Google Groups no longer supports new Usenet posts or subscriptions. Historical content remains viewable.
Dismiss

[aryanti-gate] Dari detikom : Foto Bukan Hasil Rekayasa

3 views
Skip to first unread message

Fisjono

unread,
Sep 2, 2000, 8:50:16 PM9/2/00
to
Asli atau tidaknya klise/gambar Gus Dur-Aryanti menurut saya tak terlalu
penting. Yang penting yaitu apakah yang dituduhkan itu benar atau tidak, atau
apakah perbuatan yang di tuduhkan itu berlawanan atau tidak dengan perbuatan
nabi.

Untuk megetahui lebih jelas silahlan kunjungi:

http://www.flex.com/~jai/satyamevajayate

Kalau perbuatan yang dituduhkan terhadap Gus Dur-Aryanti itu kurang lebih sama
dengan apa yang di lakukan oleh nabi....... alaaaah sudah lah cincai-cincai
saja lah......toh cuma di kasi tuwaknya saja...kagak dikasi sama lodong2xnya.

That's a fact....and nothing but the fact!

Jangan pura2x suci lah.......!

>Subject: [aryanti-gate] Dari detikcom : Foto Bukan Hasil Rekayasa
>From: RM Roy Suryo r...@ugm.ac.id
>Date: 9/2/00 2:37 PM Pacific Daylight Time
>Message-id: <2000090221400...@nym.alias.net>
>
>-------------------------- eGroups Sponsor -------------------------~-~>
>GET A NEXTCARD VISA, in 30 seconds! Get rates
>of 2.9% Intro or 9.9% Ongoing APR* and no annual fee!
>Apply NOW!
>http://click.egroups.com/1/7872/6/_/_/_/967930744/
>---------------------------------------------------------------------_->
>
>Yth. Teman-teman di Berpolitik.com, Majalah Panji & Majalah Forum,
>Terimakasih atas bantuan teknis & dukungannya kemarin ...
>Semoga permasalahan ini cepat clear dengan mendudukkan 'kebenaran diatas
>segala-galanya' (Insyaallah),
>
>----
>
>Teliti dari Klise Asli 'Gus Dur-Aryanti'
>Roy: Foto Bukan Hasil Rekayasa
>Reporter: Sigit Widodo
>
>detikcom - Jakarta, Pembicaraan soal keaslian foto Gus Dur-Aryanti
>masih hangat. Pakar multimedia dan dosen fotografi UGM RM Roy Suryo
>setelah mendapat klise asli, melakukan penelitian kedua. Hasilnya, foto itu
>bukan rekayasa. Tapi ada fakta lain, apakah itu?
>
>Fakta lain tersebut, menurut lelaki yang juga Nara Sumber di Pusident Mabes
>Polri itu, adalah ternyata rol klise (negatif) itu menyambung dengan gambar
>Aryanti dengan mantan suaminya, M. Yanur.
>
>Meski Gatra dan Panji sudah membuat laporan khusus, keduanya tak
>menampilkan foto heboh yang dimaksud. Justru tabloid Adil No.
>49/Tahun ke-68 yang terbit pekan ini, memuat foto Gus Dur-Aryanti di
>halaman dalamnya. Untuk menguak sejauhmana kebenaran foto tersebut,
>berikut wawancara detikcom dengan Roy di Jakarta Convention
>Centre, Jakarta, Sabtu (2/9/2000).
>
>Bagaimana Anda melihat kasus ini sekarang?
>
>Kasus ini hampir mirip dengan kasus-kasus yang pernah saya coba untuk
>ditelaah. Saya tergerak atas rasa ingin tahu dan rasa geram karena banyak
>orang yang belum-belum sudah menyalahkan teknologi sebelum mengerti
>pasti tentang teknologi itu.
>
>Tanpa melakukan kajian ilmiah dan teknis, belum-belum sudah bilang foto
>itu hasil rekayasa komputer. Bahkan ada pendapat foto-foto yang beredar
>di internet tidak bisa dipercaya. Itu kan namanya skeptis terhadap
>perkembangan teknologi.
>
>Untuk menanggapi sikap itu bagaimana?
>
>Pertama-tama saya harus mencari buktinya, karena saya baru mendengar
>beredarnya foto itu. Pertama saya mendapatkan softcopy berupa file yang
>dikirimkan beberapa teman di Jakarta. File itu dikirimkan dalam ukuran
>yang sangat kecil, hanya 100 kilo bytes.
>
>Saya menolak karena analisa dari file sekecil itu sangat dipertanyakan.
>Kemudian saya beberapa kali dikirimi foto tersebut, termasuk dari
>rekan-rekan yang bekerja di situs berita berpolitik.com. Foto yang akhirnya
>saya analisa berukuran 890 kilo bytes dalam format compressed JPG. File
>ini jika dijadikan format BMP menjadi berukuran 4,65 mega bytes, atau
>sekitar 6 mega bytes untuk PSD. Berdasarkan foto itulah saya berani
>membuat analisa.
>
>Langkah selanjutnya?
>
>Pertama saya mencoba melakukan multi konversi, dari JPG menjadi BMP
>kemudian menjadi PSD untuk mencoba mengiris kembali layer-nya slice
>by slice. Ini hanya bisa dilakukan pada format PSD.
>
>Kemudian saya melakukan separasi menjadi warna-warna cyan,
>magenta, yellow, dan black. Ternyata dari hasil separasi tersebut tidak
>ada warna yang "lari". Biasanya jika sudah dilakukan sentuhan komputer
>atau hasil digital retouching, ada warna yang lari.
>
>Saya juga menggunakan cara yang hampir mirip dengan itu, yaitu
>grayscalling 256 skala abu-abu. Analisa ini gunanya untuk
>memperlihatklan contrast dan brightness-nya. Ternyata tidak ada kesan
>foto itu telah disentuh dengan komputer.
>
>Apa dengan demikian Anda puas bahwa kesimpulan Anda valid?
>
>Tidak. Saya belum puas dan mesti melihat bukti fisik yang asli.
>
>Apa alasan itu yang membuat Anda datang ke Jakarta?
>
>Saya datang ke Jakarta Kamis (31/8/2000) untuk acara Internetworks
>2000 yang digelar di JCC, sekaligus untuk mencari foto ini. Ternyata, saya
>melihat 3 macam kemungkinan foto yang bisa ditemukan. Pertama foto asli
>tahun kuno dari klise asli, ini sangat sulit didapatkan. Yang kedua cetakan
>baru dari klise asli, ini yang beredar di kalangan DPR. Yang ketiga foto
>baru dari klise baru. Yang ketiga ini sangat parah dan saya bertekad tidak
>akan melakukan analisa lanjutan jika jenis foto ini yang saya dapatkan.
>
>Anda mendapatkan yang mana?
>
>Saya mendapatkan foto cetakan baru dari film (negatif) asli. Ini terlihat
>dari
>hasil cetakannya yang suram dan tidak cerah. Kalau film disimpan lebih
>dari tiga tahun, akan ada warna-warna yang pudar walaupun warna-warna
>utama masih tampak. Dari cetakan itu bisa dilihat bahwa foto itu dicetak
>dari klise lama.
>
>Sekarang saya melakukan analisa bukan sebagai ahli komputer. Dalam hal
>ini komputer hanya merupakan alat bantu. Dengan bukti cetakan baru ini,
>saya mencari sumber yang lebih kuat. Dengan dibantu teman-teman
>majalah Panji, saya dipertemukan dengan Aryanti.
>
>Dari Aryanti, saya mendapatkan foto asli dari klise asli yang sudah kusam.
>Foto itu dicetak di atas kertas fuji color paper, ini adalah jenis kertas
>lama.
>Setelah tahun 1999, di balik foto selalu terdapat printing code. Sekarang
>kalau
>kita mencetak foto baru, pasti kertasnya fuji crystal paper. Sedangkan foto
>yang
>dibuat antara tahun 1997-1999 dicetak di atas kertas fujicolor glossy
>paper. Jadi bisa disimpulkan foto itu dicetak sebelum 1997.
>
>Ini saya simpulkan tanpa mendengar cerita-cerita Aryanti yang
>menyatakan film itu dibuat sekitar tahun 1996. Itu saya anggap angin lalu
>saja untuk tidak mempengaruhi hasil penelitian selanjutnya.
>
>Kemudian foto itu saya scan bolak-balik dengan resolusi 600 dpi di
>redaksi majalah Panji. Saya kemudian bertanya kepada Aryanti, apakah
>ada klisenya, dijawab klise itu ada pada mantan suaminya.
>
>Lalu?
>
>Dibantu teman-teman majalah Forum, saya berhasil ketemu mantan suami
>Aryanti, Yanur, di redaksi Forum. Dan ternyata benar klise itu disimpan
>suami Aryanti. Klise itu saya lihat lihat jenis filmnya: Fujicolor film isi
>12
>foto. Foto yang menghebohkan terletak pada frame pertama. Setelah itu
>isinya gambar-gambar mesra Aryanti dan suaminya.
>
>Klise itu saya coba analisis dengan cermat. Ada bukti bahwa itu klise
>lama. Di bagian sampingnya terdapat tulisan "35CSH2", 35 artinya 35
>mm, C berarti color, S berarti super dan H berarti high resolution.
>
>Sedangkan film fuji yang beredar sekarang jenisnya superia, muncul pada
>1999. Sebelumnya ada yang muncul pada 1996, yaitu Fuji Super HGV.
>Film yang digunakan ini adalah Fuji Super HR2, jadi film ini dibeli tahun
>1996 atau sebelumnya. Harap diingat, film tidak bisa disimpan terlalu lama
>karena ada masa expired-nya.
>
>Kemudian kemudian klise ini diperiksa lebih lanjut kontinuitasnya.
>Ternyata foto yang menghebohkan itu menyambung dengan foto-foto
>Aryanti dan suaminya.
>
>Lalu saya lakukan tiga kali proses scanner komputer untuk identifikasi.
>Pertama seluruh klise di-scan dengan desktop scanner yang dilengkapi
>transparent adapter. Saya scan semua lengkap dengan geriginya. Scan
>kedua dilakukan khusus pada foto yang menghebohkan lengkap dengan
>film tracker-nya.
>
>Dari hasil scan ini terbukti tidak ada klise baru yang ditempelkan pada
>klise lama. Penempelan ini bisa saja dilakukan oleh orang yang sangat ahli,
>tapi tetap akan terlihat dengan analisis ini.
>
>Yang ketiga, saya melakukan scanning dengan alat scanner khusus film
>yang berbeda dengan desktop scanner sebelumnya. Ini dilakukan untuk
>memperbesar foto yang bersangkutan untuk melihat apakah ada rekayasa.
>Ternyata tidak ada sentuhan non-fotografis pada klise tersebut.
>
>Scanner ini saya lakukan sendiri dengan resolusi 4800 dpi. Hasilnya
>adalah file dengan ukuran 16 mega bytes. Dengan ini nampak faktor
>komponen pendukung yang lain seperti kursi, pintu, dan lain-lain sehingga
>bisa dicari di mana lokasinya. Tapi pencarian ini biarlah dilakukan oleh
>orang lain.
>
>Mengapa harus resolusi tinggi?
>
>Dengan resolusi yang sangat tinggi ini, pixel per pixel atau dalam istilah
>fotografi: grain-nya akan kelihatan sangat jelas. Jadi kalau ada sentuhan
>sedikitpun nampak. Bahkan jamur dan goresan yang sangat kecilpun
>nampak. Dari situ, pada tahap penelitian kedua ini, saya simpulkan pada
>foto ini tidak ada rekayasa.
>
>Apa Anda tidak takut menyangkut penelitian ini?
>
>Saya tegaskan, saya melakukan analisa ini tidak ada yang membayar. Ini
>demi pengetahun semata. Bagi yang ingin berdebat dengan saya silakan,
>kita demokratis saja.
>
>Apa tidak ada kemungkinan lain?
>
>Ya, memang masih mungkin ada kemungkinan ketiga. Kalau tiba-tiba ada
>orang yang persis seperti Gus Dur dan mengaku berfoto dengan Aryanti.
>Kalau terjadi seperti itu silakan dianalisa oleh orang yang ahli wajah atau
>orang yang mengenal Gus Dur. Kemampuan fotografi dan komputer tidak
>bisa melakukan itu. (sap)
>
>----
>
> \|||/
> (. .)
>*-------------ooO-(_)-Ooo------------*
> RM Roy Suryo
> <r...@ugm.ac.id>
> Indonesia
>*-------------oo0-----Ooo------------*
>
>To unsubscribe from this group, send an email to:
>aryanti-gate...@egroups.com
>
>URLS : http://welcome.to/aryanti-gate
>
>
>
>
>
>
>
>
>

0 new messages