Yogyakarta, Kompas - Pengoperasian tiga alat peringatan dini di pinggir Kali Boyong sisi selatan Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan meminimalkan bahaya banjir lahar.
Material di puncak Merapi hasil erupsi 14 Juni 2006 yang berpotensi menjadi aliran lahar masih tersisa sekitar 3,5 juta meter kubik. Dengan sistem tersebut, aliran lahar akan terbagi ke Kali Gendol, Boyong, dan Opak yang mengarah ke Yogyakarta.
Ketiga alat bantuan New Zealand Aid itu resmi dioperasikan oleh Duta Besar Selandia Baru Phillip Gibson, Bupati Sleman Ibnu Subiyanto, dan tim ahli dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Rabu (27/8). Upacara peresmian di lokasi peringatan dini (early warning system/EWS) itu di Dusun Kemiri, Purwobinangun, Pakem, Sleman.
Kepala Dinas Pengairan Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (P3BA) Kabupaten Sleman Widi Sutikno mengatakan, EWS banjir lahar dipasang di Bukit Turgo, Kemiri, dan Kalireso. Peralatan EWS di Bukit Turgo berfungsi mengukur curah hujan. Jika intensitas hujan di atas 50 milimeter selama 2 jam, data akan diteruskan ke EWS di Kemiri dan Kalireso, memicu sirene berbunyi.
”Potensi banjir lahar terbesar memang ke arah Kali Gendol, tetapi Kali Boyong juga berpotensi terkena banjir lahar.
Sebelumnya, lima alat EWS banjir lahar dipasang di Kali Gendol dan Kali Opak. Alat peringatan dini awan panas telah dipasang pemda di lima lokasi, yakni di Kaliurang—di dua tempat, di Tritis, Klangon, dan Kinahrejo.
Phillip Gibson juga mengoperasikan smart box di SD Kanisius Tritis, Purwobinangun, Pakem. Kotak pintar itu berfungsi sebagai pusat komunikasi nirkabel untuk akses internet dan percakapan serta dilengkapi kamera untuk mengamati Merapi.
Menurut Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Alam Dinas P3BA Kabupaten Sleman Singgih Sudibyo, smart box baru dipasang di 3 lokasi dari rencana 19 lokasi. ”Saat terjadi bencana, alat bisa dipakai untuk telepon. Ini sangat penting karena biasanya jaringan komunikasi terputus saat terjadi bencana,” ujarnya.
Kerja sama dengan Selandia Baru juga meliputi pembuatan peta amplifikasi tanah—berisi zonasi tanah yang memiliki kemampuan menggandakan efek gempa dari rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Peta itu akan disebarkan ke seluruh Sleman agar masyarakat tahu potensi bencana di lingkungan sekitarnya. Selain itu juga ada pelatihan 300 kader tanggap bencana, 150 kader berprofesi guru, dan 150 tokoh masyarakat. (ANG)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/28/00424691/peringatan.dini.minimalkan.bahaya.banjir.lahar
Nuwun sewu,
Membicarakan sistem peringatan dini seyogyanya bukan cuma tentang alat-nya saja. Namanya sudah pakai seistem, artinya melibatkan jaringan rumit antara masukan dan keluaran. Dalam sistem peringatan dini, selain alat juga harus diperhatikan
1. Apa bentuk informasinya
2. Berapa frekuensi penyampaian-nya, pada saat apa
3. Siapa penerima
4. Bagaimana informasi yang diterima dikelola menjadi sebuah keputusan tindakan yang proporsional dengan ancaman (jenis, intensitas, sebaran, dll)
Salam dari dusun Teguhan,
Suwun,
Sigit Purwanto atau Ipung
______________________
Rakyat biasa, beraktifitas di Disaster Risk Education and Management LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta.
Gedung Sudirman 1.4.
Kampus Unit II. Jl. Babarsari No. 2,
Tambakbayan, 55283 Sleman.
Web: www.psmbupn.org
Telp: 0274-7827631 --- Pada Jum, 29/8/08, Djuni Pristiyanto <belin...@yahoo.com.sg> menulis: |
| Purwanto Sigit <sigit_pu...@yahoo.com>
Sent by: foru...@googlegroups.com 29/08/2008 14:17
Size :20 Kb |
|
Oxfam works with others to overcome poverty and suffering.
Oxfam GB is a member of Oxfam International and a company limited by guarantee registered in England No. 612172.
Registered office: Oxfam House, John Smith Drive, Cowley, Oxford, OX4 2JY.
A registered charity in England and Wales (no 202918) and Scotland (SCO 039042)