Squeezed into an over-crowded Hong Kong where space is a luxury, this ultra hip 330 square foot apartment features a futuristic sliding wall system that creates up to 24 different room combinations.
Bantu sebarkan kampanye EARTH HOUR 2010 INDONESIA ini bagaikan api semangat yg membakar rumput yg kering kerontang!! :) buktikan pada dunia, kalo kau sendiri peduli, dan bisa menjadi "Agen Perubahan!" UBAH DUNIA DALAM 1 JAM! matikan lampu dalam 1 jam! Sabtu, 27 maret 2010 pukul 20.30-21.30 (waktu setempat) untuk sign up, download materi kampanye, dan info lebih lanjut klik: http://www.earthhou r.wwf.or. id/ follow twitter: @EHindonesia jangan lupa nonton official videonya: http://www.youtube. com/watch? v=jAUlna1IHAQ |
Apa ini yang namanya Green Washing?
WWF, mana klarifikasinya?
Atau memang sudah jadi kebiasaan WWF bekerja sama dengan
perusahaan-perusahaan jahat perusak lingkungan?
Earth Hour, corporate sponsors and burning planets
March 15th, 2010
A Green Left editorial
“Earth Hour” will be held around the world on March 27. The event is
organised by the World Wildlife Fund (WWF) and involves participants
switching off their lights for the hour as a symbolic declaration of
support for environmental action.
The Earth Hour website is sponsored by, among others, Woolworths
Limited, the giant supermarket and retail corporation. With the amount
of waste and pollution associated with the retail industry in
frivolous consumption, built-in obsolescence and so on, this would
seem an odd choice for sponsor.
WWF has a shocking record for quite uncritically accepting sponsorship
from polluting industries. Back in 2002, Counterpunch co-editor
Jeffrey St. Clair exposed WWF’s links with logging corporation
Weyerhaeuser, writing on Dissidentvoice.org that WWF “rakes in
millions from corporations, including Alcoa, Citigroup, the Bank of
America, Kodak, J.P. Morgan, the Bank of Tokyo, Philip Morris, Waste
Management and DuPont”.
In November 2009, more than 80 environmental organisations from 31
countries signed a letter attacking WWF’s founding role in the
“Roundtable on Sustainable Palm Oil”. The letter said: “WWF’s
involvement is being used by agrofuel companies to justify building
more refineries and more palm oil power stations in Europe.”
The palm oil industry is a leading cause of destruction of tropical rainforests.
Currently, WWF is one of the key “environment” organisations in
Australia promoting “clean coal”. This hypothetical technology is the
main prop in the Australian coal industry’s smoke-and-mirrors trickery
to keep the public off its back.
Clearly, WWF is a willing aide to corporate polluters who want to be
seen to be cleaning up their act. How much does the environment get
back? Whatever WWF ekes out for payment in its bargaining with the
devil, it isn’t working for the environment.
The Earth Hour website includes a link to a calculator where visitors
can work out their own personal carbon footprint. If you follow links
for what you can do after the event to “make Earth Hour every hour”
you will be directed toward various governmental awareness raising
schemes and green power providers.
If the event simply raised people’s awareness a little, it would be
better than nothing. But sometimes “not enough” is worse than nothing:
it’s a false hope. The direct links to our climate-criminal
government, as much as any donations from polluting corporations, are
like telling people to go back to sleep, not to get up, when the house
is burning down.
Although individuals will gain positive feelings from participating in
Earth Hour, climate activists have to channel popular concern about
climate change into rebellion, not tokenism. Or our whole planet will
burn down around us.
Pada tanggal 17/03/10, galih aristo <galih...@yahoo.com> menulis:
>
> Bantu sebarkan kampanye EARTH HOUR 2010 INDONESIA
> ini bagaikan api semangat yg membakar rumput yg kering kerontang!! :)
> buktikan pada dunia, kalo kau sendiri peduli, dan bisa menjadi "Agen
> Perubahan!"
>
>
> UBAH DUNIA DALAM 1 JAM! matikan lampu dalam 1 jam!
> Sabtu, 27 maret 2010 pukul 20.30-21.30 (waktu setempat)
>
>
> untuk sign up, download materi kampanye, dan info lebih
> lanjut klik:
> http://www.earthhou r.wwf.or. id/
>
> follow twitter:
> @EHindonesia
>
> jangan lupa nonton official videonya:
> http://www.youtube. com/watch? v=jAUlna1IHAQ
>
>
>
>
> Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk
> Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka
> browser. Dapatkan IE8 di sini!
> http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
>
> --
> You received this message because you are subscribed to the Google Groups
> "GreenLifestyle" group - Share this email!
> To post to this group, send email to greenli...@googlegroups.com
> To unsubscribe from this group, send email to
> greenlifestyl...@googlegroups.com
> For more options, visit this group at
> http://groups.google.com/group/greenlifestyle?hl=id
WWF hanyalah sebuah NGO yang bertindak sebagai penyalur dan pelaksana.
Ya masa iya anda mau menolak kerjasama yang sebetulnya dapat help the cause?
See things in the big picture, Roga.
Sincerely,
Adimas Baskoro
> To unsubscribe from this group, send email to greenlifestyle+unsubscribegooglegroups.com or reply to this email with the words "REMOVE ME" as the subject.
Ini dia yang lucu, apa bedanya menjadi penyalur uang dari para
perusahaan penyebab perubahan iklim dengan perusahaaan itu sendiri.
Artinya kampanye Earth Hour ini tidah lebih dari ajang cuci dosanya
para perusahaan penyebab perubahan iklim, dan lucunya ini didukung
WWF.
Tapi kalo ditelisik lebih jauh, bukan hal yang baru bagi WWF untuk
bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan penyebab perubahan iklim.
Contohnya, WWF pernah bekerja sama dengan Sinar Mas dalam konferensi
kelapa sawit bulan lalu di Bali, sementara hampir seluruh lembaga
lingkungan lain menentang perilaku Sinar Mas dalam merusak hutan
Indonesia.
Apa yang bisa saya lakukan, setidaknya tidak jadi bagian dari Kampanye
Earth Hour ini, kampanye cuci dosa para perusahaan penyebab perubahan
iklim.
2010/3/26, Roga Bara Hari <bara...@gmail.com>:
> 2010/3/26, Adimas Baskoro <adimas...@gmail.com>:
Bisa dikatakan benar kalau acara Earth Hour ini jadi salah satu "alat" cuci dosa WWF.
tp apakah anda mengetahui soal CSR [Corporate Social Responsibility]?
sebuah peraturan untuk perusahaan agar melakukan aksi charity atau membantu society, biasanya bersifat wajib.
seperti yang anda katakan soal Sinar Mas, itu adalah salah satu bentuk dari CSR mereka.
Even though they being such a hypocrite while they are actually cutting down the trees.
Apakah anda mengetahui banyak fakta yang ada sebelum anda berkomentar begitu saja?
Lagi pula, apa salahnya, mematikan lampu dalam sejam?
Soal anda tidak mau ikut, itu urusan anda. So be it.
Tapi jangan sampai menjadi sebuah catalyst untuk orang lain hingga tidak ikut yang sebetulnya ingin help the cause.
Capiche?
Sincerely,
Adimas Baskoro
Hmmm..
Tolong jelaskan pada saya perbedaan CSR dengan Greenwash?
Anda pura-pura lugu atau lugu beneran, Bung Dimas, sudah jadi
pengetahuan umum bahwa CSR yang disalurkan oleh perusahaan-perusahaan
perusak lingkungan adalah bagian dari upaya cuci dosa mereka.
Seperti yang dilakukan oleh perusahaan sponsor kampanye earth hour
ini, dan bantuan-bantuan Sinar Mas pada berbagai lembaga pendidikan.
dan CSR yang mereka salurkan ini jauh sekali dari kerusakan besar yang
mereka lakukan terhadap bumi kita ini.
Soal Fakta, tentu saja sekarang menemukan fakta bahwa Sinar Mas adalah
penyebag pengrusakan hutan nomor satu di Indonesia adalah hal yang
mudah sekali.
Hampir setiap hari ada berita tentang aktivitas pengrusakan lingkungan
yang dilakukan SInar Mas.
Hemat Energi tentu hal yang baik sekali, saya akan jadi orang pertama
yang mendukung ini, tapi tentu saja jangan sampai kampanye hemat
energi yang kita lakukan justeru ditungangi oleh biang-biang pengrusak
bumi.
Saya tak pernah mengajak anda untuk tak ikut Earth Hour, silakan berpartisipasi.
Tanpa ada kampanye Earth Hour-pun.
Saya yang tinggal di Sumatera ini, hampir setiap hari mengalami
pemadaman listrik (Bukan sekedar mati lampu), dan pemadalam listrik
itu bukan cuma satu jam sehari, tapi bisa lebih dari 10 jam sehari.
Sementara agak sedikit ke pedalaman, terdapat komplek perumahan mewah
karyawan Sinar Mas yang tampak selalu terang benderang, tak
terpengaruh oleh krisis listrik yang kami alami.
Jadi buat saya, untuk apa ikut Earth Hour, yang jelas-jelas didanai
oleh perusahaan-perusahaan pengrusak lingkungan.
Kalau anda mau ikut, ya terserah anda.
2010/3/26, Adimas Baskoro <adimas...@gmail.com>:
Menurut saya ini adalah permasalahan utamanya.
Program Charity yang diberi nama sangat bagus seperti CSR tidak lebih
hanya lip service saja.
Program Charity tidak pernah dilakukan untuk people empowerment dan
bahkan charity program akan melemahkan daya juang masyarakat.
(istilahnya adalah Green Wash)
Menurut anda dengan mengikuti program Earthhour, anda telah melakukan
sesuatu dan tidak memiliki kemungkinan bahwa dengan dilihatnya program
WWF ini berhasil maka banyak korporasi akan mengeluarkan uang lebih
besar lagi untuk disumbangkan kepada WWF.
Sumbangan yang lebih besar ini juga dijadikan oleh mereka untuk
pembenaran tindakan pencemaran mereka dan membuat reputasi seolah olah
mereka adalah perusahaan ramah lingkungan.
Coba tolong dilihat lagi filosofi dasar tentang bagusnya CSR ini yang
menurut saya tidak lebih dari charity saja dan merusak.
Rahayu,
Deepak
Di : http://www.worldsilentday.org
Murni NGO dan lokal Indonesia dan tidak didukung oleh korporasi.
WWF adalah NGO asing, yang mana dananya adalah dari korporasi yang
merusak lingkungan, ketulusannya dipertanyakan.
Untuk mas Roga Bara Hari, anda benar, kemungkinan WWF tulus adalah
sangat kecil.
Rahayu,
Deepak
Kalau CDM menurut saya berarti, sederhananya adalah:
CDM adalah berarti saya (negara maju) punya uang dan saya bayar saja
kesalahan saya dalam merusak lingkungan dan saya akan terus melakukannya.
Rahayu,
Deepak
Maaf, saya ikut nimbrung.....
Saya rasa disini bukan masalah arogan atau tidak...
Apakah sdr. Maizir pernah terlibat dengan CSR program dari berbagai
perusahaan di Indonesia dan menanyakan kepada mereka apakah variable
keberhasilan dari program CSR tsb???
Saya pernah terlibat dalam CSR salah satu BUMN di Indonesia dan saya
tanyakan variable keberhasilan CSR tsb dan jawabannya adalah: Ini
sekedar event saja....pak....
Anda juga jangan menutup mata bahwa mensupport mereka adalah juga
mensupport mereka dibalik CSR nya yaitu mencemari lebih besar.
Solusi lain sangat banyak .... silahkan dikunjungi:
http://www.worldsilentday.org
Rahayu,
Deepak
Sent from my BlackBerry® smartphone powered by MIGHTY Ziro'
If u wanna make a world a better place, take a look at urself & make the change!
Please Reduce-Reuse-Recycle..
Sent from my BlackBerry® smartphone powered by MIGHTY Ziro'
Orang yang saya tanya adalah marketing manager sebuah BUMN untuk sebuah
provinsi di indonesia.
Baik dan buruk selalu ada dua muka dan ini tentu seperti yg anda katakan
tergantung sudut pandang. Bagi saya perusahaan korporasi besar dengan
CSR nya tidak lebih adalah green washing dan kalau kita support berarti
kita membeli lip sevice mereka.
Maaf, yang menurut anda menghakimi adalah juga sudut pandang. Sederhana
saja banyak korporasi melakukan CSR tidak lebih dari green washing dan
sebaiknya tidak diikuti karena itu menjadi pembenaran tindakan mereka,
seperti halnya program CDM
Opsinya sudah saya tulis sebelumnya dalam millist ini:
1. Salah satunya adalah : http://www.worldsilentday.org
2. Opsi lain lakukan sesuatu dengan kapasitas sendiri atau kelompok
Masih banyak opsi lain yang bisa dipikirkan tapi fondasinya adalah self
empowerment.

Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia sudah menjawab
mengenai bentuk2 kerjasama mereka dengan lembaga lain. Khususnyauntuk
kampanye Earth Hour
Khas jawaban yang tidak menjawab esensi pertanyaan saya dan Mba'/Bung Deepak.
Jawaban yang normatif dan mencari aman.
Direktur Program Iklim WWF ini mau bilang, tidak peduli kita kerjasama
dengan penjahat atau malaikat asal tujuannya baik, maka hasilnya akan
baik. hehehe apa mungkin kerjasama dengan dana dari penjahat,
tujuannya bisa baik?
Dia juga bilang WWF akan mempertahankan kekritisan dan independensi
lembaganya meski menerima dana dari perusahaan-perusahaan perusak
lingkungan, ini juga kalimat yang paradoks atau bahkan oksimoron.
Mana mungkin kita bisa independen jika dana untuk kegiatan kita
datangnya dari para kocek perusahaan perusak lingkungan, Dimana letak
independensi kita jika untuk kampanye penyelamatan hutan, dana
kampanye dari perusahaan pengrusak hutan seperti Sinar Mas.
Dimana letak independensi kita jika untuk kampanye hemat energi, dana
kampanye kita datangnya dari perusahaan-perusahaan yang paling boros
dalam energi fosil?
hmmmmm..
Pada tanggal 27/03/10, Paulus Mintarga <paulus_...@yahoo.com> menulis:
Saya laki laki.....
Saya sepakat dng anda tentang korporasi....
Mengenai cara menjawab, filosofinya adalah begini: Kalau jawaban yang
diberikan bahwa yang penting tujuannya adalah baik maka mau bekerja sama
dengan siapa saja. Menurut saya ini adalah pangkal masalahnya dan setiap
waktu akan muncul jawaban yang sekenanya saja...
Ini sedikit filosofis: Yang namanya tujuan adalah tidak real dan yang
real adalah proses. Jadi kalau mau tujuan baik maka prosesnya harus baik....
Kalau semua hanya bicara tujuan maka setiap saat akan muncul cara cara
yang seenaknya saja dan jadinya ya green washing... & lips service saja...
Saya pribadi sudah selesai dengan topik ini....
Silahkan buat program yang sifatnya:
Self empowerment atau grup empowerment
Silahkan juga kunjungi: http://www.worldsilentday.org
Deepak