> Bam, setuju bgt sama semua point kamu.
> 2 things:
> 1. as soon as this article goes out, I think you should definitely consider
> posting this as a follow up point. perhaps by making it independent and not
> context sensitive the video. but that part is terserah kamu. Kalo alex
> kesulitan bikin akses buat kamu, bisa aku post lewat account aku dan aku
> sebut narasumbernya :)
> 2. semua challenges yang disebut very lightly sama narasinya lucunya memang
> benar2 terjadi di pasar, terutama di mana aku berada (UAE). Untung audiens
> produk mereka, aku rasa just by sekelibatan pun it already hit home to alot
> of those people.
> Your points are still valid, tapi kita harus menyadari bahwa most people
> masi di masa transisi. any steps towards convincing business slowly but
> surely is always positive in my book. banyak perusahaan yang aku dealing
> with sudah ngebangun puluhan juta dollar di infrastruktur mereka untuk
> hardware, licenses dan puluhan orang operasional. Admitting that IT has no
> longer use for them anymore would probably be a very career limiting move
> for the CIO/CTO after getting approval to spend those money in the first
> place.
> Kalo kita telaah lebih lanjut impactnya bila perusahaan pada pindah dari
> private infra ke true public PaaS , I'm sure bakal banyak job cuts (or at
> least migration) di dalam IT. karena as you correctly pointed out, Cloud is
> revolutionary not because of the technology, but the business model. in
> essence, cloud adalah model outsourcing dan pemindahan capex ke opex.
> Another point is kesiapan regulasi kita skrg. HIPAA, PCI-DSS, dsb
> diciptakan pre-cloud era. some companies are bound by law not to utilize
> the cloud (whereas other regulations naturally pushes for companies to use
> the cloud misalnya EU Data Privacy Act)
> R
> 2012/5/8 Ibrahim Arief <ibam.ar...@gmail.com>
>> I'm not impressed with the video, IMO terlalu banyak nyebar FUD (fear,
>> uncertainty, doubt) soal PaaS dengan bilang kelemahan PaaS itu ini itu
>> tanpa ngasih penjelasan di balik kenapa dia sampai klaim kaya gitu. Of
>> course, videonya punya tujuan promosi produknya sendiri, so a certain
>> slant
>> and FUD-spreading is to be expected. Saya coba bedah isi videonya ya.
>> Pertama, produk yang mereka iklankan adalah PaaS yang bisa di-deploy
>> on-premise di infrastruktur kita sendiri. Menarik, tapi solusi open-source
>> kaya http://appscale.cs.ucsb.edu/ AppScale juga menyediakan fitur yang
>> serupa.
>> Kedua, poin-poin yang video itu kemukakan apa?
>> - *You'd jump on board in a heartbeat, if it weren't for all of the
>> nagging questions preventing you from latching onto the public cloud.*
>> Nagging questions-nya apa? Si narator ngga ngasih penjelasan apapun, tapi
>> dari videonya kita bisa liat kalau "awan-awan yang bikin developer kuatir"
>> contohnya Latency, Security, Lock-in, dan Compliance.
>> - *Latency.* Tergantung target user kita siapa. Kalau misalnya yang
>> kita develop web application dimana usernya tersebar di banyak
>> tempat,
>> hosting PaaS di premise kita sendiri menurut saya malah ngehasilin
>> latensi
>> yang lebih buruk dibanding PaaS yang di-manage sama provider kaya
>> AWS atau
>> GAE atau Azure. AWS punya Amazon CloudFront, Azure punya Windows
>> Azure CDN,
>> GAE apps bisa di-deploy di puluhan datacenter Google di seluruh
>> dunia untuk
>> meminimalisir latensi.
>> Lain halnya kalau target user kita adalah internal perusahaan yang masih
>> terkoneksi ke satu network yang sama. Dalam kasus ini, maka solusi hosting
>> on-premise menurut saya memang lebih baik dari segi latensi. Jadi
>> kesimpulannya kembali ke target pengguna sistem yang kita inginkan. Selain
>> itu, bisa jadi latensi yang hosted PaaS provider berikan sebenarnya sudah
>> memadai untuk keperluan kita. Jadi kalau bicara tentang latensi, hal-hal
>> pertama yang saya sarankan adalah uji, uji, uji, baru kemudian tarik
>> kesimpulan apa latensinya terlalu besar atau tidak.
>> - *Security.* Oh wow, seriously? You'd think your own infrastructure
>> would be more secure than Google, Microsoft, or Amazon's datacenter?
>> Sebagian besar perusahaan ngga punya budget buat hire top security
>> expert
>> dengan gaji belasan ribu dolar per bulan. Those big guys do, have
>> more
>> faith on them.
>> - *Lock-in.* Yes, ini salah satu kelemahan besar dari PaaS. Developer
>> dan architect bisa meminimalisir resiko ini dengan desain abstraksi
>> yang
>> baik antara app dengan platform, jadi kalau harus migrasi ke PaaS
>> lain,
>> tinggal underlying abstraction-nya yang harus diubah. This, coupled
>> with
>> good and extensive unit testing on your app would make migration
>> much
>> easier compared to what being pictured here.
>> - *Compliance.* Untuk poin satu ini, benar-benar case-to-case basis,
>> tergantung compliance apa yang harus kita ikuti. Beberapa cloud
>> provider
>> seperti Google App Engine
>> http://www.crn.com/news/cloud/231300555/google-apps-app-engine-tighte...
>> http://www.windowsazure.com/en-us/support/trust-center/compliance/(Azure)
>> sudah ter-audit dan compliant dengan beberapa standar yang ada,
>> jadi tugas si architect untuk menentukan apakah compliance yang
>> disediakan
>> si PaaS sudah memadai atau belum untuk keperluannya.
>> On the other hand, memastikan infrastruktur kita bisa compliant ngga
>> gampang, jadi kita malah bisa anggap PaaS menyediakan fitur gratis supaya
>> app kita bisa otomatis compliant dengan standar-standar yang disediakan.
>> - *You'd lose your entire infrastructure investment.* Yes, this is
>> inevitable, welcome to the future. :)
>> - *You'd have to recode everything for someone else's flavor of the
>> month.* No sane project manager would migrate their entire system to a
>> new PaaS every other month. Kalau sampai harus migrasi setelah satu
>> bulan,
>> misalnya, menurut saya artinya manager-nya kurang analisis atau
>> arsiteknya
>> kurang bagus rancangannya.
>> - *Save your investments in code and infrastructure. *But not in
>> operating salaries. Seriously, total cost buat hire systems engineer di
>> Belanda bisa sampai 50.000 euro per tahun, dengan harga segitu kita
>> bisa
>> sewa cluster 80 server di App Engine atau AWS selama setahun. Belum
>> lagi
>> kalau kita punya cluster sebesar itu, engineer yang harus kita hire
>> bisa
>> sampai beberapa orang.
>> Just my 2 rupiah.
>> Cheers,
>> Ibam
>> 2012/5/7 Alex Budiyanto <alex.budiya...@gmail.com>
>>> +1 menarik video-nya.
>>> Ngomong2 soal private PaaS, apakah kita masih butuh private PaaS ketika
>>> aplikasi yang kita buat ditujukan untuk publik? Menurut saya publik PaaS
>>> menawarkan lebih banyak benefit, tinggal fokus ke aplikasi dan biarkan
>>> "rumah" untuk aplikasi kita diurus sama cloud provider.
>>> CMIIW
>>> 2012/5/7 Ronald Widha <rea...@ronaldwidha.net>
>>>> Don't get me wrong, I love PaaS and believe it's the future. Video
>>>> marketing ini dibikin oleh Apprenda ( http://apprenda.com/ ) menyentuh
>>>> soal masalah PaaS dan gampang bgt untuk dicerna. it's a good watch.
>>>> https://vimeo.com/31739635
>>>> --
>>>> Ronald Widha
>>>> follow me on http://twitter.com/ronaldwidha
>>>> podcast tentang programming dan informatika http://www.temanmacet.com
>>>> --
>>>> The Power of Community
>>>> FB:http://on.fb.me/JKO1hu
>>>> Twitter: https://twitter.com/#!/cloud_indonesia
>>>> Portal: http://cloudindonesia.org/
>>> --
>>> Alex Budiyanto
>>> http://alexbudiyanto.web.id/
>>> http://facebook.com/alex.budiyanto
>>> http://twitter.com/abudiyanto
>>> --
>>> The Power of Community
>>> FB:http://on.fb.me/JKO1hu
>>> Twitter: https://twitter.com/#!/cloud_indonesia
>>> Portal: http://cloudindonesia.org/
>> --
>> The Power of Community
>> FB:http://on.fb.me/JKO1hu
>> Twitter: https://twitter.com/#!/cloud_indonesia
>> Portal: http://cloudindonesia.org/
> --
> Ronald Widha
> follow me on http://twitter.com/ronaldwidha
> podcast tentang programming dan informatika http://www.temanmacet.com
> --
> The Power of Community
> FB:http://on.fb.me/JKO1hu
> Twitter: https://twitter.com/#!/cloud_indonesia
> Portal: http://cloudindonesia.org/