FYI: meneruskan email dr milist sebelah.....
Ato bisa juga diklik di:
http://forum.lareosing.org/showthread.php?p=98553&posted=1#post98553
******
MENYONGSONG ERA SOEHARTO, BABAK KEDUA
By: George Junus Aditjondro*
*KELUARGA Cendana * sekarang terang-terangan berdiri di belakang Gerindra,
yang mencalonkan Letjen (Purn.) Prabowo Subianto sebagai Presiden RI ke7.
Ini diungkapkan Jumat lalu (6/3), di depan massa di muka rumah orangtua
Soeharto di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, oleh
Probosutedjo, adik tiri Soeharto yang sering jadi juru bicara Keluarga
Cendana.
Probosutejo sudah pernah mengeluarkan pernyataan serupa, yang kontan
ditanggapi mantan Ketua MPR Amien Rais waktu itu. Menurut Amien, dukungan
Cendana malah merugikan Prabowo, karena akan mempersempit dukungan bagi dia
(Okezone, 23/1).
Mengapa? “Keluarga Cendana mewakili masa lalu. Padahal Prabowo yang
dikesankan dalam iklan TV, mau mengubah Indonesia, mau buat
terobosan-terobosan baru. Saya kira, reformasi sudah mengucapkan selamat
tinggal kepada Orde Baru. Sekarang malah ada tokoh yang mengajak Prabowo ke
zaman baheula. Ini akan merugikan dia,” kata mantan Ketua MPR, yang ikut
memotori gerakan menjatuhkan Presiden Soeharto, sebelas tahun lalu.
*Penguasa tiga juta hektar.*
Pernyataan Probosutejo memang penuh kontroversi. Dalam kampanye di desa
kelahiran Soeharto, ia menyatakan, dalam tiga tahun setelah Prabowo menjadi
Presiden, setiap rakyat akan memiliki tanah minimal dua hektar (Harian
Yogya, 7/3). Padahal keluarga besar Prabowo sendiri menguasai lebih dari *tiga
juta hektar tanah* dari Aceh sampai Papua.
Janji pembagian tanah seluas dua hektar buat setiap keluarga tani, mustahil
dapat diwujudkan. Kecuali kalau Prabowo dan adiknya, Hashim Djojohadikusumo,
bersedia membagi jutaan hektar tanah yang mereka kuasai dalam bentuk
perkebunan kelapa sawit, teh, jagung, jarak, akasia, padi dan aren, serta
ratusan ribu hektar hutan pinus, kepada jutaan petani lapar tanah.
Bagaikan zamrud di katulistiwa, tanah-tanah pencetak dollar bagi kedua
bersaudara Djojohadikusumo tersebar dari Aceh ke Papua. Di sekeliling Danau
Lot Tawar di Aceh, mereka menguasai konsesi PT Tusam Hutani Lestari seluas
96 ribu hektar, terentang dari Kabupaten Bener Meriah ke Kabupaten Aceh
Tengah. Konsesi itu sumber kayu pinus bagi pabrik PT Kertas Kraft Aceh (KKA)
di Lhokseumawe. Di Sumatera Barat dan Jambi mereka menguasai perkebunan
kelapa sawit seluas lebih dari 30 ribu hektar di bawah PT Tidar Kerinci
Agung.
Di Kaltim mereka telah mengambilalih konsesi hutan PT Tanjung Redep HTI
seluas 290 ribu hektar, yang dulu dikuasai Bob Hasan. Juga di Kaltim, mereka
telah mengambilalih konsesi hutan seluas 350 ribu hektar dari Kiani Group
yang dulu juga dikuasai Bob Hasan dan mengganti namanya menjadi PT Kertas
Nusantara, berkongsi dengan Luhut B. Panjaitan, mantan Menteri Perdagangan
di era Habibie. Masih di provinsi yang sama, mereka menguasai konsesi hutan
PT Kartika Utama seluas 260 ribu hektar, PT Ikani Lestari seluas 260 ribu
hektar, serta perkebunan PT Belantara Pusaka seluas 15 ribu hektar lebih.
Kaltim memang ‘pabrik uang’ bagi Prabowo. Holding company nya, Nusantara
Energy, yang memiliki konsesi seluas 60 ribu hektar, telah mulai mengekspor
batubara ke Tiongkok.
Bergeser ke Indonesia Timur, di Pulau Bima (NTB), mereka memiliki budidaya
mutiara serta perkebunan jarak seluas seratus hektar untuk bahan bakar
nabati. Sedangkan di Kabupaten Merauke, Papua, mereka berencana membuka
Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) seluas 585 ribu hektar. Di Papua,
mereka juga mengeksplorasi blok gas Rombebai di Kabupaten Yapen dengan
kandungan gas lebih dari 15 trilyun kaki kubik.
*Kampanye dibiayai petrodollar ...*
Semua ekspansi bisnis itu serta kampanye Gerindra itu dibiayai dari
keuntungan Hashim dari bisnis migas. Di masa kejayaan Soeharto, Hashim dan
Arifin Panigoro diajak sang Presiden bermuhibah ke negara-negara eks Uni
Soviet yang kaya migas, seperti Kazakhstan dan Azerbaijan, dan membeli
konsesi-konsesi migas di sana.
Krisis moneter yang disusul jatuhnya Soeharto, membuat para keluarga dan
kroni Istana harus segera melunasi hutang-hutang mereka yang dikelola BPPN.
Arifin melepas ladang migasnya di Asia Tengah tahun 2000, sedangkan Hashim
baru enam tahun kemudian melepas ladang migasnya di Kazakhstan, yang
dikuasainya melalui Nations Energy Co. yang bermarkas di Calgary, Kanada.
Aset itu dijualnya kepada CITIC Group (RRT) seharga 1,91 milyar dollar AS,
atau 17,2 trilyun rupiah (Trust, 12-18 Nov. 2007, hal. 11; Swasembada, 24
Nov.-3 Des. 2008, hal. 113-114, 116; Globe Asia, Des. 2008, hal. 49).
Pelepasan ladang migas Kazakhstan tidak mengakhiri kiprah Hashim di bidang
migas, sebab di Azerbaijan ia masih memiliki ladang migas yang juga
dioperasikan oleh Nations Energy Co. Tahun lalu, ladang itupun ia lepas,
karena “harganya bagus”, kata Hashim kepada Swasembada.
Namun hasil penjualan ladang migas di Kazakhstan saja lebih dari cukup untuk
membiayai kampanye Gerindra. Saldo partai ini paling besar di antara 38
parpol peserta Pemilu 2009, yakni Rp 15 milyar (Seputar Indonesia, 7/3).
*...... dan didukung keluarga besar Djojohadikusumo*
Keluarga besar Djojohadikusumo ikut mendukung kampanye Gerindra. Selain
Hashim sebagai penyandang dana utama, jabatan Bendahara dipegang oleh
keponakan Prabowo, Thomas Djiwandono. Putra sulung mantan Gubernur BI,
Soedradjad Djiwandono, abang ipar Prabowo, juga menjabat sebagai Direktur
Comexindo International (CI) milik Hashim.
Dengan investasi sebesar 6 juta dollar AS, CI membawahi perkebunan karet,
teh, dan jagung seluas total 1200 hektar di Jabar dan Minahasa (Sulut),
sementara 21 ribu hektar sedang diurus di Kaltim. Juga ratusan ribu hektar
perkebunan enau untuk produksi gula dan ethanol sedang dirintis di Minahasa
dan Papua (Swasembada, 24 Nov.-3 Des. 2008, hal. 115-117).
Jadi pertanyaannya sekarang: seandainya Prabowo berhasil meraih kursi RI 1,
bagaimana mencegah rezim mendatang tidak mengulangi kesalahan era Soeharto,
waktu negara dikelola sebagai imperium bisnis keluarga besar presiden?
**Penulis adalah pengarang Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki
Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa (LKiS, Yogyakarta, 2006).
Ia dapat dihubungi di georgejunusaditjon...@gmail.com*
*KELUARGA Cendana * sekarang terang-terangan berdiri di belakang Gerindra,
yang mencalonkan Letjen (Purn.) Prabowo Subianto sebagai Presiden RI ke7.
Ini diungkapkan Jumat lalu (6/3), di depan massa di muka rumah orangtua
Soeharto di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, oleh
Probosutedjo, adik tiri Soeharto yang sering jadi juru bicara Keluarga
Cendana.
Probosutejo sudah pernah mengeluarkan pernyataan serupa, yang kontan
ditanggapi mantan Ketua MPR Amien Rais waktu itu. Menurut Amien, dukungan
Cendana malah merugikan Prabowo, karena akan mempersempit dukungan bagi dia
(Okezone, 23/1).
Mengapa? “Keluarga Cendana mewakili masa lalu. Padahal Prabowo yang
dikesankan dalam iklan TV, mau mengubah Indonesia, mau buat
terobosan-terobosan baru. Saya kira, reformasi sudah mengucapkan selamat
tinggal kepada Orde Baru. Sekarang malah ada tokoh yang mengajak Prabowo ke
zaman baheula. Ini akan merugikan dia,” kata mantan Ketua MPR, yang ikut
memotori gerakan menjatuhkan Presiden Soeharto, sebelas tahun lalu.
*Penguasa tiga juta hektar.*
Pernyataan Probosutejo memang penuh kontroversi. Dalam kampanye di desa
kelahiran Soeharto, ia menyatakan, dalam tiga tahun setelah Prabowo menjadi
Presiden, setiap rakyat akan memiliki tanah minimal dua hektar (Harian
Yogya, 7/3). Padahal keluarga besar Prabowo sendiri menguasai lebih dari *tiga
juta hektar tanah* dari Aceh sampai Papua.
Janji pembagian tanah seluas dua hektar buat setiap keluarga tani, mustahil
dapat diwujudkan. Kecuali kalau Prabowo dan adiknya, Hashim Djojohadikusumo,
bersedia membagi jutaan hektar tanah yang mereka kuasai dalam bentuk
perkebunan kelapa sawit, teh, jagung, jarak, akasia, padi dan aren, serta
ratusan ribu hektar hutan pinus, kepada jutaan petani lapar tanah.
Bagaikan zamrud di katulistiwa, tanah-tanah pencetak dollar bagi kedua
bersaudara Djojohadikusumo tersebar dari Aceh ke Papua. Di sekeliling Danau
Lot Tawar di Aceh, mereka menguasai konsesi PT Tusam Hutani Lestari seluas
96 ribu hektar, terentang dari Kabupaten Bener Meriah ke Kabupaten Aceh
Tengah. Konsesi itu sumber kayu pinus bagi pabrik PT Kertas Kraft Aceh (KKA)
di Lhokseumawe. Di Sumatera Barat dan Jambi mereka menguasai perkebunan
kelapa sawit seluas lebih dari 30 ribu hektar di bawah PT Tidar Kerinci
Agung.
Di Kaltim mereka telah mengambilalih konsesi hutan PT Tanjung Redep HTI
seluas 290 ribu hektar, yang dulu dikuasai Bob Hasan. Juga di Kaltim, mereka
telah mengambilalih konsesi hutan seluas 350 ribu hektar dari Kiani Group
yang dulu juga dikuasai Bob Hasan dan mengganti namanya menjadi PT Kertas
Nusantara, berkongsi dengan Luhut B. Panjaitan, mantan Menteri Perdagangan
di era Habibie. Masih di provinsi yang sama, mereka menguasai konsesi hutan
PT Kartika Utama seluas 260 ribu hektar, PT Ikani Lestari seluas 260 ribu
hektar, serta perkebunan PT Belantara Pusaka seluas 15 ribu hektar lebih.
Kaltim memang ‘pabrik uang’ bagi Prabowo. Holding company nya, Nusantara
Energy, yang memiliki konsesi seluas 60 ribu hektar, telah mulai mengekspor
batubara ke Tiongkok.
Bergeser ke Indonesia Timur, di Pulau Bima (NTB), mereka memiliki budidaya
mutiara serta perkebunan jarak seluas seratus hektar untuk bahan bakar
nabati. Sedangkan di Kabupaten Merauke, Papua, mereka berencana membuka
Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) seluas 585 ribu hektar. Di Papua,
mereka juga mengeksplorasi blok gas Rombebai di Kabupaten Yapen dengan
kandungan gas lebih dari 15 trilyun kaki kubik.
*Kampanye dibiayai petrodollar ...*
Semua ekspansi bisnis itu serta kampanye Gerindra itu dibiayai dari
keuntungan Hashim dari bisnis migas. Di masa kejayaan Soeharto, Hashim dan
Arifin Panigoro diajak sang Presiden bermuhibah ke negara-negara eks Uni
Soviet yang kaya migas, seperti Kazakhstan dan Azerbaijan, dan membeli
konsesi-konsesi migas di sana.
Krisis moneter yang disusul jatuhnya Soeharto, membuat para keluarga dan
kroni Istana harus segera melunasi hutang-hutang mereka yang dikelola BPPN.
Arifin melepas ladang migasnya di Asia Tengah tahun 2000, sedangkan Hashim
baru enam tahun kemudian melepas ladang migasnya di Kazakhstan, yang
dikuasainya melalui Nations Energy Co. yang bermarkas di Calgary, Kanada.
Aset itu dijualnya kepada CITIC Group (RRT) seharga 1,91 milyar dollar AS,
atau 17,2 trilyun rupiah (Trust, 12-18 Nov. 2007, hal. 11; Swasembada, 24
Nov.-3 Des. 2008, hal. 113-114, 116; Globe Asia, Des. 2008, hal. 49).
Pelepasan ladang migas Kazakhstan tidak mengakhiri kiprah Hashim di bidang
migas, sebab di Azerbaijan ia masih memiliki ladang migas yang juga
dioperasikan oleh Nations Energy Co. Tahun lalu, ladang itupun ia lepas,
karena “harganya bagus”, kata Hashim kepada Swasembada.
Namun hasil penjualan ladang migas di Kazakhstan saja lebih dari cukup untuk
membiayai kampanye Gerindra. Saldo partai ini paling besar di antara 38
parpol peserta Pemilu 2009, yakni Rp 15 milyar (Seputar Indonesia, 7/3).
*...... dan didukung keluarga besar Djojohadikusumo*
Keluarga besar Djojohadikusumo ikut mendukung kampanye Gerindra. Selain
Hashim sebagai penyandang dana utama, jabatan Bendahara dipegang oleh
keponakan Prabowo, Thomas Djiwandono. Putra sulung mantan Gubernur BI,
Soedradjad Djiwandono, abang ipar Prabowo, juga menjabat sebagai Direktur
Comexindo International (CI) milik Hashim.
Dengan investasi sebesar 6 juta dollar AS, CI membawahi perkebunan karet,
teh, dan jagung seluas total 1200 hektar di Jabar dan Minahasa (Sulut),
sementara 21 ribu hektar sedang diurus di Kaltim. Juga ratusan ribu hektar
perkebunan enau untuk produksi gula dan ethanol sedang dirintis di Minahasa
dan Papua (Swasembada, 24 Nov.-3 Des. 2008, hal. 115-117).
Jadi pertanyaannya sekarang: seandainya Prabowo berhasil meraih kursi RI 1,
bagaimana mencegah rezim mendatang tidak mengulangi kesalahan era Soeharto,
waktu negara dikelola sebagai imperium bisnis keluarga besar presiden?
**Penulis adalah pengarang Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki
Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa (LKiS, Yogyakarta, 2006).
Ia dapat dihubungi di georgejunusaditjon...@gmail.com
*
--
Best Regards,
Lulut Joni Prasojo
Ph + 62 81 337 071 500