Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

[semedi] MEDITASI SEJATI (9/18): Apakah Penciptaan Itu?

6 views
Skip to first unread message

Hudoyo Hupudio

unread,
Jun 24, 2005, 7:38:33 AM6/24/05
to
APAKAH PENCIPTAAN ITU?

Apakah asal mula dari seluruh eksistensi, mulai dari sel-sel yang
paling kecil sampai otak yang paling rumit? Apakah ada awal dari semua ini,
dan apakah ada akhir dari semua ini? Apakah penciptaan itu? Untuk menggali
ke dalam sesuatu yang sama sekali tidak diketahui, tidak terbayangkan
sebelumnya, tanpa terperangkap dalam ilusi sentimental dan romantik apa
pun, harus ada kualitas otak yang sepenuhnya bebas dari seluruh
keterkondisiannnya, dari seluruh pemrogramannya, dari setiap macam
pengaruh, dan dengan demikian sangat peka dan sangat aktif. Mungkinkah itu?
Mungkinkah mempunyai batin, otak, yang luar biasa hidup, tak terperangkap
kerutinan apa pun, bukan mekanis? Apakah kita punya otak yang di situ tidak
terdapat ketakutan, tiada kepentingan-diri, tiada kegiatan yang berpusat
pada diri? Kalau tidak, ia hidup di bawah bayangannya sendiri sepanjang
waktu, ia hidup dalam lingkungan kesukuannya yang terbatas, seperti seekor
binatang tertambat pada sebuah tiang.

Sebuah otak harus punya ruang. Ruang bukan hanya jarak dari sini ke
sana, ruang menyiratkan berada tanpa pusat. Jika Anda punya pusat dan Anda
bergerak dari pusat ke tepi, betapa pun jauhnya tepi itu, itu masih
terbatas. Jadi, ruang mengisyaratkan tiadanya pusat dan tiadanya tepi,
tiada perbatasan. Punyakah kita otak yang tidak termasuk ke dalam apa pun,
tak melekat kepada apa pun--kepada pengalaman, kesimpulan, harapan,
cita-cita--sehingga ia sungguh-sungguh bebas sepenuhnya? Jika Anda memikul
beban, Anda tidak bisa berjalan jauh. Jika otak kasar, vulgar, berpusat
pada diri, ia tidak bisa mempunyai ruang yang tak terbatas. Dan ruang
mengisyaratkan--kita menggunakan kata ini dengan sangat
berhati-hati--kekosongan.

Kita mencoba menemukan apakah mungkin hidup di dunia tanpa rasa takut
apa pun, tanpa konflik apa pun, dengan rasa welas asih yang hebat, yang
menuntut banyak kecerdasan. Anda tidak bisa memiliki welasasih tanpa
kecerdasan. Dan kecerdasan itu bukan kegiatan pikiran. Kita tidak bisa
penuh welas asih jika kita melekat kepada ideologi tertentu, kepada
kesukuan tertentu yang sempit, atau kepada konsep keagamaan apa pun, oleh
karena hal-hal itu membatasi. Dan welas asih hanya bisa
datang--ada--apabila terdapat pengakhiran kesedihan, yang adalah
pengakhiran gerakan yang berpusat pada diri.

Jadi ruang mengisyaratkan kekosongan [emptiness], bukan apa-apa
[nothingness]. Dan oleh karena tidak ada apa-apa yang dibentuk oleh
pikiran, ruang itu mempunyai energi yang hebat. Jadi otak harus memiliki
kualitas kebebasan penuh dan ruang. Artinya, kita harus sebagai bukan
apa-apa [nothing]. Kita semua merasa sebagai sesuatu [yang penting]:
analis, psikoterapis, dokter. Itu boleh-boleh saja, tetapi apabila kita
adalah terapis, ahli biologi, teknisi, identifikasi-identifikasi seperti
itu membatasi keutuhan otak.

Hanya apabila ada kebebasan dan ruang, kita dapat bertanya apa
meditasi itu. Hanya apabila kita telah meletakkan landasan ketertiban dalam
hidup, kita dapat bertanya apakah meditasi sejati itu. Tidak mungkin ada
ketertiban bila ada ketakutan. Tidak mungkin ada ketertiban bila ada
konflik apa pun. Rumah-batin kita harus berada dalam ketertiban sepenuhnya,
sehingga terdapat kemantapan kuat, tanpa celoteh ke mana-mana. Terdapat
kekuatan besar di dalam kemantapan itu. Jika rumah tidak tertib, meditasi
Anda tidak banyak berarti. Anda bisa membuat berbagai ilusi, berbagai
pencerahan, berbagai disiplin harian, semua itu masih terbatas, khayal,
oleh karena datang dari ketidaktertiban. Semua itu logis, waras, rasional;
itu bukan sesuatu yang diciptakan oleh pembicara untuk Anda terima.
Bolehkah saya gunakan istilah ‘ketertiban tak terdisiplin’? Kalau tidak ada
ketertiban yang bukan ketertiban terdisiplin, meditasi menjadi amat dangkal
dan tanpa arti.

Apakah ketertiban itu? Pikiran tidak bisa menciptakan ketertiban
psikologis oleh karena pikiran itu sendiri adalah ketidaktertiban, oleh
karena pikiran berdasar pada pengetahuan, yang berdasar pada pengalaman.
Semua pengetahuan terbatas, dan dengan demikian pikiran juga terbatas, dan
apabila pikiran mencoba menciptakan ketertiban ia menghasilkan
ketidaktertiban. Pikiran menciptakan ketidaktertiban melalui konflik antara
‘apa adanya’ dengan ‘apa seharusnya’, apa yang aktual dengan apa yang
teoretis. Tetapi hanya ada apa yang aktual, bukan apa yang teoretis.
Pikiran memandang kepada apa yang aktual dari sudut pandang yang terbatas,
dan dengan demikian tindakannya mau tidak mau menciptakan ketidaktertiban.
Apakah kita melihat ini sebagai kebenaran, sebagai hukum, atau sekadar
suatu ide? Misalkan saya serakah, iri hati; itulah ‘apa adanya’; lawannya
tidak ada. Tetapi lawannya diciptakan oleh manusia, oleh pikiran, sebagai
cara untuk memahami ‘apa adanya’ dan juga sebagai cara untuk lari dari ‘apa
adanya’. Tetapi hanya ada ‘apa adanya’, dan bila Anda melihat ‘apa adanya’
tanpa lawannya, maka penglihatan itu sendiri membawa ketertiban.

Rumah kita harus tertib, dan ketertiban ini tidak bisa dihasilkan
oleh pikiran. Pikiran menciptakan disiplinnya sendiri: lakukan ini, jangan
lakukan itu; ikuti ini, jangan ikuti itu; ikuti tradisi, jangan ikuti
tradisi. Pikiran adalah penuntun yang melalui itu kita berharap akan
menghasilkan ketertiban, tetapi pikiran itu sendiri terbatas, dengan
demikian ia pasti akan menciptakan ketidaktertiban. Jika saya terus-menerus
mengulang, saya seorang Inggris, atau saya seorang Prancis, atau saya
seorang Hindu, atau seorang Buddhis, kesukuan seperti itu sangat terbatas,
kesukuan seperti itu menyebabkan kekacauan besar di dunia. Kita tidak
menggali sampai ke akarnya dan mengakhiri kesukuan; kita malah mencoba
menciptakan perang yang lebih baik. Ketertiban hanya bisa muncul apabila
pikiran, yang diperlukan dalam bidang-bidang tertentu, tidak diberi tempat
di dunia psikologis. Dunia itu sendiri tertib bila pikiran tidak ada.

Penting untuk memiliki otak yang sama sekali hening. Otak mempunyai
iramanya sendiri, aktif tanpa henti, berceloteh dari satu topik ke topik
lain, dari satu pikiran ke pikiran lain, dari satu hubungan (association)
ke hubungan lain, dari satu keadaan ke keadaan lain. Ia terus-menerus
sibuk. Biasanya kita tidak menyadarinya, tetapi bila kita sadar (aware)
tanpa pilihan apa pun, sadar-tanpa-pilihan (choicelessly aware) terhadap
gerakan ini, maka keadaan-sadar (awareness) itu sendiri, perhatian
(attention) itu sendiri, mengakhiri celoteh itu. Harap lakukan ini, dan
Anda akan melihat betapa sederhananya semua ini.

Otak harus bebas, memiliki ruang dan keheningan psikologis. Anda dan
saya berbicara satu sama lain. Kita menggunakan pikiran karena kita
berbicara menggunakan bahasa. Tetapi berbicara dari keheningan ... Harus
ada kebebasan dari kata. Maka otak sama sekali hening, sekalipun ia
mempunyai iramanya sendiri.

Lalu apakah penciptaan, apakah awal dari semua ini? Kita menyelidik
ke dalam asal mula semua kehidupan, bukan hanya kehidupan kita, tetapi
kehidupan setiap benda yang hidup: ikan paus di samudra yang dalam, ikan
lumba-lumba, ikan yang kecil, sel-sel yang amat kecil, alam yang luas,
keindahan seekor macan. Dari sel yang paling kecil sampai manusia yang
paling rumit--dengan segala temuannya, dengan segala ilusinya, dengan
takhayulnya, dengan pertengkarannya, dengan perangnya, dengan
keangkuhannya, kevulgarannya, dengan aspirasinya yang hebat dan depresinya
yang dalam--apakah asal mula semua ini?

Nah, meditasi berarti sampai ke sini. Bukan berarti Anda yang sampai
ke sini. Di dalam keadaan diam itu, di dalam keheningan itu, di dalam
ketenangan yang mutlak itu, adakah suatu awal? Dan jika ada awal, harus ada
akhir. Apa yang memiliki sebab harus berakhir. Di mana ada sebab, tentulah
ada akhir. Itulah hukum, itu alamiah. Jadi adakah sebab-musabab bagi
penciptaan manusia, penciptaan seluruh cara hidup? Adakah awal dari semua
ini? Bagaimana kita menemukannya?

Apakah penciptaan itu? Bukan dari si pelukis, bukan dari si penyair,
bukan pula dari orang memahat sesuatu dari batu pualam; semua itu adalah
benda-benda yang terwujud (manifested). Adakah sesuatu yang tidak terwujud?
Adakah sesuatu yang, oleh karena tidak terwujud, tidak mempunyai awal dan
akhir? Kita semua adalah perwujudan (manifestations). Bukan dari sesuatu
yang ilahi atau sesuatu yang lain, kita adalah hasil dari ribuan tahun apa
yang dinamakan evolusi, pertumbuhan, perkembangan, dan kita juga berakhir.
Apa yang mewujud selalu dapat dimusnahkan, tetapi apa yang tidak mewujud
tidak punya waktu.

Kita bertanya, adakah sesuatu yang di luar waktu. Itu telah
diselidiki oleh para filsuf, ilmuwan dan orang-orang agama, untuk menemukan
apa yang di luar ukuran manusia, yang di luar waktu. Oleh karena, jika kita
dapat menemukannya, atau melihatnya, itulah kekekalan (immortality). Itu di
luar kematian. Manusia telah mencari ini, dengan berbagai cara, di berbagai
penjuru dunia, melalui berbagai kepercayaan, oleh karena bila kita
menemukan, merealisasikan itu, maka hidup tidak mempunyai awal dan akhir.
Ia ada di luar semua konsep, di luar semua harapan. Itu sesuatu yang mahaluas.

Sekarang, turun kembali membumi. Lihat, kita tidak pernah memandang
hidup, hidup kita sendiri, sebagai suatu gerakan hebat dengan kedalaman
besar, keluasan. Kita telah memerosotkan hidup kita menjadi sesuatu yang
kecil, remeh. Dan hidup adalah hal paling suci yang ada. Membunuh orang
adalah kengerian yang paling tidak religius, atau menjadi marah, keras
terhadap orang lain.

Kita tidak pernah melihat dunia sebagai keutuhan oleh karena kita
begitu terpecah-belah, begitu amat terbatas, remeh. Kita tidak pernah
memiliki rasa keutuhan, di mana benda-benda di laut, benda-benda di bumi,
alam sekitar, langit, alam semesta, adalah bagian dari kita. Bukan
dikhayalkan--Anda bisa melambung dalam suatu khayalan dan membayangkan
bahwa Anda adalah alam semesta, lalu Anda menjadi sinting. Tetapi patahkan
kepentingan kecil yang berpusat pada diri ini, jangan berhubungan dengan
itu lagi, dan dari situ Anda bisa bergerak tanpa batas.

Dan meditasi adalah itu, bukan duduk bersila, atau berdiri di atas
kepala Anda, atau melakukan apa pun yang Anda suka, melainkan memiliki rasa
keutuhan dan kesatuan sempurna dari kehidupan. Dan itu hanya bisa datang
apabila terdapat cinta dan welas asih.

Salah satu kesulitan kita ialah bahwa kita telah mengaitkan cinta
dengan kenikmatan, dengan seks, dan bagi kebanyakan dari kita cinta juga
berarti kecemburuan, kecemasan, kepemilikan, kelekatan. Itulah yang kita
namakan cinta. Apakah cinta kelekatan? Apakah cinta kenikmatan? Apakah
cinta keinginan? Apakah cinta lawan dari kebencian? Jika ia lawan dari
kebencian, maka ia bukan cinta. Semua lawan mengandung lawannya. Ketika
saya mencoba untuk menjadi berani, keberanian itu lahir dari ketakutan.
Cinta tidak mungkin punya lawan. Cinta tidak mungkin ada bila ada
kecemburuan, ambisi, keagresifan.

Dan di mana ada sifat cinta, dari situ muncullah welas asih. Bila ada
welas asih itu, ada kecerdasan--tetapi itu bukan kecerdasan dari
kepentingan diri sendiri, atau kecerdasan pikiran, atau kecerdasan dari
pengetahuan yang banyak. Welas asih tidak ada kaitannya dengan pengetahuan.

Hanya dengan welas asih ada kecerdasan yang memberi manusia rasa
aman, kemantapan, kekuatan yang amat besar.

[Dari: “This Light In Oneself – True Meditation”, oleh J. Krishnamurti,
1999, Bab 9]


[Non-text portions of this message have been removed]

~~~~~KIRIMKANLAH POSTING ANDA DENGAN PENUH KASIH DAN DAMAI~~~~~
related link: http://www.godsdirectcontact.or.id

Mengirimkan posting, to: sem...@yahoogroups.com
Untuk berlangganan, kirimkan blank message to: semedi-s...@yahoogroups.com

~~~~~~~~~~~~~~~"MAY PEACE PREVAIL ON EARTH"~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/semedi/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
semedi-un...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Hudoyo Hupudio

unread,
Jul 15, 2005, 1:15:45 AM7/15/05
to Daniel
Rekan Daniel yg baik <danie...@gmail.com>,

Terima kasih atas kontak telepon tadi malam. Untuk memenuhi janji saya, di
bawah ini saya sampaikan ulasan saya mengenai ceramah JK yang berjudul
"Apakah Penciptaan Itu?" (Meditasi Sejati (9/18). (Daftar buku JK dari
Yayasan Krishnamurti Indonesia akan saya kirimkan ke alamat Anda.)

Dalam artikel ini, JK mulai dengan mempertanyakan apakah asal mula alam
semesta. Ini adalah pertanyaan intelektual, bukan pertanyaan faktual. Di
sini JK tidak menjawabnya dengan suatu konsep, yang adalah proses
intelektual pula, yang hanya akan menghasilkan kosmologi lagi.

JK mengajak hadirin mengamati pikiran yang bertanya itu. Ternyata pikiran
itu terkondisi, tidak mempunyai ruang, tidak hening, tidak bebas dst dst.
JK menekankan perlunya pikiran yang tidak terkondisi, yang bebas dst dst.

Dari situ ia kembali kepada pertanyaan awal, yakni apakah penciptaan itu.
Setelah menguraikan panjang lebar tentang pikiran, JK mengajak hadirin
untuk membahas tentang meditasi. Ia bertanya:

"Di dalam keadaan diam itu, di dalam keheningan itu, di dalam ketenangan

yang mutlak itu, adakah suatu awal? ... Jadi adakah sebab-musabab bagi

penciptaan manusia, penciptaan seluruh cara hidup? Adakah awal dari semua
ini? Bagaimana kita menemukannya?"

Tampak di sini bahwa JK tidak menjawab pertanyaan "apakah penciptaan itu"
dengan mengajukan suatu konsep pikiran, yang hanya akan menjadi kosmologi
baru. Ia mengajak hadirin untuk memahami meditasi, dan bertanya: di dalam
keheningan itu adakah awal itu sendiri?

Ia menekankan bahwa kita dan alam semesta--yang berwujud (manifested)
ini--tentu berawal dan berakhir. Tetapi ia tidak menjelaskan secara konkrit
bagaimana awal dari alam semesta ini; yang jelas bukan dari sesuatu yang
illahi atau sesuatu yang lain; di lain pihak, ia menyinggung sedikit
tentang konsep evolusi ilmiah. Ia berkata:

"Kita semua adalah perwujudan (manifestations). Bukan dari sesuatu yang
ilahi atau sesuatu yang lain, kita adalah hasil dari ribuan tahun apa yang
dinamakan evolusi, pertumbuhan, perkembangan, dan kita juga berakhir."

Lalu kembali ia berbicara tentang sesuatu yang tidak terwujud, yang
berada di luar waktu:

"Kita bertanya, adakah sesuatu yang di luar waktu. [...] Oleh karena, jika

kita dapat menemukannya, atau melihatnya, itulah kekekalan (immortality).

Itu di luar kematian. Manusia telah mencari ini, [...] bila kita menemukan,

merealisasikan itu, maka hidup tidak mempunyai awal dan akhir. Ia ada
di luar semua konsep, di luar semua harapan. Itu sesuatu yang mahaluas."

Terakhir, JK mengajak hadirin kembali "ke bumi":

"Sekarang, turun kembali membumi. Lihat, kita tidak pernah memandang hidup,
hidup kita sendiri, sebagai suatu gerakan hebat dengan kedalaman besar,
keluasan. Kita telah memerosotkan hidup kita menjadi sesuatu yang kecil,
remeh. Dan hidup adalah hal paling suci yang ada. Membunuh orang adalah
kengerian yang paling tidak religius, atau menjadi marah, keras terhadap
orang lain."

Dan ia mengajak hadirin untuk bermeditasi, yang menyiratkan adanya cinta,
welas asih dan kecerdasan:

"Dan meditasi adalah itu, [...] memiliki rasa keutuhan dan kesatuan

sempurna dari kehidupan. Dan itu hanya bisa datang apabila terdapat cinta

dan welas asih. [...] Di mana ada sifat cinta, dari situ muncullah welas
asih. Bila ada welas asih itu, ada kecerdasan. [...] Hanya dengan welas

asih ada kecerdasan yang memberi manusia rasa aman, kemantapan, kekuatan
yang amat besar."

Demikianlah dalam artikel ini, JK mulai dengan salah satu pertanyaan
intelektual yang paling sering diperdebatkan orang, dan berangsur-angsur
menuntun hadirin kepada meditasi. Di dalam keheningan meditasi, pertanyaan
itu tidak relevan lagi. Malah di situ ada kemungkinan munculnya sesuatu
yang luar biasa, yang mahaluas, yang bebas dari waktu.

Jadi, kalau ada orang yang mengharapkan JK akan memberikan suatu konsep
baru tentang "asal-mula alam semesta", pasti ia akan kecewa. Karena JK
tidak berniat membuat agama baru, atau melekat kepada salah satu agama lama.

Salam,
Hudoyo

~~~~~KIRIMKANLAH POSTING ANDA DENGAN PENUH KASIH DAN DAMAI~~~~~

0 new messages