wow, lengkap. **tarik nafas
saya sungguh tidak mengerti kenapa isu
lingkungan dicampakkan di
Indonesia. Jadi jangan heran berbagai bencana alam
dan kerusakan
lingkungan terus mewarnai sisa hidup kita dan anak2
kita.
saya yakin selama ancak masih terus jadi direktur walhi bali, ayo
bung
kita kalahkan isu pariwisata dengan lingkungan
2009/3/31 ancak
ramone <ancakramone@yahoo.com>:
>
>
*JEJAK REKAM PARA CAPRES DI BIDANG LINGKUNGAN & PILIHAN BAGI GERAKAN
>
LINGKUNGAN DI INDONESIA*
>
> *Oleh George Junus Aditjondro(1)
*
>
> PENGANTAR:
> Mana partai yang paling punya jejak rekam
peduli lingkungan? Mana capres &
> cawapres yang punya jejak rekam
peduli lingkungan? Dari mana para capres &
> cawapres membiayai
kampanye mereka: dari hasil pembalakan liar, konsesi
> hutan,
perkebunan kelapa sawit, perkebunan pulp dan kertas, pertambangan
>
batubara, atau mana dan dari siapa?
>
> JEJAK REKAM JUSUF KALLA,
SALAH SATU CAPRES PARTAI GOLKAR:
>
> Kepentingan JK tidak dapat
dilepaskan dari kepentingan ekspansi bisnis
> keluarga besarnya, karena
Indonesia tidak punya peraturan yang melarang
> konflik kepentingan
jabatan publik dengan kepentingan bisnis pribadi dan
> keluarga serta
sahabatnya.
>
> Ada empat kelompok perusahaan yang dikuasai oleh JK
(kelompok Bukaka &
> Hadji Kalla), iparnya, Aksa Mahmud yang Wakil
Ketua MPR-RI (kelompok
> Bosowa), dan adiknya, Halim Kalla (kelompok
Intim). Dengan demikian,
> ekspansi keempat kelompok itu tidak terlepas
dari peranan JK dan Aksa
> Mahmud di arena ekonomi dan
politik.
>
> Salah satu spesialisasi kelompok Bukaka dan Hadji Kalla
adalah dalam
> pembangunan PLTA, namun jejak rekam kelompok Bukaka dan
kelompok Hadji
> Kalla di bidang itu tidak begitu bagus: PLTA Poso
(rencana 780 MW) mulai
> dibangun sebelum ada AMDAL yang memenuhi syarat.
Juga jaringan SUTET
> (Saluran Udara Tegangan Eksa Tinggi)nya ke Sulawesi
Selatan & Tenggara
> dibangun tanpa AMDAL.
>
> Di DAS
Peusangan di Tanah Gayo, Aceh, "pembebasan" tanah di masa DOM
dirasa
> sangat tidak adil. Tapi ada kemungkinan oposisi rakyat akan
dilawan oleh
> PETA (Pembela Tanah Air), milisi bentukan TNI, yang
sekarang membantu TNI
> melakukan represi terhadap rakyat dan
caleg-caleg partai-partai lokal,
> terutama PA (Partai Aceh)
bentukan GAM.
>
> Pembangunan PLTA Peusangan I akan menghancurkan
nafkah penduduk yang bertani
> ikan mas di karamba-karamba di hulu Sungai
Peusangan. Mereka sudah dilarang
> oleh PLN bertani ikan mas di situ, tapi
mereka masih
> bertahan. Belum lagi dampak PLTA Peusangan II
nantinya.
>
> Setelah berkunjung ke RRT, JK sangat berambisi
mendorong pembangunan 19 PLTU
> berkapasitas total 10.000 MW di berbagai
tempat di Indonesia.
> Program ini bukan mendorong pengembangan enerji
terbarukan yang bersih, tapi
> justru mendorong pembakaran batubara yang
sangat menyumbang pemanasan
> global. Namun tetap juga program ini
didukung oleh JK.
>
> Maklumlah, kelompok-kelompok Bukaka, Bosowa ,
dan Intim termasuk paket
> kontraktor pembangunan 19 PLTU itu. Kelompok
Bosowa mendapat order
> pembangunan PLTU Jeneponto di Sulsel, tanpa tender
(Rakyat Merdeka, 7 Juni
> 2006), sedangkan kelompok Intim milik Halim
Kalla yang juga salah seorang
> Komisaris Lion Air akan membangun PLTU
berkapasitas 3 x 300 MW di Cilacap,
> Jateng, dengan bahan baku batubara
yang dipasok dari konsesi pertambangan
> batubara seluas 5.000 ha milik
kelompok Intim di Kaltim (GlobeAsia, Sept.
> 2008, hal.
38).
>
> Setelah 22 DPD Golkar mendukung pencalonan JK sebagai
Capres, kita perlu
> lihat kiprah para pendukung JK di pucuk pimpinan
Golkar, seperti Surya
> Paloh, ketua Dewan Penasehat Golkar. Reputasi
Surya Paloh di Aceh di
> bidang lingkungan sangat buruk, karena Kelompok
Media yang dipimpinnya
> membuka tambang emas, tambang batubaru, dan PLTU
di Kabupaten Nagan
> Raya, Aceh bagian Barat, tanpa AMDAL dan tanpa
menghormati pemerintah
> Gampong dan Mukim, seperti digariskan dalam MoU
Helsinki dan UU No.
> 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh.
>
>
JEJAK REKAM SBY, CAPRES PARTAI DEMOKRAT:
> Jejak rekam SBY di bidang
lingkungan sangat tersembunyi, sebab SBY
> 'hanya' berperan sebagai
pelindung berbagai kelompok bisnis besar,
> terutama kelompok Artha Graha
(AG). T.B. Silalahi, penasehat presiden di
> bidang pertahanan, juga
eksekutif kelompok AG dbp Tomy Winata. Melalui
> mitra bisnisnya di Sumut,
AG mengelola perkebunan kelapa sawit PT First
> Mujur Plantation di
Tapanuli Selatan dan Labuhan Batu. Artha Graha juga
> milik Sugianto
Kusuma ('Aguan'), pemilik PT Agung Sedayu Permai, holding
> company
Agung Sedayu Group.
>
> Artha Graha dan Agung Sedayu Permai banyak
membangun gedung perkantoran &
> perumahan elit, yang tiap hari
diiklankan di layar televisi.
> Kurang disadari dampak lingkungan
properti-properti mewah itu, yaitu:
> (a) pembukaan lahannya menggusur
rakyat kecil yang terpaksa bermukim di
> pinggir kali yang sangat tidak
sehat; (b) sangat rakus air tanah (membuat
> rakyat kecil tergantung pada
air kemasan); dan (c) ikut menyemburkan udara
> panas yang menaikkan suhu
udara kota Jakarta. Berlindung di balik nama SBY
> ada dua yayasan, yakni
(1) Yayasan Puri Cikeas & (2) Yayasan Majelis Dzikir
> SBY
Nurussalam.
>
> Orang-orang dekat SBY menjadid pembina atau pengawas
yayasan-yayasan
> itu. Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas = Jero
Wacik, Menteri
> Pariwisata dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Ketua
Pengawas Yayasan
> Nurussalam = Brigjen Kurdi Mustofa, Sekpri
SBY.
>
> Adik ipar (Hartanto Eddie Wibowo) dan anak bungsu SBY (Eddy
Baskoro
> Yudhoyono) menjadi fungsionaris Yayasan Nurussalam. Hartanto,
bendahara,
> Baskoro, sekretaris.
>
> Sejumlah pengusaha era
Orde Baru menjadi fungsionaris kedua yayasan itu,
> seperti Sukamdhani dan
putera mahkotanya, Hariadi Sukamdani (Sahid
> Group), serta Tanri Abeng
dan anaknya, Emil Abeng, serta Aziz Mochdar
> (Bimantara). Sukamdhani dan
Tanri Abeng di Yayasan Cikeas, sedangkan
> Aziz Mochdar (ipar Yayuk
Habibie, adik bungsu BJ Habibie) di Yayasan
> Nurusalam.
>
>
Ada juga pengusaha yang berlindung di balik fungsionaris Yayasan
>
Nurussalam, seperti Gunawan Yusuf (Makindo), kompetitor Salim Group
>
dalam perkebunan tebu di Lampung. Menteri Lingkungan era SBY-JK, Rachmat
>
Witoelar, memberikan label hijau kepada beberapa konglomerat perusak
>
lingkungan, yakni RGM, Sinar Mas, dan Freeport Indonesia, Inc.
>
>
Ekspansi konglomerat-konglomerat yang dekat dengan JK (pernah sama-sama
jadi
> penggalang dana Golkar, seperti Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie,
Hartati
> Murdaya) ikut berekspansi di era SBY-JK, walaupun di tahun-tahun
pertama
> kejatuhan Soeharto mereka masih berhutang besar pada bank-bank
negara.
>
> Kelompok Medco yang 60% milik keluarga Arifin Panigoro
(40% milik Mitsui
> & Mitsubishi) berkembang dari migas (Sulteng,
Aceh), PLT panas bumi di
> Sarulla (Sumut), kelapa sawit (Kalteng, Papua),
paper dan pulp di Merauke
> (Papua), s/d rencana PLTN di Jepara
(Jateng).
>
> Namun blunder terbesar kroni-kroni JK adalah ekspansi
bisnis keluarga
> Bakrie di bidang energi (Mega Energi Persada, Bumi
Resources, Kondur
> Petroleum) yang mengakibatkan tragedi Lapindo bagi
rakyat Jawa Timur,
> malapetaka lingkungan paling kurang ajar selama rezim
SBY-JK!!
>
> JEJAK REKAM MEGAWATI SOEKARNOPUTRI, CAPRES
PDI-P:
> Sewaktu masih jadi oposisi di era Soeharto, PDI sekutu
gerakan
> lingkungan dalam menentang pembangunan PLTN. Sesudah jadi
Presiden,
> tidak terdengar suara PDI-P di bidang itu. Setelah Mega jadi
Presiden,
> keluarga Soekarno-Kiemas, Kiemas bersaudara punya 13 SPBU di
wilayah
> Jabodetabek, di antaranya ada yang menerobos jalur
hijau.
>
> Goris Keraf, seorang kader PDI-P yang diangkat menjadi
Menteri
> Lingkungan di era Presiden Gus Dur, bersuara keras
terhadap
> perusahaan-perusaha an perusak lingkungan. Misalnya, terhadap
PT TPL (Toba
> Pulp Lestari) dan PT Freeport Indonesia. Tapi akibat
desakan rekan-rekan
> separtai, Keraf tidak bersuara keras
lagi.
>
> Setelah diganti oleh Megawati Soekarnoutri dengan Nabiel
Makarim, Goris
> Keraf yang masih dipilih menjadi anggota Fraksi PDI-P di
DPR-RI, ia
> bahkan tidak bersuara menghadapi rencana tambang emas di P.
Lembata,
> kampung halamannya, walaupun rencana itu ditentang oleh rakyat
dan para
> rohaniwan OFM & SVD.
>
> JEJAK REKAM PRABOWO
SUBIANTO, CAPRES GERINDRA:
> Dengan mengambilalih konsesi Kiani Group
seluas 53 ribu ha dari Bob
> Hasan, Prabowo ikut melanggengkan
penghancuran hutan Kaltim.
> Di Aceh, Prabowo & adiknya, Hasyim
Djojohadikusumo menguasai hutan
> seluas 97 ribu ha di Aceh Tengah melalui
PT Tusam Hutan Lestari, sumber
> bahan baku pabrik kertas PT Kertas Kraft
Aceh (KKA). Padahal pinus
> sangat tidak ramah lingkungan.
>
>
Di Kaltim, kakak beradik Prabowo & Hashim menguasai lebih dari satu
juta
> hektar konsesi hutan dan tambang batubara, dan masih berencana
membuka 700
> ribu ha kebun aren (Warta Ekonomi, 9-22 Maret 2009, Laporan
Khusus tentang
> Duet Bisnis & Politik, Hashim Djojohadikusumo &
Prabowo Subianto). Di Papua,
> Hashim, mengeksplorasi gas dari Blok
Rombebai seluas 11.5900 km2 di
> Kabupaten Yapen , yang diperkirakan
memiliki kandungan gas lebih dari 15
> trilyun kaki kubik (idem), dan
dapat berdampak negatif bagi nelayan di Teluk
> Sairera.
>
>
Masih di Papua, Hashim berencana membuka perkebunan padi (rice estate)
>
seluas 585 ribu ha dan perkebunan aren seluas 800.000 ha di Kabupaten
>
Merauke (idem).
>
> Berarti, bersama adiknya, Hashim
Djojohadikusumo, Prabowo Subianto sudah
> menguasai lebih dari tiga juta
hektar perkebunan, konsesi hutan, tambang
> batubara dan ladang migas dari
Aceh sampai ke Papua, dan masih berencana
> membuka 1,5 juta hektar lagi
di Kaltim dan Merauke.
>
> JEJAK REKAM WIRANTO, CAPRES PARTAI
HANURA:
> Hampir seluruh bisnisnya dijalankan oleh proxies, tanpa
menampilkan nama
> Wiranto. Kalau mau selidiki kekayaannya, sebaiknya
selidiki kekayaan
> pengurus Partai Hanura. Sejak menjadi Pangdam V Jaya,
Wiranto sering
> mendapat apartemen gratis di berbagai tower (menara
pertokoan dan perumahan)
> mewah. Yang terbaru dan termahal adalah
penthouse di Da Vinci Tower di Jl.
> Jendral Sudirman, milik Antonio
("Tony") Munafo, Presiden Da Vinci Eropa
> yang sering datang dari
Singapura.
>
> Wirantolah orang yang mendorong pemekaran kembali
Kodam yang dulu
> diciutkan oleh Benny Murdani dari enambelas menjadi
sepuluh Kodam. Lewat
> berbagai pertumpahan darah, Kodam Pattimura dan
Kodam Iskandar Muda telah
> lahir kembali. Setelah konflik Poso, jumlah
Batalyon di Sulteng
> telah dimekarkan dari satu menjadi
tiga.
>
> Berbagai bisnis kelabu itu punya dampak lingkungan yang
sangat buruk,
> seperti pembalakan liar di TN Leuser, eksploitasi kayu
hitam di Sulteng
> dan kayu gaharu di Papua Barat, serta perdagangan liar
fauna dan flora
> langka di seluruh Nusantara.
>
> JEJAK REKAM
SUTIYOSO:
> Sewaktu masih menjadi Gubernur DKI, Sutyoso merintis program
Busway
> (Transjakarta) , dengan alasan untuk mengurangi kemacetan dan
kepadatan
> lalulintas di DKI. Kenyataannya, pengambilan satu jalur jalan
di rute-rute
> yang ramai, justru memadatkan lalulintas lain di
jalur yang tersisa. Masih
> diragukan apakah itu mengurangi
kemacetan lalulintas dan mengurangi polusi
> udara.
>
> JEJAK
REKAM SULTAN HAMENGKU-BUWONO X, CAPRES PARTAI REPUBLIKAN:
> Banyak orang
tidak mengetahui bahwa berdasarkan warisan Belanda, Sultan
> Hamengku
Buwono (HB) X menjadi penguasa tanah di seluruh wilayah DIY,
> bersama
Paku Alam. Semua tanah yang bukan milik pribadi orang (eigendom),
>
tergolong SG (Sultan's Gronden) atau PAG (Paku Alam's Gronden). Sultan HB
X
> dan isterinya, Ratu Hemas, tidak punya putera mahkota yang dapat
ditahbiskan
> menjadi Sultan HB XI, sepeninggal HB X, sehingga HB X
berusaha mewariskan
> sesuatu yang lain kepada kelima orang
puterinya.
>
> Tiga dari lima orang puteri HB X yang telah menikah,
termasuk puteri
> tertua (Gusti Pembayun) dan puteri kedua, menikah dengan
pelaku bisnis.
> Berbekal tanah kesultanan (SG), puteri-puteri HB X
mengikuti jejak
> sebagian paman mereka, menjadi pebisnis, bermitra dengan
orang luar DIY.
> Gusti Pembayun menjadi mitra Sampoerna Group, yang telah
membangun
> pabrik rokok di Kabupaten Bantul, menjaring konsumen rakyat
bawah,
> dengan merek Kraton Dalem. Kongsi itu mendapatkan alokasi tanah
untuk
> menanam tembakau di Bantul.
>
> PT JMI (Jogja Magasa
Iron), anak perusahaan PT JMM (Jogja Magasa Mining)
> milik Gusti Pembayun
dan pamannya, GBPH Joyokusumo (adik HB X), menjadi
> mitra Indo Mines Ltd,
suatu perusahaan pertambangan Australia yang terdaftar
> di bursa saham
Perth, dalam rencana penambangan pasir besi, yang akan
> memotong areal
sepuluh desa di Kabupaten Kulonprogo, DIY. Rencana itu
> ditentang rakyat
setempat anggota Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP)
> Kulonprogo (Koran
Tempo, 12 Nov. 2008, 12 Febr. 2009; Direct Action, Agustus
>
2008).
>
> Ketika ribuan petani anggota PPLP melakukan unjuk rasa di
depan Mendagri
> Mardiyanto dan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy
Numberi, Selasa, 17
> Maret yang lalu, Freddy Numberi bukannya membela
para petani pesisir
> tersebut. Ia menghimbau para calon korban gusuran
proyek pertambangan
> pasir besi itu untuk "melihat ke depan", karena
kerjasama antara keluarga
> keratin dan kapitalis Australia itu
"menguntungkan beberapa pihak".
> "Penolakan warga itu hal biasa", begitu
ia tambahkan. Tampaknya kedua
> Menteri Kabinet Indonesia Bersatu itu
tidak mau mempertimbangkan
> pertimbangan para petani pesisir, bahwa tanah
mereka adalah tanah
> bersertifikat. Bukan tanah milik Sultan alias
Sultan's Gronden (Harian
> Yogya, 18 Maret 2009).
>
>
KESIMPULAN:
> Dari uraian di atas, tampaklah bahwa tujuh orang calon
presiden -- SBY,
> JK, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Wiranto,
Sutyoso, dan
> Sultan HB X -- , tidak dapat diharapkan mengatasi berbagai
masalah
> lingkungan di Indonesia. Apa yang dapat diharapkan dari sudut
pemeliharaan
> kelestarian lingkungan di Nusantara, apabila satu di
antara
> mereka terpilih sebagai Presiden?
>
> Sebaiknya kita
mulai perhatikan agenda kampanye para capres dan cawapres
> alternatif,
yang masih aktif dalam gerakan pro-demokrasi di Indonesia,
> seperti
pasangan Rizal Ramli dan Eros Djarot, atau capres yang berasal dari
>
partai-partai mapan, seperti Golkar, tapi berani melawan arus,
> seperti
Marwah Daud Ibrahim dan Judy Chrisnandy.
>
> Namun yang paling
penting dan paling baik adalah: pilihlah capres
> alternatif yang sejak
dini berani mengungkapkan siapa calon Menteri
> Lingkungannya, kemudian
pilihlah calon presiden dan calon menteri
> lingkungan yang punya jejak
rekam yang tetap setia pada pelestarian
> lingkungan, penegakan HAM, dan
pemberantasan korupsi di Nusantara.
>
> Yogyakarta, 30 Maret
2009
>
> Catatan Belakang:
> (1) Mantan Wakil Ketua Presidium
WALHI; mantan Direktur YPMD-Irja;
> anggota Dewan Penasihat People's
Empowerment Consortium (PEC).
>
> --
>
>
>
>
--
Luh De Suriyani
http://lodegen.wordpress.com/