Semakin menarik diskusinya :)
BTW, I already create an account for Ibam, silahkan kl nanti mau bahas
post nya Ronald yang akan publish besok pagi.
Anyway, untuk PaaS, my question is: any PaaS provider in Indonesia
that have capabilities such as those publik PaaS? Atau paling tidak,
nggak jauh beda lah sama layanan PaaS nya MS, Amazon atau Google.
Ada yg bisa share disini, pengalaman mungkin dengan BizNetCloud,
TelkomCloud or any other PaaS provider in Indonesia yg recomended?
Seperti apa sih capabilities yg mereka tawarkan? SLA, budget?
Thanks
>> - *You'd jump on board in a heartbeat, if it weren't for all of the
>> nagging questions preventing you from latching onto the public cloud.*
>>
>> Nagging questions-nya apa? Si narator ngga ngasih penjelasan apapun, tapi
>> dari videonya kita bisa liat kalau "awan-awan yang bikin developer kuatir"
>> contohnya Latency, Security, Lock-in, dan Compliance.
>>
>>
>> - *Latency.* Tergantung target user kita siapa. Kalau misalnya yang
>> kita develop web application dimana usernya tersebar di banyak
>> tempat,
>> hosting PaaS di premise kita sendiri menurut saya malah ngehasilin
>> latensi
>> yang lebih buruk dibanding PaaS yang di-manage sama provider kaya
>> AWS atau
>> GAE atau Azure. AWS punya Amazon CloudFront, Azure punya Windows
>> Azure CDN,
>> GAE apps bisa di-deploy di puluhan datacenter Google di seluruh
>> dunia untuk
>> meminimalisir latensi.
>>
>> Lain halnya kalau target user kita adalah internal perusahaan yang masih
>> terkoneksi ke satu network yang sama. Dalam kasus ini, maka solusi hosting
>> on-premise menurut saya memang lebih baik dari segi latensi. Jadi
>> kesimpulannya kembali ke target pengguna sistem yang kita inginkan. Selain
>> itu, bisa jadi latensi yang hosted PaaS provider berikan sebenarnya sudah
>> memadai untuk keperluan kita. Jadi kalau bicara tentang latensi, hal-hal
>> pertama yang saya sarankan adalah uji, uji, uji, baru kemudian tarik
>> kesimpulan apa latensinya terlalu besar atau tidak.
>>
>>
>> - *Security.* Oh wow, seriously? You'd think your own infrastructure
>> would be more secure than Google, Microsoft, or Amazon's datacenter?
>> Sebagian besar perusahaan ngga punya budget buat hire top security
>> expert
>> dengan gaji belasan ribu dolar per bulan. Those big guys do, have
>> more
>> faith on them.
>>
>>
>> - *Lock-in.* Yes, ini salah satu kelemahan besar dari PaaS. Developer
>> dan architect bisa meminimalisir resiko ini dengan desain abstraksi
>> yang
>> baik antara app dengan platform, jadi kalau harus migrasi ke PaaS
>> lain,
>> tinggal underlying abstraction-nya yang harus diubah. This, coupled
>> with
>> good and extensive unit testing on your app would make migration
>> much
>> easier compared to what being pictured here.
>>
>>
>> - *Compliance.* Untuk poin satu ini, benar-benar case-to-case basis,
>> - *You'd lose your entire infrastructure investment.* Yes, this is
>> inevitable, welcome to the future. :)
>>
>>
>> - *You'd have to recode everything for someone else's flavor of the
>> month.* No sane project manager would migrate their entire system to a
>> new PaaS every other month. Kalau sampai harus migrasi setelah satu
>> bulan,
>> misalnya, menurut saya artinya manager-nya kurang analisis atau
>> arsiteknya
>> kurang bagus rancangannya.
>>
>>
>> - *Save your investments in code and infrastructure. *But not in
Sent from my mobile device