Jendela Ide siap untuk menjadi salah satu organisasi yang memfasilitasi kegiatan penyadaran ttg kebencanaan pd anak-anak usia 6 s/d 13 thn, salah satu kegiatan yang pernah kami lakukan adalah: "Bagaimana banjir bisa terjadi dan apa fungsi pohon untuk tanah", nara sumber yang kami panggil yaitu: Bpk DR Ir Munasri (Aci) dari PUSLIH GeoTeknologi LIPI Bandung , beliau menjelaskan fenomena bajir dengan alat peraga yang sederhana; kaleng biskuit yang dipotong miring menjadi 2 bagian dan diisi tanah, yang satu tanpa tanaman yang satu lagi memakai tanaman, anak2 menyirami 2 kaleng tersebut dengan penyiram tanaman yang airnya keluar seperti hujan, Tanah yang tanpa tanaman akan hilang terbawa air yang bergerak turun mengikuti kemiringannya, tanah yang ada tanamannya tetap utuh karena tertahan oleh dedaunan dan akar tanaman yang mencengkramnya .Dengan mengalami secara langsung dan mengamati fenomenanya anak-anak dpt membuat kesimpulan yang mengejutkan, kami tidak perlu lagi menyampaikan pesan secara banal dan verbal.
Artikel:
Bumi Itu seperti Kerupuk di Atas Bubur
Jumat, 04 Februari 2005
DALAM
suatu acara sosialisasi pendidikan bencana alam untuk guru-guru Sejarah
dan Geografi di SMUN 6 Cijerah, Cimahi, Jawa Barat, pada pertengahan
Januari lalu, guru-guru tampak sangat tertarik.
MEREKA antusias
melihat tayangan-tayangan yang diberikan T Bachtiar, ahli geografi dari
Masyarakat Geografi Indonesia, dan Budi Brahmantyo, ahli geologi dari
Kelompok Riset Cekungan Bandung.
Elok Komariah (40), guru Geografi
SMUN 9 Bandung, sudah tidak sabar bertemu murid-muridnya. Ia ingin
secepatnya membagikan pengetahuannya tentang gempa dan tsunami serta
potensi bencana alam di Jawa Barat kepada murid-muridnya.
Meskipun
setiap hari media massa memberitakan gempa dan tsunami serta keadaan
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), ternyata informasinya belum cukup
menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana orangtua, guru, dan murid.
Pemberitaan
media massa justru menambah beban buat orangtua. "Saya sengaja
mematikan televisi, sebab saya takut anak saya jadi trauma melihat
pemberitaan tentang NAD di televisi. Soalnya, waktu saya kecil,
kematian adalah sesuatu yang sangat menakutkan," kata Ny Sarah Bastaman
(35).
Namun, Sarah tidak anti memberi pengetahuan tentang pendidikan
bencana alam kepada anaknya.
Maka, ketika Jendela Ide, sebuah lembaga
pendidikan nonformal untuk anak-anak dan remaja di Bandung, mengadakan
pendidikan untuk mengenal alam secara lebih dekat, Sarah pun segera
membawa anaknya, Sabine (8), ikut serta. Hal yang sama dilakukan oleh
Ny Shiavellia (35) atau akrab dipanggil Lia, yang membawa tiga anaknya.
"MEREKA
masih terus bertanya," kata Lia yang berharap dengan menyajikan
informasi dalam bentuk animasi, anak-anak bisa dengan mudah memahami.
Jendela Ide lalu memfasilitasi pendidikan mengenal bumi untuk anak-anak
yang disajikan oleh Dr Ir Munasri, Kepala Unit Pelaksanaan Teknik Balai
Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia.
"Bumi itu seperti kerupuk di atas bubur. Ia
terus bergerak," kata Munasri kepada anak-anak, ketika dia memulai
cerita tentang keadaan bumi. Ia menunjukkan animasi bagaimana benua
yang jutaan tahun lalu bersatu dan kemudian saling berpisah.
Munasri
juga menerangkan bahwa ahli kebumian telah meneliti hal itu dengan cara
menemukan kesamaan fosil, iklim, batuan, dan bentuk pantai yang sama di
benua-benua yang terpisah.
Saat anak-anak tampak lelah, ia
membangkitkan semangat mereka dengan bermain sulap. Ia juga terus
memancing anak-anak untuk bertanya dan menjawab pertanyaannya.
Munasri
menerangkan soal gempa dan tsunami dengan bahasa yang sederhana. Ia
menggambarkan dengan mempertemukan kedua kepalan tangannya dan
memperlihatkan gerakan saling mendorong untuk menjelaskan bagaimana
patahan di bumi saling mendesak dan akhirnya terpelanting yang
menyebabkan gempa, dan jika terjadi di laut hal tersebut juga
menyebabkan tsunami.
Untuk menghindari gempa, anak-anak diajarkan
untuk bersembunyi di bawah meja sambil memegang satu kaki meja. Untuk
tsunami, anak-anak disarankan berlari ke tempat yang lebih tinggi saat
air laut menyurut.
Di akhir acara, Munasri yang telah memberikan
pendidikan mengenal bumi untuk anak-anak di Karangsambung, Jawa Tengah,
sejak tahun 2002 ini membawa anak-anak membuat hujan dari gayung yang
dilubangi dan diisi air. Lalu, "hujan" tersebut diteteskan di atas
tanah miring yang ditumbuhi rumput dan yang tidak ditumbuhi rumput.
"Perhatikan
Nak, apa perbedaannya," saran seorang ibu sambil memeluk anaknya yang
tengah memerhatikan percobaan sederhana tersebut. Anak itu dengan sigap
menjawab bahwa tanah yang tidak ditumbuhi tanaman cepat rontok terbawa
air. "Itu tanda tanah tersebut mudah longsor," ujar sang ibu.
Niken
Anggrahini, Koordinator Program Mengenal Bumi Lebih Dekat dari Jendela
Ide, menyatakan, program yang disiapkan selama dua minggu ini bisa
menjawab pertanyaan anak-anak selama ini tentang bumi dan kejadian di
sekitarnya.
Niken juga berharap siswa sekolah yang sudah diundang
bisa menyebarluaskan pengetahuan yang didapat dari program yang
dilakukan sekitar dua jam itu kepada teman-teman sekolahnya melalui
majalah dinding.
Program yang sama diberikan juga oleh SMP Santa Angela, Bandung.
Pendidikan
mengenal bumi diberikan kepada siswa yang tidak bisa mengikuti program
studi wisata. "Bagaimanapun kami tidak bisa lepas tangan begitu saja.
Meski mereka tidak ikut wisata, mereka harus mendapat tambahan
pengetahuan karena itu hak mereka," kata Bonita, Pembantu Kepala
Sekolah Bidang Kurikulum SMP Santa Angela.
Karena hal yang tengah
aktual adalah persoalan gempa dan tsunami, SMP tersebut mengundang ahli
geologi untuk berbicara di depan kelas. Munasri kembali ditunjuk
berbicara di sekolah itu.
Bonita mengatakan, sekolahnya amat
tertarik untuk memberikan pendidikan bencana alam kepada
murid-muridnya, sayangnya kurikulum sudah sangat padat.
T Bachtiar
mengatakan, pendidikan bencana alam bisa dimasukkan dengan menambah
satu kompetensi dalam kurikulum yang telah ada dalam mata pelajaran
Geografi. Kompetensi yang diperlukan adalah praktikum yang membahas
potensi bencana alam di wilayah lokal di mana murid berada.
Menanggapi
antusiasme beberapa lembaga terhadap pendidikan bencana alam, Dadang
Dally, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, mengatakan, dirinya pun
menganggap penting pendidikan tersebut dan tengah memikirkan untuk
memasukkannya dalam kurikulum.
Kata Dadang, pihaknya segera
berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan di kota dan kabupaten di Jawa
Barat. "Banyak aspek yang harus dibicarakan untuk membuat kurikulum,"
kata Dadang yang tertarik dengan cara Jepang menyosialisasikan
pendidikan keselamatan dari bencana melalui pelajaran Olahraga.
Dr
Ir Surono, Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana Geologi, Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan, meskipun belum ada
kurikulum, pendidikan bencana alam masih dapat dilakukan.
Ia
bercerita tentang pengalamannya memberikan pendidikan bencana alam
kepada murid-murid sekolah di Garut. Garut berpotensi gempa, longsor,
dan letusan gunung berapi.
Surono menyosialisasikan tentang bencana alam sepulang sekolah sampai murid-murid terpaksa terlambat pulang.
"Harapan
saya, orangtua bertanya pada anaknya mengapa mereka terlambat, dan
anak- anak menuturkan alasannya sambil menceritakan kembali pengetahuan
yang didapat dari kami pada orangtuanya," kata Surono. (Y09)
Sumber: www.kompas.com
(04/02/2005)
Salam
A Manik