Ya Allah Jangan Jadikan
Kuburku Berhala dan SYIRIK Meminta Syafa'at Kepada Orang Mati
A. Ya Allah Jangan Jadikan Kuburku Berhala
Inilah untaian doa sekaligus
peringatan Rasulullah di atas ranjang kematian beliau.
Doa dengan kata-kata yang sarat
makna dan sebuah ungkapan yang mengandung luapan kasih sayang, “Ya Allah,
jangan jadikan kuburku berhala.” Sebuah bentuk semangat yang tinggi dan kasih
sayang yang dalam terhadap umatnya. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah:
“Sungguh telah datang kepadamu
seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)
artinya beliau sangat
menginginkan (bersemangat) atas kalian. Kata Ibnu Katsir, yakni bersemangat
untuk membimbing kalian dan menyampaikan manfaat dunia dan akhirat kepada
kalian. Abu Dzar mengatakan: “Rasulullah telah meninggalkan kita dan tiadalah
seekor burung yang mengepakkan sayapnya di udara melainkan beliau telah
menyampaikan ilmunya.”
Bahkan Rasulullah bersabda:
“Tidak ada sesuatu yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka
melainkan telah disampaikan kepada kalian.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/425)
Kasih sayang terhadap kaum
mukminin. Diterangkan As-Sa’di, beliau sangat penyayang dan belas kasih kepada
mereka, lebih penyayang kepada mereka dibandingkan kasih sayang kedua orangtua
mereka. (Tafsir As-Sa’di hal. 313)
Lantunan doa ini sama dengan apa
yang telah diucapkan oleh Abu Al-Muwahhidin (bapak para pemeluk tauhid),
Khalilullah Ibrahim:
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim
berkata: ‘Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman dan
jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala’.” (Ibrahim:
35)
Sabda Nabi: “Jangan jadikan
kuburku sebagai berhala” mengandung beberapa faedah:
1. Sebuah peringatan sekaligus
berita ilahi bahwa mayoritas umatnya akan terjatuh ke dalam fitnah (ujian/bala)
ini.
2. Usaha beliau menutup segala
pintu dan jalan yang akan mengantarkan kepada malapetaka besar dan kepada dosa
yang akan mengekalkan di dalam neraka. Itulah bencana dan dosa syirik.
3. Peringatan keras sekaligus
pengajaran sikap beragama agar tidak menyerupai sedikitpun orang-orang kafir
dalam urusan agama, peribadatan, dan perilaku mereka.
4. Agama yang dibawanya kekal
sekalipun beliau telah tiada. Tidak ada kebaikan sedikitpun yang masih tersisa
yang belum beliau sampaikan, serta tidak ada kejelekan atau yang akan membawa
kepadanya sekecil apapun melainkan beliau telah memperingatkan darinya.
Iblis Pemimpin Penuhan Kubur
Tidak ada seorang muslim pun,
bagaimanapun rendah ilmunya tentang agama, yang tidak mengetahui jika iblis
merupakan pemimpin kejahatan, musuh Allah dan musuh orang-orang yang beriman.
Akan tetapi berapa dari kaum muslimin yang mengetahui segala bentuk perangkap
dan tipu muslihatnya? Betapa banyak mereka yang berada dalam kungkungan dan
jeratan iblis, tidak sanggup untuk melepaskan diri darinya, baik orang yang
dikatakan berilmu, terlebih yang tidak memiliki ilmu.
Bukankah Allah yang telah
mengatakan kepadanya:
“Allah berfirman: ‘Turunlah kamu
dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.
Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina’.” (Al-A’raf:
13)
“Allah berfirman: ‘Keluarlah dari
surga karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap
menimpamu sampai hari kiamat’.” (Al-Hijr: 34-35)
“Allah berfirman: ‘Maka keluarlah
kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya
kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan’.” (Shad: 77-78)
Dialah iblis yang telah berkata
di hadapan Allah:
“Iblis berkata: ‘Ya Rabbku, beri
tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan’.” (Shad: 79)
Dialah yang berkata:
“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah
menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari
jalan Engkau yang lurus kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka dan Engkau tidak akan
mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’.” (Al-A’raf: 16-17)
“Iblis berkata: ‘Ya Rabbku, oleh
sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya’.” (Al-Hijr: 39)
“Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan
Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya’.” (Shad: 82)
Karena semua usahanya inilah,
Allah menvonisnya:
“Sesungguhnya Aku pasti akan
memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang
mengikuti kamu di antara mereka semuanya.” (Shad: 85)
Dialah iblis sebagai imam
kejahatan, imam penentang Allah, imam penduduk neraka. Dia berusaha
menjerumuskan seseorang agar terjatuh dalam penuhanan kuburan, yakni
mengultuskan penghuni kubur serta menjadikannya Tuhan. Iblis melakukan tipu
muslihat yang sangat jitu dan berbahaya. Sulit bagi seseorang untuk bisa keluar
darinya. Sebagai pemimpin kejahatan, tidak mungkin dia akan menginginkan
kebaikan bagi orang-orang yang beriman.
Fitnah Kubur adalah Fitnah Besar
Fitnah yang bermakna ujian,
merupakan sebuah ketentuan yang pasti terjadi. Ketentuan yang terus bergulir
sepanjang kehidupan dunia ini dan akan berakhir dengan ujian yang paling besar,
yakni ujian neraka.
Kubur merupakan sebuah fitnah
yang melanda umat Rasulullah. Tidak ada satupun dari negeri muslimin melainkan
di sana ada kuburan yang dikultuskan. Sebuah fitnah yang tidak hanya melanda
orang rendahan atau orang jahil semata, bahkan mengenai seluruh lapisan. Sebuah
fitnah yang telah menjadikan kelabu, suram, gelap jalan hidup kaum muslimin.
Bagaimana tidak? Padahal:
Pertama: Rusaknya batiniah mereka
karena menyerahkan seluruh persoalan hidupnya, bahagia dan susah, lulus atau
gagal, selamat atau celaka, beruntung atau merugi, bahkan baik atau buruk
kepada kuburan. Semua jenis ibadah batiniah seperti tawakal, berharap, takut,
cinta, dan sebagainya ditujukan untuk kuburan. Oleh karena itu, adakah bagian
Allah yang masih tersisa di tengah umat seperti ini jika semua urusan
dikembalikan kepada kuburan?
Bisakah kuburan dan penghuninya
berbuat untuk dirinya? Jika hal itu tidak mungkin, bagaimana mungkin dia bisa
berbuat untuk orang lain?
Kedua: Rusaknya lahiriah mereka
karena telah berkorban yang tidak sedikit untuk sebuah kuburan tertentu, baik
dengan menyembelih korban padanya, bernadzar untuknya, atau mempersiapkan bekal
yang banyak untuk mengelilingi makam para wali dengan tujuan mendulang berkah
darinya. Sungguh, siapakah yang bisa melakukan pengubahan nasib hidup kalau
bukan Allah?
Lalu apakah yang mereka sisakan
untuk Allah jika harta semuanya diperuntukkan bagi kuburan?
Ketiga: Bahkan umat yang telah
ditimpa fitnah ini siap berkorban darah terhadap siapa saja yang mengingkari
dan menentang perbuatan mereka.
Keempat: Fitnah kuburan akan mengantarkan
kepada syirik besar dan kecil. Sementara kita telah mengetahui bahwa syirik
merupakan kezaliman yang paling tinggi, dosa yang paling besar, yang akan
menghapuskan seluruh amalan di dalam Islam, mengekalkan pelakunya di dalam
neraka. Oleh karena itu, Rasulullah dengan keras memperingatkan:
“Allah telah melaknat Yahudi dan
Nasrani, karena mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai
masjid.” (HR. Al-Bukhari (3/156, 198 dan 8/114) dan Muslim (2/67) dari sahabat
Aisyah)
Kuburan dan Masjid, Dua Tempat yang Berbeda
Kuburan dan masjid memiliki hukum
yang berbeda. Masjid untuk shalat dan membaca Al-Qur’an dan berbagai amalan
shalih. Sementara kuburan bukanlah untuk semuanya itu. Allah menjelaskan:
“Dan siapakah yang lebih aniaya
daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam
masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya?”
Adapun kuburan, Rasulullah
bersabda:
“Janganlah kalian duduk di atas
kuburan dan jangan kalian shalat menghadapnya.” (HR. Al-Bukhari (3/156, 198 dan
8/114) dan Muslim (2/67) dari sahabat Aisyah)
Di dalam hadits ini Rasulullah
melarang untuk shalat menghadapnya dan duduk di atas kuburan, sementara masjid
sebaliknya.
Tentang kuburan, Rasulullah juga
menjelaskannya
“Semua tanah bisa dijadikan
masjid (tempat shalat) kecuali kuburan dan kamar mandi.” (HR. Muslim, 3/62, dari sahabat Abu Martsad
Al-Ghanawi)
Dari penjelasan di atas, jelaslah
bahwa antara masjid dan kuburan berbeda. Maka tidak boleh membangun masjid
padanya atau shalat di atasnya atau shalat menghadapnya. Sebagaimana tidak
bolehnya kita memberikan hukum-hukum masjid kepada kuburan dan siapapun yang
dimakamkan padanya.
Asy-Syaikh Al-Albani menjelaskan:
“Masjid dan kuburan tidak akan berkumpul.” (Tahdzirus Sajid hal. 28)
Makna Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid
Sebagaimana yang telah lewat,
fitnah kubur adalah sebuah fitnah yang besar yang telah menghancurkan aqidah
kaum muslimin secara khusus dan manusia secara umum. Bagaimana tidak. Tidak ada
satupun negeri kaum muslimin melainkan terdapat kuburan yang diagungkan dan
dikultuskan. Dari sini kita mengetahui betapa butuhnya umat ini terhadap dakwah
tauhid, menuju pembaruan aqidah. Dakwah yang merupakan poros dakwah para rasul.
Dakwah tauhidlah yang telah
memberitahukan kepada kita bahwa kuburan akan bisa menggiring umat ini kepada
dosa yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah. Di antara jalan menuju
kesyirikan ini, sebagaimana sabda Rasulullah: “Menjadikan kuburan sebagai
masjid.” Apakah maknanya?
Menjadikan kuburan sebagai masjid
memiliki tiga makna:
1. Shalat di atas kuburan,
artinya sujud di atasnya. Makna ini terambil dari banyak hadits, di antaranya:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia
berkata:
“Bahwa Rasulullah telah melarang
untuk membangun di atas kuburan, duduk dan shalat di atasnya.” (HR. Abu Ya’la
dalam Musnad-nya)
Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan:
“Menjadikan kuburan sebagai masjid artinya shalat di atasnya atau shalat
menghadapnya.” (Az-Zawajir, 1/121)
Al-Imam Ash-Shan’ani berkata:
“Menjadikan kubur-kubur sebagai masjid lebih umum maknanya dari sekadar shalat
menghadapnya atau shalat di atasnya.” (Subulus Salam 1/214)
2. Sujud menghadapnya, atau
menghadapnya dalam shalat atau berdoa.
Makna ini telah dijelaskan oleh
dalil-dalil, di antaranya:
“Jangan kalian duduk di atas
kubur dan jangan kalian shalat menghadapnya.”
Al-Munawi dalam Faidhul Qadir
berkata: “Mereka menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai arah kiblat
bersamaan dengan keyakinan mereka yang batil.”
3. Membangun masjid di atas
kuburan dengan tujuan untuk shalat di atasnya.
Al-Imam Al-Bukhari memberikan
judul dalam kitabnya: “Bab dibencinya membangun masjid di atas kuburan.” Yang
menguatkan makna ini adalah hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim:
“Rasulullah telah melarang untuk
mengapuri kuburan, duduk di atasnya dan membangun di atasnya.” (Lihat secara
ringkas risalah Tahdzirus Sajid, hal. 21 dst)
Dari ketiga makna ini, jelaslah
maksud larangan Rasulullah: “Jangan menjadikan kuburan sebagai masjid.” Jelas
pula hikmah larangan tersebut:
1. Melarang segala bentuk atau
jalan yang dikhawatirkan bisa mengantarkan kepada dosa yang paling besar yaitu
kesyirikan.
2. Larangan menyerupai kaum
musyrikin dalam segala bentuk peribadatan mereka.
3. Mewujudkan hak tauhid yang
telah diajarkan oleh Rasulullah dengan memberikan hak peribadatan itu hanya
kepada Allah. (Lihat secara ringkas risalah Tahdzirus Sajid hal. 105 dan
seterusnya)
Wallahu a’lam.
B. SYIRIK Meminta Syafa'at
Kepada Orang Mati
Di samping alasan
tawassul sebagai-mana telah disinggung, alasan lain bagi para penyembah kubur
adalah mengharapkan pembelaan dan syafaat. Seakan-akan mereka lebih mengetahui
dari Allah dan Rasul-Nya tentang syafaat.
Hal ini persis seperti alasan kaum musyrikin jahiliyah semasa Rasulullah
shalallahu 'alaihi wa sallam diutus. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wa
sallam tidak pernah mengajarkan akan hal itu? Bahkan beliau melarang umatnya
dari perbuatan-perbuatan seperti itu. Apakah mereka mau mengajari Allah tentang
agama ini?! Ingatlah! Agama ini milik Allah. Untuk itu seluruh amalan, bentuk
dan tata cara ibadah sudah seharusnya sesuai dengan aturan dari Allah dan
utusan-Nya
Perhatikan firman Allah berikut:
“Dan mereka menyembah
selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada
mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu
adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah:
"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di
langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa
yang mereka sekutukan (itu).” (Yunus: 18)
Ketahuilah, bahwa syafaat atau pembelaan memang diakui keberadaannya. Hal itu
akan terjadi pada hari kiamat kelak, khusus-nya pembelaan dan syafaat dari
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam yang dikenal dengan syafa’atul udzma.
Namun harus kita ketahui bahwa syafaat dan pembelaan terhadap seseorang di
hadapan Allah tidak mungkin akan terwujud kecuali dengan seizin Allah. Demikian
pula tidak mungkin seseorang mendapatkan syafaat atau pembelaan dari orang lain
kecuali dari orang-orang yang diridlai oleh Allah Azza wa Jalla.
Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam
memperingatkan manusia akan adanya hari perhitungan dan hisab, dimana pada hari
itu tidak bermanfaat syafa’at dan pembelaan siapapun.
“Dan berilah
peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan
dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka ti-dak ada
seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain daripada Allah, agar me-reka
bertakwa.” (al-An’am: 51)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka yang tidak mau mengindahkan peringatan
dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam akan diadzab dan tidak akan ada
seorang pun yang dapat membe-lanya. Dalam ayat ini pula seakan-akan menunjukkan
tidak adanya syafa’at pada hari kiamat. Namun yang dimaksud adalah tidak adanya
syafaat bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak diberikan izin dan
keridlaan dari Allah.
Di dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa syafaat seluruhnya milik Allah. Oleh
karena itu janganlah dengan alasan tersebut mereka meminta kepada
kuburan-kuburan orang-orang shalih atau berdoa kepada orang mati. Berdoa dan
mintalah kepada Allah, karena Dia-lah yang telah menentukan siapa yang boleh
memberikan pembelaan dan siapa yang diridlai untuk mendapatkan pembelaan.
“Bahkan mereka
mengambil sesembahan se-lain Allah sebagai pemberi syafa'a. Katakan-lah:
"Apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun
dan tidak berakal?" Katakanlah: "Hanya ke-punyaan Allah syafaat itu
semuanya. Kepu-nyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemu-dian kepada-Nyalah kamu
dikembalikan" (az-Zumar: 43-44)
Allah lah yang
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya da-lam enam
masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain da-ri
padaNya seorang penolongpun dan ti-dak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka
apa-kah kamu tidak memperhatikan? (as-Sajdah: 4)
Adapun jika dalam al-Qur’an terdapat ayat dan dalil-dalil yang menetapkan
adanya syafaat, maka yang dimaksud adalah syafaat yang terjadi setelah
mendapatkan izin dari Allah Azza wa Jalla:
“Tiada yang dapat
memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (al-Baqarah: 255)
“Dan berapa banyaknya
malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, ke-cuali sesudah
Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (an-Najm: 26)
Dalam ayat kursi, ayat teragung dalam kitab Allah di atas, secara umum
dinafikan adanya syafaat kecuali bagi orang-orang yang telah diizinkan.
Sedangkan dalam surat an-Najm dijelaskan bahwa malaikat pun tidak dapat
memberikan syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allah dan diperuntukan bagi
orang yang diridlai-Nya.
Dari dua ayat di atas, jelaslah bahwa syafaat itu hanya milik Allah semata.
Tidak ada yang berhak memberikan syafaat kecuali dengan seizin-Nya dan tidak
akan menda-patkan syafaat kecuali orang yang diridlai-Nya. Untuk itu, bagi
seorang yang cerdas dia hanya akan meminta syafaat kepada pemi-liknya. Meminta
kepada Allah syafaat nabi-Nya dan syafaat atau pembelaan para malai-kat-Nya dan
seterusnya.
Adapun meminta kepada selain Allah untuk mendapatkan pembelaan di hari kiamat,
maka ini adalah inti dari kesyirikan yang terjadi pada zaman jahiliyah yaitu
za-man kebodohan. Biasanya, alasan kaum musyrikin menyembah sesuatu, baik
kuburan, orang yang telah mati, tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap
keramat dan lainnya adalah karena menganggap sesem-bahan tersebut memiliki apa
yang mereka minta, atau dianggap ikut andil dalam memiliki, atau dianggap yang
ikut membantu dan bekerjasama dengan pemiliknya, atau dianggap dapat membelanya
di hadapan sang pemilik pada hari kiamat kelak.
Semua alasan dan anggapan tersebut ditiadakan dan dibantah oleh Allah Azza wa
Jalla dalam ayat-Nya:
“Katakanlah: "Serulah
mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki
seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu
sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi. Dan sekali-kali tidak ada di
an-tara mereka yang menjadi pem-bantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa'at
di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa'at
itu… “(Saba’: 22-23)
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Allah Azz wa Jalla telah memutus semua
alasan-alasan yang dipegang oleh kaum musyrikin. Seorang musyrik mengambil
sesembahannya hanyalah karena apa yang diharapkannya dari manfaat. Sedangkan
manfaat tersebut tidak akan didapati, kecuali jika sesembahan tersebut
memi-liki salah satu dari empat kriteria:
1. Bisa jadi karena sesembahan tersebut di-anggap pemilik dari apa yang
diinginkan oleh penyembahnya.
2. Sesembahan tersebut dianggap bersekutu dengan pemiliknya (Allah).
3. Sesembahan tersebut dianggap sebagai pembantunya.
4. Sesembahan tersebut dianggap dapat men-jadi pembelanya di hadapan sang
pemilik.
Maka Allah meniadakan
keempat alasan tersebut dengan peniadaan yang berurutan, berpindah dari yang
paling tinggi kepada yang di bawahnya. Pertama, Allah membantah adanya pemilik
selain Dia. Kemudian menia-dakan adanya sekutu yang bersekutu dengan-Nya.
Kemudian meniadakan pula adanya pembantu bagi Allah dan terakhir meniada-kan
pula syafaat yang diharapkan oleh si musyrik tersebut. Setelah itu Allah
mene-tapkan adanya syafaat, dimana kaum musyrikin tidak akan mendapatkan bagian
dari-padanya. Yaitu syafaat orang yang diizinkan untuk orang yang
diridlai.
Yang Berhak
Memberikan Syafaat
Kalau begitu siapakah yang paling mulia mendapatkan izin dari Allah Azza wa
Jalla untuk memberikan syafaat? Dan siapakah yang paling berbahagia mendapatkan
keridlaan dari Allah sehingga mendapatkan syafaat dari Rasulullah shalallahu
'alaihi wa sallam?
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling mulia yang
diizinkan oleh Allah untuk memberikan syafaat dikala orang-orang lain tidak
sanggup untuk melakukannya. Inilah syafaat yang paling besar, dimana para rasul
yang termasuk ulul azmi pun tidak sanggup memikulnya pada saat seluruh manusia
me-minta kepada para nabi untuk memintakan keringanan di hadapan Allah di
padang mahsyar yang sangat berat. Mereka semuanya menolak dan mengatakan:
“nafsi nafsi” (diri-ku, diriku). Hingga akhirnya ketika mereka mendatangi
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa
sallam mengatakan: “Ana laha” (itulah bagianku). Kemudian Rasulullah sujud di
hadapan Allah, di bawah Arsy-Nya. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya dengan
pujian-pujian yang tidak pernah diucapkan sebelumnya oleh siapapun. Hingga
kemudian Allah berfirman:
“Ya Muhammad angkatlah
kepalamu, mintalah akan Aku beri dan berilah syafaat Aku akan
memberikannya.”
Maka Rasulullah pun mengangkat kepalanya dan berkata: “Umatku, umatku”.
Kemudian diperintahkan dengan segera kepada orang-orang dari umatnya yang tidak
ada hisab pa-danya untuk masuk ke dalam surga.
Beliau melakukannya lagi, hingga diizinkan untuk memberikan syafaat. Beliau
meminta agar disegerakan bagi ahli surga dari umatnya untuk segera
memasukinya.
Selanjutnya
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam melakukannya kembali dan kemudian
beliau memberikan syafaat bagi para pelaku maksiat dari umat-nya yang
seharusnya mendapatkan adzab dalam neraka untuk tidak memasukinya.
Kemudian beliau memberikan syafaat kepada orang-orang yang telah masuk neraka,
namun masih memiliki tauhid dan keimanan untuk diselamatkan dari api neraka.
Yang terakhir, syafaat Rasulullah untuk penduduk surga agar ditambahkan pahala
mereka dan diangkat derajat mereka.
Hadits-hadits tentang syafaat ini muta-watir dalam Shahih Bukhari, Shahih
Muslim dan lain-lainnya.
Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa seluruh syafaat dan pembelaan Rasulullah
tersebut diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan tidak melakukan
kesyirikan-kesyirikan. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih
dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ketika beliau bertanya kepada Rasulullah
shalallahu 'alaihi wa sallam :
“Siapakah orang yang
paling berbahagia mendapatkan syafaatmu? Beliau menjawab: “Orang-orang yang
mengucapkan Laa ilaha illallah dengan ikhlas dari hatinya”. (HR. Bukhari , Nasai dan Imam
Ahmad)
Seorang yang ikhlas mengucapkan
Laa ilaha illallah adalah
mereka yang tidak merusak kalimat tersebut dengan kesyirikan-kesyirikan. Sebagaimana
dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
“Setiap nabi memikiki
doa yang dikabulkan, dan mereka telah menyebutkan doa tersebut, sedangkan aku
menundanya sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat. Maka sya-faat ini
pasti akan didapatkan insya Allah oleh orang yang mati dalam keadaan tidak
mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Muslim dalam
Shahihnya)
Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang meminta syafa’at kepada
kuburan-ku-buran para nabi atau pada kuburan orang-orang yang shalih justru
tidak akan menda-patkan syafa’at karena perbuatan syiriknya tersebut.
Wallahu a’lam