Tulungagung dan Garut Longsor
Bantuan Logistik Sulit Masuk di Purworejo
Senin, 23 November 2009 | 03:48 WIB Kediri, Kompas - Dua orang tewas dan satu orang luka berat akibat tertimbun tebing longsor di Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (21/11) malam. Sehari sebelumnya, Ade Rohman (60), warga Kabupaten Garut, Jawa Barat, juga tewas. Warga Kampung Bebedahan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Pakenjeng, itu tertimbun longsoran tebing setinggi 15 meter ketika memperbaiki saluran air di sawah. Jenazah Ade baru dievakuasi Sabtu. Dua korban tewas di Tulungagung adalah Nikem (49) dan anaknya, Widayanti (15). Adapun korban luka berat adalah Wakini (55), suami Nikem. Menurut Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat Kabupaten Tulungagung Rudie Christanto, longsor terjadi akibat hujan deras sejak Sabtu pagi. Warga dan personel perlindungan masyarakat dibantu satuan polisi pamong praja, anggota TNI, bahkan tim SAR Kabupaten Trenggalek kesulitan mengevakuasi korban yang tertimbun material longsor setebal 2 meter di rumah mereka. Beberapa jam setelah kejadian, warga mengevakuasi Wakini. Korban dibawa ke rumah sakit. Evakuasi dihentikan karena tim khawatir terjadi longsor susulan akibat hujan masih mengguyur. Evakuasi dilanjutkan Minggu pagi dengan mendatangkan alat berat dari dinas pekerjaan umum. Tim menemukan jenazah dua korban lain sekitar pukul 10.00. Menurut Rudie, Desa Geger rawan bencana longsor karena terletak di bawah tebing curam. Camat Pekenjeng, Garut, Jajat Darajat, Minggu, mengatakan, longsor terjadi setelah beberapa hari terakhir daerah itu diguyur hujan deras. Longsoran tebing itu juga memutuskan jembatan sepanjang 10 meter dari Pasirlangu menuju Desa Mulkapari. Untuk mengantisipasi terjadinya longsor lagi, sebanyak 60 keluarga di Desa Pasirlangu dianjurkan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Menurut Jajat, akhir pekan kemarin ada 19 titik longsor di Kecamatan Pakenjeng. Namun, hanya longsor di Desa Pasirlangu yang merenggut korban jiwa. Longsor lain terjadi di Kampung Cilampuyang, Desa Tanjungjaya. Kepala Bidang Informatika Sekretariat Daerah Kabupaten Garut Dik Dik Hendrajaya mengatakan, longsor juga terjadi di Desa Sukamukti dan Sukanagara, Kecamatan Cisompet. Bantuan sulit masuk Sementara itu, hingga Minggu siang, bantuan bagi korban bencana longsor di Desa Giyombong dan Cepedak di Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, sulit didistribusikan. Penyebabnya, jalan tertutup longsoran tanah. ”Satu-satunya cara dipanggul manusia,” kata Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Purworejo Hardoyo. Pemkab Purworejo menyiapkan bantuan 5 kuintal beras dan 50 dus mi instan. Bantuan lain berasal dari Palang Merah Indonesia Purworejo dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah meliputi makanan, pakaian, serta sabun mandi dan sabun cuci. Bantuan masih ditumpuk di rumah lurah Cepedak Purwo Supriyanto, yang berjarak 7 kilometer dari lokasi bencana. Seperti diberitakan, di sepanjang jalan mulai dari Kantor Pemerintah Kecamatan Bruno hingga Desa Giyombong terdapat 49 titik longsoran yang menutup badan jalan (Kompas, 22/11). Longsor juga menutup akses jalan menuju desa tetangga, Desa Mergalangu, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Wonosobo. Menurut Kepala Desa Giyombong Yogi Santoso, kondisi itu membuat 285 keluarga di Desa Giyombong terisolasi. Kawasan Muria, khususnya lereng Gunung Rahtawu, rawan tanah longsor dan banjir bandang akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan. Penduduk harus meningkatkan kewaspadaan. Peringatan itu disampaikan Ketua Konsorsium Muria Hijau dan pemerhati lingkungan dari Universitas Muria Kudus, Hendi Hendro, Sabtu. (ADH/EGI/SUP/HAN/NIK) |