AJANG diskusi itu berlangsung ramai. Wartawan memadati acara yang
berlangsung di sebuah ruangan di Hotel Aryaduta, Jakarta, itu Rabu
pekan lalu. Tapi bukan semata isi diskusi "Pembangunan Layanan dan
Informasi Telecente Secara Partisipatoris untuk Masyarakat Pedesaan"
yang membuat acara ini menyedot perhatian. Wartawan lebih berminat
menanti "pertunjukan" dari KRMT Roy Suryo Notodiprojo.
Pria berusia 37 tahun yang disebut-sebut sebagai pakar telematika itu
bertugas sebagai pemandu acara yang digagas ICT-PR dan UNDP ini.
Sebelum acara berlangsung, Roy menebar undangan lewat SMS kepada para
wartawan. Ia mengatakan akan menjelaskan sekaligus memperlihatkan kasus
foto rekayasa SBY buatan Herman Saksono, blogger asal Yogyakarta, yang
kini ditangani polisi.
Herman, 24 tahun, memang sial. Mahasiswa Teknik Elektro Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, itu harus berurusan dengan polisi lantaran
dituding menghina kepala negara. Ia mengganti wajah penyanyi Mayangsari
yang "berpose" bersama Bambang Trihatmodjo dengan wajah Presiden SBY,
Surya Paloh, Yusril Ihza Mahendra, Roy Suryo, Armand Maulana, dan Rhoma
Irama. Herman menampilkan hasil re-touch ini di blog-nya.
Saat jeda makan siang, Roy memulai pertunjukan yang dijanjikannya. Ia
memperlihatkan foto-foto hasil rekayasa Herman yang dianggap kebablasan
itu. Roy lalu menunjukkan pula posting Herman berjudul "4 cara mendidik
balita agar tidak ngupil", yang dimuat 6 Oktober 2005. Tips ini
sebenarnya bukan saran, melainkan humor.
Tips nomor dua yang berjudul "Cara Kimiawi", misalnya, menyebutkan
bahwa agar balita berhenti ngupil, "oleskan ekstrak cabai pada jemari
balita Anda (tidak efektif jika mata balita Anda sensitif terhadap
cabai)". Yang lucu adalah tips keempat yang judulnya "Cara SBY-JK".
Bagaimana SBY-JK bisa menghentikan balita ngupil? Tulis Herman,
"Naikkan tarif ngupil hingga 80%".
Roy mengerti bahwa isi blog itu sekadar guyon. "Tapi joke itu ada
batasnya. Kalau ada yang keberatan, misalnya Pak Surya Paloh, dia bisa
menuntut dengan pencemaran nama baik," kata Roy. Meski banyak yang
menganggap berlebihan jika polisi menangani kasus guyonan ini, Roy
mengatakan, persoalan ini sebenarnya tak sederhana.
Penyebabnya, kata Roy, selain merekayasa foto SBY, Herman juga menulis
narasi yang jelas-jelas menyebutkan foto itu sebagai Presiden SBY, juru
bicara Andi Mallarangeng, dan tokoh-tokoh lain. "Kalau karikatur itu
hanya men-similar-kan, sedangkan ini benar-benar gambar dan dikasih
keterangan. Itu bukan sesuatu yang sederhana," kata Ketua Komunikasi
dan Informasi Partai Demokrat itu.
Meski sibuk memaparkan kasus ini, Roy menjelaskan bahwa ia bukan
pelapor. Menurut versi Roy, karya Herman itu ternyata juga ikut dilihat
pasukan pengawal presiden. Para pengawal itu tak rela bos mereka
dijadikan bahan guyonan. Mereka lantas mengumpulkan semua posting dari
blog Herman di sela-sela kegiatan melakukan pengamanan di lingkungan
KTT ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, Ahad pekan lalu.
Kala itu, Roy juga berada di Kuala Lumpur. Roy, yang sebelumnya sudah
tahu isi blog Herman, Ahad malam itu mengontak rekannya yang juga
atasan Herman di Gamatechno. Dalam pesan singkatnya (SMS), Roy
mengatakan, Herman telah merekayasa foto Presiden SBY dan hal itu
dianggap serius oleh Paspampres, kini sedang ditangani Polda Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY). "Call me untuk detailnya," begitu isi pesan
Roy.
Menurut Atika Noerkoestanti, 24 tahun, rekan sekerja Herman, malam itu
juga SMS tersebut diteruskan kepada Herman. Atika dan Herman sempat
chatting, mendiskusikan masalah ini. Lantaran bersikukuh pada prinsip
kebebasan berekspresi, Herman ogah menghapus posting-nya. Pesan Roy
lewat SMS itu pun hanya dianggapnya ancaman kosong yang tak lebih dari
sekadar gertak sambal.
Tapi perkiraan Herman meleset. Besoknya, Senin pekan lalu, sekitar
pukul 11 siang, dua petugas polisi dari Polda DIY datang ke kantor
Gamatechno. Mengenakan pakaian preman, petugas itu meminta Herman
memperlihatkan blog miliknya. Polisi juga mengutak-atik dan memeriksa
komputer serta meja kerja Herman.
Posting yang berisi foto SBY dan tokoh-tokoh lain dikopi ke CD beserta
beberapa dokumen. Kopian ini dijadikan barang bukti. Sebelum digiring
ke kantor polisi, Herman meminta Atika menghubungi ibunya. Sang ibu
tiba sesaat sebelum Herman digelandang dan akhirnya ikut mengawal
anaknya ke markas Polda DIY.
Di depan penyidik, Herman menjelaskan bahwa karyanya itu sekadar guyon
dan tak lebih dari upaya main-main belaka. Polisi tak mau terima alasan
ini. Mereka menembak Herman dengan pasal pencemaran nama baik dan
penghinaan terhadap kepala negara. Herman bertahan dengan argumennya
dan menolak menghapus karya-karyanya.
Kasus ini kemudian turun kelas dan dipindahkan penanganannya ke
Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Yogyakarta. Selepas tengah malam,
polisi melepaskan Herman yang akhirnya bersedia menghapus semua foto
re-touch dari blog-nya. Esoknya, Herman masuk kerja seperti biasa.
"Tapi saya tidak tahu status saya dan apakah kasus ini akan berlanjut
atau tidak," katanya, seperti dituturkan Atika, yang mengenal Herman
sejak SMA.
Polisi sepertinya berhati-hati menangani masalah ini. "Herman tidak
kami tahan. Dia hanya diperiksa," kata Komisaris Polisi Ayi Supardan.
Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Poltabes Yogyakarta itu,
Herman dibebaskan karena tidak terbukti berniat sengaja melakukan
penghinaan terhadap kepala negara. "Apa yang dilakukannya hanyalah
iseng," kata Ayi.
Selain itu, usia yang masih muda, tak punya catatan kriminal, serta
berjanji tak akan mengulangi perbuatannya, menurut Ayi, membuat polisi
melepaskan Herman. Polisi pun membebaskan Herman dari urusan wajib
lapor. Herman bisa kembali ke kehidupannya seperti semula. Benarkah?
Di kehidupan nyata bisa jadi iya. Tapi, di alam maya, Herman merasa tak
lagi bebas mengisi blog. Ia tak lagi leluasa menciptakan guyonan yang
menyinggung-nyinggung penguasa. Tips keempat cara mendidik balita agar
tidak ngupil pada blog-nya, yang semula berjudul "Cara SBY-JK'', kini
telah berubah menjadi "Cara Indonesia". "Ya, pokoknya tenang dululah,"
katanya, seperti disampaikan Atika.
Simpati dari para blogger mengalir deras. Semua kebanyakan membela
Herman dan menuding Roy sebagai biang keladi terseretnya Herman. "Ia
(Herman -Red.) adalah penulis jenaka dan siapa pun pembaca yang punya
selera humor tidak akan berpikir bahwa Herman berniat menghina
presiden," kata Priyadi Iman Nurcahyo, 28 tahun, pemilik situs
http://priyadi.net.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sepertinya tak berniat memperpanjang
urusan ini. Ia tak akan menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum.
"Kalau bukan sesuatu yang disengaja, cukup dipanggil saja, lalu
dinasihati," kata SBY ketika berdialog dengan masyarakat Indonesia di
Bangkok, Thailand, Kamis malam pekan lalu.
Pesan presiden itu seolah meredakan masalah ini. Namun, di dunia maya,
kasus Herman ini telah bergeser menjadi "medan perang" antara para
blogger dan Roy Suryo. Di kalangan blogger, nama Roy Suryo kerap
menjadi bahan gunjingan. Roy dianggap tak berkompeten mengomentari soal
dunia teknologi informasi. "Pendapat dan analisisnya sering salah dan
mudah disanggah," kata Priyadi.
Saking mangkelnya, beberapa blog memelesetkan sebutan Roy sebagai pakar
telematika menjadi pakar pornomatika lantaran "hobi" Roy mengomentari
skandal foto syur sejak era B'jah-Sukma Ayu, Artika Sari Devi, hingga
Mayangsari-Bambang Trihatmodjo, ketimbang merancang kemajuan teknologi
informasi.
Tapi Roy Suryo tak peduli. Menurut dia, blog, Friendster, atau
fasilitas lain pembentuk komunitas maya pada dasarnya baik. "Tapi,
kalau isinya lebih banyak bersifat kontraproduktif, dan bentuk-bentuk
character assassination semacam ini, sangat patut disayangkan," kata
Roy. Ia menyayangkan pula ulah Priyadi dan pembela Herman lainnya yang
meletakkan hiperlink, yang akan membawa ke situs milik Herman.
Akibat ulah itu, kata Roy, Priyadi telah "dinasihati" Departemen
Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Priyadi membantah tudingan
itu. Menurut karyawan di perusahaan hosting Indoglobal.com ini,
pertemuan itu sebatas diskusi. Ia dihubungi Judith M.S., Ketua Asosiasi
Warnet Indonesia, yang berinisiatif menggelar di Depkominfo bersama
lima blogger ngetop lainnya. Hiperlink, menurut Priyadi, adalah hal
biasa dalam internet. "Seperti papan penunjuk jalan," katanya.
Sudah, sudah. Toh presiden tak marah, kan....
Sigit Indra, Mukhlison S. Widodo, dan Basfin Siregar
[Multimedia, Gatra Nomor 6 Beredar Senin, 12 Desember 2005]
Copyright © 2002-04 Gatra.com