidak juga dikenal sebagai rute perdagangan.

Kiblat baru ditetapkan kearah Mekah setelah abad ke 8.

Muhammad tidak dikenal sebagai RASUL SEMUA RASUL sebelum akhir abad ke
7.

Referensi paling pertama tentang adanya Quran tidak ada sebelum
pertengahan abad ke delapan.

Tulisan Quran original tidak serupa dengan teks Quran sekarang.

Quran yang kita miliki sekarang BUKAN Quran yang seharusnya
dikumpulkan dan dikanonisasi kalif Uthman pada tahun 650, seperti
diakui kaum muslimin.

Quran yang kita miliki sekarang (sejak tahun 790) tidak ditulis 16
tahun setelah wafatnya Muhamad, melainkan 160 tahun kemudian!

0 new messages