Untuk megetahui lebih jelas silahlan kunjungi:
http://www.flex.com/~jai/satyamevajayate
Kalau perbuatan yang dituduhkan terhadap Gus Dur-Aryanti itu kurang lebih sama
dengan apa yang di lakukan oleh nabi....... alaaaah sudah lah cincai-cincai
saja lah......toh cuma di kasi tuwaknya saja...kagak dikasi sama lodong2xnya.
That's a fact....and nothing but the fact!
Jangan pura2x suci lah.......!
>Subject: [aryanti-gate] Dari detikcom : Foto Bukan Hasil Rekayasa
>From: RM Roy Suryo r...@ugm.ac.id
>Date: 9/2/00 2:37 PM Pacific Daylight Time
>Message-id: <2000090221400...@nym.alias.net>
>
>-------------------------- eGroups Sponsor -------------------------~-~>
>GET A NEXTCARD VISA, in 30 seconds! Get rates
>of 2.9% Intro or 9.9% Ongoing APR* and no annual fee!
>Apply NOW!
>http://click.egroups.com/1/7872/6/_/_/_/967930744/
>---------------------------------------------------------------------_->
>
>Yth. Teman-teman di Berpolitik.com, Majalah Panji & Majalah Forum,
>Terimakasih atas bantuan teknis & dukungannya kemarin ...
>Semoga permasalahan ini cepat clear dengan mendudukkan 'kebenaran diatas
>segala-galanya' (Insyaallah),
>
>----
>
>Teliti dari Klise Asli 'Gus Dur-Aryanti'
>Roy: Foto Bukan Hasil Rekayasa
>Reporter: Sigit Widodo
>
>detikcom - Jakarta, Pembicaraan soal keaslian foto Gus Dur-Aryanti
>masih hangat. Pakar multimedia dan dosen fotografi UGM RM Roy Suryo
>setelah mendapat klise asli, melakukan penelitian kedua. Hasilnya, foto itu
>bukan rekayasa. Tapi ada fakta lain, apakah itu?
>
>Fakta lain tersebut, menurut lelaki yang juga Nara Sumber di Pusident Mabes
>Polri itu, adalah ternyata rol klise (negatif) itu menyambung dengan gambar
>Aryanti dengan mantan suaminya, M. Yanur.
>
>Meski Gatra dan Panji sudah membuat laporan khusus, keduanya tak
>menampilkan foto heboh yang dimaksud. Justru tabloid Adil No.
>49/Tahun ke-68 yang terbit pekan ini, memuat foto Gus Dur-Aryanti di
>halaman dalamnya. Untuk menguak sejauhmana kebenaran foto tersebut,
>berikut wawancara detikcom dengan Roy di Jakarta Convention
>Centre, Jakarta, Sabtu (2/9/2000).
>
>Bagaimana Anda melihat kasus ini sekarang?
>
>Kasus ini hampir mirip dengan kasus-kasus yang pernah saya coba untuk
>ditelaah. Saya tergerak atas rasa ingin tahu dan rasa geram karena banyak
>orang yang belum-belum sudah menyalahkan teknologi sebelum mengerti
>pasti tentang teknologi itu.
>
>Tanpa melakukan kajian ilmiah dan teknis, belum-belum sudah bilang foto
>itu hasil rekayasa komputer. Bahkan ada pendapat foto-foto yang beredar
>di internet tidak bisa dipercaya. Itu kan namanya skeptis terhadap
>perkembangan teknologi.
>
>Untuk menanggapi sikap itu bagaimana?
>
>Pertama-tama saya harus mencari buktinya, karena saya baru mendengar
>beredarnya foto itu. Pertama saya mendapatkan softcopy berupa file yang
>dikirimkan beberapa teman di Jakarta. File itu dikirimkan dalam ukuran
>yang sangat kecil, hanya 100 kilo bytes.
>
>Saya menolak karena analisa dari file sekecil itu sangat dipertanyakan.
>Kemudian saya beberapa kali dikirimi foto tersebut, termasuk dari
>rekan-rekan yang bekerja di situs berita berpolitik.com. Foto yang akhirnya
>saya analisa berukuran 890 kilo bytes dalam format compressed JPG. File
>ini jika dijadikan format BMP menjadi berukuran 4,65 mega bytes, atau
>sekitar 6 mega bytes untuk PSD. Berdasarkan foto itulah saya berani
>membuat analisa.
>
>Langkah selanjutnya?
>
>Pertama saya mencoba melakukan multi konversi, dari JPG menjadi BMP
>kemudian menjadi PSD untuk mencoba mengiris kembali layer-nya slice
>by slice. Ini hanya bisa dilakukan pada format PSD.
>
>Kemudian saya melakukan separasi menjadi warna-warna cyan,
>magenta, yellow, dan black. Ternyata dari hasil separasi tersebut tidak
>ada warna yang "lari". Biasanya jika sudah dilakukan sentuhan komputer
>atau hasil digital retouching, ada warna yang lari.
>
>Saya juga menggunakan cara yang hampir mirip dengan itu, yaitu
>grayscalling 256 skala abu-abu. Analisa ini gunanya untuk
>memperlihatklan contrast dan brightness-nya. Ternyata tidak ada kesan
>foto itu telah disentuh dengan komputer.
>
>Apa dengan demikian Anda puas bahwa kesimpulan Anda valid?
>
>Tidak. Saya belum puas dan mesti melihat bukti fisik yang asli.
>
>Apa alasan itu yang membuat Anda datang ke Jakarta?
>
>Saya datang ke Jakarta Kamis (31/8/2000) untuk acara Internetworks
>2000 yang digelar di JCC, sekaligus untuk mencari foto ini. Ternyata, saya
>melihat 3 macam kemungkinan foto yang bisa ditemukan. Pertama foto asli
>tahun kuno dari klise asli, ini sangat sulit didapatkan. Yang kedua cetakan
>baru dari klise asli, ini yang beredar di kalangan DPR. Yang ketiga foto
>baru dari klise baru. Yang ketiga ini sangat parah dan saya bertekad tidak
>akan melakukan analisa lanjutan jika jenis foto ini yang saya dapatkan.
>
>Anda mendapatkan yang mana?
>
>Saya mendapatkan foto cetakan baru dari film (negatif) asli. Ini terlihat
>dari
>hasil cetakannya yang suram dan tidak cerah. Kalau film disimpan lebih
>dari tiga tahun, akan ada warna-warna yang pudar walaupun warna-warna
>utama masih tampak. Dari cetakan itu bisa dilihat bahwa foto itu dicetak
>dari klise lama.
>
>Sekarang saya melakukan analisa bukan sebagai ahli komputer. Dalam hal
>ini komputer hanya merupakan alat bantu. Dengan bukti cetakan baru ini,
>saya mencari sumber yang lebih kuat. Dengan dibantu teman-teman
>majalah Panji, saya dipertemukan dengan Aryanti.
>
>Dari Aryanti, saya mendapatkan foto asli dari klise asli yang sudah kusam.
>Foto itu dicetak di atas kertas fuji color paper, ini adalah jenis kertas
>lama.
>Setelah tahun 1999, di balik foto selalu terdapat printing code. Sekarang
>kalau
>kita mencetak foto baru, pasti kertasnya fuji crystal paper. Sedangkan foto
>yang
>dibuat antara tahun 1997-1999 dicetak di atas kertas fujicolor glossy
>paper. Jadi bisa disimpulkan foto itu dicetak sebelum 1997.
>
>Ini saya simpulkan tanpa mendengar cerita-cerita Aryanti yang
>menyatakan film itu dibuat sekitar tahun 1996. Itu saya anggap angin lalu
>saja untuk tidak mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya.
>
>Kemudian foto itu saya scan bolak-balik dengan resolusi 600 dpi di
>redaksi majalah Panji. Saya kemudian bertanya kepada Aryanti, apakah
>ada klisenya, dijawab klise itu ada pada mantan suaminya.
>
>Lalu?
>
>Dibantu teman-teman majalah Forum, saya berhasil ketemu mantan suami
>Aryanti, Yanur, di redaksi Forum. Dan ternyata benar klise itu disimpan
>suami Aryanti. Klise itu saya lihat lihat jenis filmnya: Fujicolor film isi
>12
>foto. Foto yang menghebohkan terletak pada frame pertama. Setelah itu
>isinya gambar-gambar mesra Aryanti dan suaminya.
>
>Klise itu saya coba analisis dengan cermat. Ada bukti bahwa itu klise
>lama. Di bagian sampingnya terdapat tulisan "35CSH2", 35 artinya 35
>mm, C berarti color, S berarti super dan H berarti high resolution.
>
>Sedangkan film fuji yang beredar sekarang jenisnya superia, muncul pada
>1999. Sebelumnya ada yang muncul pada 1996, yaitu Fuji Super HGV.
>Film yang digunakan ini adalah Fuji Super HR2, jadi film ini dibeli tahun
>1996 atau sebelumnya. Harap diingat, film tidak bisa disimpan terlalu lama
>karena ada masa expired-nya.
>
>Kemudian kemudian klise ini diperiksa lebih lanjut kontinuitasnya.
>Ternyata foto yang menghebohkan itu menyambung dengan foto-foto
>Aryanti dan suaminya.
>
>Lalu saya lakukan tiga kali proses scanner komputer untuk identifikasi.
>Pertama seluruh klise di-scan dengan desktop scanner yang dilengkapi
>transparent adapter. Saya scan semua lengkap dengan geriginya. Scan
>kedua dilakukan khusus pada foto yang menghebohkan lengkap dengan
>film tracker-nya.
>
>Dari hasil scan ini terbukti tidak ada klise baru yang ditempelkan pada
>klise lama. Penempelan ini bisa saja dilakukan oleh orang yang sangat ahli,
>tapi tetap akan terlihat dengan analisis ini.
>
>Yang ketiga, saya melakukan scanning dengan alat scanner khusus film
>yang berbeda dengan desktop scanner sebelumnya. Ini dilakukan untuk
>memperbesar foto yang bersangkutan untuk melihat apakah ada rekayasa.
>Ternyata tidak ada sentuhan non-fotografis pada klise tersebut.
>
>Scanner ini saya lakukan sendiri dengan resolusi 4800 dpi. Hasilnya
>adalah file dengan ukuran 16 mega bytes. Dengan ini nampak faktor
>komponen pendukung yang lain seperti kursi, pintu, dan lain-lain sehingga
>bisa dicari di mana lokasinya. Tapi pencarian ini biarlah dilakukan oleh
>orang lain.
>
>Mengapa harus resolusi tinggi?
>
>Dengan resolusi yang sangat tinggi ini, pixel per pixel atau dalam istilah
>fotografi: grain-nya akan kelihatan sangat jelas. Jadi kalau ada sentuhan
>sedikitpun nampak. Bahkan jamur dan goresan yang sangat kecilpun
>nampak. Dari situ, pada tahap penelitian kedua ini, saya simpulkan pada
>foto ini tidak ada rekayasa.
>
>Apa Anda tidak takut menyangkut penelitian ini?
>
>Saya tegaskan, saya melakukan analisa ini tidak ada yang membayar. Ini
>demi pengetahun semata. Bagi yang ingin berdebat dengan saya silakan,
>kita demokratis saja.
>
>Apa tidak ada kemungkinan lain?
>
>Ya, memang masih mungkin ada kemungkinan ketiga. Kalau tiba-tiba ada
>orang yang persis seperti Gus Dur dan mengaku berfoto dengan Aryanti.
>Kalau terjadi seperti itu silakan dianalisa oleh orang yang ahli wajah atau
>orang yang mengenal Gus Dur. Kemampuan fotografi dan komputer tidak
>bisa melakukan itu. (sap)
>
>----
>
> \|||/
> (. .)
>*-------------ooO-(_)-Ooo------------*
> RM Roy Suryo
> <r...@ugm.ac.id>
> Indonesia
>*-------------oo0-----Ooo------------*
>
>To unsubscribe from this group, send an email to:
>aryanti-gate...@egroups.com
>
>URLS : http://welcome.to/aryanti-gate
>
>
>
>
>
>
>
>
>