| Satu Rumah Ambruk, Empat Rusak Berat |
| Banjir di Kab. Bandung Makin Parah |
|
| UTE.JOB |
|
| PASAR
malam yang sudah sebulan beroperasi sepi pengunjung akibat terendam
banjir yang melanda wilayah Kp. Cieunteung, Kel./Kec. Baleendah, Kab.
Bandung, Sabtu (6/2). |
|
BALEENDAH,(GM)-
Akibat
hujan deras yang mengguyur kawasan hulu Sungai Citarum sejak Jumat
(5/2) sore, banjir di Kab. Bandung semakin meluas. Dua kelurahan dan
dua desa di Kec. Baleendah dan empat desa di Kec. Dayeuhkolot, Kab.
Bandung, Sabtu (6/2), terendam banjir dengan ketinggian 30 cm hingga
3,5 meter.
Di Kec. Baleendah, banjir terjadi di Kel. Baleendah dan Kel. Andir,
sedangkan di Kec. Dayeuhkolot, banjir melanda Desa Dayeuhkolot,
Citeureup, Bojongasih, dan Desa Cangkuang.
Banjir yang terus meluas dan ketinggian air yang terus bertambah,
menyebabkan jumlah pengungsi yang ditempatkan di lima titik di Kec.
Baleendah terus bertambah. Karena itu, proses evakuasi yang dilakukan
jajaran muspika dibantu sejumlah tim relawan yang berasal dari Taruna
Siaga Bencana (Tagana), Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat),
karang taruna, Kosgoro, Palang Merah Indonesia, dan relawan lainnya
terus dilakukan.
Akibat bencana banjir itu, satu rumah ambruk dan empat rumah lainnya di
Kp. Cieunteung mengalami rusak berat dengan nilai kerugian yang belum
bisa diketahui pasti. Rumah yang ambruk milik Bebet, sedangkan empat
rumah lainya milik Mori, Udi, Dede, dan Iip.
Camat Baleendah, Drs. Usman Sayogi J.B., M.Si. mengatakan, di Kec.
Baleendah, hingga kemarin, 8.321 rumah terendam banjir dengan
ketinggian berkisar antara 30 cm hingga 3,5 meter. Ke-8.321 rumah itu
milik 2.370 kepala keluarga (KK) di Kel. Baleendah, sisanya di Kel..
Andir.
"Di dua kelurahan itu, sekitar 20.000 jiwa menjadi korban banjir.
Demikian pula di Desa Rancamanyar dan Desa Bojongmalaka, puluhan rumah
dan sawah terendam banjir," kata Usman didampingi Kepala Desa
Rancamanyar, Dadang Gamaludin dan Kepala Desa Bojongmalaka, Jajang
Junaedi kepada "GM" di sela-sela melayani warga korban banjir di
Baleendah, kemarin.
Karena banjir terus meluas dan para pengungsi terus bertambah, imbuh
Usman yang diiyakan Kasi Ketenteraman dan Ketertiban Umum, Japra,
pihaknya tetap menyiagakan dapur umum untuk para pengungsi.
Sementara itu, Camat Dayeuhkolot, Numan mengatakan, bencana banjir
terparah juga terjadi di Kec. Dayeuhkolot. Di Kec. Dayeuhkolot sebanyak
2.148 rumah (5.276 KK/17.410 jiwa) menjadi korban banjir.
Camat Bojongsoang, Drs. Yudi Abdurahman mengatakan, di Desa Bojongsoang
banjir melanda 416 rumah (447 KK/1.492 jiwa), BojongsDesa ari 28 rumah
(35 KK/127 jiwa), Desa Tegaluar 426 rumah (574 KK/2.901 jiwa).
"Sementara jumlah pengungsi sebanyak 75 KK atau mencapai 274 jiwa,"
kata Yudi.
Bencana banjir kembali terjadi di lima desa di Kec. Rancaekek, yaitu
Desa Bojongloa sehingga 700 rumah atau sekitar 800 KK (3.200 jiwa)
terendam banjir. Di Desa Rancaekek Wetan 300 rumah, Rancaekek Kulon 400
rumah, Desa Sukamulya 37 rumah, dan Desa Linggar puluhan rumah terendam
banjir dengan ketinggian 30-60 cm.
Endapan lumpur
Sementara itu, banjir yang terjadi di Desa Tanggulun, Kec. Ibun dan 4
desa di Kec. Majalaya, Kab. Bandung, Sabtu dini hari mulai surut. Namun
akibat banjir dari luapan Sungai Citarum itu, sejumlah ruas jalan dan
rumah warga di dua kecamatan itu tertutup endapan lumpur setinggi 25-30
cm.
Untuk menormalkan arus kendaraan yang melaju di Jalan Raya Laswi
Majalaya, sejumlah jajaran muspika berusaha membersihkan endapan lumpur
dengan menggunakan alat berat backhoe. Sebelumnya di Desa Tanggulun
lebih dari 200 rumah terendam, sedangkan di Desa Majalaya, Sukamaju,
Majakerta, dan Desa Majasetra Kec. Majalaya, sebanyak 1.480 rumah
terendam banjir dengan ketinggian 30-170 cm. Di Desa Rancakasumba, Kec.
Solokanjeruk, lebih dari 200 rumah terendam banjir dengan ketinggian 50
cm.
Harus tanggung jawab
Bupati Bandung, H. Obar Sobarna didampingi jajaran Muspida Bandung
lainnya, saat bertemu dengan para kepala dinas, camat, kepala desa, RW,
RT, dan para korban banjir lainnya, mengatakan, masing-masing kepala
dinas dan pihak terkait harus sama-sama bertanggung jawab dan turun ke
lokasi banjir.
"Di antaranya Dinas Pendidikan, harus memperhatikan anak-anak korban
banjir supaya tetap sekolah. Dinas Kesehatan memperhatiakan kesehatan
warga, Perusahaan Daerah Air Minum memperhatikan kebutuhan air minum
warga korban banjir," tutur Obar di Gedung Juang Baleendah, kemarin.
Dikatakan, untuk menanggulangi banjir, solusi lainnya harus dibangun
rumah singgah di Kel. Andir, Kel. Baleendah dan di tempat lainnya.
"Termasuk di Kp. Cieunteung, harus ada gedung SD yang ditinggikan
supaya anak-anak bisa tetap sekolah," tuturnya.
Pihaknya juga akan berusaha membantu menyelesaikan bendungan di Kp.
Cieunteung yang hingga kini belum selesai pembangunannya. "Kita akan
tetap responsif dalam masalah banjir ini. Kami juga akan terus
memperhatikan kebutuhan sembako bagi warga korban banjir," katanya.
Banjir Sumedang
Bencana banjir juga terjadi di sejumlah desa di Kec. Jatinangor, Kab.
Sumedang, Sabtu (6/2) sekitar pukul 16.00 WIB. Di Kec. Jatinangor, 4
desa diterjang banjir bandang, yaitu Desa Cikeruh, Jatinangor,
Mekargalih, dan Desa Sayang. "Ketinggian air ada yang mencapai 2
meter," kata Engkos, warga setempat.
Menurutnya, banjir terjadi di empat desa itu setelah ada kunjungan
Menko Kesra, Agung Laksono. "Sampai malam ini, belum ada bantuan
relawan maupun sembako ke lokasi banjir," katanya.
Dikatakannya, di empat desa itu diperkirakan ratusan rumah terendam
banjir dengan ketinggian antara 50 cm hingga 2 meter dari luapan Sungai
Cikeruh. "Sebenarnya hujan tidak terlalu deras, tapi air Sungai Cikeruh
langsung meluap dan menggenangi rumah warga. Hujan mulai turun dari
sekitar pukul 15.00-16.30 WIB," katanya.
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Jabar, Dadang M. Naser berusaha
memberikan bantuan untuk korban banjir di Kec. Baleendah. "Bantuan
terus mengalir. Kami juga mohon kepada warga lainnya untuk membantu
korban banjir. Apalagi banjir di Kec. Baleendah selama 2009 sudah
terjadi 261 kali," katanya.
Dadang berharap pemerintah pusat segera menganggarkan dana untuk penanganan Sungai Citarum. (B.105)**
|
|
|